
Angga dan Tari meninggalkan Bagas dan Anin. Anin meminta untuk membeli bunga terlebih dahulu. Heeemmmm sungguh menyejukkan mata. Banyak sekali tanaman itu. Membuat calon pembeli bingung apa yang akan dicarinya.
"Mau cari tanaman apa mbak?" Tanya ibu ibu yang sudah agak berumur itu
"Sebentar ya mbah, lihat lihat dulu" Anin dan Bagas mengitari lapak itu.
"Mau mbah bantu?" tanya sang penjual menawarkan diri
"Boleh mbah, saya ingin beli tanaman yang gak ribet ngurusnya tapi punya arti mendalam"
"Yank, mas tunggu disana aja ya..nyelonjorin kaki mas. Capeeekk" Bagas memilih duduk di bangku kayu yang disediakan penjual karena Anin bakalan lama milihnya.
"Iya, buruan sana gih. Aku mau berburu dulu" Anin berjalan mengikuti langkah penjual tadi.
"Mbak sama mas nya tadi pasangan ya?" tanya penjual itu yang sudah berdiri di barisan bunga. Ada berbagai macam bunga disana.
"Wah, mbah peramal ya... hehehe. Iya mbah, dia tunangan saya. Dia mau tugas lamaaaa sekali. Saya ingin memberikan hal yang selalu dia ingat"
"Kalo begitu jangan bunga. Pasti nanti mati kalo nggak diurus. Bagaimana kalo kaktus?"
"Ini bunga apa mbah? Bagus banget" Anin melihat bunga yang seperti kertas.
"Ini bunga anyelir mbak, perawatannya agak ribet, penyiraman setiap hari, pupuk 2 bulan sekali, harus diletakkan di terik matahari langsung. Nanti mati kasihan bunga nya"
__ADS_1
"Ini saya ambil 1 yang warna merah. Buat saya tanam di rumah mbah, kalo untuk yang tadi saya ikut saran mbah"
"Mari kesana, kaktusnya disana semua"
Mereka berjalan lagi ke barisan kaktus. Anin begitu takjub dengan barisan kaktus tadi. Mulai dari yang kecil hingga besar. Cantik. Anin kembali bingung.
"Ini saja mbak, dia mungil. Cocok diletakkan di kamar. Potnya nanti diganti dengan yang keramik nanti saya bungkuskan"
"Ikut saran mbah saja deh, tolong dibungkuskan ya mbah. Anin lihat bunga lagi ya"
Penjual tadi membungkuskan pesanan Anin. Anin masih enggan untuk pergi dari sana. Matanya terlalu dimanjakan oleh pemandangan ini. Sungguh indah. Selesai dibungkus, Anin membayar total belanjaannya. Lalu mendekati Bagas.
"Udah mas, pulang yuk" Anin sudah berdiri di depan Bagas.
"Ada deh. Pulang ke rumah kamu ya, aku mau ketemu sama Ayah dan Ibu minta restu dulu"
"Sekalian nginep gak papa. Mas seneng!"
"Yeee, itu sih mau nya kamu mas! Ayok. Mbah terima kasih ya. Semoga dagangan nya laris mbah"
"Sama sama mbak, semoga mbak dan mas selamat sampai tujuan. Semoga cepat menikah juga"
"Aamiin. Doain ya mbah. Kami pamit...Assalamualaikum"
__ADS_1
"Waalaikum salam"
.
.
.
Bagas dan Anin baru saja tiba di rumah Bagas. Dilihatnya Ayah dan Ibu berkebun. Bagas memilih untuk mandi karena gerah. Anin memilih nimbrung bersama Ayah dan Ibu Bagas.
"Bu, Anin titip nanam bunga disini boleh?"
"Bunga apa yang kamu mau tanam sayang?" Ibu bertanya kepada Anin
"Ini bu, anyelir" Anin mengeluarkan bunga itu dari plastik nya.
"Wah, pinter kamu milih bunga nya. Tau arti anyelir gak?"
Anin nyengir dan menggelengkan kepalanya.
"Ya sudab tanam dulu di sana. Teriknya cukup untuk bunga mu" Ibu menunjuk arah yang disana Ayah sedang memberikan pupuk. Anin berjalan mendekati ayah.
"Yah, sini kosong?"
__ADS_1
"Kosong Nin, mau tanam bunga? Sini ayah gali kan lebih dalam" Ayah menggali agak dalam lalu diberi pupuk dan bunga sudah ditanam.