
Pembukaan Anin yang seharusnya berlangsung agak lama menjadi cepat. Baru satu jam saja pembukaan Anin bertambah 2cm. Itu karena kontraksi Anin yang terlampau adekuat. Salma semakin panik. Dia berkonsultasi dengan dokter kandungan dan disarankan segera dirujuk ke rumah sakit saja.
Anin segera dirujuk ke rumah sakit ditemani oleh Salma dan ibu di dalam mobil ambulance. Ayah menggunakan mobil pribadi sambil sibuk menghubungi Bagas. Tersambung dan akhirnya diangkat oleh Bagas.
"Alhamdulillah ya Allah, kamu dimana Gas? Anin mau lahiran, sekarang sedang dirujuk ke rumah sakit" ucap Ayah dengan panik.
Bagas lagi di dalam pesawat yah, rumah sakit mana? RST? Keadaan Anin dan bayinya gimana yah? Bagas terdengar cemas di ujung telepon.
"Tenang dulu Gas, Anin dirujuk ke rumah sakit karena kontraksinya kata Salma gak normal. Anin kontraksi terus. Jeda pun hanya sebentar. Iya ini dirujuk ke RST langsung kesana ya saat tiba di bandara"
Iya yah, titip Anin dan anak Bagas yah. Bagas tutup dulu telponnya. Pesawat udah mau take off. Assalamualaikum
"Waalaikum salam. Hati-hati. Selalu baca doa dan sholawat"
Panggilan berakhir. Ayah fokus untuk menyetir.
Sedang di dalam pesawat, hati Bagas sedang gusar karena keadaan istrinya. Dia tak tenang mendengar istrinya dirujuk karena kontraksinya terlampau kuat.
"Ya Allah, lindungi istri dan calon anak hamba. Berikanlah mereka keselamatan. Izinkan hamba bisa mengadzani anak hamba. Aamiin.
Tunggu papah pulang ya nak. Maafkan mas karena kamu sedang menahan sakit sendirian tanpa mas sayang. Tunggu papah, papah akan pulang untuk kalian"
Bagas bergumam sendirian. Matanya menatap ke arah jendela. Perjalanannya butuh waktu 1 jam untuk sampai di Kalimantan. Dia hanya bisa berdoa dan berharap istri dan calon anaknya diberi keselamatan.
.
Tari yang mendapatkan kabar dari Salma langsung menuju RST bersama Tristan. Mereka sampai terlebih dahulu sebelum Anin.
"Bang, aku takut Anin kenapa-napa. Mana mas Bagas belum bisa dihubungi lagi"
"Tenang sayang, ingat kamu juga udah 7 bulan. Doakan yang terbaik buat Anin dan bayinya"
"Iya. Ya Allah beri keselamatan dan kemudahan bagi Anin dan bayinya. Aamiin"
"Aamiin"
Tak lama ambulance yang ditumpangi Anin datang. Salma menuju bagian pendaftaran dan menyerahkan surat rujukannya. Anin ditemani oleh ibu sedang diperiksa keadaanya oleh dokter IGD.
"Bu, ini kontraksi nya terlalu kuat, saya takutnya nanti ada cincin rahim atau bundle ring. Karena pembukaan ibu juga baru 4cm. Saya laporan ke dokter kandungannya dulu ya bu"
Anin mengangguk.
"Mana yang sakit sayang? Ibu bantu elus-elus ya?" tanya ibu kepada Anin.
__ADS_1
Anin tersenyum. "Ibu tenang ya, Anin gak papa kok bu"
"Tenang bagaimana? Kontraksi kamu itu terlalu kuat sayang"
"Dek, jangan buat mbah uti khawatir dong sayang. Adek udah gak sabar ya lihat dunia? Bantu mamah ya sayang. Kita kerjasama jadi tim yang baik ya nak" ucap Anin mengelus perutnya dan mendapatkan jawaban dari calon bayinya. Dia menendang perut Anin. Anin tersenyum medapatkan jawaban dari calon bayinya.
Dokter IGD tadi datang bersama dengan dokter lainnya, yang diketahui namanya adalab dokter Bunga, seorang dokter ahli kandungan.
"Selamat siang bu Anin. Gimana bu? Sekarang yang ibu rasakan apa?" tanya dokter Bunga sambil melihat perut Anin yang memang membentuk lekukan seperti angka 8.
"Kontraksi saya jedanya hanya sebentar-sebentar dok. Dan tadi kata dokter ini sudah ada tanda-tanda bundle ring. Saya agak khawatir sih dok" terang Anin kepada dokter Bunga.
Dokter Bunga tersenyum. "Iya bu, lebih baik kita operasi caesar sekarang ya bu, takutnya nanti terjadi apa-apa dengan rahim ibu. Terakhir makan minum jam berapa bu Anin?"
"Jam 12 siang tadi dok"
"Oke, kita operasi cito. Siapkan ruangan operasi. Saya akan persiapan diri. Hubungi ahli aneatesi. Suaminya mana ya?"
"Suaminya sedang dalam tugas dok, semua keputusan kami yang tanggung. Tolong diberikan tindakan yang terbaik untuk menantu saya dok" sahut Ibu menjawab pertanyaan dokter Bunga.
"Oh, kalau begitu silahkan tanda tangan persetujuan tindakan dulu bu"
Dokter bunga bersama ibu menuju nurse station untuk menandatangani beberapa formulir. Dokter bunga juga menjelaskan kemungkinan terburuk jika tidak dilakukan operasi. Ibu mengangguk mendengarkan penjelasan dokter Bunga.
Tak lama setelah Anin dibius lokal dokter Bunga datang dan mulai memimpin operasi. Operasi Anin berjalan sekitar 1,5 jam.
"Oeeeek oeeeeek oeeeek" tangisan bayi itu terdengar menggema di dalam ruang operasi.
Anin yang masih setengah sadar mendengar tangisan bayinya.
"Alhamdulillah bu Anin, bayinya laki-laki" ucap dokter Bunga senang dengan kelahiran bayi Anin.
"Alhamdulillah, terima kasih dokter"
"Biar dibawa suster dulu ya bu bayinya. Dicium sebentar boleh"
Anin mencium putra kecilnya. Dia menangis haru bahagia melihat putranya. Persis seperti Bagas. Suster membawa bayi Anin untuk dipakaikan baju dan dihangatkan.
Dokter Bunga meneruskan pekerjaannya. Menjahit bagian perut Anin setelah berhasil mengeluarkan placenta dengan utuh. Alhamdulillah rahim Anin baik-baik saja.
Setelah selesai Anin dipindahkan ke ruang perawatan. Dia rawat gabung bersama bayinya. Ayah dan ibu sangat senang. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Bu Anin, kalau nanti bayinya menangis tolong disusui ya. Keluar atau tidak tetap disusukan. Pak, bayinya belum diadzani, silahkan kalau mau diadzankan" ucap suster seraya pergi meninggalkan ruangan Anin
__ADS_1
"Baik sus, terima kasih" ucap Anin.
Ayah segera mengambil wudhu dan bersiap mengadzani cucu pertamanya itu. Saat sudah siap adzan pintu terbuka dan Bagas tersenyum dan menangis melihat istri dan anaknya selamat.
"Yah, biar Bagas saja" ucap Bagas dan bergegas mengambil wudhu.
Bagas mengadzani anaknya disaksikan oleh semua orang. Sungguh merdu, Bagas tak kuasa menahan tangis bahagianya. Dia sampai terisak saat mengadzani putranya.
Setelah selesai dia menggendong anaknya. Masih kaku memang, sampai ibu berulang kali membetulkan posisi tangannya.
"Ibu sama ayah pulang saja. Biar Bagas yang jaga Anin sama si kecil" ucap Bagas.
"Iya, nanti kami pulang. Raka dimana?" tanya ibu.
"Besok dia baru pulang bu. Dia harus menulis laporan dulu"
"Yaaaah, padahal adek udah kangen banget" ucap Salma kecewa.
"Ya kan besok bisa ketemu deeek. Sabar" sahut Bagas.
"Iya"
"Eh, udah pada makan belum nih? Kalau belum kita order dari resto saja" ucap Tristan.
"Order gaya lo. Itu resto punya lo sendiri kali Tris" sahut Bagas.
"Iya memang, tapi kan nanti lo yang bayar mas" sahut Tari.
"Iya deh iya. Pesen yang kalian mau. Gue yang bayar"
"Horeee. Hahahaha" semua tertawa bahagia.
.
.
.
Like
Vote
Komen
__ADS_1
Tip