
Bagas dan Anin masih duduk di teras. Sedangkan Tristan sudah pamit entah mau kemana.
"Besok berangkat pukul berapa mas?"
"Pagi yank, jam 7 sudah lepas landas. Kamu kenapa gak pernah cerita kalau bolak balik diculik?"
"Gak papa, aku gak mau konsentrasi kamu terbagi. Udah itu aja. Yang penting kamu fokus dengan masa depan kamu"
"Ya tapi kan mas juga pengen tahu yank, cerita apapun masalah yang kamu hadapi disini. Mas juga pengen jadi orang yang bisa kamu andalkan" ucap Bagas sambil membelai rambut Anin.
"Iya, besok cerita deh. Oh ya mas, aku sekarang lagi latihan beladiri lho. Kemarin sih yang ngajarin almarhum Angga. Sekarang sepertinya harus cari guru baru deh"
"Minta tolong sama Tristan. Dia juga sabuk hitam. Cuma ya begitu anaknya. Sak karepe dewe alias seenaknya sendiri. Yank, jalan yuk. Ajak Tari gih"
"Bentar ya" Anin masuk ke dalam rumah. Mencari keberadaan Tari. Ternyata dia sedang rebahan di sofa. "Ri, lo nangis?" Anin terkejut melihat sahabatnya yang sesenggukan sambil menatap foto Angga di hp nya.
"Huhuhuhu, gue tersiksa dengan keadaan ini Nin, gue pengen dia ada disini sekarang, hati gue sakit"
"Sabar. Coba untuk lepaskan. Sekeras apapun kamu berharap dia kembali itu hal yang tidak akan pernah terjadi Ri. Ikhlaskan" Anin bersimpuh di hadapan Tari dan memeluk sahabatnya.
"Susah Nin, ngomong sih gampang. Huhuhu"
"Udah, lo pasti bisa. Gue ada buat lo. Gue bakal bantuin lo ikhlasin Angga. Ke pantai yuk!"
"Gelap ngapain ke pantai. Pantainya udah tutup"
"Ke bukit bintang? Udah lama kan kita gak kesana. Yuk!"
"Ya udah lah ayo. Lo sama mas Bagas, gue sendirian dong, huuhuuuhuuuu"
"Nanti lo sama Bang Tristan" celetuk Anin.
"Gak ikut kalau ada dia! Males!"
"Kok gitu?"
"Iya lah, dia tuh ya kalau ada aku marah melulu. Main salah-salahin orang sembarangan lagi"
"Jangan begitu, nanti cinta lhooo" canda Anin
"Ogah, cowok kasar kayak begitu! Ogah Nin"
"Hahaha, ya udah siap-siap yuk"
Tari dan Anin bersiap. Bagas masih menunggu di teras.
.
__ADS_1
"Ayo Mas, ke bukit bintang ya?"
"Siap! Bentar ajak Raka sama tim mas yang lain. Biar mereka juga refreshing"
Merapat di bukit bintang. Gunakan pakaian santai. Gue traktir kalian karena berhasil misi. Bagas mengirim chat ke tim nya. Tak lupa pula dia mengirim kepada Tristan.
.
Bagas, Anin dan Tari sudah tiba di bukit bintang, tak lama Raka dan tim Bagas juga tiba. Mereka mencari tempat duduk. Tak lama Tristan pun datang. Dia langsung duduk di sebelah Tari.
"Silahkan pesan. Karena kerja kalian bagus saya beri reward makan gratis" ucap Bagas.
"Horeeeee. Sepuasnya kan Kapt?" ucap Hendi (paus)
"Iya sepuas kalian"
"Siap laksanakan Kapt!" ucap Hendi (paus), Agus(panda 1) dan Hendra (panda 2) bersamaan. Membuat pengunjung lainnya menoleh ke arah mereka. Tatapan mereka seakan bicara aneh.
Pelayan mencatat pesanan mereka. Cukup banyak yang mereka pesan. Hingga pesanan tiba mereka bersendau gurau. Ada juga yang mengambil foto pemandangan indah disitu. Disebut bukit bintang karena dari tempat itu kita bisa melihat keindahan kota Semarang. Gemerlap lampu rumah pada malam hari semakin menambah keindahan tempat itu. Bintang yang dimaksud adalah gemerlap lampu rumah itu.
"Hai, boleh kenalan? Aku Agus"
"Tari" mereka berjabat tangan. Tristan hanya bisa melihat nya. Sebenarnya ada rasa tidak rela ketika Tari berjabat tangan dengan Agus.
"Tari asli orang sini?"
"Iya"
"Masih pengangguran"
"Oohhh, kalau perempuan mah bebas boleh kerja boleh gak. Boleh tukar nomor hp?"
Tari agak berpikir. "Untuk?"
"Untuk kenal lebih dekat dengan Tari"
Tristan yang sedari tadi cuek sambil bermain hp sudah tidak tahan lagi. Dia mengambil hp Agus yang tadi disodorkan kepada Tari. Dengan segera dia mengetik nomor ponselnya. Dan memberi nama kontak SUAMI TARI. Sontak mata Agus terbelalak melihat nama kontak itu.
"Eh, maaf ya Bang, saya tidak mengetahui jika..."
"Makanya, gak usah sok. Makan yang banyak sana!" Tristan memotong pembicaraan Agus takut jika sampai menyebutkan nama kontak yang ditulisnya. Agus yang seakan mendapat tamparan keras mengakhiri obrolannya dengan Tari dan memilih bergabung bersama teman-temannya. Raka lebih memilih diam dan memainkan game di hp nya.
Anin melihat Bagas sibuk bercanda dengan teman nya. Dia menggunakan kesempatan itu untuk mengobrol dengan Raka.
"Bang, kenapa?"
"Eh Nin, gak, gak papa"
__ADS_1
"Masih kepikiran gimana jujurnya sama mas Bagas?"
"Hmm? Kok tahu sih. Pusing kalau ingat itu Nin. Mau abang sembunyikan kayak apapun pasti bakalan tahu juga kan? Tapi makin lama abang sembunyikan hati abang makin gak tenang"
"Kenapa gak coba ngobrol?"
"Susah Nin, abang takut. Entah lah Nin. Nanti abang cari cara buat ngomong sama Bagas"
"Sabar ya, Anin yakin kok kalo mas Bagas bakalan ngerti"
"Kalau gak gimana?"
"Jangan pesimis dong. Nanti Anin bantu ngomong deh"
"Aaahhh, makasih adek abang"
"Sama-sama abang, hahaha"
"Hey, gak boleh berbagi senyuman sama cowok lain!" Bagas mengagetkan Anin dari belakang.
"Apaan sih nyet, ini adek gue lho. Terserah gue mau bercandaan sama dia"
"Adek ketemu gede mbel. Tetep gak boleh!"
"Terserah lo deh nyet"
.
"Kamu kasih nomor siapa sampai dia pergi begitu?" Tari menyelidik Tristan.
"Ada deh, keppo!"
"Idih, ogah banget kepo sama kamu!"
"Makan gih! Daritadi cuma diem aja. Jangan kebanyakan bengong. Makan yang banyak nanti sakit kalau gak makan"
"Gak usah sok perhatian"
"Gue serius perhatian. Tulus. Gue gak suka lihat lo bengong, nangis. Mending makan. Kalau ada beban cerita, jangan dipendam sendiri"
Tari berlagak tak mendengarkan ocehan Tristan. Dia sibuk mengunyah makanannya.
.
.
.
__ADS_1
Tuh, udah tulus pehatiannya. Ayok jadian ayok jadian ayok
Hahahha author lagi seneng guys.