
"Halo, Ri? Ada apa? Apaaa?" Anin membulatkan matanya. Menutup mulutnya yang menganag lebar akibat kaget. Tak terasa air matanya luruh.
Huhuhu, Nin, gue butuh lo disini. Aa' Nin, Aa' ninggalin gue huhuhuhu
"Iya Ri, lo sabar ya. Gue langsung balik. Yang tabah ya Ri. Gue langsung balik sekarang" Anin menutup telponnya.
"Ada apa Nin?" tanya Salma dan Tristan bersamaan.
"Sal, gue harus pulang sekarang. Angga, Angga meninggal Sal, hiks"
"Innalillahi wainna ilaihi roji'un. Lo lagi gak bercanda sama gue kan Nin?"
"Ini beneran Sal, Bang Tris ayo bang pulang. Sal gue pamit ya"
"Iya Nin, hati-hati salam buat Tari. Maaf gue gak bisa dampingin kalian" ucap Salma sambil memeluk Anin.
Anin dan Tristan bergegas meninggalkan rumah Salma menuju bandara. Tristan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Anin memang berencana hari itu juga untuk pulang. Hanya saja penerbangannya sore. Terpaksa dia harus membeli tiket kembali.
"Nin, ini tinggal yang jam 1 siang nanti, gimana?" tanya Tristan.
"Yaudah bang, Anin pengennya cepet sampai" Anin sudah gusar oleh berita yang di dengarnya.
Tristan menuruti permintaan Anin tanpa membantah.
.
Semarang
Langit mendung mewarnai hari itu. Air mata Tari tak henti mengucur dari pelupuk matanya. Angga, orang yang dicintai nya pergi selamanya dari hidupnya.
"Tari, makan dulu nak. Ibu suapin ya?" Bujuk Ibu Angga pada Tari.
__ADS_1
"Tari gak lapar Bu, Tari hanya ingin disini nemenin Aa'. Huhuhu" Tari terisak dan dipeluk oleh Ibunya Angga.
"Sudah nak, jangan menangis. Ikhlaskan biar jalan Angga terang di alam kuburnya. Ingat pesan Angga, Tari gak boleh cengeng. Harus jadi wanita yang kuat" Ibu Angga membelai rambut Tari
"Huhuhu, Tari gak bisa menepati janji itu bu. Itu sulit untuk Tari. Hiks huhuhu"
Ibu Rita yang mendengar kabar duka bersama Ayah sudah sampai di rumah Angga.
"Jeng, yang sabar ya. Sudah suratan Allah. Yang tabah jeng" Ucap Bu Rita sambil memeluk ibunya Angga
"Makasih jeng Rita, Insyaallah kami ikhlas. Tolong temani Tari sebentar. Saya tidak enak dengan tamu yang belum saya temui"
Bu Rita mengangguk. Beliau mendekatkab diri kepada Tari yang masih di dekat jenazah Angga.
"Tari, sayang. Sabar ya. Yang tabah. Jangan nangis. Nanti Angga tidak bisa tenang disana. Sebentar lagi Anin sampai kok. Hapus dulu air mata nya" ucap Bu Rita menenangkan Tari.
.
"Temani Tari Nin, dia butuh kamu. Menginaplah disana sampai 7 hari. Agar dia tidak merasa kesepian" ucap Ayah
"Iya Yah, Anin ke Tari dulu" Anin meninggalkan Ayah dan Ibu. Saat sudah berada di depan makam Angga, Anin membacakan surat Al Fatihah untuk almarhum.
"Nin, tolong temani Tari ya. Bujuk lah dia pulang. Ibu sudah coba tapi dia menolak" pinta Ibu Angga. Anin hanya mengangguk.
"Ri, maaf gue telat datangnya" Anin memeluk Tari
"Hikss, huhuhu. Aa' Nin, Aa'.... huhhhuhuhuhu" Tari menangis dalam pelukan Anin. Tristan berdiri tak jauh dari Anin ikut merasa kesedihan yang mendalam yang dirasakan oleh Tari.
"Sabar Ri, yang tabah. Gue pernah kehilangan. Gue tahu rasa itu. Lo harus kuat. Jangan nangis, itu jadi beban buat Angga. Kuat kan diri lo. Lo kuat, lo tangguh, lo bisa Ri. Gue gak akan ninggalin lo"
Tari mengusap air matanya mendengar ucapan Anin.
__ADS_1
"Nyokap Bokap tahu Ri?" hanya dibalas anggukan oleh Tari
"Pulang yuk, nanti malam kan harus kirim doa buat bang Angga" Anin mencoba memapah Tari. Tubuh Tari terhuyung dan pingsan. Tristan dengan segera membopong tubuh Tari ke dalam mobil
.
Anin masih enggan menanyakan kematian Angga kepada Tari. Sampai hari ke 7, acara kirim doa telah usai. Anin membawa Tari pulang ke rumah Anin.
"Ri, lo jangan sering melamun seperti ini. Nanti depresi lo bisa kumat" Anin mengingatkan Tari.
"Allah kenapa gini banget sih Nin sama gue. Nyokap bokap gue cerai, nyokap gue selingkuh, orang yang gue cinta juga diambil"
"Astaghfirullah Tari, gak baik ngomong begitu. Kematian memang benar adanya Ri. Itu mengajarkan kepada kita bahwa di dunia ini gak ada yang kekal. Semua akan kembali kepada Rabb"
Ucapan Tari memang benar. Dan itu masuk dalam relung hati Tari.
"Lo harus belajar mengikhlaskan kembali. Life must go on baby"
Tari mengangguk.
"Lo tahu gak Nin, Aa' kena serangan jantung. Dan itu buat gue syok"
"Sabar... semua pasti ada hikmahnya Ri" Anin memeluk Tari.
"Makan dulu ya, badan lo kurusan kalo terus begini" Anin masih membujuk Tari.
Tari mengangguk tanda setuju.
.
.
__ADS_1
.