
5 hari sudah Anin berada di rumah sakit. Beruntung Anin dirujuk disana. Suster disana sangat baik terhadapnya. Bagaimana tidak. Bagas yang katanya menjadi bapak siaga tiap Sigit menangis selalu tak terdengar olehnya.
Akhirnya dokter mengijinkan Anin untuk pulang. Tapi dirinya masih harus kontrol jahitan lagi di rumah sakit. Ibu memberikan banyak makanan kepada suster yang jaga disana, karena selama dirawat disana Anin diperlakukan dengan baik. Ayah dan ibu memiliki status baru sebagai mbah kakung dan mbah putri. Sedangkan Bagas dan Anin memiliki status baru sebagai papah dan mamah bagi Sigit. Begitu pula dengan Tari dan Tristan, Salma dan Raka.
Bagas dan Anin sudah sampai di rumah. Mereka masuk ke dalam rumah yang sudah hampir seminggu mereka tinggalkan.
"Assalamualaikum" ucap mereka bersamaan.
"Waalaikum salam. Surpriseeeeeeee" ucap Raka, Tristan, Tari dan Salma. Mereka menyambut kedatangan Bagas, Anin dan Sigit.
"Ya Allaaaah, terharu gue sama kaliaaaan. Bagus banget penyambutannya" Anin senang melihat rumahnya didekorasi.
"Iya dong, siapa dulu yang ngedekor. Mana ponakan gueee. Mau gue gendong dong" jawab Tari.
"Gak bisa, gue dulu" sahut Salma.
"Enak aja. Kan kita yang lebih tua daripada kalian" sewot Tristan.
"Ngalah dek, mereka udah tuwir. Kasih kesempatan mereka dulu" sahut Raka.
"Ya sudah deh. Gantian nanti" jawab Salma
"Kalian ini sudah pada tua masih saja kayak anak kecil. Rebutaaaaan, ribuuuut terus" kata Ayah menghardik mereka.
"Marahin yah, bu. Mereka tuh emang" sahut Bagas mengompori.
"Kamu juga Gas, selama di rumah sakit Sigit nangis tengah malam siapa yang ngurusi? Kamu?"
Bagas nyengir dan menggeleng. Sontak mendapatkan sorakan dari semuanya.
"Wooooo, gayamu"
Anin tertawa melihat suaminya diserang seperti itu. Mereka menjadikan Sigit sebagai boneka untuk mereka. Gemas, mencium, menggendong, memandikan. Berebut untuk mengurus Sigit. Beruntung sekali kamu nak, semua sayang sama kamu.
Malam menjelang. Mereka pamit untuk pulang. Ayah dan Ibu menemani Anin dan Bagas mengurus Sigit.
"Kamu tidur duluan saja Nin, Sigit biar ibu yang jaga. Nanti gantian kalau dia menangis" ucap ibu
"Ya bu. Anin istirahat dulu. Sigit jangan merepotkan mbah ya nak" pesan Anin kepada Sigit dan mencium pipi anaknya.
Anin tidur terlebih dahulu. Dia terlalu nyenyak. Hingga pukul 1 dini hari Sigit menangis dengan kencang. Ternyata Sigit dan Bagas sudah tidur di sisinya.
"Eh, anak mamah bangun. Kenapa sayang. Lapar? Atau ngompol?" Anin meraba popok anaknya, ternyata ngompol.
"Ooh, ternyata ngompol. Mamah ganti ya. Pah, papah" Anin menggoyang-goyangkan tubuh Bagas.
"Hmmm" jawabnya masih sambil merem.
__ADS_1
"Bangun dong pah, tolong ambilkan air di baskom itu buat membersihkan ompolnya Sigit. Aku belum bisa gerak banyak nih pah"
Bagas bangun dengan malas. "Yang ikhlas dong sayaaaaang"
Bagas melek dan menghampiri baskom itu. Dia juga mengambilkan popok ganti untuk anaknya. Anin membersihkan ompol anaknya dan mulai menyusui anaknya. Bagas membereskan ompolan itu dan segera menemani istrinya.
"Sigit nyusunya kuat banget ya yank?" tanya Bagas.
"Iya, namanya juga anak laki-laki mas. Aku lapar nih. Bisa minta tolong buatkan mie gak?"
"Enak aja mau makan mie, sebentar, mas bikinkan kamu omelette sayur sama ambilkan buah. Kasihan Sigit dong kalau kamu makan mie gizinya darimana?"
"Ya sudah lah, apapun. Cepet ya pah, mamah lapar"
Bagas mengecup kening Anin dan tersenyum "Cie yang sekarang statusnya jadi mamah dan papah"
"Apaan sih kamu. Gak jelas ih" Anin menahan senyumnya. Bagas berlalu ke dapur untuk membuatkan makanan Anin. Ini baru namanya suami siaga.
Tak berapa lama Bagas sudah kembali dengan membawa makanan dan melihat Sigit sudah tidur.
"Suapin" rengek Anin. Bagas hanya tersenyum dan menyuapi istrinya.
"Tumben kamu bangun pah? Di rumah sakit aja kayak orang budhek. Bener-bener gak denger apapun"
Bagas berdecak. "Tadi kena marah sama ibu dan ayah. Katanya tuh ya, jangan cuma bisa bikin dan gak bisa ngurusin"
Bagas mencerna kata-kata Anin. Memang benar yang Anin ucapkan. "Mas kok kayak orang yang kurang syukur ya yank. Astaghfirullaaaah. Maaf ya Allah. Maafin papah ya Sigit sayang. Maafin papah juga ya mah?"
Anin tersenyum dan meraih tangan Bagas dan mengecupnya. "Iya gak papa. Kan sekarang ada usaha untuk membantu mengurus si kecil. Mamah dan Sigit beruntung punya kamu pah"
"Makasih sayang. Habiskan makanannya"
"Iya, nanti tolong ambilkan pompa ASI ya. Ini pas bancar-bancarnya. Bisa buat stok Sigit saat nanti aku sudah masuk kerja"
"Siap mah"
Setelah selesai makan, Anin memompa ASI nya dan tak lupa melabeli nya. Lalu menuju dapur untuk menyimpan ASI itu.
Lalu dia melihat jam, ternyata sudah jam 3. Dilihatnya Bagas sedang bertahajud. Saat hendak terlelap Sigit kembali menangis dan ternyata ngompol lagi. Bagas yang sudah selesai tahajud segera membantu istrinya lagi. Saat membuka pakaian Sigit mereka berdua tercengang karena tali pusar Sigit sudah lepas.
"Waaah, alhamdulillah ya sayang, tali pusar kamu sudah lepas. Yeeeay" ucap Anin senang.
"Aqiqah sekalian ya yank. Hari ini mas tak cari kambingnya sama Raka. Gak papa kan papah tinggal kalian berdua?"
"Mau aqiqah kapan?"
"Hari ini, kan pas 7 hari setelah lahir"
__ADS_1
"What? Gak mendadak ya?"
"Gak"
"Butuh waktu untuk menguliti dan masak kambingnya lhoo"
"Panggil warga suruh bantuin"
"Ya sudah manut. Eh, istrinya pak Rusdi tukang masak pah. Tak minta bantuan ke orangnya. Biar bantu ibu nanti. Beli bahan-bahan buat gulai dan sate kambing sekalian pah"
"Papah mana tahu. Suruh istrinya pak Rusdi aja yang belanja"
"Iya ya"
Setelah subuh Bagas bergegas menghampiri Raka. Mereka mencari kambing untuk acara aqiqah.
"Mau nyari kambing dimana?" tanya Raka sambil menguap.
"Di peternakan lah, yang langsung ada barangnya. Biar bisa diolah. Sampai lupa gue belum aqiqah Sigit. Untung aja masih ingat"
"Dasar lo ya, papah macam apa yang lupa sama hal penting begini"
"Hahaha, lo kira gampang apa jadi orang tua? Bentar lagi lo rasain sendiri nyet"
Raka hanya tersenyum menanggapi omongan Bagas.
Anin memberitahu istri pak Rusdi dan mereka siap untuk membantu Anin dan Bagas mempersiapkan aqiqah Sigit.
Nisa dan keluarga paman Anin diberitahu bahwa Anin sudah melahirkan dengan segera tebang ke Kalimantan untuk menjenguk Anin dan anaknya.
Tambah pasukan untuk membantu mempersiapkan acara aqiqah Sigit. Salma dan Tari hanya bisa membantu sewajarnya, karena perut mereka juga sudah membesar dan kadang capek.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
happy reading all 😘😘😘
__ADS_1