Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 108


__ADS_3

Ayah dan rombongan sudah kembali ke rumah. Tristan memilih duduk di teras sambil melihat hp nya. Anin yang sudah berganti baju ikut duduk di teras.


"Nin, fotonya udah kamu kirim ke Tari?"


"Udah, kenapa?"


"Kok dia gak komentar apa-apa sih?"


"Positive thinking aja, mungkin dia lagi sibuk sama nenek nya. Emang Tari gak ngasih tanda kalau ada rasa sama abang?"


Tristan menggelengkan kepalanya. "Hmm, begini ya rasanya jatuh cinta. Semoga hasilnya baik"


"Aamiin, Abang mau usaha apaan dalam 3 bulan ini?"


"Abang sedang mencoba merintis di dunia makanan. Abang kemarin beli food truck untuk stand nya kerena kalau dipikir mending beli itu daripada harus sewa gedung"


"Jualan apa?"


"Roti sama kopi, jadi jualan nya fresh tiap hari"


"Maksudnya fresh?"


"Abang buat nya kalau sudah ada yang memesan. Kamu pernah lihat nggak di korea atau di jepang? Mereka kan konsep jualannya begitu. Bahan memang di olah tapi dibuat jika ada pemesanan"


"Waah, bagus juga ide nya Bang. Anin boleh ikut bantu gak? Tari gak ada disini jadi Anin gak ada kegiatan"


"Ijin sama om dulu, takutnya gak boleh"


"Siap, Abang gak bilang ke mas Bagas kejadian kemarin kan?"


"Sesuai permintaan anda nona, lagian kalau sampai tahu leher aku gak utuh lagi Nin"


Baru saja diomongkan, Bagas sudah melakukan video call.


"Halo, Assalamualaikum mas"


"Waalaikun salam, kamu baik yank?"


"Iya Anin baik, mas apa kabar?"


"Alhamdulillah mas baik, mas baru selesai misi. Besok mas libur tapi belun bisa pulang maaf ya yank"


"Iya gak papa. Kamu dandan cantik mau kemana?"


"Mbak Nisa hari ini nikah mas, tadi dari kondangan kesana. Mas gak dapat undangan?"


"Ngaco kamu, meskipun dapat gak mungkin mas bisa datang. Nisa nikah sama siapa yank?"


"Iiihhh, kepo sama mantan ya? Hahaha"


"Hahahah, kamu cemburu?"

__ADS_1


"Ngapain cemburu, toh mbak Nisa udah jadi istri orang lain. Mbak Nisa nikah sama pengusaha kayaknya, duda anak 1 yang jelas"


"Oww. Tristan sama Tari gimana yank?"


"Lebih cepat selangkah dari perkiraan Anin. Sekarang bang Tris lagi merintis usaha. Dalam 3 bulan dia harus membuahkan hasil kalau mau dapetin Tari"


"Baguuuusss, biar dia belajar tanggung jawab. Ya sudah salam buat Ayah dan Ibu. Mas mau istirahat dulu ya yank"


"Iya mas, selamat istirahat sayangkuu"


"Cium dong"


"Nggak ah, malu. Udah sana. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Bagas mematikan video callnya.


.


Jakarta


Bagas bermimpi lagi. Mimpi yang sama. Mimpi dimana Anin menyelamatkan dirinya.


"Nin, Nin, Aniin!" Bagas terbangun dari mimpinya. Dia mengusap kasar wajahnya. Dilihatnya jam pada layar ponselnya. Jam 3 pagi. Cepat-cepat dia mengambil air wudhu dan melaksanakan tahajud.


Raka yang sudah selesai tahajud melihat Bagas begitu gusar.


"Istighfar dulu. Biar tenang"


"Astaghfirullah hal adzim" Bagas mengambil nafas dalam dan membuangnya. Dia membaca niat dan melaksanakan tahajud. Selesai tahajud dilihatnya Raka yang masih sibuk dengan ponsel di telinganya.


"Iri? Bilang bos! Hahah, terserah gue mau telpon jam berapa, hp punya gue, pacar juga pacar gue"


"Siapa sih dia? Penasaran gue! Gue mau curhat"


"Ogah, gue ngantuk!" Raka segera menutup muka nya dengan bantal.


"Mbel, serius ini. Gue gak tahan sama mimpi gue. Apa jangan-jangan memang gue harus menjauhi Anin?"


Raka yang mendengar perkataan Bagas membuka kembali bantal nya.


"Maksud lo?"


"Putus" jawab Bagas pasrah


"Sampai lo lukai perasaan Anin gue habisin lo!"


"Gue ngerasa semenjak gue masuk pasukan ini Anin selalu dalam bahaya. Mungkin jalan terbaik nya putus"


"Mimpi hanya bunga tidur! Udah gak usah dipikirin lagi"


"Tapi mbel, ini mimpi terus muncul tiap malam!"

__ADS_1


"Istikharoh aja deh kalo gitu. Tapi gue memang gak rela kalau lo nyakitin hati dia. Bener! Gue habisin lo! Udah tidur dulu. Semoga ada jawaban dari istikharoh mu"


"Aamiin"


.


Hari berlalu tanpa ada yang berarti. Anin membantu Tristan yang sedang mengembangkan usahanya. Bagas masih dalam misi dan dihantui oleh mimpi yang sama, Salma melaksanakan tugasnya, Tari sudah mulai mengajar di Kalimantan.


"Duh, tepung nya kurang lagi" Tristan tepok jidat ketika mengetahui


"Kenapa?"


"Abang belanja dulu ya, banyak keperluan kita yang habis"


"Anin aja yang beli, Abang list aja kebutuhannya, nanti aku tinggal beli"


"Yakin kamu bisa?"


"Bisa dong! Jangan meremehkan Anin. Buruan, keburu ada pelanggan lagi" Tristan segera menuliskan bahan dan perlengkapan yang habis dan memberikan nya kepada Anin. Dengan segera Anin pergi ke pasar untuk membeli perlengkapan tersebut.


Tak butuh waktu lama bagi Anin untuk menemukan bahan-bahan itu. Anin segera kembali setelah dirasa lengkap. Anin berjalan santai, tapi dirinya merasa seperti sedang diikuti. Dengan cepat Anin memastikan lewat kaca rias miliknya. Dia menghitung jumlah orang yang mengikuti nya.


"1 2 3 4, 2 orang sebelah kiri 2 orang sebelah kanan. Oke tenang Nin, cari dulu tempat ramai. Habis itu lari yang kenceng" gumam Anin kepada dirinya sendiri.


"Oke, 1 2 3" Anin mulai mempercepat langkahnya ke keramaian. Setelah dirasa agak aman dari penguntit tadi Anin lari dengan sangat kencang kembali ke food truck milik Angga. Tapi belum sempat sampai, Anin sudah terlebih dahulu dikepung.


"Mau lari kemana gadis cantik?"


"Siapa kalian? Mau apa?"


"Mau kamu, yok kita senang-senang"


"Cih, pengecut! berani nya sama perempuan!"


"Jangan banyak omong, sikat!" 4 orang preman tadi menyerang Anin. Awalnya Anin memang bisa menghindar. Tapi lama kelamaan Anin kewalahan. Pengunjung Tristan ada yang melihat kejadian tersebut.


"Ada apaan mbak disana?" Tanya Tristan.


"Ih, serem bang. Mbak2 dikeroyok preman 4" kata pembeli itu. Tristan seakan yakin itu Anin.


"Mbak titip sebentar ya, saya mau nolongin dulu"


"Iya bang, janga lama ya" ucap pembeli itu setengah berteriak


Tristan menghampiri kawanan itu, dan benar saja Anin yanh diserang. Dilihatnya Anin tersungkur dengan memegangi daerah perut nya. Tristan tersulut emosi nya. Dia dengan cepat menghajar orang-orang tersebut. Preman itu lari karena takut.


"Kamu gak papa Nin?"


"Hah, untung abang datang. Anin baik" Anin segera bangun dan mengambil belanjaannya. Dia dan Tristan kembali ke food truck nya. Melayani pembeli yang datang.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2