
Tak terasa sudah habis masa cuti Anin. Dia harus segera kembali ke Kalimantan. Begitupun Bagas, dia harus segera kembali ke Jakarta. Bagas mengantarkan istrinya ke Kalimantan tapi sebelum itu mereka transit di Jakarta dahulu. Menjenguk ayah Umang.
"Assalamualaikum putra putri ayah" ucap Ayah Umang menyapa Anin dan Bagas.
Anin mendekapnya lama "Waalaikum salam" jawab Bagas dan Anin.
"Ayah sehat?" tanya Bagas.
"Sangat sehat, kalian adalah alasan ayah harus selalu sehat. Hukuman ayah sudah ditetapkan oleh hakim. Ayah dijatuhi hukuman 15 tahun penjara"
"Sabar ya Yah, kita nanti sering-sering tengokin ayah kok. Jangan merasa kesepian" ucap Anin menggenggam tangan Edi.
"Ayah gak sedih. Ayah bersyukur setidaknya hukuman Ayah tidak seberat om Bakri. Dan ayah bersyukur masih memiliki kalian. Gas gimana? Udah usaha buat kopian kalian yang banyak kan?" tanya Edi menahan senyum.
"Ih ayaaaaaahhh" protes Anin.
"Hahahah, tenang Yah, tiap malam gak bisa tidur dia"
"Hish kalian ini, bisa ya yang begituan dibuat obrolan!" protes Anin menahan malu.
Mereka tertawa lepas membicarakan semua hal. Anin senang melihat Edi yang seperti ini. Dia bersyukur masih memiliki orang yang sayang terhadapnya sama seperti anak sendiri.
Hari berlalu seperti biasa. Anin sebagai Bidan dan Bagas sebagi tentara khusus. Waktu terus berlalu tanpa mereka sadari. Rindu? pasti. Ingin bertemu? sangat. Tapi bersabar adalah jawaban yang sangat tepat untuk keadaan seperti ini. Sudah 4 bulan berlalu begitu saja.
Tari yang lebih dulu menikah, sekarang tengah hamil 2 bulan. Dia sedang mengalami morning sickness. Dan ngidam. Tari mengidam minta dibelikan high heels setiap hari. Tristan sampai bingung dengan high heels itu, karena Tari hanya akan memakainya sekali dan setelah itu tak mau memakainya lagi.
Salma juga sedang hamil 1 bulan. Tapi dia belum mengalami morning sickness ataupun ngidam.
Anin? Jangan ditanya! Dia lebih dulu daripada yang lain. Usia kandungan Anin 4 bulan. Sama seperti usia pernikahannya. Siapa yang kerepotan kalau ada yang ngidam? Sudah tahu dong jawabannya, pak Jenggot. Anin akan minta tolong dengan pak Jenggot jika ia menginginkan sesuatu. Misal kemarin dia mengidam ingin mengelus-elus kepala orang botak.
Pak jenggot sampai bela-belain nyari orang botak dan dibayarnya demi Anin.
"Haaah, ini istri siapa, yang repot siapa!" protes pak jenggot menuruti keinginan Anin.
Anin melakukan syukuran 4 bulanan kehamilannya. Dia sebenarnya ingin Bagas datang. Tapi apa daya. Suaminya masih dalam tugas. Akhirnya syukuran kecil-kecilan itu dihandel oleh Tristan, Ayah dan Ibu.
"Mas pulang kapan?" tanya Anin di telpon.
Bulan depan sayang, mas masih dalam misi. Gimana tadi syukuran si dedek?
"Alhamdulillah, lancar. Ayah dan Ibu juga datang kesini kok. Tapi kayaknya dedek mau papahnya"
Yang pengen dedek apa kamu? Goda Bagas kepada Anin.
"Ya adek ya mamah nya lah. Kangeeen"
Sabar ya. Ingat, janji kita. Tidak boleh mempermasalahkan jarak. Mas juga kangen sama kalian. Tunggu dan bersabar lah. Mas akan pulang untuk kalian
"Hmm, iya. I Love you mas, i miss you. Cepet pulang pah, mamah rindu, adek rindu" ucap Anin dengan suara bergetar.
Jangan menangis. I love you too ayang beb, papah juga kangen sama kalian. Coba sekarang buka pintu rumah yank
Anin bingung dengan permintaan Bagas.
Yank, masih dengar mas?
Dengan segera Anin berlari ke arah pintu. Dan membukanya. Anin diam mematung. Dilihatnya orang yang dirindukannya berdiri di depan nya dan tersenyum. Salma yang mengetahui Anin berlari ikut menghampirinya.
"Kakak!" pekik Salma. Salma memeluk kakaknya. "Bang raka mana?" tanya Salma.
"Abang disini" Raka muncul di balik mobil taksi yang ditumpanginya membawa 2 ransel besar. Dia melemparnya ke Bagas.
"Kakak tu yank ngebully abang. Barang bawaannya banyak banget" Raka mengadu ke Salma.
"Ih dasar si kakak! Awas ya nanti. Masuk dulu yuk. Nin, woy sadar! Suami lo tuh pulang" ucap Salma membangunkan Anin yang sedari tadi mematung.
Salma dan Raka meninggalkan mereka berdua.
"Assalamualaikum ayang beb nya mas. Kok diem sih? Katanya tadi rindu" ucap Bagas mendekatkan tubuhnya dan berjongkok di depan perut Anin.
"Assalamualaikum anak papah? Pinter ya ditinggal papah gak rewel. Terus begitu ya sayang. Jangan buat mamah susah ya. Okey?" ucap Bagas mengelus-elus perut Anin dan mengecupnya.
Dia kembali bangkit dan melihat Anin sudah menangis. Bagas segera membawa Anin dalam pelukannya.
"Jangan menangis. Maaf mas datang telat dan gak bisa ikut syukuran 4 bulan adek. Misi baru selesai kemarin dan mas masih harus membuat laporannya. Maaf ya" Bagas mengecup puncak kepala Anin.
Anin membalas pelukan suaminya. "Aku kangen sama kamu"
"Iya sama, mas juga kangen sama kalian. Masuk yuk! Mas kan pengen nengok dedek"
__ADS_1
"Hahahah, dasar ya, tiap pulang alasannya begitu terus"
"Hahaha, kan katanya kangen"
Bagas dan Anin masuk ke rumah dan bersendau gurau sebentar dengan semua. Salma dan Raka pulang ke rumah mereka. Ibu dan Ayah juga ikut bersama mereka.
"Ngapain belum pulang? Sana pulang!" usir Bagas kepada Tristan dan Tari.
"Huaaaaa, bang, Tari diusir sama mas Bagas. Huaaaaa huhuhhuhu" Tari berpura-pura menangis.
"Dasar ya si Bagas" Tristan melempar bantal sofa kepada Bagas.
"Maaaas, kamu ini galak banget sih sama Tari. Nanti kalau anaknya Tari balas dendam ke anak kita gimana?"
"Ih jangan sampai dong. Pasti anak mas yang menang"
"Huaaaa huhuuhu. Pulang yuk bang. Nin gue mau sepatu lo yang itu"
Semua menoleh ke arah yang ditunjuk Tari.
"Jangan yang itu, kan buat kerja. Yang lainnya yaaaa"
"Gak mauuuu, itu ajaaaa"
"Yawes lah ambil-ambil buat keponakan gue" jawab Bagas cepat.
Tari dengan sumringah mengambil sepatu itu dan membawanya. "Ayo bang pulang, udah ada yang kebelet tuh!"
"Ooooowww dasar ya! Balikin sepatu bojoku nek gitu"
"Huaaaaa"
"Bagas, lo nih emang ya. Bojo gue lagi sensitif bisa lebih kalem gak sih!" protes Tristan
"Udah udah, kalian ini kayak tikus sama kucing aja kalau ketemu. Maafin mas Bagas ya Ri, udah bawa pulang sepatu gue. Besok gue beli lagi" jawab Anin melerai pertikaian kecil mereka.
"Sana pulang!" ucap Bagas sambil melotot.
"Iya-iya Gaaaaasss, Nin kita pamit ya. Dedek dalam perut paman sama bibi pulang yaaa" ucap Tristan.
"Iya, hati-hati kalian"
"Dipakai dong abang sayang"
"Yang kemarin-kemarin mau diapakan?"
"Di kasihkan ke orang aja. Mau di tukar ke Salma maupun Anin gak bakalan muat. Kaki aku lebih kecil dari mereka"
"Hadeeehhh, ya wes lah. Yang penting kamu sama dedek seneng"
"Makasih abaaaangg, kapan lah ngidam aneh ini hilang"
"Disyukuri, nanti juga hilang sendiri. Eh yank, nanti peresmian kafe diadakan sekalian 4 bulanan kamu gimana?"
"Emang sekarang kafe sampai tahap apa bang?"
"Sudah mulai dekor sih"
"Terus foodtruck mau diapakan?"
"Ya tetap jalan lah sayang. Biar kita tetep ingat. Perjuangan aku buat dapatin kamu ya dari situ"
"Iyaaa, nanti aku suruh Anin nyanyi kalau peresmian kafe"
"Hahahah, dia udah hamil gede kali yank. Kasian kalo harus disuruh nyanyi"
"Gak papa, bumil harus aktif abang"
"Ya sudah terserah kamu"
.
Bagas sedang menengok dedek ya gaes. 😅. Bagas berguling ke samping istrinya. Mengecup kening istrinya lembut dan membelai rambutnya.
"Mas, dapat cuti berapa hari?"
"Seminggu"
"Cepet banget"
__ADS_1
"Sabar sayang. Mas hanya bisa nyuruh kamu sabar dan nunggu. Eh, besok kita USG yuk, papah pengen lihat wajah adek"
"Oke"
"Papah gak sabar ketemu dedek. Kira-kira wajahnya mirip siapa ya?"
"Ya pastinya mirip aku lah, kan aku mamah nya"
"Mirip mas, orang mas yang kerja keras kok! Keringat mas aja sampai bercucuran"
"Ih, enak aja mirip kamu. Mirip aku"
"Mirip kita"
Anin mendongak dan tersenyum.
"Semoga ada lesung pipitnya kayak kamu mas. Manis"
"Hahaha, gula kali yank manis. Bobok yuk. Kasihan adek kalau diajak bergadang"
Mereka tidur dengan tenang dan saling berpelukan.
.
Raka masih ragu menyentuh istrinya karena usia kandungan istrinya masihlah rawan.
"Kenapa bang?"
"Abang pengen tapi takut"
Salma mencerna omongan Raka.
"Lakuin kalau abang pengen, Insyaallah gak papa kok"
"Bener?"
"Iya sayang, jangan dalem-dalem masukinnya. Dan mainnya yang lembut aja ya"
"Oke siap!" Raka dengan semangat melucuti pakaiannya dan pakaian Salma. Raka sangat hati-hati dalam melakukannya.
"Aaaahh" desah keduanya.
"Sudah puas?" tanya Salma.
"Sudah, makasih ya istriku sayang. Tapi kamu bener gak papa kan? Abang gak pengen kenapa-napa sama calon buah hati kita sayang"
"Insyaallah, yakin gak papa. Harus positif thinking. Setiap hari kata kak Anin suruh afirmasi yang positif. Kandungan ku kuat sehat gitu-gitu lah pokoknya"
"Ooohh syukur deh kalau begitu. Kamu gak pengen ngidam apa gitu?"
"Emang aku kalau ngidam bakalan kamu turutin?"
"Iya lah"
"Pengen sesuatu sih"
"Apa?"
"Naik kerbau yang lagi bajak sawah"
"Hah?" Raka melongo mendengar permintaan istrinya.
"Ya sudah deh kalau gak mau gak papa" Salma sudah memanyunkan bibirnya.
"Oke besok kita cari kebo nya"
.
.
.
Like
Vote
Komen
Tip
__ADS_1
Aneh2 banget sih ngidamnya. Dulu author ngidam nya simpel sih, ayam goreng pake sambel tomat jam 10 malem tapi belinya harus di Ungaran. Wkwkwkwk