Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 124


__ADS_3

Bagas memesankan makanan untuknya dan Sani.


"Yank, mau makan apa?" tanya Bagas kepada Sani yang membuat Anin keselek dan terbatuk.


"Uhuk uhuk uhuk uhuk, Ehmmm" Anin meminum minuman nya dalam sekali tegukan.


Bagas dan Sani semakin semangat melakoni peran mereka.


"Apa aja yank, kamu maunya apa aku ikut. Kalian gak mau nambah menu? Kita yang traktir" ucap Sani semakin membuat Anin geram.


"Gak usah kak, kita masih mampu bayar sendiri kok" ucap Anin kalem tapi menohok untuk Sani.


"Ya sudah pilih paket yang untuk pasangan aja ya" sahut Bagas.


Mata Anin terasa panas. Dia ingat saat dulu bertemu dengan Bagas. Dia ditawari oleh pelayan paket pasangan. Aahh, sakit, perih, panas ada semua di hati Anin. Tari masih diam memperhatikan tingkah sahabatnya yang sudah seperti cacing diberi air garam, kepanasan! Tak tahan lagi, Anin berpamitan ke toilet.


"Ri, gue ke toilet bentar"


"Kenapa?" tanya Tari dan memberi kode agar Anin tidak beranjak dari tempat duduknya.


"Tiba-tiba mata gue kena cabe. Pedes banget. Gue pengen cuci muka dulu. Permisi" Anin menuju toilet.


Dia masuk ke dalam salah satu toilet yang kosong. Dia duduk disana cukup lama. Setelah dirasa cukup tenang dia keluar dari toilet dan membasuh mukanya.


"Ya Allah, kenapa sesakit ini?! Lebih sakit saat kata putus itu terucap. Dadaku sesak sekaliiii" Anin membasuh muka nya lagi. Saat akan mengambil tisu untuk membersihkan sisa air yang ada pada wajahnya seseorang memberikan tisu padanya.


"Terima kasih" ucap Anin kepada orang itu.


"Sama-sama" balas Sani


Anin melihat orang itu dan itu adalah Sani.


"Kamu gak papa?" tanya Sani kepada Anin.


"Gak papa kok kak, Anin balik dulu kesana" ucap Anin sambil tersenyum paksa.


Sepeninggalan Anin, Sani masih menatap Anin.


"Gadis yang tangguh, pantesan Bagas jadi bucin akut. Hmmm, semoga kalian memang berjodoh" gumam Sani lirih dan tersenyum.


Anin sudah kembali ke meja nya. Tari sedang berbincang cukup alot dengan Bagas.


"Ri, balik yuk. Gue udah gak selera makan" ucap Anin


"Bentar Nin, duduk dulu. Selesaikan makan lo. Gak usah peduliin pecundang macam kunyuk satu ini" sinis Tari kepada Bagas.


"Ayolah Ri, gue pengen pulang!"


Bagas merasa sangat senang. Dia tersenyum. Sani sudah kembali dari toilet.

__ADS_1


"Eh, mau kemana Nin? Kita kan belum ngobrol. Duduk dulu, gak sopan loh ada yang lebih tua mengajak ngobrol tapi ditolak" sindiran yang cukup ampuh membuat Anin terduduk kembali.


"Kalian kerja dimana?" tanya Sani


"Saya dosen di POLTEKKES kak" sahut Tari


"Saya bidan satu puskesmas dengan Salma" jawab Anin


"Ooh, kalau aku dokter bedah toraks kardiovaskuler di rumah sakit TNI. Nanti kalau ada waktu kumpul-kumpul begini lagi ya yank. Seru ih"


"Siap sayang" jawab Bagas dengan senyuman kemenangan. Makanan yang dipesan Bagas pun datang.


"Ayo makan. Anin, gak makan lagi?"


"Gak usah kak, Anin bisa gendut kalau kebanyakan makan" ucap Anin dengan senyuman.


"Buka mulut yank, aaaa" Bagas menyuapi Sani. Mata Anin tak sanggup lagi melihatnya. Dia memilih menunduk dan memainkan ponselnya.


Ponsel Anin berdering tanda panggilan masuk. Nomor baru. Anin mengangkatnya siapa tahu penting.


"Halo, Assalamualaikum"


Waalaikum salam, Anin ya. Ini Akbar temannya Riski dan Nisa


Angin segar bagi Anin. Dia mengembangkan senyum nya.


"Bang Akbar apa kabar? Kenapa baru telpon sekarang?" ucap Anin penuh dengan senyuman diwajahnya. Bagas melihat itu, serasa panah api cemburu yang dia targetkan ke Anin berbalik ke dia.


"Iya bang, tidak apa-apa. Iya jadi, di resto x Jam 11.00 ya bang"


Iya, kamu lagi apa?


"Anin lagi makan sama temen Anin. Abang udah makan?


Udah, makan yang banyak ya. Biar sehat


"Nanti gendut dong kalau makan banyak"


Gak papa, abang lebih suka yang berisi


"Uuuwwww, jadi pengennya Anin jadi semok nih? Hahaha"


Hahahaha. Sudah dulu ya Nin, abang masih meeting nih


"Semangat ya bang kerjanya, nanti pulangnya hati-hati. Jangan terlalu lelah. Istirahat yang cukup dan janga lupa jaga kesehatan ya" Anin memberi wejangan kepada Akbar.


Iya terima kasih perhatian banget sih, jadi gak sabar ketemuan nya besok. Abang tutup dulu ya. Assalamualaikum


"Waalaikum salam" Anin tersenyum dan menyimpan ponselnya kembali.

__ADS_1


Bagas benar-benar dikalahkan oleh Anin. Kalah telak. Dia hanya bisa mendengarkan obrolan Anin dengan laki-laki lain dan memberi perhatian lebih kepada laki-laki itu.


Bagas merasakan panas di tubuhnya hingga mencapai puncak kepalanya. Sani memberi kode untuk tenang.


Tari yang melihat ekspresi Bagas tahu betul jika orang yang disebelah nya sedang cemburu.


Hadehh, masih saling cinta tapi pada main panas-panasan. Bikin puyeng aja sih. Gumam Tari dalam hatinya.


"Ciee yang dapat telpon dari calon jodoh!" ucapan Tari semakin membuat Bagas emosi.


"Hahaha, aamiin. Eh, balik yuk. Udah malem juga kan"


"Ayo, gue juga udah kenyang dan puas! Kita balik duluan ya kak, mas" ucap Tari.


"Kak, Anin balik duluan ya. Semoga kalian langgeng sampai jenjang pernikahan dan sampai ajal memisahkan. Nanti kalau ada waktu kita meet up lagi bareng-bareng"


Beneran hatinya tulus ini cewek. Saat dia sedang dijebak juga masih mendoakan yang baik-baik. Bodoh banget sih lo nyet! Cewek sebaik dia lo putusin. Hadeeehhh, riweehh! Gumam Sani dalam hati. Dia tersenyum kepada Anin dan cipika cipiki dengannya.


Anin dan Tari meninggalkan kafe. Bagas sudah tidak bisa berkata-kata. Sani memukul keningnya dengan sendok.


"Makanya! Jangan main api! Kebakar sendiri kan! Pertahanin Anin! Rebut hatinya kembali"


"Panas badan gue San, baru dengar dia ngasih perhatian ke cowok lain gue udah kayak begini. Apalagi lihat sendiri?! Mampu gak sih gue rebut hati dia kembali?"


"Lhaaahh, usaha dong. Baik-baikin kek, jangan main panas-panasan. Ntar gosong baru tahu rasa!"


"Emang ikan gosong?!"


"Hahahaha, sama-sama cinta kok gengsi ngungkapin!"


"Bukan gengsi, gue takut, takut kalau hati itu bukan lagi buat gue. Dan lebih takutnya lagi kalau lihat dia bersanding dengan orang lain. Huft, perasaan dulu waktu gue sama Nisa gak begini amat deh"


"Nisa tipe perempuan yang gak mau memperjuangkan. Tipe Anin cewek tangguh, makanya rasa cinta lo bertambah sama dia. Bener kan analisis gue?"


"Mungkin"


"Mayor sudah menunggu nih, gue duluan ya. Perjuangin! Pantang mundur sebelum ada janur!"


"Iya-iya! Salam buat mayor deh, undangan buruan disebar!"


"Udah siap! Tugas lo sama gembel nyebarin. Seprovinsi ya!"


"Sialan lo! Gempor dong gue sama gembel!"


"Hahaha, Bye"


.


.

__ADS_1


.


Skor 1 sama Anin dan Bagas. 😂😂. Next ep semakin membaraaaaa


__ADS_2