Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 172 (Extra 5)


__ADS_3

Kehamilan Anin sudah memasuki bulan ke 9. Sudah dekat dengan hari perkiraan lahir. Tapi suaminya masih belum menghubunginya. Ayah dan Ibu sudah berada di rumah nya sejak 1 bulan yang lalu.


Siang itu Anin baru saja keluar dari puskesmas bersama Salma. Saat di depan gerbang puskesmas perut Anin tiba-tiba rasanya mulas melilit. Dia memegangi perutnya dan mencengkeram pinggangnya. Salma yang tidak mendapati Anin di sampingnya segera menoleh.


"Astaghfirullah! Kak Anin!" ucap Salma melihat Anin bersimpuh di tanah.


"Kenapa? Apa yang sakit? Bagian mana?" tanya Salma cemas.


Diki yang baru datang untuk shift siang melihat mereka panik.


"Kak, Kak Anin kenapa?" Tanya Diki kepada Salma ikut-ikutan panik.


"Sal, pe ruut guee, hah, mu less bangeeet. Aduuuuuhhh" ucap Anin sambil terbata.


"Hah? Jangan-jangan mau lahiran nih. Dik, tolong panggilkan orang di IGD suruh bawa brankar sekalian!" Salma menyuruh Diki untuk segera ke IGD.


Diki berlari dan memanggil dokter Bimo yang masih duduk disana. "Dokter! Tolong! Kak Anin!" ucap Diki berteriak membuat orang yang berada di IGD panik semua.


Bimo yang tadi santai sekarang sudah berdiri panik. Dengan cepat dia berlari menghampiri Diki.


"Dia dimana?" seru Bimo


"Di gerbang depan" Diki dan Bimo berlari ke arah gerbang. Diki sampai lupa kalau disuruh ambil brankar.


Bimo dan Diki sudah sampai di gerbang. Anin mengatur nafasnya dan masih merasakan sedikit mulas.


"Diki, mana brankar nyaaaa?" tanya Salma.


"Alamak, Diki lupa kak!" jawab Diki sambil tepok jidat.


"Aku gendong saja ya?" Bimo menawarkan diri kepada Anin.


"Gak usah dok, Sal, bantu gue berdiri" pinta Anin. Anin menolak dibantu oleh Bimo karena tidak ingin ada kesalahpahaman. Apalagi Sinta dan Bimo sudah menyebar undangan.


"Dik, bantuin Anin bangun, aku ambil dulu brankarnya" ucap Bimo yang sedikit kecewa atas sikap Anin. Dia hanya ingin menolong, tapi ditolak Anin.


Diki dan Salma dengan sekuat tenaga membantu Anin berdiri. Berhasil. Brankar yang dibawa Bimo pun datang. Anin naik ke atas brankar itu dengan hati-hati dan mereka membawanya ke ruang IGD.


"Bidan yang jaga siapa nih?" tanya Salma saat berada di IGD.


"Aku aku" ucap Minul

__ADS_1


"Mbak Minul, tolong periksa Anin ya"


"Lhaaah, ada kamu kok. Kamu aja" jawab Minul.


Salma mengangguk dan mulai mencuci tangan. Setelahnya dia menggunakan sarung tangan dan mendekat ke bed Anin.


"Gue cek pembukaan dulu ya? Gue bantu lepas daleman lo" ucap Salma dan diangguki oleh Anin.


Salma mulai membantu Anin untuk melepas pakaian bawahnya. Salma melihat sudah ada lendir darah. Dia akan segera melakukan periksa dalam.


"Jari gue masuk ya, tarik nafas" Anin menarik nafas panjang dan Salma mulai menyusuri bagian dalam Anin. Memastikan sudah atau belumnya pembukaan dan keadaan lainnya.


"Baru bukaan 2, KK masih utuh, tapi penipisannya cepet banget, ini udah sekitar 75 persen. Gak ada yang menumbung, mau disini dulu atau pulang?" Ucap Salma sambil menarik jarinya keluar.


"Perut gue kontraksi lagi. Gue disini aja lah. Kasihan Ayah sama ibu kalau harus cemas melihat gue mules-mules terus. Lo pulang aja, bilang sama ayah dan ibu, gue lembur atau apa lah. Tolong telponin suami gue dong dek" Anin meringis sambil mengusap-usap perutnya.


Salma menuruti keinginan kakak iparnya itu. Pertama dia menghubungi orang tuanya dan mengatakan bahwa dia dan Anin lembur karena ada teman yang sakit dan tidak bisa berangkat, awalnya mereka keberatan, tapi setelah dijelaskan oleh Salma dengan alasan kasihan temannya nanti keteteran akhirnya orang tua mereka pun mengalah.


Yang kedua, Salma menghubungi kakak nya. Bagas yang saat itu baru saja menangkap target dalam misinya tidak bisa mengangkat panggilan dari ponselnya.


"Gak diangkat" ucap Salma sedih dan menoleh ke Anin.


"Ya sudah gak papa. Sudah takdir ibu-ibu persit kan? Tolong nanti kalau kalau anak gue lahir suruh ayah mengadzankan. Duuuh, perut gue kontraksi lagi" ucap Anin meringis kesakitan lagi.


Anin hanya mengangguk. Salma mengobservasi kontraksi Anin. Minul datang hendak mengambil


"Calon ibu, diambil darahnya dulu ya. Habis itu kita pindah ruang" ucap Minul


"Oke mbak Minul" ucap Anin sambil tersenyum.


"Mbak, titip kakak bentar ya, aku mau ke KIA, ada yang ketinggalan" ucap Salma.


"Okeeee"


Salma menuju ruang KIA dengan masih membawa ponsel Anin. Dia memberitahukan Tari dan Tristan. Setelah itu menelpon ayah dan ibu lagi. Entah kenapa hatinya tak tenang saat membohongi orang tuanya. Terlebih lagi, kontrakasi Anin terlalu sering dan sudah adekuat. Salma berpikir, mungkinkah akan terjadi partus presipitatus? (Persalinan yang berlangsung sangat cepat).


Salma kembali menghubungi Bagas. Tersambung.


"Ya Allah, tolong suruh kakak angkat telponnya" ucap Salma sambil melihat atap.


Bagas yang baru saja serah terima tahanan dan menuju pesawat tidak mendengar ada panggilan masuk. Dia juga menelpon Raka, sama hasilnya. Tidak diangkat juga. Salma mulai frustasi.

__ADS_1


"Pikir Sal, siapa yang bisa dihubungi saat begini" Salma mondar mandir memikirkan orang yang bisa diberi kabar bahwa Anin akan lahiran.


"Om Herman" Dengan cepat dia mencari kontak om Herman tapi tidak ketemu. "Haduuuuh, dikasih nama apa lagi? Kok gak ada"


Salma masih menscroll nama kontak itu dan menemukan kontak tante Indi. "Mungkinkah ini tante Indira istri om Herman? Ah, coba saja lah, kalau salah sambung malu ya sudah" Salma memencet tombol memanggil.


Halo assalamualaikum Anin sayang


"Waalaikum salam, ini Salma tante. Ini bemar dengan tante Indira istri om Suherman bukan?"


Iya betul, Salma anaknya mbak Rita? Istrinya si Raka?


"Iya tante"


Ada apa sayang?


"Begini tante, saya mau mengabarkan. Kak Anin sudah mau lahiran. Saya telpon kak Bagas ataupun bang Raka tersambung, tapi tidak diangkat. Apakah mereka masih dalam misi tante? Biasanya kalau dalam misi ponselnya non aktif kok, ini tersambung tapi tidak diangkat?" jelas Salma panjang lebar.


Anin udah mau lahiran. Sek sek nduk. Kemarin itu om mu berangkat ke Poso kok. Biasanya kalau seperti itu, targetnya udah berhasil dilumpuhkan. Tante telpon om mu dulu nduk. Nanti tante telpon lagi


"Oh terima kasih tante atas bantuannya. Saya hanya kasihan dengan kak Anin, dia merasa tidak enak hati merepotkan orang tua kami. Dan saya curiga nya persalinan nya cepat, karena dari tadi kontraksinya kuat sekali" imbuh Salma lagi.


Oke, tante tutup dulu. Assalamualaikum


"Waalaikum salam"


Salma mengakhiri panggilannya dan membuka catatan kecilnya kembali. Dia membaca tentang partus presipitatus. Dia agak lupa karena selama dia hamil ini agak malas membaca.


.


.


.


Like


Komen


Vote


Tip

__ADS_1


Maaf ya lama...hehehehe. Author lagi ngejar LARASATI & PAK BUPATI. Monggo dinikmati bacaannya. Happy reading all 😘😘😘


__ADS_2