
Pandangan Anin tiba tiba gelap. Tubuhnya ambruk di jalan. Waktu itu memang jalan agak sepi hanya 1 atau 2 orang saja yang lewat.
"Ah, sial. Aku kecolongan!" seru orang yang berada di atas motor itu. Dengan segera dia melajukan motornya dan mengejar mobil yang membawa Anin
Terjadi aksi kejar kejaran pagi itu. Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi membuat orang disekitar memaki maki.
Sang pengendara motor dengan lihainya mengimbangi kecepatan mobil itu, saat dirasa bisa menyalip mobil itu, dengan segera pengendara motor itu memotong jalan mobil tersebut.
Ciiiiiiittttttt. Decitan rem yang diinjak sekuat mungkin.
"Sialan, mau cari mati!" umpat sang pengemudi mobil
Pengendara motor turun dari motornya begitu juga dengan pengemudi mobil yang membawa Anin.
"Hey, kenapa memotong jalan ku! Singkirkan motor mu atau aku tabrak!"
"Lepaskan dulu sandra mu!" jawabnya
"Hahahah, kau lucu sekali! Aku tidak akan menyerahkannya padamu!"
Anin yang sedang berusaha sadar mendengar dari dalam mobil. Matanya dipaksakan untuk terbuka. Anin merasa aneh, mengingat kejadian sebelum dia ada di mobil ini.
Anin dengan hati hati membuka pintu mobil itu dan berlari meninggalkan 2 orang pria yang sedang berkelahi itu.
Secepat kilat Anin berlari. Dan itu memang keahliannya. Tapi dia merasa ada yang kurang. Oh tidak!
__ADS_1
"Astaghfirullah, tas ku!" pekiknya.
Dengan segera Anin kembali menuju arah mobil itu. Dilihatnya orang tadi masih berkelahi. Segera Anin mengambil tasnya dan memastikan isinya masih utuh. Pengemudi mobil tadi sadar jika sandranya telah lepas.
"Hey! mau kemana kau gadis bodoh!" pekik pria itu.
Anin menoleh, dengan segera dia menutup pintu mobil. Ada yang menarik bajunya.
"Lepaskan! Lepaskan aku! Aku tidak mengenalmu!" dengan semangat 45 Anin mencoba melepaskan tarikan pada bajunya.
"Hey nona! bajumu tersangkut pintu mobil!" teriak pengemudi motor itu.
Anin menoleh. Betapa bodohnya dirinya. Kenapa tidak menyadari jika bajunya tersangkut di pintu mobil. Dengan segera Anin melepaskan sangkutan itu daru bajunya dan berlari lagi.
Bugh bugh bugh. 3 tonjokan mendarat di perut pipi dan dada pengemudi mobil itu. Dengan segera pengendara motor itu mencari keberadaan Anin. Ketemu!
"Siapa kamu, aku tidak akan naik! aku tidak percaya dengan kalian semua!" jawab Anin
"Kau mau tertangkap lagi?! setidaknya kau bukan musuh mu!"
Anin berhenti berlari dan segera naik ke atas motor itu. Motor melaju dengan kecepatan tinggi. Anin tidak kembali ke rumahnya melainkan ke rumah Ayah. Anin dan pengendara motor tadi langsung disambut oleh ayah Bagas.
Anin sudah duduk di ruang tamu. Ibu memberikan minum agar tidak terlalu kaget.
"Om, maaf tadi Tristan kecolongan. Baru beli sarapan bentar tau tau udah dibawa saja" ucapnya santai
__ADS_1
"Kamu ini gimana sih Tris, jaga calon istri sepupumu saja bisa kecolongan!" bentak Ayah padanya. Yang dibentak hanya nyengir kuda.
"Kamu gak diapa apain kan sayang?" Tanya ibu kepada Anin
"Alhamdulillah tidak bu, Anin baik baik saja. Dia siapa bu?"
"Dia Tristan, kakak sepupu Bagas. Umurnya 2 tahun lebih muda dibanding Bagas"
"Aku tristan, kau boleh memanggilku tris ataupun tan, asalkan jangan setan" ucap pria itu sambil menyengir
"Sopan sedikit sama calon istri sepupumu!" hardik Ayah
"Iya om, maaf, Bagas pinter milih calon bini. Jago banget larinya. Kenceng puoollll"
Anin yang dipuji hanya tersenyum.
"Ini Tristan boleh pulang atau nunggu Anin om?"
"Pulang lah, nanti jika om telpon segeralah kemari"
Tristan berpamitan kepada om dan tante nya serta Anin.
.
.
__ADS_1
.