
Tristan menuruti keinginan ayah Bagas. Dia segera melajukan mobilnya. Tari masih berjalan dengan cepat dan sesekali mengusap pipi nya.
"Salah teroooosss, yang salah siapa yang suruh ngejar siapa. Lagian kenapa gue mau sih disuruh ngejar itu bocah?!"
Tin tin. Suara klakson mobil berbunyi. Tari menoleh ke mobil tersebut. Kaca mobil turun. Dilihatnya Tristan berada dalam mobil itu.
"Ayo naik! Gue anter pulang!" bentak Tristan kepada Tari.
Tari tak menggubris ucapan Tristan. Dia masih berjalan dengan cepat dan kesal. Suasana hatinya tak karuan. Tristan yang merasa diacuhkan kembali terpancing emosinya. Dengan agak cepat dia melajukan mobil nya memotong jalan Tari. Tari semakin kesal dengan tingkah Tristan.
"Ini orang mau nya apa sih? Heran gue! Daritadi nyalahin melulu, sekarang mau anter balik. Maksudnya apa coba?" Tari berbicara sendiri dengan memutar arah hendak menghindari Tristan.
Tristan yang baru saja menepikan mobilnya segera turun. Dilihatnya Tari mencoba menghindarinya. Dengan cepat dia meraih pergelangan Tari dan menariknya.
"Ri, Ri, eh Ri. Ayo aku antar" ucapan Tristan melembut.
"Gak usah! Aku bisa pulang sendiri. Lepasin tangan aku" Tari menolak ajakan Tristan. Tristan segera melepaskan genggaman nya. Dia kikuk karena menggenggam pergelangan tangan Tari.
"Aku bisa kena marah lagi sama om Ardhi kalau beliau tahu bahwa kamu gak pulang sama aku" ucapnya masih membujuk Tari.
"Cih, hanya karena takut? Lebih baik kamu pergi deh"
"Kamu tu maunya apa sih?! Ha?! Dibentak nangis dilembutin ngeyel?! Serba salah aku jadinya!" Tristan sudah jengkel terhadap sikap Tari.
Tari tersentak kembali oleh ucapan Tristan.
"Dengar ya Bang Tristan yang terhormat! Anin diculik bukan 100 persen kesalahanku! Aku sudah melarangnya ikut, tapi dia menolak. Dia ngeyel! Dan tadi kamu lihat kan?! Siapa yang nolong Anin?! Ha?! Huhuhuhu" Tari tak tahan dengan sikap Tristan meluapkan emosi nya. Dia kembali menangis. Dia berjongkok dan menyembunyikan wajahnya dengan telapak tangannya.
__ADS_1
Tristan tersentak dengan ucapan Tari. Jalanan sedang agak ramai. Orang- orang disekitar mereka melihat Tristan dengan tatapan sinis. Bahkan ada juga yang menegurnya.
"Mas, kenapa itu pacarnya dibuat nangis? Kasihan itu! Kalau mau ribut jangan di jalan dong, malu-maluin aja!" Kata seorang ibu-ibu yang pulang dari berbelanja.
Tristan hanya bisa tersenyum dengan ibu itu. Tristan tidak mau lagi terkena omelan. Dengan segera dia mengangkat tubuh Tari ke dalam mobilnya.
"Turunin! Turunin gak?!" Tari sudah berada di jok depan. Tristan segera masuk ke mobilnya. Tari menutup mukanya dengan kedua tangannya. Tristan menjadi semakin serba salah.
Cewek ini maunya gimana sihhhh? Bingung aku nya tuh! Dikasarin mewek, dilembutin ngeyel! Hah! Bikin pusing aja! Ini nih yang buat aku ogah buat pacaran, ribet!
Tristan menyodorkan tisu tapi tak direspon oleh Tari. Tangannya meraih tangan Tari dengan ragu.
"Udah, jangan cengeng dong! Eee, maksud aku jangan nangis lagi. Nih di lap pake tisu. Aku minta maaf main salah-salahin kamu. Mau kan maafin aku?"
Tari masih diam. Tristan melajukan mobilnya. Setidaknya dia sudah tak menangis lagi pikir Tristan.
"Ke jalan Gajah Mada. Apartemen Gajah Ma*a"
"Kamu tinggal disana? Kok bisa samaan?"
Tari masih diam. Tristan merasa tak diacuhkan oleh Tari.
"Aku juga di apartemen itu lho. Aku di lantai 5"
"Gak nanya!"
"Hahahah, akhirnya ngomong juga! Kalian tuh ya, para cewek kenapa sih hah? Dikasarin mewek dilembutin ngelunjak!"
__ADS_1
Tari tak menanggapi omongan Tristan. Keheningan tercipta dalam mobil itu. Sampai akhirnya tiba di apartemen yang dimaksud. Mereka keluar dari mobil dan menuju tempat tinggal mereka. Tristan masih mengikuti langkah Tari.
"Gak usah dianterin!"
"Siapa juga yang mau nganterin. Itu apartemen aku!" Tristan menunjuk bagian paling pojok.
Tari dan Tristan menuju apartemennya masing-masing. Tak tahunya mereka kamar mereka saling berhadapan. Tristan mendekati Tari. Mereka saling berhadapan.
"Sekali lagi, aku minta maaf ya Ri, aku gak pandai merangkai kata, tapi aku tulus minta maaf sama kamu. Dan, aku harap, kamu mau maafin aku"
Tristan mendekatkan bibirnya ke kening Tari dan cup. Satu kecupan mendarat di kening Tari. Tari kaget. Dan mendongak melihat wajah Tristan. Dengan segera Tristan berbaluk dan masuk ke kamarnya meninggalkan Tari yang masih mematung karena perbuatannya. Muka Tari berseri-seri.
"Astaghfirullah, sadar Ri, itu orang emang punya kepribadian ganda kali. Ini tadi maksudnya apa coba?" Segera Tari masuk ke kamarnya.
Tristan yang ada di dalam kamar memukul bibirnya.
"Bibir sialan. Berani banget sih ngasih kecupan ke kening gadis itu! Bodoh! Bodoh! Kenapa bisa baper begini sih?!"
Tristan menuju tempat tidurnya. Merebahkan tubuhnya dan menutup mukanya dengan bantal.
.
.
.
Oooo, bibirnya kurang ajar ya, main kecup aja. 🤣. Author ikutan baper nih
__ADS_1