Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 121


__ADS_3

"Hei! Penjahat wanita yang bagaimana? Nin, mas gak pernah jadi penjahat wanita ya!" teriak Bagas kepada Anin yang telah berlalu.


Anin memasang muka cemberut nya. Sinta yang sudah datang melihat teman nya itu.


"Kenapa Nin?" tanya Sinta yang sedang duduk di kursi nya.


"Gak papa kak, habis ketemu orang nyebelin!"


"Siapa? Cewek apa cowok?"


"Cowok!"


"Siapa sih? Pasien?"


Bagas masuk kembali ke pustu dan dilihatnya Anin berbincang dengan seorang perempuan disana. Bagas menganggukkan kepala dan tersenyum. Anin dan Sinta melihat senyuman itu meleleh.


"Gak usah senyam senyum! Bang Raka kalau udah selesai buruan balik posko sana! Anin eneg lihat nya!" teriak Anin memekak kan telinga.


"Bibir punya mas, senyum kok kamu larang! Kenapa? Takut jatuh cinta lagi ya? Meleleh kan? Pasti meleleh iya kan?"


"Emang aku plastik atau es meleleh. Buruan balik sana!"


Sinta yang tidak tahu ada hubungan Anin dan Bagas bingung. "Anin sama pasien kok gitu? Sakit apa bang? Mari saya periksa"


"Oh, tidak usah bu. Tadi sudah diperiksa sama bu bidan Anin. Soalnya hanya dia obatnya"


"Cieeeee" kompak Salma, Raka, dan Sinta menggoda Anin.


"Ihhh, apaan sih?!"


"Ayo mbel, kasian nanti dia gue godain melulu. Dek, abang ke posko ya"


"Iya kak, hati-hati. Oh ya, nanti tolong bilangkan anggota kakak suruh antar Anin kembali ke puskesmas"


"Oh gak usah, nanti biar mas aja yang jemput. Oke ayang beb?"


Anin semakin melotot kepada Bagas. Muka nya semerah tomat rebus.


"Ogah!"


"Hahahahaha" semua sontak tertawa melihat Anin yang senewen pagi ini.


"Ya sudah, ayo mbel, nempel melulu lo sama adek gue!"


"Bantuin nyet, kaki gue masih sakit!"


"Tentara kok lemah!"


"Sialan!" Raka dan Bagas meninggalkan pustu.


.

__ADS_1


Bagas dan Raka menyisir desa itu. Mereka melalui jalur dan mengamati sekitar.


"Ini kalau lurus terus tembusnya kemana nyet? Pasti mereka tetap menggunakan jalur air. Pasti ada rawa disini" ucap Raka yang dibonceng Bagas lebih fokus mengamati keadaan desa itu.


"Lo lihat ada yang mencurigakan gak mbel?"


"Belum"


"Oke sisirin jalanan ini dulu deh. Sampai mentok! Tapi kalau lewat sini pasti mereka melewati posko kita dulu dong. Bener gak?"


"Iya juga. Apa petugas kita tidak memeriksa? Mending tanya ketua adat disini deh nyet. Daripada gak ada titik terang"


"Cari alasan dulu yang masuk akal biar gak curiga"


Bagas dan Raka menyisir jalan desa itu dan memang tidak ada yang mencurigakan. Mereka kembali ke posko. Bagas bertanya kepada Danki yang bertugas disana.


"Jalan menuju ke batas desa hanya ini aja Ron?" tanya Bagas kepada Roni.


"Iya Ndan, hanya ini jalur satu-satunya"


"Ada nggak Ron jalan menuju rawa atau desa lain yang masih dekat dengan sini?" Tanya Raka


"Oh, ada Ndan! Tapi jalur itu ditutup sepertinya" jawab Roni


"Kenapa ditutup?"


"Itu yang kami tidak tahu. Nanti Roni coba tanyakan ke ketua adat disini. Orangnya ramah kok Ndan"


"Antarkan aku sekarang ke jalur yang ditutup itu. Dan kalian tidak menyebar kesana?" pinta Bagas


"Lakukan penjagaan disana"


"Siap, Ndan!"


"Ayo antarkan aku"


Roni mengantarkan Bagas ke jalur yang dimaksud. Jalan setapak yang masih bisa dilalui dengan motor. Sepi. Sunyi. Jalan itu berujung di rawa. Bagas mengamati sekitarnya.


"Ada tidak kapal kecil atau tongkang lewat sini?" tanya Bagas


"Tidak ada Ndan, ada satu jalan lagi yang mau saya tunjukkan. Jalan itu langsung terhubung dengan desa sebelah. Kalau kita ingin ke desa sebelah lewat batas desa butuh waktu yang cukup lama, sekitar 30 menit. Tapi jika kita lewat sana hanya 20 menit akan sampai di desa sebelah Ndan"


"Hmm, lakukan penjagaan di sekitar sini. Dan sepanjang rawa ini. Sebar anggota kita. Kami butuh bantuan kalian. Besok saja kau antar Raka ke jalan yang ingin kau tunjukkan. Sudah hampir sore, mari kita kembali ke posko" Bagas memutuskan untuk mengakhiri penyisirannya karena belum menemukan titik terang.


Bagas dan Roni sudah berada di posko. Raka menanyakan kepadanya hasil penyisirannya.


"Gimana nyet?"


"Nihil! Besok lo sama Roni penyisiran lagi deh, gue harus menghadap komandan. Jadi hari ini bisa gak bisa gue harus dapetin data itu"


"Semangat nyet! Kan ada untungnya juga, lo jadi deket sama Anin lagi kan?"

__ADS_1


"Deket sih deket mbel, tapi mulutnya itu lho pedes kebangetan. Masa tadi dia ngatain gue penjahat wanita?"


"Hahahaha, belum seberapa. Nanti akan lebih lagi"


"Ndan, ijin sebentar mengantarkan bidan Anin ke puskesmas" Roni meminta izin kepada Bagas.


Bagas dan Raka saling lihat.


"Ada hubungan apa sama Anin?" tanya Bagas mulai kepo.


"Siap! Hanya teman Ndan"


"Dia ada disini atau bagaimana kok minta diantar kamu?"


"Siap! Saya menerima chat dari nya Ndan"


"Blokir nomornya. Biarkan aku yang mengantarnya. Aku ada urusan dengan nya"


"Siap!" Roni dengan cepat memblokir nomor Anin.


"Mbel, gue balik dulu. Besok laksanakan tugas lo. Jangan genit sama adek gue!"


"Ihh, mas Bagas. Gue kan genitnya cuma sama lo doang" ucap Raka dengan genitnya dan mengedipkan sebelah mata.


"Idih, ngeri gue mbel! Udah, gue balik dulu!" Bagas mengambil kunci motor Raka dan bergegas ke pustu kembali. Roni sedari tadi menahan tawa.


"Ron, bikinin kopi ya" ucap Raka


"Siap! Bertanya boleh Ndan?"


"Apa?"


"Bidan Anin apanya kapten Bagas?"


"Mantan tunangan, jangan macam-macam. Jauhi Anin sebelum lo dijahili Bagas"


"Siap! Kami hanya teman, saya kan sudah punya calon di Surabaya"


"Bagus pertahankan"


.


Bagas sudah berada di depan pustu. Anin mengira yang datang memang Roni. Dengan cepat dia berberes dan berpamitan dengan teman-temannya lalu menghampiri Roni. Setelah Anin keluar yang dilihat bukan Roni melainkan Bagas.


"Kemana si Roni sih? Kenapa dia lagi yang muncul?" gumam Anin lirih. Telinga Bagas masih bisa mendengar meskipun gumaman Anin lirih. Bagas menoleh dan tersenyum.


"Udah siap?" tanya Bagas semangat.


Anin menghubungi Roni tidak bisa. Akhirnya dia bertekad berjalan kaki sampai bertemu jalan besar. Gempor-gempor deh.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2