
Bagas makan terlebih dahulu karena dia akan mengantarkan makanan ke kamar Anin. Salma memberikan obat pereda nyeri untuk Anin. Bagas berpamitan kepada semua nya untuk menemui Anin. Sedangkan yang lainnya menunggu kedatangan orang tua Raka, calon mertua Salma.
Bagas mengetuk pintu kamar Anin tapi tak ada jawaban. Bagas membukanya dan masuk. Dilihatnya kekasihnya itu sedang tidur meenghadap ke arah samping.
Bagas menyibak rambut Anin. Dia tersenyum. "Maafin mas ya" Ucap Bagas lembut. Dia mencium kening Anin.
Anin yang merasa ada yang menempel pada dahinya segera membuka mata. Dilihatnya Bagas sedang memandanginya.
"Ngapain ke sini?" tanya Anin kepada Bagas.
"Nganterin kamu makanan sama obat yank. Masih sakit perutnya?"
Anin hanya mengangguk. Bagas ikut berbaring dibelakang tubuh Anin dan memeluk perutnya lalu mengusapnya. Bulu kuduk Anin meremang saat tangan Bagas mengelus-elus perutnya yang sedang sakit.
"Mas, jangan kayak begini. Kita belum halal. Takutnya kebablasan" ucap Anin memperingatkan Bagas.
"Mas gak mau ngapa-ngapain kamu. Mas cuma mau peluk kamu. Mas minta maaf ya tadi"
"Iya"
cup
cup
cup
Bagas mulai mencium tengkuk leher Anin. Bulu kuduk Anin meremang saat Bagas memberikan ciuman itu. Anin hendak bangun tapi ditarik lagi oleh Bagas. Dengan cepat Bagas mengubah posisinya menguasai tubuh Anin yang sekarang ada di bawahnya.
Sumpah, mas Bagas bikin gue takut. Dia mau ngapain sih?. Batin Anin dalam hati. Ritme jantung nya tak beraturan.
Entah setan apa yang ada pada diri Bagas hingga dia berani melakukan itu. Dia ingin mencium bibir Anin tapi Anin malah memalingkan muka nya. Dengan cepat kepalanya mengikuti arah wajah Anin berpaling
cup
cup
cup
Anin masih diam tak merespon ciuman Bagas. Merasa tak mendapatkan balasan bukannya berhenti Bagas malah semakin rakus akan bibir Bagas. Pertahanan Anin runtuh. Dia akhirnya membalas ciuman itu. Mereka saling me*um*t, saling menautkan lidah. Hingga ada yang menegang di bawah sana.
Dengan nafas tersengal-sengal Anin mencoba mengendalikan Bagas. "Mas, kita belum halal". Seketika Bagas berhenti mencium Anin. Dia turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi.
"Mau kemana?" tanya Anin.
"Solo karir. Mau ikut?"
Anin bingung dengan ucapan Bagas. "Solo karir? Maksudnya?"
Bagas sudah menghilang disebalik pintu tak menjawab pertanyaan Anin.
"Huft, untung aja masih bisa dikendalikan. Kamu makin kesini makin bikin takut aja sih mas. Gua jugaaaa.... huaaa. Takut tergodaaa. Emang ya godaan setan kuat bangeeettt" ucap Anin bergumam pada dirinya sendiri.
Anin mengambil makanan yang dibawa oleh Bagas dan mulai memakannya. Perutnya sangat lapar. Sudah hampir setengah makanan itu dihabiskan Anin, tapi Bagas tak kunjung keluar.
"Dia ngapain sih? Kok lama? Jangan-jangan pingsan lagi. Maaaasss, kamu gak papa kaaan?" teriak Anin dari ranjang.
Tidak ada jawaban yang menyahut dari dalam kamar mandi. Anin ingin mengecek tapi Bagas sudah keluar dengan rambut yang basah.
"Kamu habis mandi mas?" tanya Anin terbodoh.
"Mas keluar saja. Bisa gila kalau mas sama kamu"
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya Anin sambil makan.
"Habisin aja tuh makanan nya dan minum obatnya. Mas keluar dulu"
cup
Satu kecupan melayang di kening Anin. Bagas keluar dari kamar dan meninggalkan Anin dengan seribu pertanyaan. Dia berjalan hendak kembali ke kamarnya tapi berpapasan dengan Raka dan Salma.
"Mana Anin kak?" tanya Salma.
"Ada di kamar, lagi makan. Kenapa?"
"Orang tua gue udah datang nyet. Temuin gih, di resto. kita bujuk Anin dulu. Rambut lo kenapa basah? Kayaknya tadi kering deh. Habis mandi lo?" tanya Raka heran melihat rambut Bagas yang basah.
"Ada cicak eek sembarangan di rambut gue. Gue balik ke resto lagi aja deh" Bagas dengan cepat meninggalkan mereka berdua sebelum dicecar pertanyaan yang lebih oleh mereka.
"Kakak aneh"
"Dari dulu emang aneh dek. Ayo ajak Anin keluar"
ceklek.
"Hai Nin, udah mendingan?"
"Hai, baru juga minum obatnya. Mendingan dari mana?"
"Lo udah baikan sama si monyet Nin?"
Anin mengangguk.
"Dia aneh, eh solo karir apaan?"
"Emang siapa yang habis solo karir?" tanya Raka mencari tahu.
"Mas Bagas" jawab Anin polos.
"Buahahahhahahhahaha, wkwkwkkwkwk" Salma dan Raka malah tertawa semakin membuat Anin bingung.
"Apaan sih kalian? Emang solo karir apaan? Hal yang lucu?"
"Lo beneran gak tahu Nin?" tanya Salma
"Pantes rambut monyet basah. Hahahah. Dek abang keluar aja dulu lah. Takut solo karir juga kayak monyet" Raka keluar kamar sambil tertawa dan mengejar Bagas.
"Sal apaan solo karir?" tanya Anin masih kepo.
"Emang tadi kakak ngapain lo sampai dia bisa solo karir?" tanya Salma ikut cengengesan karena Anin benar-benar tidak mengetahui nya.
Anin yang mendapat pertanyaan itu sontak menjadi merona. Tidak mungkin dia menceritakan apa yang dilakukan Bagas.
"Sstt, woy. Malah ngelamun. Jawab" tanya Salma.
"Dia tiba-tiba nyium tengkuk gue. Terus bibir gue. Gue cuma bilang, mas kita belum halal. Dia langsung turun dari ranjang ke kamar mandi buat solo karir. Apaan sih Sal itu? Beneran deh gue gak ngerti?"
Salma menahan tawa nya dan membisikkan sesuatu di telinga Anin.
"Astaghfirullah! Salmaaaa! Jorok ih!" Anin memukul Salma dengan bantal.
"Iya emang itu. Makanya gue tanya kakak habis ngapain lo. Kayaknya kakak gue udah gak bisa nahan nafsu nya sama lo deh Nin. Hahahah"
"Malah ketawa. Huft untung dia masih sadar"
__ADS_1
"Untung kalian sama-sama punya pengendalian diri yang kuat. Turun yuk, camer gue datang nih"
"Malu ah"
"Kan yang nakal kakak bukan lo. Kenapa harus malu"
"Janji diem ya? Jangan cerita apapun sama siapapun. Termasuk Tari besok!"
"Iya-iya ih, bawel deh. Cepetan turun"
Anin merapikan rambutnya dan bajunya di depan cermin.
"Yuk turun" ucapnya kepada Salma.
"Ayok. Kakak kakak, hahahaha. Ternyata kakak gue nakal juga ya. Bahayaaaaa" ucap Salma sambil berjalan meninggalkan kamar.
Mereka manuju restaurant untuk bertemu dengan orang tua Bagas yang baru saja datang.
Bagas yang sudah terlebih dulu tiba di restaurant menyalami orang tua Raka.
"Mah, pah? Sehat? Tadi penerbangannya gimana?" tanya Bagas sambil menyalami orang tua Bagas.
"Alhamdulillah Bagas, kami baik-baik saja. Mana calon mu? Kok gak ikut turun?" tanya papah Raka
"Papah sama mamah udah kenal kali, orang sebelum kenal Bagas udah kenal duluan sama Raka"
"Itu kan statusnya pacar bohongan Raka. Sekarang kan beda Gas" jawab mamah Raka.
Ayah dan ibu hanya tersenyum mendengar obrolan mereka.
"Nah tuh Raka malah jalan sendirian. Anin sakit perutnya parah Gas?" tanya Ibu yang mulai tampak khawatir.
"Gak bu, nanti sama Salma kali"
"Nah, itu mereka" tunjuk Ayah.
Raka menarik lengan Bagas untuk pindah meja. Salma dan Anin tersenyum kepada orang tua Raka.
"Assalamualaikum om, tantee. Apa kabar? Lama ya gak ketemu?" tanya Anin sambil menyalami kedua orang tua Raka.
"Baik sayang, sekarang kamu agak kurus Nin. Makan yang banyak, biar gemuk kayak tante" ucap mamah Raka memperhatikan tubuh Anin yang memang agak kurus.
"Hahaha, jangan dong tante. Besok bajunya gak muat dong"
"Hahahaha" mereka semua tertawa.
.
.
.
Like
Komen
Vote
Tip
Mas Bagaaasss, ketemplokan setan bukit kali sampai solo karir. Wkwkwkwkw 🤣🤣🤣
__ADS_1