
"Ayok berangkat!" Tari mengenakan sepatu di depan Tristan. Dengan posisi membungkuk terlihat belahan dada Tari karena dia menggunakan kaos sedikit ketat.
Astaghfirullah, kenikmatan macam apa ini Ya Allah. Sekali lihat gak papa, 2 kali lihat sungguh menggoda.
Tristan menutup matanya dengan kedua telapak tangannya. Tari yang mengetahui hal itu langsung menutup dengan tangannya. Mukanya berseri.
"Kenapa gak bilang sih kalau kelihatan! Dasar mesum!"
"Enak aja mesum! Yang salah kamu sendiri! Makanya kalau pake kaos yang longgar!" Tristan beranjak dari kursi dengan mata masih ditutup membuatnya menabrak meja.
"Aaaawwww, sakit-sakit! Ini meja kenapa bisa ada disini sih?"
"Meja itu dari dulu emang disitu. Makanya mata dibuat melihat hal yang baik aja! Gak usah mesum!" Tari berdiri di depan pintu. "Ayo cepetan!"
"Bentar dong, masih sakit nih!"
"Hilih lebay, gitu doang sakit. Buruan!"
"Iya-iya bawel!" Tristan menghampiri Tari yang sudah di pintu.
.
Bagas dan Anin yang sudah berada di rumahnya.
"Mau minum apa?"
"Tumben nawarin, biasanya juga harus diminta dulu yank. Teh aja deh, bikinin mas makan dong. Laper"
"Iya. Tunggu disini dulu ya"
Anin membuatkan minum dan memasak mie untuk Bagas. Tak lama kemudian Tristan dan Tari tiba.
"Hai Ri, gue ikut belasungkawa ya. Semoga Angga khusnul khotimah. Dan semoga lo cepet dapet ganti nya" ucap Bagas
"Aamiin makasih mas, gue masuk dulu ya" Tari meninggalkan Bagas dan Tristan di teras.
"Ada apaan?!" tanya Tristan tak sabar.
__ADS_1
"Lo tu ya, kenapa bisa sampe Anin diculik sih?"
"Gue lagi kena nya, udah gue bilang kan tadi. Pacar lo pergi tanpa pengawalan gue. Lha itu kan diluar kendali gue. Makanya sampe begini. Anin bukan cuma sekali mau diculik, tapi berkali-kali. Di Kalimantan, kemarin itu, sama sekitar 2 minggu kemarin"
"Serius lo? Kenapa dia gak cerita apapun ke gue?"
"Mana gue tahu. Tanya lah! Ya mungkin dia gak pengen lo kepikiran kali"
"Gue titip dia sama lo, awas aja kalo sampe begini lagi. Gue potong leher lo!"
"Takuuuuuttt... Tenang aja. Anin itu cewek tangguh, nyata nya dia selalu berhasil selamat dari bahaya"
"Jangan ngeremehin! Yang jelas kalo sampe itu terjadi gue gak kasih ampun sama lo! Ngerti?"
"Siap bos! Gas, lo kenal sama Ana? Yang ini orangnya" Tristan menunjukkan foto Ana kepada Bagas.
"Lo ada urusan apa sama cewek itu? Gue kenal. Dia itu rival cewek-cewek di dalam rumah ini. Anin sampai pernah jambak-jambakan 2 kali"
"Ganas dong! Papah ngejodohin gue sama dia"
"Terus lo mau?"
Anin datang membawakan makanan dan minuman untuk Bagas.
"Nih yank, cuma ada mie" Anin ikut nimbrung di teras.
"Kok cuma satu sih Nin, aku kan mauuuu" ucap Tristan manja.
"Gak usah aku kamu, biasanya juga lo gue!"
"Tuh kan Nin, kamu lihat sendiri kan. Cemburu buta dia tuh. Cuma panggilan aku kamu lhoh"
"Yank, dia mau dijodohin sama Ana. Gimana menurut mu?" Bagas bertanya pendapat Anin.
"Iddiiiihhhhh, sama cewek edan itu? Jangan mau! Itu orang ambisius posesif kasar! Apalagi ya?"
"Seriusan itu Nin? Hahaha. Makin seru dong!"
__ADS_1
"Lhaaahh malah seneng dia! Bang, beneran deh Anin bilang jangan sama dia. Cari yang lain kek, banyak kali cewek baik di luar sana"
"Kenalin kek, biar bisa menghindar dari Ana"
"Seriusan mau dikenalin? Bentar!" Anin semangat masuk ke dalam rumah dan menarik pergelangan tangan Tari.
"Sakit Nin, aduh kenapa sih?" Tari dan Anin kembali ke teras.
"Duduk dulu" Anin menyuruh Tari duduk di sebelah Tristan. "Cocok! Ya kan yank?"
"Apaan sih? Gak ngerti gue? Ada apaan sih? Ha?" Tari bingung dengan tingkah Anin
"Nah, kalo ini mas setuju yank, jangan sama si ulet bulu!"
"Oke lah. Mari kita mulai...."
"Pada aneh ih, gue mau masuk. Ngantuk" Tari bergegas masuk ke dalam rumah dan merebahkan dirinya di sofa.
Tristan mematung tak tahu lagi harus berbicara apa.
"Bang, woy. Malah bengong. Gimana??"
"Ha? Sama dia? Aduh, yang lain deh. Dia lagi berkabung juga kan"
"Biar gak larut dalam kesedihan makanya lo masuk Tristan. Lembut dikit sama cewek. Dia punya riwayat depresi jadi jangan buag dia terluka" terang Bagas
"Gue kan belum deal, kenapa udah dikasih wejangan"
"Hilih, udah lah Bang Tris, sambil menyelam minum air, kembungg.... Udah sih gak usah kelamaan mikir"
"Biarin ngalir seperti air aja deh Nin. Gak tahu deh gue bisa masuk di hati nya apa gak. Sepertinya dia teramat mencintai almarhum Angga"
"Coba aja dulu, jangan pesimis dong. Tapi awas ya. Kalo sampe lalai sama tugas utama lo"
"Yaelah pak, ngancem teroooossss"
.
__ADS_1
.
.