Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 133


__ADS_3

"Penasaran gue, siapa sih pacar si adek?" Bagas mengintip dari pintu yang sedikit terbuka. Mata nya terbelalak tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Raka dan Salma sedang bercengkrama dan berpegangan tangan. Emosi Bagas kembali membuncah. Dia sudah tak tahan lagi dan akhirnya dia keluar dari persembunyiannya. Bagas menghampiri mereka dan mengangkat kerah baju Raka. 3 pukulan mendarat dengan sempurna di wajah dan perut Raka.


Bugh bugh bugh. Raka yang tidak siap tersungkur ke sofa. Salma ketakutan melihat reaksi kakak nya. Dia berteriak sambil menangis.


"Kakaaaaakkkkk, cukup! huhuhuhu. Tolong jangan pukuli bang Raka! Dia gak salah! Hiks huhuhu" Salma memohon kepada kakaknya untuk melepaskan Raka.


"Minggir dek! Kakak bilang minggir! Brengsek lo!" Bagas hendak melayangkan tinjunya kembali. Anin yang baru saja di depan pintu dengan sigap menampakkan wajahnya di depan Bagas.


"Ayo pukul! Pukul nih! Ayo cepetan pukul!" Anin memegang tangan Bagas yang sudah mengepal siap memukul Raka.


"Aaakkkgggrrrhhhh, ini yang kalian sembunyikan?! Ini alasan lo gak mau ngenalin pacar lo ke gue?! Ini alasan gue gak boleh tahu?! Brengsek! Lo lupa sama perjanjian kita?! Lo mau gue ingetin lagi?! Kita tidak akan mencintai adik masing-masing, dan seorang tentara tidak alan mengingkari itu!"


"Salma mohon kak, stop kak, huhuhu hiks, Salma yang salah. Salma yang memaksanya mencintai Salma. Salma yang memaksanya untuk tidak meninggalkan salma. Salma mohon kak, huhuhu" Salma menangis. Raka tidak tahu harus berkata apa.


"Aaagggrrrrkkkhhhhh!!!" Bagas meninggalkan mereka dan masuk ke dalam kamarnya. Dibantingnya pintu itu keras-keras.


"Lo gak papa bang?" tanya Anin kepada Raka yang di sudut bibirnya mengeluarkan darah.


"Gak papa, gue harus jelasin dulu ke Bagas" Raka ingin menjelaskan tapi dicegah oleh Anin.


"Jangan dulu, biar coba gue yang ngomong. Sal, lebih baik lo obatin bang Raka dulu deh"


Salma mengusap air mata nya dan mengambil kompres untuk Raka. Anin masuk ke dalam kamar Bagas. Dilihatnya dia sedang memukuli tembok.


"Mas, bisa kita bicara?" Anin berada di sampingnya. Bagas tidak menjawab dan melihat tangan Bagas yang memar karena daritadi memukuli tembok. Dengan cepat Anin meraih tangan Bagas. Mereka beradu pandang.


"Ini alasan kamu tidak akan buka mulut soal pacar Salma?! Sejak kapan kamu tahu?! Ha?! Apa hanya aku yang tahu?!" Bagas mulai angkat bicara.


"Mas, dengerin dulu penjelasan mereka. Aku kesini hanya untuk meredam emosi mu. Karena mereka lah yang harus dan berhak menjelaskan tentang ini"


Bagas gusar kesana kemari. Anin yang sebenarnya juga gundah karena ucapan Bagas yang akan melepasnya untuk orang lain tak tahan dengan hasratnya. Dia memeluk Bagas.


Bagas tersentak kaget. Dia berdiri mematung mendapatkan pelukan Anin.


"Redam dulu emosi kamu. Berpikirlah dengan jernih. Mereka sahabat dan adikmu. Rasa sayangmu terhadap mereka tumbuh lebih dulu sebelum kita bertemu. Apakah kamu tega memisahkan mereka?"


Bagas membalas pelukan Anin dengan erat. Dia merasakan kehangatan dalam dekapan Anin.


"Mas gak tahu, mas masih gak bisa terima mereka bohong sama mas"


Anin yang sudah merasakan Bagas bisa dikendalikan melepaskan pelukannya. Bagas menolaknya. Dia semakin mengeratkan pelukannya.


"Lepasin dong! curi kesempatan ih!"


"Kamu duluan yang meluk mas kok, ya gak mau mas sia-sia kan. Kenapa tiba-tiba main peluk? Gengsi kamu udah kamu jual?"


"Ishh, apaan sih! Lepasin dong, aku nya gak bisa nafas ini"


Bagas melepaskan pelukannya. Mereka beradu pandang kembali. Bagas duduk di balkon kamarnya. Anin mengikutinya.


"Coba deh mas, kasih mereka kesempatan. Aku tahu kok perjanjian yang kalian ucapkan. Tapi jika perjanjian itu tidak di atas materai artinya tidak mutlak dong dan tidak sah. Cobalah mengerti keinginan hati mereka. Cukup keegoisan mu memisahkan kita. Jangan pula menyakiti hati adik dan sahabatmu"


Bagas terdiam dan mencerna perkataan Anin. Memang hasil keegoisannya berakibat pada dirinya dan Anin.

__ADS_1


"Oke, tapi ada syaratnya"


"Ya Allah mas, kamu tuh emang gak mau rugi banget ya! Apa?!"


"Bilang sama Raka duel tinju sama gue nanti di sasana jam 7 malam"


"Mas, bisa gak sih yang lain aja? Kalian bisa sama-sama terluka. Aku gak mau itu"


"Kamu khawatir?"


"Idih, bukan khawatir sama kamu. Ayolah mas, mengalahlah demi mereka"


"Itu syaratnya, kalau Raka menang maka hubungan mereka akan berlanjut, jika kalah hubungan mereka akan berakhir"


"Kamu tuh memang keras kepala banget sih mas" Anin kembali jutek kepada Bagas.


"Mas keras kepala begini kan juga diajari kamu. Udahlah, mas yakin kok Raka gak bakalan nyerah semudah itu. Sekarang mas tanya sama kamu, kenapa tadi tiba-tiba meluk?"


"Udah ah, kamu udah redam emosinya. Aku akan sampaikan ke mereka"


Bagas menahan tangan Anin dan mendekapnya dari belakang. "Kalau cuma buat meredam emosi mas kamu sampai peluk mas itu tidaklah mungkin. Kenapa? Kamu gundah? Tentang apa?"


"Ih, lepasin mas! Gak ada alasan lain. Cuma biar kamu gak emosi. Udah itu doang"


"Bohong, itu bukan diri kamu banget. Kita ini bagaikan cermin. Jadi aku hapal sifat kamu. Ayo ngaku. Apa kamu emang sengaja gak mau ngaku biar dipeluk begini terus?"


"Issshhh, apaan sih?! Lepasin gak?!"


"Beneran gak ada alasan lain kok! Cepetan lepasin!"


"Terus aja bohong, kan mas yang untung bisa meluk kamu"


"Oke, aku jujur. Lepasin dulu dong"


"Gak mau, ngomong sambil dipeluk kan bisa"


Anin tak tahu lagi bagaimana membujuknya. Mau tidak mau dia harus jujur.


"Aku galau. Aku bingung. Bingung dengan sikap mu terhadapku. Kamu tiba-tiba berlaku romantis tapi dalam sekejap kamu jadi orang menyebalkan. Dan kata terakhirmu kemarin membuatku merenung. Siapkah aku jika kamu menjauhi ku? Karena pertahanan yang sudah aku bangun dengan mudahnya sudah kamu runtuhkan mas"


Mereka sekarang sedang beradu pandang. Ingin Bagas mengungkapkan rasa hatinya. Tapi gengsi nya melebihi batas keinginannya. Bagas hanya diam dan tetap menatap Anin. Tak lama ada ketukan pintu dari luar.


"Kak, kakak, Salma mau bicara sama kakak"


Anin dan Bagas segera membuang muka. Anin berjalan meninggalkan Bagas dan membuka pintu.


"Nin, gimana? Lo berhasil ngomong sama kakak?" tanya Salma.


"Bang Raka masih di luar?"


"Gak, dia udah balik" ucap Salma.


"Ngobrol di rumahnya bang Raka yuk. Ada sesuatu yang harus gue sampaikan"

__ADS_1


Salma mengangguk dan mengambil kunci mobilnya. Mereka segera berangkat ke rumah Raka.


Raka sedang menatap dirinya di cermin. Dia tahu dirinya salah.


"Aaakkkrrrhhhggg, kenapa jadi begini! Gue gak ada maksud buat mengkhianati perjanjian kita!"


Raka berjalan mondar mandir tak jelas. Salma mengetuk pintu rumah Raka. Raka membukanya dan dilihatnya Salma dan Anin.


"Adek, ngapain kesini?! Nanti kakak kamu makin ngamuk!" ucap Raka dengan nada kesal.


"Gue yang minta bang. Oke semua tenang dulu" Mereka lalu duduk di teras.


"Tadi gue udah coba ngomong sama maa Bagas. Untungnya dia mau dengerin gue. Tapi ada syaratnya" ucap Anin.


"Apa?" sahut Salma dan Raka bersamaan.


"Abang harus duel tinju sama dia. Kalau sampai abang kalah, abang harus merelakan cinta kalian kandas"


Salma kembali menangis. Raka hanya diam dan berpikir.


"Adek gak mau kalau harus putus sama abang, hiks huhuhu. Kakak keterlaluan banget sih" ucap Salma ditengah isakan tangis nya.


"Tenang dulu dong dek, kan memang kita yang salah menyembunyikannya dari dia. Konsekuensi nya ya begini. Adek, dengerin abang. Adek udah pernah berjuang untuk abang, sekarang abang yang harus memperjuangkan adek. Abang pun gak mau kalau harus putus dari adek" terang Raka kepada Salma.


"Terus nanti kalau abang kalah gimana? Salma gak sanggup, hiks huhuhu"


"Tenang dulu Sal, mending lo doain abang Raka daripada begini. Jadi gimana bang? Abang terima tantangan duel dia?" tanya Anin.


"Iya, abang terima. Kapan waktunya?"


"Nanti malam, jam 7 di sasana"


"Oke. Dek, adek jangan nangis lagi ya. Doain abang bisa mengalahkan kakak kamu. Yang abang butuh hanya support dari kamu. Percayalah, kita akan tetap bersama"


Raka menghapus air mata Salma dan mengecup keningnya. Salma memeluk Raka cukup lama. "Janji gak boleh kalah" ucap Salma dalam pelukan Raka.


"Iya abang janji" balas Raka masih memeluk.


"Woy woy udah woy, disini ada jomblowati yang meronta-ronta ingin dipeluk juga woy" ucap Anin sambil terkekeh.


"Hahahah" mereka tertawa bersama.


"Minta peluk sana sama Bagas"


Anin hanya diam tak membalas ucapan Raka.


.


.


.


Kencengin komen like dan vote nya ya gaes... biar author tambah sumangat! 😁

__ADS_1


__ADS_2