Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 171 (Extra 4)


__ADS_3

Kita tinggalkan sejenak pasangan-pasangan kocak itu. Beralih ke Bimo dan Sinta. Bimo memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Sinta sekitar 2 bulan lalu. Apakah dia sudah mencintai Sinta? Ataukah Sinta hanya untuk pelampiasannya semata? Entahlah hanya author yang tahu. Eeee, salah. Hanya Bimo yang tahu.


"Bang, kenapa hp mu dari dulu selalu kamu gembok? Apakah ada sesuatu yang kamu sembunyikan?" tanya Sinta sedikit kesal kepada Bimo.


"Ngapain sih yank mikirnya begitu? Ya gak ada yang aku sembunyikan lah. Memang kamu mau melihat apa di hp ku?" jawab Bimo


"Ya mau ngecek aja. Apa nih kodenya?"


"Sini, biar aku ketikkan"


"Tuh kan! Aku aja gak boleh tahu kodenya apa. Ngaku! Apa yang kamu sembunyikan dari aku??"


"Ya Allah Sintaaaa, abang gak ngumpetin apapun dari kamuuuuu. Sumpah yank"


"Gak percaya! Cepet kasih tau kodenya!" ucap Sinta kesal dan menaikkan intonasinya


"Iya makanya siniii, tak ketikkan kodenya"


Sinta memberikan ponsel Bimo kembali. Dia bersidekap dan memanyunkan bibirnya. Bimo mengetikkan kode ponselnya dan memberikan lagi kepada Sinta.


"Nih, mau periksa silahkan" ucap Bimo.


Sinta diam tak bergeming. Kesal marah ia rasakan. Dia memilih bermain ponselnya sendiri. Bimo hanya tersenyum.


"Kodenyaaaaa, 200290" ucap Bimo sambil melirik melihat ekspresi Sinta.


Sinta menoleh dan menautkan alisnya. "Itu kan tanggal lahir aku?" ucapnya.


"Iya memang, makanya jangan dikit-dikit ngambek. Marah. Emosi. Saat ini ya cuma kamu yang ada disini" ucap Bimo menunjuk hatinya.


"Aaahhh, so sweet banget siiiihhh. Pacar siapa ini? Jadi mau dilamar kapan aku nya?"


"Terserah kamu maunya kapan. Nanti kita adakan pertemuan keluarga dulu"


"Iya, nanti kita agendakan" Sinta mengecek ponsel Bimo dan melihat-lihat isinya. Ada satu folder yang ingin dibuka oleh Sinta tapi dicegah oleh Bimo.


"Eee, jangan di klik yank. Itu virus! Hp abang bisa rusak lagi kalau kamu buka itu file" ucap Bimo khawatir.


Sinta bingung dan heran. "Emang gak bisa dihapus?"


"Gak bisa. Udah coba dihapus tapi balik lagi. Jangan di klik ya. Bisa nginep konter hp abang kalau kamu buka itu file nya"


Sinta mengalah dan mengurungkan niatnya membuka file itu. Dia bahagia karena seluruh galeri foto Bimo hanya berisi dirinya.


"Nih bang, jadiin foto aku background dan wallpaper hp kamu dong bang"


"Ih, alay. Gak ah" sahut Bimo.


"Kok alay sih?? Itu namanya kamu emang beneran cinta sama akuuuu"


"Cinta gak gitu juga kali yank"


"Yaudah deh kalau gak mau!" Sinta mulai kesal lagi dengan Bimo.


"Iya-iya, abang pasang foto kamu" Bimo mulai mengotak-atik ponselnya.


"Nih, selesai. Udah puas sayangku?"


"Udah dong. Hahahaha"


"Abang antar pulang yuk. Udah waktunya pulang"


"Ayok" ucap Sinta bersemangat.


Sinta senang akhirnya Bimo mau membuka hatinya. Tidak sia-sia dia menunggu Bimo. Bimo mengantarkan Sinta pulang ke rumahnya. Setelahnya Bimo kembali ke puskesmas.


"Huft, untung gak dibuka. Mending gue hapus sekarang lah. Daripada jadi bom nantinya" Bimo mengambil ponselnya dan melihat file itu.


Bimo melihat foto Anin yang dimilikinya. Tersenyum dan menghapus file itu.


"Semoga langkahku ini benar Ya Allah, tumbuhkan lah rasa itu di hatiku. Bukan untuk Anin tapi untuk Sinta. Aamiin"

__ADS_1


"Selamat tinggal kenangan. Terima kasih karena telah memberi ku rasa itu. Aku harap kau bisa terus bahagia bersama nya"


Bimo kembali menyimpan ponselnya dan melangkah mantap dengan senyuman menuju jalan perbatasan.


.


Bulan berganti bulan. Pertemuan keluarga Bimo dan Sinta pun dilaksanakan di cafe & resto x. Mereka setuju dengan pilihan anak mereka. Tanggal pernikahan pun sedang dirundingkan.


Cafe & resto itu sebenarnya milik Tristan peresmiannya di undur karena Tari mengalami flek saat usia kandungannya akan memasuki 4 bulan. Dan mengharuskannya bed rest total. Dan hari ini Tristan akan meresmikan tempat itu. Tidak formal. Hanya akan ada penampilan acoustic band dan pemberian makanan secara gratis kepada pengunjung.


Salma dan Anin yang diantar pak jenggot sudah tiba di cafe itu dan melihat Tristan dan Tari sudah berada di sana. Tak jauh dari mereka duduk Salma melihat Bimo dan Sinta.


"Hai pemilik cafe, selamat yaaa udah berhasil berkembang nih bisnisnya" sapa Anin kepada Tristan dan Tari.


"Terima kasih" ucap Tari dan Tristan sambil melemoar senyum.


"Sst, ada dokter Bimo dan kak Sinta tuh Nin. Kok kumpul sama orang-orang tua ya?"


Semua melihat ke arah Bimo dan Sinta.


"Mungkin itu orang tuanya kali Sal. Udah ih gak usah kepo" ucap Anin datar.


"Itu bukannya orang yang dulu pernah dikerjain sama Bagas ya Nin?" tanya Tristan.


Anin mengangguk. "Pengen es jeruuuukk" rengek Anin kepada Tari.


"Siap! Tapi harus nyanyi dulu dong"


"Ah elah, itu mulu. Bisa-bisa gue jadi penyanyi di cafe lo nih kalau begini ceritanya" jawab Anin.


"Gak papa, kan untung gak usah bayar lo Nin" timpal Tristan.


"Hahahaha, buntung dong kakak ipar gue" sahut Salma.


"Ayolah Nin nyanyiiii, dedek gue pengen denger tantenya nyanyi niiih"


"Hadeeeeehhh, alasan macam apa ituuuuu? Iya deh iya. Mau dinyanyikan lagu apa?"


"Melukis Senja" jawab Tari


"Buat suami gue" ucap Tari sambil nyengir di depan Tristan.


"Hadeeeehh, dia bisa romantis-romantisan. Kita? gigit jari Nin"


"Kata kakak lo sabar. Ada waktunya kita terpisah dan berkumpul kembali"


"Cieee, iya deh iya" sahut Salma.


"Buruan nyanyiiii, nanti gue kasih es jeruk se teko abisin sendiri"


"Bener ya? Yang manis!"


"Bumil tua gak boleh banyak-banyak mengkonsumsi gula Aniiiinn" ucap Salma dan Tari bersamaan.


"Iya-iya, bawel kalian"


Anin naik ke atas panggung yang kebetulan disana sudab siap band yang dikontrak oleh Tristan untuk perform di kafenya.


"Selamat sore semuanya. Saya mau memberi selamat kepada Tari dan Tristan sang pemilik cafe dan resto x ini. Mereka yang duduk di pojokan sana. Hari ini makanan disini gratiiiiiss. Jadi silahkan pesan yang banyak" ucap Anin sambil melempar senyum kepada pengunjung.


Sinta dan Bimo yang melihat Anin melambaikan tangan kepada Anin di panggung.


"Oh, itu sepertinya ada pasangan baru. Hai dokter Bimo dan Kak Sinta. Semoga cepat diresmikan ya, undangannya ditunggu!" seru Anin sambil melambaikan tangan.


"Hadeeehh, bumil segede gini masih suruh nyanyi aja. Tapi gak papa, daripada nanti ponakan saya ngiler kan. Oke saya nyanyikan tembang yang berjudul Melukis Senja yang diminta oleh sahabat saya, Tari. Lagu ini dia persembahkan untuk suaminya, Tristan. Langsung saja ya" Anin berbincang sedikit dengan band pengiring. Intro dimulai dan Anin siap mengambil nada.


Aku mengerti


Perjalanan hidup yang kini kau lalui


Ku berharap

__ADS_1


Meski berat, kau tak merasa sendiri


Kau telah berjuang


Menaklukkan hari-harimu yang tak mudah


Biar ku menemanimu


Membasuh lelahmu


Izinkan kulukis senja


Mengukir namamu di sana


Mendengar kamu bercerita


Menangis, tertawa


Biar kulukis malam


Bawa kamu bintang-bintang


'Tuk temanimu yang terluka


Hingga kau bahagia


Aku di sini


Walau letih, coba lagi, jangan berhenti


Ku berharap


Meski berat, kau tak merasa sendiri


Kau telah berjuang


Menaklukkan hari-harimu yang tak indah


Biar ku menemanimu


Membasuh lelahmu


Anin turun dari panggung dan kembali duduk bersama sahabatnya.


"Aaaahhj, merdu banget sih ni bumil. Pasti anak lo ntar suaranya bagus kayak emaknya" ucap Tari saat Anin kembali duduk bersama mereka.


"Aamiin. Makasih" sahut Anin sambil menyerutup es jeruknya.


"Nin, nanti lahiran gimana? Kal Bagas pulang kan?" tanya Salma.


"Hmmm, gak tahu Sal. Semoga aja pulang lah. Gue gak enak sama ibu dan ayah. Mereka udah tua malah ikut repot ngurusin gue"


"Ya gak papa lah. Mereka kan mau menyambut cucu mereka" timpal Tristan.


"Bener tuh kata bang Tris" sahut Salma.


"Ya tetep aja bang, kasihan nanti kalau kecapekan"


"Heh, dengerin. Mau lelah kayak apapun kalau cucu mereka udah lahir seketika sirna sayaaaang. Udah ah janga sedih" ucap Tari.


"Iya-iya. Deek, lahirnya nunggu papah pulang ya sayang. Biar mbah uti sama mbah kakung gak capek nanti" kata Anin sambil mengelus-elus perutnya. Ada respon dari janin Anin. Dia menendang perut Anin dengan keras.


"Wooooo" teriak semuanya.


"Emang Bagas kecil ya, kalau diajak ngomong langsung nyahut" kata Tristan.


"Hahahaha" mereka semua tertawa.


.


.

__ADS_1


.


Maaf baru up. Author shift pagi hehehe. happy reading semuaaa


__ADS_2