
Om Herman dan Tante Indira mengantarkan rombongan ayah Ardhi ke bandara. Penerbangan kali ini sangat pagi. Jam 7 mereka akan lepas landas.
"Kita nanti ngapain aja mas?" tanya Anin saat sudah duduk di samping Bagas.
"Ngurus surat nikah yank, kemarin kan belum di tandatangani kita, kamu juga belum capeng kan kemarin?"
"Belum, udah diurus semua sama om Eri? Kok bisa ngajuin padahal kita belum melengkapi tanda tangan dan foto"
"Dibantu sama saudara om Eri di KUA. Tidur dulu gih. Masih pagi banget, kamu banyak ngemeng"
"Ish, yawes aku diem bae kalo gitu!"
"Tuh kan, malah marah. Maksud mas simpan tenaga kamu untuk nanti. Kita masih muter-muter melengkapi yang kurang. Meskipun dibantu om Eri tapi kan ya gak semua bisa dihandel 1 orang sayang"
"Hmm" Anin membuang muka menghadap jendela.
"Ih, malah marah. Karepmu lah. Mas ngantuk" Bagas tak memperdulikan Anin dan memilih memejamkan mata.
Anin menyandarkan kepalanya di lengan kekar Bagas dan mengalungkan tangannya ke lengan Bagas.
"Maaf" ucap Anin.
"Iya, udah tidur. Jangan marah-marah lagi. Mas gak suka kamu marah. Mas takut. Kamu itu kalau marah nyeremin dan nyebelin. Jangan dijawab. Ayo merem"
Mereka memejamkan mata sampai pesawat tiba di bandara Ahmad Yani Semarang. Mereka langsung mencari om Eri.
Ayah menghampiri Eri. Eri menatap Anin. Membuat Anin bingung kenapa dirinya ditatap.
"Terima kasih telah mau menjadi orang berharga bagi kakak om. Saya Eri Sumantri, adik dari ayah angkat kamu, Edi Sumantri" terang Eri kepada Anin yang sedari tadi bingung.
"Oh, assalamualaikum om Eri, saya Anin" ucap Anin sambil menyalami tangan Eri dan tersenyum.
"Waalaikum salam, ayo kalian sudah harus ke KUA dan puskesmas untuk capeng. Nanti ikut seminar sebentar ya"
"Seminar apa om?" tanya Bagas.
"Ini lho mas, penyuluhan pra nikah. Kayak kemarin pembinaan mental. Program wajib bagi calon pengantin" terang Anin.
"Oh, oke lah. Ayo om"
Bagas dan Anin ikut mobil om Eri. Sedangkan Ayah dan Ibu pulang ke rumah naik taksi.
"Gas, nanti ajak Anin ke rumah kalau sudah selesai. Ibu pengen suruh nyoba kebaya nya" perintah ibu kepada Bagas.
"Iya bu. Bagas sama Anin berangkat dulu. Ayah sama ibu hati-hati pulangnya"
Anin dan Bagas menyalami kedua orang tuanya dan berlalu dengan om Eri. Bagas dan Anin mengikuti alur yang diberitahu om Eri. Setelah selesai dengan urusan KUA, mereka menuju puskesmas untuk capeng. Tak perlu waktu lama mereka telah selesai mengurus administrasi untuk nikah agama.
Waktu menunjukkan tengah hari. Mereka langsung pulang ke rumah ayah Ardhi. Anin masih harus mencoba kebaya nya.
__ADS_1
"Capek yank?" tanya Bagas saat mereka sudah tiba di rumah ibu.
Anin menyandarkan tubuhnya pada sofa dan mengangguk. "Laper jugaaa"
"Tunggu sini dulu, mas ambilkan makanan" ucap Bagas sembari masuk ke dalam mengambilkan makanan.
Ibu dan Ayah tersenyum melihat sikap Bagas terhadap Anin. Mereka menghampiri Anin yang terduduk lesu.
Anin bangkit dan menyalami orang tua nya.
"Capek Nin?" tanya Ayah.
"Hehehe, iya yah, capek bolak baliknya"
"Sabar ya sayang, bentar lagi selesai kok. Tinggal besok akad" ucap ibu sambil mengelus rambut Anin.
Anin memeluk ibu. "Makasih ya bu, ibu milib Anin sebagai menantu ibu"
"Bukan ibu yang memilih, Allah lah yang telah mengatur semuanya. Ibu pesen sama kamu, jaga rumah tangga kalian. Jaga kehormatan suami kamu. Karena kalian tidak bisa selalu bersama. Saling menjaga hati satu sama lain"
"Iya bu"
Bagas kembali dengan membawa makanan dan minuman.
"Awas bu" ucap Bagas.
"Hahaha, maksud Bagas ini lho, tangan Bagas penuh makanan. Mau nyuapin calon istri"
"Gayamu nyuapin, biasanya kamu yang minta disuapin ibu. Gas Gas"
"Udah sih bu, jangan buka semua kartu As Bagas"
"Kalian ini malah ribut sendiri. Kasihan Anin tuh kelaperan" timpal Ayah.
"Masuk yuk bu, ayah iri kalau lihat yang muda uwu uwu an gitu"
Bagas dan Anin saling toleh. Darimana ayah tahu kata-kata uwu? Itu yang ada di pikiran mereka.
"Hahahaha" mereka tertawa.
"Ayah, darimana tahu kata-kata uwu?" tanya Anin.
"Kan ayah juga masih seumuran kalian" jawab Ayah mendapat lemparan bantal dari ibu.
"Hahahaha" mereka tambah kencang tertawanya
"Sadar yah sadar! Bentar lagi nimang cucu kok masih aja halu. Wes ayo istirahat. Biarkan mereka yang ber uwu-uwu ria" Ibu beranjak dari duduk nya dan diikuti ayah.
"Ayah mau absen dulu. Gas, kebaya Anin ada di ruang loundry nanti suruh coba. Terus antarkan pulang. Jangan macem-macem sama calon mantu ayah!"
__ADS_1
"Siap Ndan!"
Anin geleng-geleng kepala dengan sikap ayah.
"Ada-ada saja si ayah" ucap Anin.
"Ayo makan dulu. Makan sendiri ya"
"Ih, tadi katanya mau nyuapin aku. Gimana sih"
"Iya deh iya mas suapin. Makan yang banyak. Nanti jangan lupa coba kebaya dulu yank"
"Coba kebaya nya di rumah aja lah. Alu takut kalau disini"
Bagas mengerutkan keningnya. "Takut?"
"Iya, takut ada setan nemplok di diri kamu terus nerkam aku!"
"Mmmm, kode keras nih minta diterkam sekarang"
"Ih, awas ya macam-macam"
"Gak macam-macam satu macam aja"
"Apaan sih"
Mereka saling bercanda hingga makanan nya habis tak bersisa.
"Weeehh, habis! Anak pintaaarr. Ambil kebayanya, terus mas antar pulang. Besok dijemput om Eri jam 7 pagi. Dandan disini dan ijab disini"
"Iya, kamu ceriwis banget sih"
"Udah jangan protes aja. Cepetan sebelu mas beneran nerkam nih"
"Uuuu, takuuuutt" Anin mengambil kebaya nya dan diantar pulang oleh Bagas.
.
.
.
Like
Komen
Vote
Tip
__ADS_1