
Sore menjelang, Anin dan Salma belum kembali ke pustu. Mereka masih melakukan kunjungan rumah. Tinggal rumah terakhir di ujung jalan menuju desa sebelah.
Tok tok tok, "permisi?" ucap Anin
"Ya" sahut orang dari dalam rumah.
Pintu terbuka. Sang pemilik rumah tersenyum ramah kepada mereka.
"Mari masuk" ucap si pemilik rumah.
Anin dan Salma masuk.
"Ibu, tujuan kami datang kesini adalah melakukan kunjungan rumah. Nanti kami akan melakukan pemeriksaan secara keseluruhan mulai dari lingkungan, kesehatan ibu dan calon bayi, serta kesiapan untuk persalinan. Seperti yang telah dilakukan oleh bu bidan Sinta" jelas Anin.
"Saya akan memeriksa tempat air nya dulu ya bu, apakah ada jentik atau tidak. Apakah boleh?" Salma meminta ijin sang pemilik rumah
"Oh silahkan bu bidan, tinggal masuk saja" jawab pemilik rumah.
Salma menuju tempat penyimpanan air, kamar mandi, dia juga melihat pencahayaan, dan ventilasi.
Sedangkan Anin mulai melakukan wawancara dan pemeriksaan ibu hamil.
"Saya kroscek data dulu ya bu? Benar dengan ibu Mia, usia 30 tahun, suami atas namaaaaa..... Ak-Akbar Jayadi?" Anin membaca dengan terbata karena tak percaya ada nama Akbar disitu.
"Benar bu bidan"
"Pekerjaan ibu dan suami ibu apa?" tanya Anin kembali.
"Saya ibu rumah tangga bu, suami saya pengusaha batu bara"
Deg deg deg. Jantung Anin semakin kencang saat bu Mia menjelaskan nya secara rinci.
Wait, ini beneran bang Akbar bukan sih? Jadi dia udah punya istri? Tapi kenapa dia ngaku nya single sama aku? Apa kecurigaan mas Bagas benar? Tapi kenapa istrinya ditaruh di pedalaman seperti ini? Aneh. Gumam Anin.
"Mmm, bu kehamilan ibu sudah masuk usia 8 bulan ya. Kita lakukan pemeriksaan kehamilan dulu ya bu" Anin mulai mempersiapkan alat dan pasien nya. Dia mulai melakukan pemeriksaan dari atas sampai bawah.
"Bu, ini kepala bayinya sudah di bawah ya. Punggung nya ada di sebelah kiri. Sudah masuk panggul juga. Taksiran berat janin nya sekitar 2900gram bu. Ini denyut jantung bayinya ya bu"
Terdengar suara denyut jantung bayi dan sang ibu tersenyum.
"Kaki nya agak bengkak sedikit. Nanti tolong kalau tidur kaki nya lebih ditinggikan ya bu. Diganjal dengan bantal. Ini buku pink nya silahkan dibaca halaman ini ya bu. Oh ya, apakah ibu pernah USG?"
"Belum pernah bu bidan, suami saya sangat sibuk sehingga belum ada waktu menemani saya untuk USG"
"Oh, begitu. Besok kami akan kembali ke puskesmas bu, jika ibu bersedia boleh ikut kami untuk USG di puskesmas. Nanti pulangnya sama bidan Sinta. Tujuan dari USG ini adalah untuk mengetahui jumlah air ketuban, letak ari-ari dan bonusnya adalah mengetahui jenis kelamin bu"
"Saya nanti bilang sama suami saya dulu bu bidan. Takutnya tidak diijinkan"
"Ooh, kira-kira suami ibu pulang jam berapa?"
"Mungkin sebentar lagi bu"
"Oh, nanti jika ada keluhan datang saja ke pustu atau rumah bidan Sinta ya bu"
__ADS_1
Salma sudah kembali di ruang tamu dan menyampaikan hasil investigasi nya.
"Bu, hasilnya bagus ya. Rumah ibh bersih, tidak ada jentik, pencahayaan cukup, ventilasi pun cukup. Tolong tetap dijaga kebersihannya ya bu"
"Oh iya bu, untuk pemeriksaan lab nanti menunggu kabar dari bidan Sinta ya bu. Nanti juga ada kelas ibu hamil di pustu sekitar 5 orang nanti bu" imbuh Salma
Bu Mia mengangguk arti mengerti.
"Kalau begitu kami pamit dulu bu, jika ada apa-apa langsung ke bidan Sinta ya bu" Anin berpesan kepada bu Mia.
Mereka berpamitan dan akan kembali ke pustu. Anin dan Salma telah agak jauh dari rumah itu.
"Nin, lo tahu gak gue tadi lihat apaan?" Salma mulai bercerita dengan Anin.
"Apa?" wajah Anin berubah menjadi kepo
"Kulkas"
"Yaelah gue kira apaan"
"Yang aneh nya, kulkas itu hanya kamuflase Nin. Masa kulkas gak ada isinya sama sekali. Jiwa kepo gue meronta-ronta dong. Gue melihat itu kulkas kayak ada bekas robekan di bagian dinding nya. Kayak semacam pintu penghubung gitu. Gue coba buka dan isinya brankas"
"Ya mungkin untuk keamanan kali. Rumah paling bagus ya disini doang. Pakai tembok, pencahayaan bagus, lo pernah lihat gak sih Sal suaminya?" tanya Anin.
"Gak pernah, rumah itu ada cctv nya juga lho"
"Masa sih Sal? Lengkap banget. Aneh untuk ukuran rumah di pedalaman"
"Setuju gue sama pendapat lo" ucap Salma. Mereka terus berjalan.
"Kenapa?" tanya Salma.
"Sepertinya gue kenal sama suami Bu Mia itu, dan sepertinya gue tertipu"
"Ngomong apaan sih?"
Anin mengarahkan telunjuk nya kepada orang yanh dimaksud.
"Akbar Jayadi, pengusaha batubara, suami bu Mia. Yang sempet dikenalin mbak Nisa sama gue"
Salma melihat orang itu. "Terus dia ngapain disini? Kenapa serius sekali bicara dengan orang itu? Tunggu!" Mata Salma terbelalak. "Itu om Edi! Ya, Edi Sumantri"
"Om... Om.... Om Umang?!" Kepala Anin mendadak sakit kembali. Dia terhuyung tapi masih mampu menyeimbangkan tubuhnya.
"Lo gak papa? Mau balik ke pustu? Atau menuruti jiwa kepo kita?"
"Turuti jiwa kepo kita"
"Yakin lo gak papa?"
"Iya gue yakin. Ayo" Anin dan Salma berjalan mendekati kedua orang itu.
Edi yang mengetahui kedatangan seseorang dengan cepat pergi dari sana. Tinggal Akbar sendiri.
__ADS_1
"Anin?" Tanya Akbar dengan wajah sumringah.
"Hai bang, apa kabar? Kenapa bisa disini?"
"E e e, itu kontrol perusahaan"
"Perusahaan? Disini?"
"Iya, bahan baku nya kan disini Nin"
"Ooh, gak mudeng Anin. Boleh Anin lihat prosesnya gak sih bang? Eh, lupa. Kenalin. Ini Salma"
Akbar berjabat tangan dengan Salma.
"Akbar, calon suami Anin" Anin dan Salma kaget mendengar ucapan Akbar.
"Ha? Salma" Salma menahan tawa nya.
"Jadi boleh dong Anin lihat prosesnya?"
"Udah sore, mending kalian pulang aja"
"Ih Abang, Anin beneran gak tahu lho prosesnya. Siapa tahu nanti Anin bisa jadi pengusaha batubara seperti abang. Ya, ya ya please?" Anin merayu Akbar.
Akbar yang memang sudah tergila-gila dengan Anin tidak mampu menolaknya, dan akhirnya Anin masuk ke sebuah rumah sederhana.
"Kok banyak penjaga nya sih bang, Anin kan jadi takut" ucap Anin sambil menempel pada lengan Akbar.
"Gak papa sayang, ada abang disini. Mereka kan keamanan disini"
Salma geli melihat Anin seperti itu. Dia hanya mampu menahan tawa nya dan memeriksa keadaan disana.
Cctv arah barat, penjaga 2 orang dari depan, perusahaan disini? Tapi kenapa tak pernah ada di laporan desa? Meskipun limbahnya bisa didaur ulang tapi harusnya masuk dalan buku demografi dan kependudukan desa dong. Gumam Salma dalam hati
Wuing, wuing, wuing. Anin dan Salma kaget.
"Bunyi apa bang?" tanya Anin.
"Kamu menginjak tombol alarm yang ada di bawah kaki mu"
Anin dan Salma melihat ke arah kaki. Anin mundur dan memang ada tombol disana.
"Kenapa ada alarm disini?"
"Untuk berjaga-jaga. Ayo masuk"
Anin dan Salma masuk ke dalam rumah tersebut.
.
.
.
__ADS_1
Maaf telat up nya. Author lagi shift pagi. Hehehe. Like, komen, dan vote yah, biar author makin semangat 😘😘😘😘😘