Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
Cerminan Diri


__ADS_3

"Ngomong dong yank, kamu ni kalo marah jangan diem kayak patung. Mas bingung kalo kamu diem begini"


Lagi lagi tak ada sahutan dari Anin. Diam. Itulah yang sedang Anin lakukan.


"Kamu tu bentar lagi mau jadi calon istri terus jadi calon ibu, dewasa dikit kek, dikit dikit marah, diem gak ngomong!" Bagas sudah mulai menaikkan intonasi suaranya pertanda dirinya sudah mulai kesal.


lhoh kok malah dia yang marah sih. Anin hanya berkata dalam hati tapi tidak mau untuk mengungkapkannya.


"Ya sudah lah terserah kamu, mas udah coba minta maaf tapi kalo kamunya begini terserah! Mas capek mas mau pulang!" Bagas berdiri dan berjalan keluar dari kamar Anin.


Bagas yang sudah kesal langsung keluar dari rumah Anin. Tari yang melihat Bagas buru buru heran melihatnya. Bagas menyalakan motor dan melajukan motor dengan sangat kencang.


Tari menuju kamar Anin. Disana Tari melihat Anin yang sedang menangis.


"Kalian berantem lagi?" Kata Tari sambil menenangkan Anin


"Iya, gue diam dia marah"


"Ya elo sih, kalo marah tu mending diungkapin. Biar plong biar lebih cepat beres urusannya"


"aahhh kenapa lo jadi belain dia sih?"


"Bukan belain Anin, tapi emang kenyataan nya begitu. Lo tu kalo udah marah kepala sama hati lo jadi batu, kerass"


"Tau ah, gue mau balik tidur!"


"Mandi dulu sono"


"Ogah, badan gue meriang"

__ADS_1


"Merindukan kasih sayang, hahahah"


.


.


.


Bagas kesal dengan sikap Anin yang selalu saja diam saat marah. Ibu yang melihat wajah Bagas bertanya ada masalah apa.


"Kamu udah pulang? Kenapa sih? Muka kok ditekuk aja"


"Gak papa, cuma kesel aja sama Anin bu. Dia tu kalo marah selalu diem gak mau ngomong. Bagas kan kesel"


"Lhaaahh, emang kamu kalo marah gak begitu? Kamu juga begitu kali Gas, jodoh itu cerminan diri, serupa tapi tak sama. Kalo sifat kalian ada yang mirip ya sama kayak cermin. Dia memantulkan apa yang dilihatnya"


"Iya, makanya kalian itu harus saling melengkapi. Kamu dari segi umur harusnya lebih bisa ngalah. Coba beri waktu dulu untuk kalian sama sama tenang dan introspeksi diri"


"Ya bu, Bagas mandi dulu deh"


"Eh bentar, emang kalian berantem karena apa?"


"Karena Bagas mindahin tangga ke samping rumah, Bagas gak tau Anin di atap. Di kehujanan dan marah deh sama Bagas"


"Ha? Kamu tu emang ceroboh banget sih, awas ya kalo calon mantu ibu sampai sakit" Ibu mengancam Bagas.


Bagas mengacungkan tangannya membentuk huruf v tanda ingin berdamai dengan ibunya. Bagas bergegas mandi, membersihkan tubuhnya di bawah guyuran air shower. Segar. Otot nya yang kekar perutnya yang membentuk roti sobek tampak mempesona. Selesai mandi Bagas berdiri di depan cermin.


Bener juga kata ibu, tapi kan dia keterlaluan. Ah biarkan saja lah

__ADS_1


.


.


.


Bagas sedang menonton motogp bersama Ayah. Ibu duduk di ruang tamu sambil membawa sebuah list.


"Oke ini sudah, ini ini ini ini. Alhamdulillah beres" Ibu mencentang satu persatu list persiapan yang dibutuhkan untuk acara lamaran nanti.


"Apa sih bu, berisik banget!" Ayah merasa terganggu dengan kehadiran ibu


"Ih, yang berisik tu suara motor itu. Bukan suara ibu. Ayah ini. Ibu tu lagi ngecek persiapan lamaran Bagas sama Anin"


"Ooh, udah beres? Mau ayah bantu?"


"Sudah dong, Gas sana ke rumah Anin. Lihat keadaannya"


Bagas hanya diam sambil terus memperhatikan tv.


"Kamu sama Anin lagi berantem Gas?" Ayah menyelidiki yang sedang terjadi


"Iya Yah"


"Masalah apa? Perlu ayah yang turun tangan?"


"Gak usah, Bagas bisa sendiri" Bagas dengan berat hati segera bersiap dan bergegas ke rumah Anin.


Bagas berpikir keras bagaimana caranya membuat Anin membuka mulut dan mau berbicara dengan nya.

__ADS_1


__ADS_2