
"Mas pengen kita putus" ucap Bagas dengan menahan sesak di rongga dada nya.
"Apa mas? Mas gak lagi bercanda kan? Mas lagi nge prank Anin ya?" ucap Anin tak percaya dengan omongan Bagas baru saja.
"Maa serius. Mas mau kita putus"
Anin membisu. Air matanya siap tumpah kapan saja. Hati nya sesak oleh permintaan Bagas. Dia mencoba menguatkan hatinya, mengumpulkan dengan sekuat tenaga dia membuka bibirnya.
Oke Anin, jangan nangis. Jangan mau terlihat lemah di hadapan dia. Oke tarik nafas. Gumam Anin di dalam hati.
"Alasannya mau putus kenapa?" Anin menguatkan dirinya. Tangannya mengepal dan dingin.
"Harus ada alasan untuk minta putus? Jatuh cinta saja tidak memerlukan alasan kan?" jawab Bagas.
"Alasannya apa?" tanya Anin kembali dengan menaikkan intonasi nya. Bagas diam tak bergeming. Lalu akhirnya dia buka suara.
"Aku hanya menjadikan mu bahan permainan. Nisa sudah menjadi milik orang lain dan itu artinya sandiwara aku selesai" jawaban Bagas bagai panah yang langsung menohok hati Anin. Jeruuuu. Sakit tapi tak berdarah, terluka tapi tak terlihat.
Anin diam seribu bahasa. Bagas berdiri dari tempatnya dan hendak pergi meninggalkan Anin.
"Tunggu, jika memang itu alasan mu, maka dengar kan perkataan ku ini mas. Kamu akan selalu merasa bersalah jika perkataan mu bohong, dunia mu akan selalu dikelilingi oleh aku. Dengan kata lain, kamu tidak akan pernah melupakan ku. Ingat itu. Kau tahu kan doa anak yatim selalu diijabah oleh Allah? Satu lagi, ini cincin aku kembalikan padamu dan ambil lagi hadiah ini. Aku tidak membutuhkan nya"
Bagas diam mendengar perkataan Anin. Lalu dia melenggang pergi meninggalkan Anin. Hujan turun dengan deras pada malam itu. Membuat semua nya menjadi lebih dingin.
Tristan baru saja kembali dari toilet. Dilihatnya Anin menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan tak melihat keberadaan Bagas. Tristan mencoba mendekati Anin.
"Nin, kenapa nangis? Bagas kemana?" tanya Tristan sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok Bagas. "Ada apa Nin? Anin?"
Yang ditanya masih menangis sesenggukan. Tristan yang melihat Anin seperti itu menjadi tidak tega. Tristan memeluk Anin. Mencoba menenangkannya. Anin masih menangis sesenggukan. Tari yang baru saja datang dan menghampiri mereka melihat Anin dan Tristan sambil berpelukan. Tristan melihat kedatangan Tari, tapi Tari malah pergi meninggalkan mereka berdua. Tristan melepas pelukannya dan mengejar Tari.
__ADS_1
"Nin, tunggu sini bentar. Abang kejar Tari dulu. Takutnya dia salah paham" Anin tak menghiraukan kata Tristan. Tristan berlari keluar kafe dan mencegah Tari.
"Kamu mau kemana?"
"Pulang, kan lagi mesra-mesraan kan? Takut ganggu!"
"Ri, Ri, Ri kamu salah paham! Tari!" Tristan mencoba menjelaskan kepada Tari tapi sia-sia. Tari masuk ke dalam taksi dan berlalu meninggalkan Tristan sendiri.
Tristan kesal oleh sikap Tari. Dia kembali ke dalam kafe. Dilihatnya Anin masih menangis. Dia mencoba menenangkan Anin, memberinya minum dan menyuruhnya berhenti menangis.
"Nin, coba cerita perlahan sama abang, kamu kenapa nangis?"
"Hiks, hiks, mas Bagas... hiks, mas Bagas minta putus dengan ku bang, huhuhuhu" Anin kembali menangis.
"Udah, tenang dulu ya. Mungkin Bagas hanya bercanda untuk memberi surprise untuk mu"
"Coba nanti abang ke rumah Bagas. Sekarang abang antar kamu pulang dulu ya, Tari tadi melihat kita berpelukan. Dan sepertinya dia salah paham. Abang takut kalau dibiarkan berlarut-larut dia akan meninggalkan abang hanya karena salah paham"
Anin mengangguk dan menuruti permintaan Tristan. Tristan melajukan mobilnya di tengah hujan yang turun dengan derasnya. Seperti air mata Anin yang tumpah hari ini.
Setelah Anin sampai dirumah, Anin langsung membaringkan dirinya di tempat tidur. Masih terngiang ditelinganya perkataan Bagas terhadap dirinya.
"Kejam sekali kamu mempermainkan ku mas, salah apa aku sama kamu? Kenapa begitu tega kamu memberi kabar ini saat aku sedang bahagia karena mu? Hiks, huhuhuh"
Anin kembali menangis.
Tristan menuju rumah Bagas.
"Assalamualaikum om, Bagas mana?"
__ADS_1
"Waalaikum salam, ada di kamarnya. Ada apa Tris?" Bukannya menjawab pertanyaan Ayah Tristan langsung membanting pintu kamae Bagas. Ibu yang sedang ada di dapur sampai tersentak oleh ulah Tristan.
Tristan menghampiri Bagas yang duduk di tepi ranjang dan mengangkat kerah bajunya.
bugh. Tristan memukul pipi Bagas hingga sudut bibir Bagas mengeluarkan darah. Bagas hanya bisa menerima pukulan itu dan tak mampu membalasnya.
"Bajingan lo! Kenapa lo putusin Anin!? Salah apa dia sama lo!? Lo sendiri yang nyuruh gue supaya gak menyakiti hati perempuan. Tapi apa sekarang?!"
Ayah dan Ibu tak percaya dengan ucapan Tristan.
"Gas, bener itu?" Tanya ibu.
"Tante, om, Tristan pamit dulu. 1 pukulan cukup untuk menyadarkannya"
Tristan meninggalkan rumah Bagas dan menuju apartemennya.
"Gas, jawab pertanyaan ibu, kenapa kamu putus dengan Anin?" ucap Ibu mencari kebenaran dari Bagas. Bagas diam tak menjawab pertanyaan ibu nya.
Ayah menjadi geram dengan sikap Bagas. Plak. Ayah memberi tamparan keras pada pipi Bagas.
"Kamu masih ingat dengan apa itu 8 wajib TNI?? Kamu sedang melanggar nomor 3. Kamu menyakiti hati seorang wanita! Apa yang sedang kamu lakukan Bagas?! Jelaskan kepada kami!"
Ayah sangat murka kepada Bagas. Bagas masih diam tak bergeming. Ayah dan ibu akhirnya meninggalkan kamar Bagas tanpa ada penjelasan apapun yang keluar dari mulut Bagas.
.
.
.
__ADS_1