
"Kamu ada rasa sama aku?" Pertanyaan Tari membuat Tristan gelagapan.
"K-kenapa nanya begitu?"
"Kenapa kamu nulis di hp si Agus nama kontak kamu suami Tari?"
Sekali lagi Tari memberi pertanyaan yang sukar dijawab oleh Tristan.
"Aku gak mau ngasih harapan ke kamu. Aku sendiri juga belum tahu perasaan ku ke kamu gimana. Saat ini yang sedang aku rasakan dan alami adalah benar-benar kehilangan" jelas Tari
"Aku gak tahu apa itu cinta, aku juga tidak pernah dekat dengan cewek manapun. Yang aku rasakan ke kamu saat lihat kamu nangis bengong aku ikutan sedih hati aku perih sesak. Saat kamu di dekati dengan pria lain ingin sekali aku mematahkan tangannya yang meraih tangan mu kemarin" Tristan pun berterus terang kepada Tari.
"Jadi?"
"Aku tunggu kamu"
"Kalau lama?"
"Semoga sebentar"
"Ana?"
"Dia tak pernah aku inginkan"
Tari dan Tristan sama-sama diam. Mereka berpandangan lama.
"Aku balik ke apartemen dulu" Tari berdiri dan hendak meninggalkan Tristan. Tristan meraih pergelangan tangan Tari membuatnya terduduk di pangkuan Tristan.
"Tak bisakah sekarang saja kita menjalin hubungan? Aku bisa gila jika terus jauh dari kamu. Aku akan membuat mu jatuh hati kepada ku. Mau kah kamu menjadi istri ku?"
__ADS_1
Degup jantung keduanya berpacu sangat cepat.
"Kamu sungguh jatuh hati padaku?" Tari mengulang pertanyaannya.
"Bisakah kamu lihat ada apa di mata ku?"
Tari melihat mata Tristan. Manik coklat itu terlihat tenang dan jujur. Degup jantung mereka kembali seperti dipacu. Tristan sudah tak tahan lagi. Dia meraih tengkuk Tari dan mencium bibirnya. Cukup lama Tristan mencium bibir itu, hingga Tari membalasnya. Tristan yang mendapatkan balasan semakin terpacu. Dia kembali mencium Tari dan sekarang ******* nya. Beberapa menit bibir mereka saling bertaut, hingga akhirnya mereka melepaskan bibir satu sama lain.
"Aku tidak mau menunggu, sampaikan ke papahmu, 2 hari lagi aku akan datang melamarmu"
"Dasar tidak sabaran!"
"Maaf kalau aku kasar. Aku memang tidak bisa memperlakukan perempuan seperti laki-laki lain. Tapi ingatlah, aku sungguh jatuh cinta padamu dan akan ku jaga selalu itu"
"Gombal!"
"Aku tidak pernah merayu, aku bukan di bidang itu. Aku sungguh menginginkan mu menjadi ibu dari anak-anak ku. Menua bersama mu. Kamu mau?"
"Ciuman tadi sudah cukup menjadi bukti. Ayolah Tari, mari kita menikah"
"Bersiaplah, aku akan memberitahu papah"
"Yes!"
"Seneng banget sih? Udah ah, aku balik ke apartemen dulu"
"Disini aja. Toh Anin lagi gak ada kan?"
"Itu mau nya kamu"
__ADS_1
"Emang kamu gak?"
"Ya udah deh, disini saja" Tari turun dari pangkuan Tristan dan duduk di samping Tristan. Menyenderkan kepala nya di bahu Tristan. Sangat nyaman. Membuatnya terlelap. Tristan yang mengetahui Tari terlelap ikut memejamkan mata.
.
Ana menghampiri papah nya yang sedang santai di ruang keluarga.
"Papah! pokoknya Ana mau nya Bang Tristan jadi milik Ana! Singkirkan 2 perempuan yang ada di samping bang Tristan!"
"Ana, kamu kenapa sih sayang? Ha? Sudah lah, Tristan tidak mencintai mu. Nanti kita pilihkan lelaki yang mencintai kamu An" ucap Mamahnya menenangkan Ana.
"Ana gak mau! pokoknya Bang Tristan harus jadi milik Ana!"
"Jangan seperti ini sayang, itu akan menyakiti dirimu sendiri"
"Mamah tahu apa tentang perasaanku? Aku pokoknya mau bang Tristan!"
"Cukup An! Papah muak dengan tingkah mu! Lupakan lelaki itu! Papah akan mencari kan yang lebih dari dia!" papah Ana sudah geram dengan rengekan anaknya. Dia menelpon seseorang.
"Laksanakan tugasmu! Aku tidak peduli lagi mau kau apakan mereka!"
Papah Ana meninggalkan ruang keluarga.
Lihat saja apa yang akan kuperbuat karena membuat putriku bersedih.
.
.
__ADS_1
.
Cieee Tari sama Tristan... Jadiin nikah gak nih? Next ep sesuai jawaban kalian readers. So please kencengin vote like and comment nya yaaaa. Author tunggu...