
Bagas dan Angga meninggalkan rumah Anin. Seorang pria dengan pakaian serba hitam dan tertutup topi bersembunyi dibalij pohon yang besar dan rindang itu.
"Halo, bos. Ya, dia memang anak Andi Wijaya. Apakah harus ku laksanakan sekarang tugasku?"
Jangan, lakukan sesuai instruksi ku. Aku yakin dia pasti berguna bagiku. Tetap awasi dan beri aku kabar
"Baik bos" Orang itu masih memperhatikan rumah Anin.
.
Anin dan Tari segera bersiap. Mereka memasukkan beberapa baju dan tak lupa persiapan untuk tes nya.
"Nin, gue tidur duluan ya. Capekkk" Tari menuju ranjang dan mulai manarik selimutnya.
"Iya, gue juga hampir selesai kok" Anin dengan cekatan memasukkan barangnya dan menyusul Tari.
.
Adzan subuh berkumandang. Anin lekas bersiap. Tari pun bersiap setelah Anin selesai. Mereka memilih membuat sarapan daripada harus antri diluar sana.
Bagas berangkat lebih pagi. Dia mempir ke rumah Anin terlebih dahulu.
tok tok tok
Tari membuka kan pintu.
"Yaelah, ini orang. Niiiiin, ada mas Bagas nih" Tari berteriak kepada Anin
"Sirik aja sih lo, gue kan mau LDR an. Makanya harus ketemu dan romantisan tiap pagi. Anak dibawah umur gak boleh lihat. Sono masuk!"
Anin yang baru datang dari dalam langsung memeluk tunangannya itu. Bagas mencium kening Anin.
__ADS_1
"Mas ketemunya disini aja ya, kan gak bisa nganter ke Bandara. Nanti disana hati hati. Jangan ngasih informasi ke orang asing gak gak dikenal" Bagas menasihati Anin layaknya anak kecil yang hendak piknik jauh.
"Iya, bawel banget sih. Mas udah sarapan belum? Sarapan bareng yuk" ajak Anin bersemangat.
"Maaf, gak bisa yank. Mas harus nyampe disana lebih pagi. Mas pamit ya. Doain mas supaya gak digodain cewek cewek disana. Dan semoga mas gak tergoda" Bagas nyengir kuda melihat ekspresi Anin
"Gak bakalan kamu itu berani macem macem. Aku kan juga punya mata mata disana!Jangan pernah melukai hatiku, kalo itu terjadi aku bakalan pergi dari hidupmu" Anin mengingatkan Bagas kembali akan ucapan Anin.
"Dan aku akan selalu menemukanmu" Bagas mencium kening Anin
"Mas pamit ya, Assalamualaikum ayang beb ku" Bagas melepaskan pelukannya.
"Hati hati mas ku sayang, Waalaikum salam" Anin mencium punggung tangan Bagas dan mengecup pipi nya.
Bagas berlalu. Anin hendak masuk rumah. Dilihatnya ada orang dengan baju serba hitam yang sedang mamandang ke arah nya.
Siapa laki laki itu? Kenapa sangat menakutkan?
"Ri, gue mau cerita. Lo jangan takut ya?"
"Apaan?"
"Tadi gue lihat ada orang pake baju hitam semua, nyeremin, ngelihat ke arah rumah gue lagi"
"Terus?"
"Gue tutup pintu dan kunci"
"Terus?"
"Teras terus mulu lo!"
__ADS_1
"Udah gitu doang? Mmmm, mungkin cuma orang lewat"
"Apa itu suruhan ayah ya? Tapi kita kan mau pergi. Ah, gak tau ah. Anggap aja itu orang suruhan Ayah"
"Udah sih, fokus dulu aja sama SKB ntar"
"Terus lo sendiri gimana? Lo mau jadi pengangguran?"
"Gak lah, gue udah nglamar jadi dosen kok. Bokap juga nyuruh gue belajar bisnis"
"Syukur deh kalo lo udah mantepin niat kesitu. BTW Angga kemana sih. Lama banget"
"Bentar, tadi dia udah chat kok. Katanya udah di jalan"
tin tin
"Nah itu dia. Ayok berangkat!" Tari penuh semangat menenteng tas nya sehingga lupa bahwa sepatu nya yang sebelah belum ditali. Alhasil terinjak oleh kakinya sendiri dan
bruk
"Addduuuuhhhhh, sakit" Tari meringis kesakitan
"Hahahah, lagian lo sih. Bisa bisanya tali sepatu belum diikat. Ikat dulu gih"
"Bukannya bantuin malah ngetawain!"
"Iya sini gue bantu" Anin membantu Tari berdiri dengan masih cekikikan.
Mereka masuk ke mobil Angga setelah memastikan rumah dalam keadaan aman.
Meluncur ke Bandara
__ADS_1