
Raka dan rombongan nya telah sampai di hotel terlebih dahulu. Bagas dan Anin menyusul di belakang. Bagas dan Anin mengedarkan pandangan mencari Raka dan rombongan. Anin menemukan mereka di lobby hotel.
"Kita ngapain sih ke hotel?" tanya Anin terbodoh.
"Hadeehhh, ya numpang tidur lah kakak ipar. Daripada harus bolak balik ke rumah, besok masih resepsi Tari, minggu nya aku"
"Lhaaahh, baju gue kan masih di rumah?"
"Tenang aja, ada pak Jenggot yang sudah terlatih mencari menemukan dan menjadi kurir" ucap Raka.
"Udah pesen kamar yah, bu?" tanya Bagas.
"Udah, kamu sekamar sama Raka, Anin sama Salma"
"Lhoh, gak dibalik aja? Aku sama Anin, Raka sama ayah, ibu sama Salma" ucapan Bagas membuat semua melotot ke arahnya.
"Gundulmu! Kalian masih belum halal!" jawab Ibu sewot mendengar permintaan Bagas.
"Hahaha, tak kirain seperti itu"
"Wooooo, cah ngawur! Makanya cepetan ngajuin nikah batalyon, terus nikah agama nyet!" jawab Raka.
"Itu mau mu mas! Dasar otak nya mesum mulu dari pagi!" Anin ikut-ikutan sewot.
"Emang tadi pagi kamu diapain Bagas Nin?" tanya Ayah heran dengan ucapan Anin.
Anin tak mungkin mengatakan jika dirinya dicium oleh Bagas. Maluuuu.
"Cuma curi bibirnya dikit, hahahaha" jawab Bagas jujur
"Bagaaaassss. Kamu itu ya!" ibu menjewer kuping Bagas seperti anak kecil.
Semua tertawa saat ibu menjewernya.
"Nih, kunci kalian. Telpon pak jenggot sana biar diambilin baju nya" Ayah beranjak hendak masuk ke kamarnya.
"Mau kemana yah?" tanya Raka.
"Anak kemarin sore gak usah kepo sama yang dewasa. Ayo istriku sayang, kita indehoi dimari" ucap Ayah sambil menaik turunkan alisnya menggoda ibu.
Semua melongo atas ucapan ayah.
"Hahahaha, tuh bu. Ada yang minta jatah" jawab Salma.
"Dasar tua bangka mesum! Masiiiihhh aja begitu. Pantas Bagas mesum begitu otaknya, keturunan dari ayah ternyata" Ibu mengikuti langkah ayah menuju kamar mereka.
Semua kembali tertawa.
"Ayo ayang beb. Kita masuk kamar kita" ucap Bagas menggoda Anin.
"Otak kamu beneran gesrek deh kayaknya mas. Pulang gih. Banyak lho baju dan peralatan make up yang belum dibawa. Ambilin gih kalian pulang ke rumah. Pak jenggot gak bakalan tahu" Anin menyuruh Bagas pulang
"Ogah, di list aja sih yang mau dibawain apa saja. Nanti tinggal pak jenggot ambilin barangnya"
"Betul tuh kata kakak ipar Nin, gue juga capek. Sekalian ditunjukin juga letaknya. Jangan ngeremehin pak Jenggot lho. Dia itu mantan detektif" Raka pun menolak disuruh pulang.
"Mosssooookkkkk?"
"Iya, gak percaya? Tanya Tristan" bantah Raka.
"Udah-udah. Cepetan list"
"Pinjem pulpen sama kertas sana" perintah Anin kepada Salma.
"Siap kakaaaaakkkk"
Anin segera mengelist apa-apa yang mereka butuhkan. Setelah selesai mereka mengirimnya ke pak jenggot. Lalu mereka masuk ke kamar masing-masing. Mengistirahatkan diri dari penatnya aktifitas mereka.
Drrtttggg, drrtttggg.
Anin yang hendak memejamkan matanya merasa ada yang bergetar. Anin mencari ponsel nya, dilihatnya nama yang muncul. Tari.
"Halo, assalamualaikum"
__ADS_1
Waalaikum salam
"Ada apa?"
Gitu banget jawabnya. Lo besok jangan telat. Siapin lagu
"Enak aja besok gue disuruh nyanyi. Ogah kalau gak ada sawerannya"
Ah elah, gitu amat sama sahabat
"Hahaha, mau lagu apa?"
Apa ya? Yang enak pokoknya.
"Semua lagu juga enak kalo dinyanyiin ama gue!"
Sombong amat! Tahu gue kalau suara lo bagus. Apa ya? Terserah lo aja deh. Yang menggambarkan kebahagiaan pokonya
"Ya udah deh, nanti nyari referensi dulu"
Okeh, jangan telat kalian!
"Iya ih, bawel. Daaahhh. Assalamualaikum"
Waalaikum salam. tut.
Anin mengakhiri sambungan telponnya. Dia melihat ke sebelah dan Salma sudah tidur dengan posisi tengkurap dan ngiler.
"Ya Allah ini anaaaaakkkk, tidur gak ada anggun-anggun nya. Gimana besok jadi istri orang!" Anin geleng kepala melihat sahabat nya itu ngiler sampai bantal nya basah.
Anin membuka koleksi lagu di ponselnya dan mencari lagu yang pas untuk acara Tari. Dan akhirnya dia menemukan lagu yang cocok untuk acara Tari besok. Dia tersenyum dan menyimpan ponselnya kembali. Saat hendak memejamkan matanya, kamar nya diketuk.
"Isshhhh, siapa lagi sih?? Mau tidur aja susah banget!" keluh Anin.
ceklek.
Dilihatnya Bagas berdiri di depan kamarnya dan tersenyum nyengir.
"Apa cengengas cengenges?" tanya Anin bersidekap di depan pintu kamar.
"Aku ngantuk maaaassss" Anin hendak menutup pintu tapi ditahan oleh Bagas.
"Ayolah"
"Ishhhh, mau kemana?"
"Bukit"
Anin menautkan alisnya. "Bukit? Bukit mana?"
Bagas menunjuk belakang hotel. Memang disana ada sebuah bukit. Tak begitu tinggi. Akhirnya Anin mau mengikuti kemauan Bagas. Mereka meminta ijin kepada pihak hotel untuk traveling sebentar ke bukit itu.
"Kenapa sih ngajakin kesini?" mereka masih berjalan menuju atas bukit.
"Tinggal sedikit lagi nyampai bukit yank"
"Kamu itu ditanya apa jawabnya apa"
"Hmmm, cuma pengen ngajak jalan aja. Niatnya sih mau ngajak kamu naik gunung. Tapi sampai sekarang gak kesampaian. Gantinya ya ini"
Mereka sudah sampai di atas bukit dan duduk disana. Mereka diam memandang luasnya pemandangan yang terhampar. Hijau dan sangat menyejukkan.
"Kamu masih dikasih cuti dari puskesmas berapa hari lagi yank?" tanya Bagas.
"Kamis aku udah masuk sih, kenapa memang?
"Besok lusa ikut mas ke Jakarta ya?"
"Ngapain?"
"Ke makam ayah dan bunda. Sekalian tengok ayah Umang. Mumpung kamu masih cuti"
"Emang udah pernah ke makam ayah sama bunda? Kok tiba-tiba ngajakin kesana"
__ADS_1
"Udah"
"Kapan?"
"Waktu kita putus"
Anin menoleh ke Bagas. Menautkan alisnya heran.
"Ooo, jadi kamu ngikutin aku?" tanya Anin mengingat kejadian dimana ia berkunjung ke makam ayah dan bunda nya.
"Iya, dan aku mendengar semua yang kamu aduin ke ayah dan bunda"
Mereka diam.
"Mau gak?"
"Iya udah iya mau. Udah pesen tiket?"
"Udah dong. Oh ya hapalin pangkat dan NRP mas"
"Ha? Emang kenapa?"
"Gak papa. Hapalin aja sih"
"Hem"
"Kamu maunya pesta nikahan kita nanti kayak gimana?"
"Ha?" Anin bingung harus menjawab apa.
Bagas tersenyum.
"Mau kayak gimana?"
"Emang kamu serius ngajak aku nikah?"
"Ya serius lah, kamu pikir main-main"
"Iya, orang kamu nya aja begitu. Ngajak nikah tapi sambil bercanda"
"Terus maunya gimana?"
"Pikir sendiri lah mas. Emang bener kata bang Raka dan bang Tristan ya. Kamu tuh orangnya gak pekaan. Capek sendiri jelasin ke kamu nya"
"Lhoh, kamu ni aneh. Kamu aja gak bilang mau nya dilamar seperti apa juga"
"ya kayak yang lainnya lah mas. Mereka dilamar di depan orang tua mereka. Mereka meminta dengan kesungguhan. Gak cengengesan kayak kamu. Kamu tuh beneran serius gak sih?"
Bagas diam. "Kan dulu juga kamu pernah tak lamar yank. Sama paman kamu. Lupa?"
"Iya, tapi kan setelah itu kamu putusin aku"
"Hadeehhh, riweh amat sih. Udah intinya aku mau nikah sama kamu. Titik!"
"Ih, nyebelin! Udah ah, aku mau turun!"
Bagas menggaruk kepala nya sendiri yang tidak gatal. "Masa aku harus ngelamar dia di depan orang banyak sih?"
Bagas mengusap mukanya kasar dan turun mengikuti Anin yang sudah jauh di depannya.
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1
Maaf telat up. Author baru pulang kerjaaaa. Semangat semuanyaaaa. Tahun baru di rumah aja yaaaa
Dibaca juga novel author yang lainnya "Larasati dan Pak Bupati" udah rilis 10 episode lhoooohhhh