Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 165


__ADS_3

Pagi itu semua sibuk dengan urusannya masing-masing. Anin dijemput oleh om Eri dan diantar ke rumah Bagas. Anin segera dirias. Bagas makin gusar karena waktu ijab semakin dekat. Salma dan Raka baru saja tiba dan ikut bersiap. Tristan dan Tari baru saja mendarat. Anin segera meminta ijin cuti untuk nikah dari puskesmasnya. Anin diberi ijin hanya sampai sabtu. Itu artinya senin depan dia sudah harus berada di Kalimantan lagi.


PNS buuuu, jadi gak boleh cuti lama-lama karena sudah terpotong cuti sakit waktu dirinya tertembak.


"Hai hai calon manteeen" ucap Salma.


"Aaahh, akhirnya datang juga kalian. Gue kira gak jadi datang" jawab Anin.


"Ya gak mungkin lah, bang, adek dirias dulu ya. Temenin kakak sana"


"Oke" Raka segera menuju kamar Bagas.


"Tari baru mendarat sama bang Tris" ucap Salma memberitahu Anin.


"Alhamdulillah kalau kalian bisa datang semua. Seneng gue" ucap Anin bahagia.


Raka membuka kamar kakak ipar nya itu. "Kak" ucapnya


Bagas menoleh. "Tumben lo hormat sama gue, panggil gue kakak"


"Yaelah nyet, gak jadi lah kalau begitu"


"Salma mana?"


"Ada sama Anin. Gimana deg deg an gak?"


"Kalau gak deg-degan gue mati Mbel. Sedikit grogi sih. Semoga gue gak salah ucap pas akad"


"Aamiin. Tenang, fokus. Bayangin yang enak-enak nanti malam. Hahaha"


"Enak beneran mbel?"


"Jangan ditanya, pengen cuti terus gue nyet. Hahaha. Produksi anak"


Bagas tersenyum geli membayangkan dirinya nanti malam.


"Jangan dibayangin sekarang monyet, nanti lo bisa solo karir lagi"


"Iya-iya. Buruan deh, gak sabar gue"


"Wkwkwwk"


Tari baru tiba di rumah Bagas bersama Tristan. Tari langsung masuk ke kamar Anin dirias.


"Weeeeiiiitss, wes podo ayu cah, aku keriiiii. Mbak minta tolong di poles ya. Kalau bisa yang lebih cantik dari pengantin nya"


"Hahahaha, siap mbak" jawab sang perias.


Mereka bertiga masih di rias. Ibu dan Ayah menerima tamu yang sudah diundang. Keluarga pak Ade sudah datang. Mereka dipersilahkan masuk. Tinggal nunggu pak penghulu.


Akhirnya pak penghulu datang di waktu yang pas. Waktu menunjukkan pukul 9 dan waktunya akan akad. Bagas dipersilahkan duduk berhadapan dengan paman Anin. Papah Tristan dan om Herman ditunjuk sebagai saksi.


"Mari dimulai saja pak, sudah lengkap semua kan?" tanya pak penghulu kepada Ayah Ardhi.


"Sudah pak, monggo dimulai saja" jawab ayah.

__ADS_1


Pak penghulu mulai melantunkan ayat suci al-qur'an untuk pembukanya. Lalu menyerahkan prosesi ijab qobul kepada paman Anin. Bagas menjabat tangan pak Ade.


"Bismillahirrahmanirrahim, Bagas Ardhitama hari ini saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Anindya Wijaya binti almarhum Andi Wijaya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 50 gram dibayar tuuunaaaaiiii" ucap pak Ade


"Saya terima nikah dan kawinnya Anindya Wijaya binti almarhum Andi Wijaya dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas 50 gram dibayar tunai" jawab Bagas mantap.


"Bagaimana para saksi? Sah? Sah?" tanya pak penghulu kepada para saksi.


"Sah!"


"Alhamdulillah, Barakallahu lakuma wabaraka alaikuma fii khoir...." pak penghulu membacakan doa pengantin.


Anin didudukkan disebelah Bagas. Dia menyalami tangan Bagas. Bagas mencium keningnya. Anin mendongak. Seketika wajah Bagas seperti wajah ayah Andi.


"Ayah...." ucap Anin tak sadar.


"Yank"


"Eh mas, tadi ada ayah. Bener ayah datang mas!" ucapnya tak kuasa menahan air mata.


"Iya sayang, ayah pasti ada diantara kita. Yuk dilanjutkan dulu prosesinya" ucap ibu menenangkan Anin.


Anin mengangguk. Bagas dan Anin melakukan penandatanganan buku nikah. Bagas menyematkan cincin kawin kepada jari manis Anin dan sebaliknya. Akhirnya sah mereka menjadi suami istri. Eits, tapi kejutan belum berakhir ya Nin, Gas.


Para tamu menikmati jamuan yang ada. Bagas berbicara kepada ayahnya. "Yah, nanti malam kami pulang ke rumah Anin ya"


"Nanti malam resepsi di gedung x" ucap ayah datar.


"What? Ayah gak usah bercanda deeehhh" balas Bagas masih tak percaya.


"Beneran kak, nanti malam kalian resepsi. Jadi yang enak-enak ditunda dulu sampai acara resepsi selesai" timpal Raka.


"Sabar Gas, masih harus puasa beberapa jam lagi" ujar Tristan


"Alamaaaakk, kenapa gak ngasih tahu sih. Kan rencana Bagas resepsinya nanti sebulan setelah akad" protes Bagas semakin membuat semua nye tertawa.


"Sekalian lah Gas, ada WO yang bisa diajak kerjasama hanya dalam waktu 3 hari. Ya ayah ambil"


"Udaaahh, tinggal salaman sama tamu aja. Ditahan mas brooo" sahut Raka.


Bagas memanyunkan bibirnya. Para tamu undangan sudah pulang satu persatu. Hanya keluarga saja yang masih disana.


Anin hendak membersihkan wajahnya dari riasan, tapi dicegah oleh ibu dan Tari.


"Eeehhh, jangan dihapus. Nanti make up nya makin lama lagi. Nanggung sayang ini udah jam 3 sore" Ucap Ibu.


"Memang kenapa bu?" tanya Anin tak tahu.


"Resepsi siiiis" jawab Tari singkat.


"Ha?" Anin bingung.


"Iya Nin, hari ini lo sama kakak resepsi sekalian. Biar semua kumpul. Kita kan susah dapat liburnya" ujar Salma.


Anin mendekati suaminya. Dan duduk disebelah Bagas. "Mas"

__ADS_1


"Eh yank, kenapa? Udah makan?" tanya Bagas sambil meraih tangan Anin dan mengecupnya.


"Udah, kamu mau aku ambilin makan mas?"


"Gak usah, mas masih kenyang"


"Tadi aku lihat ayah saat kamu ngecup kening aku mas"


"Benarkah?"


"Iya mas, wajah kamu seketika menjadi bayang-bayang wajah ayah. Ternyata benar omongan orang-orang ya mas, seorang ayah tidak akan meninggalkan anaknya"


Bagas mengangguk. "Yank, dengerin mas ya. Ayah Andi itu tidak pernah meninggalkan kamu. Beliau selalu ada, beliau selalu hidup di hati kamu sayang. Beliau akan menjadi kenangan untuk mu. Jadi jangan pernah berpikiran kamu sendiri lagi dan ditinggalkan olehnya. Beliau selalu ada buat kamu yank. Dalam wujud kenangan"


"Iya mas. Resepsi nya jam berapa sih? Udah pengen ngehapus riasan nih"


"Jam 5. Bentar lagi kamu bakalan disuruh siap-siap lagi. Mas pengen nerkam kamu malah ada resepsi. Dasar si ayah" ucap Bagsas dengan muka masam


"Maaaas, jangan begitu ah. Ayah dan Ibu udah usaha lho"


"Iya-iya maaf"


"Sabar dong mas, nanti sepuasnya aku milikmu"


"Kamu udah selesai haid yank?"


"Udah, aku kan mulainya dari hari sabtu kemarin"


"Yes" ucap Bagas senang. Anin hanya geleng kepala melihat suaminya segirang itu.


Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Bagas dan keluarganya sudah berada di gedung x.


"Yah, ayah ngundang berapa orang?" tanya Bagas.


"1000 orang, termasuk temen-temen se kompi kamu" jawab Ayah.


"Alamaaaakk, banyak kali. Selesai jam piro yah?"


"Ya Allah si Bagas, udah pengen banget sih kamu. Sabar dong. Acara nya hanya sampai jam 8" jawab ibu.


"Nanti Bagas sama Anin langsung pulang ke rumah Anin" ucap Bagas.


"Iya-iya, bawel banget sih daritadi banyak maunya" jawab ibu.


Para tamu satu per satu sudah berdatangan. Bagas dan Anin menyalami satu per satu dan menebar senyum kebahagiaan mereka.


.


.


.


Like


Vote

__ADS_1


Komen


Tip


__ADS_2