Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
Minta Maaf


__ADS_3

Anin dan Tari sudah berada di kafe milik Angga.


"Ri, Nin. Baru datang? Mau minum apa makan? Pesan aja"


Angga melihat Tari yang sedari tadi diam bertanya pada Anin.


"Dia kenapa?"


"Marah sama gue kayaknya bang, gue ngajak dia kesini mau ketemu sama kak Adit. Orang yang jasi selingkuhan tante Nam"


"Ooh, Ri, jangan ngelamun. Cobalah memaafkan. Itu akan lebih membuat hati kamu lega Ri"


"Aku hanya takut jika sudah begini apakah mamah akan terus melakukan tindakan yang tidak berfaedah ini atau akan berhenti"


"Serahin sama Allah, beginilah takdir bekerja" Angga menggenggam tangan Tari membuat Tari paham dengan maksud Angga.


"Ehehem, gue dikacangin nih" Anin berdehem.


"Ya kan biasanya gue yang jadi kacang Nin, gantian dong biar impas"


"Bang, Tari minta cepetan dilamar" Anin asal bicara untuk mencairkan suasana.


"Sumpah mulut lo ya" Tari menunjuk muka Anin


"Emang kamunya gak mau dilamar biar sama kayak Anin gitu?" Angga bertanya langsung kepada Tari.


"Aku nya masih trauma sama mamah"


"Gak semua bakalan seperti itu. Kamu itu terlalu takut dengan hal yang tidak pasti"


"Bener Ri, lo sering nasehati gue biar gak terlalu takut akan kehadiran kak Nisa. Malah lo begini sendiri"


"Ntar lah, gue pikiri lagi"

__ADS_1


Jawaban Tari yang demikian membuat Angga sedikit kecewa.


"Mending di halal in daripada diberi hubungan yang tidak jelas arahnya" tandas Angga dan pergi meninggalkan Anin dan Tari.


Anin dan Tari agak terkejut dengan ucapan Angga.


"Emang salah kalo gue ngomong gitu Nin?"


"Bukan salah sih Ri, agak nyinggung aja. Dia tu dari dulu serius kali sama lo. Lo nya malah begitu ke dia. Kalo sampe dia nglamar cewek lain apa lo gak mewek?"


"Jangan dong, ini mana lagi si Adit. Sebel gue, dia tu gak bisa on time apa gimana sih?"


"Bentar gue chat dulu. Lagian kita datangnya lebih awal kaliii"


Belum sempat Anin mengambil hp nya, dia melihat sosok Adit yang baru saja datang.


"Noh orangnya datang" Anin menunjuk orang dengan kemeja hijau kotak kotak.


"Hai Ri, Nin. Maaf agak macet" Kata Adit basa basi


"Gue mau minta maaf, gue tau gue salah. Gue... gue gak tau harus gimana lagi Ri"


"Udah kan? Yok Nin pulang!"


"Tunggu Ri, tolong minta bokap lo untuk gak nyeraikan nyokap lo"


"Punya hak apa situ? Ibarat pepatah nasi udah jadi bubur. Sidang udah berjalan dan sekarang lo minta bokap gue buat gak nyeraikan nyokap gue?"


"Gue tau gue salah. Tapi nyokap lo masih butuh bokap lo. Masih cinta sama bokap lo. Dia hanya kesepian"


"Terus kalo kesepian larinya ke selingkuh gitu?"


Adit diam tidak bisa menjawab pertanyaan Tari. Suasana mendadak hening. Anin pun tidak tahu harus berkata apa.

__ADS_1


"Gue bakal pergi dari kehidupan nyokap lo. Tolong lo jaga beliau seperti beliau menjaga lo. Gue pengen lo juga bisa maafin beliau. Kami memang salah. Dan sekarang kami yang akan menanggung akibatnya. Makasih atas kesempatan lo mau datang kesini. Sekali lagi gue minta maaf"


"Gue maafin. Tapi kalo untuk permintaan lo tentang nyokap gue butuh waktu untuk menyendiri dan mengambil keputusan. Cerai adalah jalan terbaik untuk ini, karena nyokap bukan cuma sekali ngelakuin kesalahan ini"


"Makasih sekali lagi. Gue pamit" Adit meninggalkan kafe.


Anin mengejar Adit yang sudah sampai di parkiran kafe.


"Kak Adit!"


Adit menoleh


"Iya, ada apa Nin?"


"Kakak mau pergi kemana?"


"Kakak mau kembali ke desa kelahiran kakak"


"Semoga kakak menemukan kebahagiaan kakak, dan tolong jangan lakukan pekerjaan itu lagi"


"Makasih Nin, makasih juga nasihatnya. Doakan kakak semoga tidak terjerumus lagi. Boleh kakak peluk kamu?"


"Eeemmm, salaman aja ya kak" Anin menolak tawaran Adit.


"Baiklah" Adit berjabat tangan dengan Anin.


"Kakak berhutang budi padamu, dan kakak akan membayarnya kelak" Adit tersenyum kepada Anin. Anin membalas senyuman itu.


"Kakak pamit, Assalamualaikum"


"Waalaikum salam"


Adit berjalan meninggalkan kafe. Anin masih melihatnya sampai menghilang.

__ADS_1


Semoga bahagia menyertai mu kak


__ADS_2