
Anin, Salma dan Pak Rusdi turun dari mobil. Orang-orang tersebut menodongkan pistol kepada mereka.
"Angkat tangan!" kata orang itu.
Mereka serentak mengangkat tangan mereka. Terjadi ketegangan yang sangat saat itu.
"Bapak gak siap kalau mati sekarang Nin, Sal. Bapak sholatnya masih bolong-bolong. Ya Allah, selamatkan lah kami" ucap pal Rusdi ketakutan.
"Tenang pak, kita pasti selamat kok" ucap Salma menenangkan.
"Selamat dari mana sih Sal, emang ada yang bakalan nolongin kita?" tanya pak Rusdi lagi.
"Diam! Borgol 2 wanita ini dan bawa ke markas besar!" perintah orang itu.
"Lalu dengan lelaki tua ini?!" tanya yang lain.
"Biarkan dia! Tugas kita hanya membewa 2 wanita ini. Cepat borgol mereka!"
Dengan cepat tangan Anin dan Salma diborgol. Mulut mereka ditutup dengan lakban. Mereka kembali dipaksa masuk ke dalam mobil puskesmas. Orang itu melajukan mobil puskesmas meninggalkan pak Rusdi di tengah jalan.
Yang lain mengikuti menggunakan motor. Saat pengendara terakhir akan melajukan motornya, pak Rusdi memberanikan diri meminta bantuan kepada orang itu.
"Pak, lalu saya bagaimana? Saya boleh nebeng? Hanya sampai puskesmas saja. Setelah itu saya turun" Pinta pak Rusdi kepada orang itu.
Tentu saja jawaban yang diterima pak Rusdi adalah penolakan. "Kau pikir aku tukang ojek?! Jalan pakai kaki mu sebelum ku potong!" jawab orang itu lalu meninggalkan pak Rusdi sendirian.
"Jarak dari sini ke puskesmas masih jauh, bisa benar-benar patah kaki ku" Pak Rusdi bingung. Saat itu ponsel Salma yang ada di saku celana pak Rusdi beegetar. Pak Rusdi dengan cepat mengangkatnya.
"Halo?" jawab pak Rusdi.
Halo, siapa ini? Kemana Salma dan Anin?
"Saya Rusdi, supir puskesmas. Anin dan Salma dibawa orang-orang pakai motor dan pistol. Saya tak tahu siape mereka. Ponsel Salma dititipkan ke saye. Kalau boleh tahu ini siape?"
Saya Tristan, sepupu Salma. Mereka dibawa kemana pak?
"Saya tidak tahu, tapi mereka bilang markas besar. Oh ya bang, GPS Anin aktif. Cobalah melacak. Bolehkah saye minta tolong?"
Apa pak?
"Saya ditinggal di pinggir jalan sendirian. Bisakah dijemput?"
Saya akan mengirimkan seseorang untuk menjemput bapak. Tunggu lah disana. Mungkin agak lama karena jarak cukup jauh. Tak apa?
__ADS_1
"Alhamdulillah, tak ape bang. Saya akan berjalan semampu saya sampai ada bantuan dari abang datang"
Panggilan telpon berakhir.
Flash back on
Tristan yang sedang menjemput Tari menerima chat berupa invoice dari Anin. Dia memutar invoice itu.
Siapapun yang denger invoice gue, tolong! Kita dikejer rombongan motor!
Mata Tristan terbelalak saat mendengar isi pesan suara itu. Tari keluar dengan tergopoh-gopoh dan memberitahukan Tristan pesan Anin. Dengan cepat dia menghubungi pak jenggot.
"Halo om jenggot dimana?"
Lagi makan, kenapa bos?
"Anin dan Salma dalam bahaya. Mereka dikejar oleh rombongan bermotor"
Uhuk uhuk uhuk. Masalah apa lagi?
"Entahlah, kemungkinan besar terkait misi Bagas dan Raka. Bersiaplah. Aku akan mencoba mencari tahu keberadaan mereka"
Tristan mengakhiri panggilan telpon itu.
"Bang, aku takut mereka kenapa-napa" Tari cemas memikirkan kedua sahabatnya itu.
Tari mengikuti anjuran Tristan dan tidak banyak bicara. Tristan mengemudikan mobilnya dan mengantarkan Tari pulang ke rumah terlebih dahulu. Setelah sampai barulah Tristan menghubungi nomor Anin tapi tidak diangkat. Tristan menghubungi nomor Salma dan diangkat!
Flash back off
Hendra dan Agus telah berada di rumah sakit TNI. Bagas dan Raka yang masih di IGD sedang berdiskusi dengan Komandan Suherman dan Mayor Indra. Hendra dan Agus memberi hormat kepada atasan mereka.
"Kapt!?" seru Agus dan Hendra.
"Syukurlah kalian selamat!" tambah Hendra.
"Kenapa kalian disini? Anin sama Salma siapa yang jaga?" tanya Raka mulai panik.
"Tenang bang, mereka sudah dijemput sama pihak puskesmas. Saya beri kabar ke kak Salma dulu" ucap Hendra.
Hendra menelpon Salma tapi yang mengangkat adalah pak Rusdi. Hendra menutup mulutnya karena terkejut mendengar cerita pak Rusdi. Semua menatap ke arah Hendra bingung.
"Kapt, kak Anin dan kak Salma dibawa sama rombongan bermotor ke markas besar" ucap Hendra lesu dan tak berani memandang kapten nya.
__ADS_1
Bagas terkejut dan reflek memukul Hendra.
"Lihat kecerobohan yang kalian buat?! Siapa yang menyuruh kalian meninggalkan mereka?!" ucap Bagas penuh emosi. Raka mengusap muka nya kasar. Komandan Suherman dan Mayor Indra menenangkan Bagas yang sedang emosi.
"Kalian lihat sekarang keadaan menjadi kacau?" ucap Raka. "Kembalilah ke pos, siapkan diri kalian" imbuh Raka.
Komandan Suherman kembali mengambil alih instruksi. "Semua dengarkan perintah saya. Kembali ke pos, bersiap, kita akan melakukan penggrebekan rumah persembunyian Edi Sumantri, buron dan tersangka penyelundupan senjata. Kita akan dibantu dari pihak kepolisian dan BIN. Selamatkan sandera dan bawa target dengan hidup atau pun mati! Perintah Bagas sebagai kapten kalian adalah perintah mutlak!"
"Siap!" ucap mereka serempak.
Mereka membubarkan diri dan kembali ke pos penjagaan.
.
Akbar berhasil sampai di markas besar. Dia juga menyuruh anak buahnya untuk menculik Anin dan Salma. Dia bertemu bos besar nya.
"Terima kasih karena tuan menyelamatkan saya" ucap Akbar sambil membungkukkan badan.
"Tak masalah, abdi setia sepertimu memang harus diselamatkan untuk tetap digunakan" jawab orang itu membelakangi Akbar. "Pergilah, beritahu Edi bahwa sebentar lagi akan ada serangan. Selamatkan barang yang masih bisa diselamatkan. Dan suruh dia ke markas ini"
"Baik tuan" jawab Akbar kembali.
.
Bagas dan tim nya sedang dalam perjalanan menuju desa x. Hatinya sangat gusar mengingat kekasih dan adik nya sedang berada dalam bahaya.
Raka menepuk bahu nya. Dan mereka tersenyum.
"Tunggu mas dan abangmu datang yank, Ya Allah lindungi lah mereka" ucap Bagas dalam gumaman.
Edi dan anak buahnya memindahkan barang yang ada di rumah itu menggunakan motor. Karena dia sudah mendengar bahwa jalur air sudah ditutup. Dirinya tak ingin mengambil resiko maka ia tetap menggunakan motor.
"Ambil semua nya yang masih ada di gudang dan bawa semua ke markas besar. Jangan sampai ada yang tertinggal karena itu akan menjadikan sebagai barang bukti" perintah Edi terhadap anak buahnya.
"Bos, bagaimana dengan yang di peti? Semua motor sudah terisi penuh" tanya anak buah Edi.
"Masukkan kembali ke kapal. Biarkan dulu terombang-ambing dilautan. Nanti kita pikrikan cara lainnya"
"Siap bos!" jawab anak buah Edi.
.
.
__ADS_1
.
Huahhh, author ngantuk. Dilanjut nanti ya. Mana nih komen nya, kencengin dong. Kencengin juga like dan vote nya. Makasiiihhh semua. 😘😘😘