Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 134


__ADS_3

Sasana tinju


Bagas dan Raka sudah siap dengan duel mereka. Berbeda dengan Salma dan juga Anin yang gusar. Disana juga ada Agus, Hendra, dan Hendi. Hendra bertindak sebagai wasit.


"Mau bertaruh lagi?" ucap Hendi


"Tentu saja, aku pegang kapten" jawab Agus.


"Aku pegang bang Raka" jawab Hendi


"Aku jadi wasit, mana bisa bertaruh?" ucap Hendra.


Salma tersenyum kepada Raka. Raka membalas senyuman pacaranya itu. Anin mendekat ke Bagas.


"Mas, gak bisa berubah pikiran aja gitu? Duel nya jangan tinju dong. Ngeri aku lihatnya" ucap Anin


Bagas hanya terkekeh kecil. "Mas gak akan kalah dan babak belur. Tenang aja"


"Ih bukan itu, aku ngeri lihat orang main pukul-pukulan. Ganti duel makan samyang terpedas kek apa kek. Yang penting jangan tinju"


"Wes terlanjur. Merem bae kalau ngeri" ucap Bagas sedikit kesal.


Pertandingan dimulai. Mereka mulai sama-sama menyerang dan bertahan. Hingga selesai 1 ronde skor mereka seri. Mereka diberi waktu untuk istirahat.


Salma memberikan minum kepada Raka.


"Abang masih kuat?" tanya Salma dengan sendu.


"Hey, jangan sedih. Abang akan selalu kuat untuk kamu. Tersenyum lah, karena itu adalah semangat untuk abang sayang"


Salma menuruti kata Raka. Bagas melihat pemandangan itu. Dia berpikir sejenak. Melihat seberapa dalam rasa cinta mereka. Tega kah dia memisahkan mereka?


Ronde kedua dimulai lagi. Raka sedikit terkuras tenaganya. Bagas benar-benar mengeluarkan seluruh kemampuannya. Di dalam ronde kedua Bagas lah yang menang. Hal itu membuat Raka pecah konsentrasi. Salma semakin gusar dan sedikit menangis. Anin menenangkan Salma. Anin berjalan mendekati Bagas.


"Mas, hentikan lah. Kamu ingin memisahkan mereka berdua?" tanya Anin kesal.


"Lhoh, bukan mas yang mau misahin mereka. Tergantung dari kemampuan gembel dong. Kalau dia bisa mengalahkan mas, ya mas terima" ucap Bagas tak kalah pedas.

__ADS_1


"Wes mbuh karepmu! Dikandani angel banget!" Anin sudah mengeluarkan logat Jawa nya.


Anin kembali bersama Salma. Salma harap-harap cemas.


"Nin, kalau abang gue kalah di ronde ini gimana?" tanya Salma yang sudah mengumpulkan akr mata di pelupuknya.


"Doakan yang terbaik, semoga keberuntungan berpihak pada bang Raka. Aamiin"


"Aamiin" ucap Salma dan dirinya langsung berdoa.


Ronde 3 berlangsung cukup sengit. Bagas tak memberikan peluang kepada Raka untuk menyerang, begitu pun sebaliknya. Konsentrasi Raka pecah saat Bagas berbicara dengan dirinya.


"Lo sengaja deketin adek gue?! Lo pengen balas dendam ke gue?! Lo pengkhianat! Lo denger lo pengkhianat!"


Bugh Bugh Bugh. Raka terjerembab dalam posisi telentang. Hendra sebagai wasit menghitung 1 hingga 10.


"1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10. K O" Hendra menyatakan kekalahan Raka dan mengangkat tangan Bagas sebagai pemenang.


Salma berlari menolong Raka. Dia menangis melihat pacarnya. Bagas tersenyum penuh kemenangan.


"Abang, sayang. Abang baik-baik saja?" tanya Salma sambil menangis.


"Kakak bilang pulang!" bentak Bagas terhadap Salma.


Salma diam dan menangis. "Aku gak mau pulang! Aku gak mau punya kakak seperti kamu!" teriak Salma kepada Bagas. Membuat hati Bagas sakit mendengar ucapannya. Tangan Bagas terangkat hendak menampar Salma, tapi dicegah oleh Anin.


Salma meninggalkan mereka dan berlari menuju Raka. Anin menatap mata Bagas. Mata yang penuh amarah. Bagas berbalik dan meninggalkan Anin. Bagas sudah berada di luar sasana. Anin mengejar dan mencekal tangan Bagas.


"Sudah puas? Sudah puas menjadi orang yang egois? Sudah puas kamu? Kamu tahu, ini baru permulaan. Yang kamu lihat belum seberapa sakitnya. Kamu akan dibenci oleh adik mu sendiri! Cukup aku! Cukup aku yang menjadi korban keegoisan mu! Aku mohon padamu dengan sangat, biarkan cinta mereka bersatu. Tak perduli dengan janji yang telah kalian buat. Lihat! Buka mata kamu!"


"Kamu membela mereka? Kamu mendukung mereka? Apa aku salah? Dia kalah! Dia harus menerima konsekuensi nya!" ucap Bagas.


"Tak bisa kah kamu mengalah? Kamu hanya akan menyakiti mereka mas. Tolong, tolong kamu ubah keputusan mu" ucap Anin mulai sendu dan dia menitikkan air mata.


"Konsekuensi harus diterima nya, aku tidak bisa mengubahnya" ucap Bagas meninggalkan Anin.


Anin berdiri mematung menatap punggung Bagas. "Kamu yang akan sakit melihat keadaan selanjutnya mas". Anin kembali ke dalam sasana dan melihat kondisi Raka.

__ADS_1


Wajah Raka memar dihabisi oleh Bagas. Salma membersihkan luka Raka sambil menahan tangisnya. Segenap tenaga Raka mencoba mengumpulkan tenaga nya untuk bicara.


"Jangan nangis, abang gak suka lihat kamu nangis. Pulang lah, minta maaf kepada Bagas. Adek gak boleh ngomong seperti itu. Bagaimana pun dia adalah kakak mu sayang" Raka berbicara sambil mengembangkan senyum.


"Disaat seperti ini kenapa abang gak mikirin diri abang? Kenapa abang malah mikirin kakak? Hiks huhuhu" Salma menangis kembali. Anin tidak tahan melihat sahabatnya menangis seperti itu.


"Karena abang juga menyayangi dia sebagai sahabat abang. Abang pun tidak ingin memperkeruh persahabatan kami. Pulang lah terlebih dahulu. Besok kita cari cara untuk ngomong ke kakak. Oke? Adek, dengar abang memberi perintah untuk adek. Jangan menangis. Itu perintah abang"


Salma semakin menumpahkan air mata nya. Raka meminta Hendra dan Agus membawanya kembali ke rumah dan meminta Hendi untuk mengantarkan Anin dan Salma.


Bagas mengguyur dirinya di bawah air dingin.


"Aaakkkrrrhhhggg, kenapa lo kalah?! Apa cuma segitu kemampuan lo mempertahankan adek gue?! Aaarrggghhhh. Bodoh, bodoh, bodoh!" Bagas berbicara sendiri.


Malam berlalu dengan penuh isak tangis dari Salma. Hubungannya harus berakhir karena kekerasan hati kakaknya.


Bulan meninggalkan tempatnya. Matahari sudah bertengger dengan cantiknya. Anin yang hari ini akan dinas luar mewakili puskesmas nya mempersiapkan kebutuhannya. Salma pun mempersiapkan dirinya karena akan bertugas di pustu. Bagas masih belum bangun. Badannya sakit semua karena duel nya tadi malam.


Alarm Bagas berbunyi. Bagas melihat jam dan segera melompat masuk kamar mandi. Setelahnya dia segera bersiap.


"Aduh, lupa belum disetrika lagi. Deeekkk, adekkk, dek tolong setrikakan baju kakak dong" ucap Bagas seakan lupa kejadian tadi malam.


Salma dan Anin saling lihat. Salma meninggalkan Bagas dan Anin sambil bicara. "Maaf aku gak punya kakak". Bagas baru ingat kejadian semalam. Dia bungkam.


Anin melihat Bagas. Bagas merasa aneh dengan tatapan Anin.


"Apa?" tanya Bagas. Anin menghela nafas dan hendak pergi. "Nin, tolongin mas dong. Mas kan gak bisa nyetrika"


"Ogah! Suruh nyetrikain egomu aja mas!" Anin berlalu. Bagas mengusap wajahnya dengan kasar.


Anin dan Salma berangkat meninggalkan Bagas yang bingung harus diapakan bajunya. Akhirnya Bagas menyuruh pak Jenggot untuk menyetrika kan baju nya.


Bagas dan yang lain mengikuti apel dan mereka akan kembali melakukan pengintaian yang sempat tertunda karena banjir. Yang artinya Bagas dan Raka akan selalu bersama.


.


.

__ADS_1


.


Segini dulu ya gaes. nanti dilanjut lagi. Komen like dan vote nya ya kakak. makasiihhhhh


__ADS_2