Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 129


__ADS_3

Anin duduk di belakang. Dia melihat para tentara itu sedang diberi pengarahan. Dia memainkan ponselnya. Melupakan ucapan Bagas yang membuatnya dongkol. Setelah selesai, mereka masuk ke dalam mobil tersebut. Hendra, Hendi, dan Agus mengenali sosok Anin.


"Mbak Anin?" Ucap Hendi


Anin mendongak dan tersenyum kepada yang memanggilnya. Dia membaca nama yang ada di baju loreng itu. Hendi. Dia mengingat wajah dan nama itu. Anin turun dari mobil itu dan sedikit mengobrol dengan mereka. Para tentara yang lain sudah naik ke mobil yang akan mengangkut mereka. Begitu pun Hendra dan Agus sudah duduk. Tinggal 1 bagian yang masih kosong. Dan itu untuk Hendi. Raka dan Bagas menghampiri Hendi yang masih asik ngobrol dengan Anin.


Anin memilih diam dan membuang muka saat ada Bagas.


"Lo mau kita tinggal apa gimana nih?" tanya Raka kepada Hendi.


"Jangan dong! Iya-iya" Hendi naik.


"Mbel, supirin!" ucap Bagas sambil melempar kunci mobilnya.


"Kalian juga cepet naik!" Raka menuju kursi kemudi.


Anin berbalik hendak masuk kursi depan. Tangannya dicegah oleh Bagas.


"Maaf" ucap Bagas


Anin menarik tangannya dan tetap memilih diam. Bagas menghela nafasnya. Anin sudah masuk ke kursi depan diikuti Bagas di belakangnya.


"Turun dulu Nin, kamu yang sebelah jendela aja. Aku gak pengen paha kamu kena tangannya si gembel" ucap Bagas menarik tangan Anin kembali.


"Yaelah nyet, gak bakalan kena kali!" balas Raka


"Antisipasi dulu dong!"


"Dasar! pencemburu!"


Anin diam dan menurut dengan omongan Bagas. 1 kursi buat 2 orang, kebayang dong ya sempitnya. 😂


Perjalanan dimulai. Mereka saling diam. Anin memejamkan matanya. Dia merasa mengantuk. Dia menyandarkan kepalanya pada jendela mobil. Karena jalanan yang rusak kepalanya sering terbentuk. Bagas melihatnya kasihan. Anin terbangun.


"Ngantuk? Sini senderan disini aja" ucap Bagas sambil menepuk bahu nya.


Anin diam. Dia menatap lurus ke depan.


"Kamu bisa gak sih gak usah keras kepala?"


Anin masih saja diam dan tak menjawab Bagas. Anin memilih memainkan ponselnya. Bagas geram dan mengambil ponsel Anin. Raka yang menjadi supir geleng-geleng kepala dan tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu.


"Balikin gak!"


"Gak sopan diajak ngomong malah mainan hp! Mau tak buang hp ini!"

__ADS_1


"Balikin! Kamu tuh kenapa sih hari ini nyebelin banget!"


"Mbel, berhenti bentar"


Raka menepikan mobilnya. Dia turun dari mobil dan menyuruh semua anggotanya agak menjauh dari mobil itu. Tinggal Anin dan Bagas di dalam mobil itu.


"Balikin!" Anin berteriak kepada Bagas.


"Kamu gak sopan banget sih ha? Diajak ngomong itu nyahut. Mas minta maaf mengatakan kamu seperti tadii, mas kelepasan. Bisa terima permintaan maaf mas?"


"Kamu enak banget minta maaf, sakit hati aku, sakit telinga aku denger kamu bilang aku murahan. Kalaupun aku murahan apa urusannya sama kamu?!" Anin kembali mengurai air mata.


"Aku cemburu Anindya Wijaya! Aku gak bisa lihat kamu seperti itu dengan laki-laki lain! Hati aku juga sakit!"


"Aku siapa kamu! Kamu lupa kamu udah putusin aku?? Perlu aku ingatkan lagi apa alasan dan bagaimana cara kamu mutusin aku?? Siapa yang disini tersakiti? Aku atau kamu??" Anin keluar mobil dan berlari sambil menangis.


Raka menghampiri Bagas. "Lo apain lagi dia?"


"Lo anterin anak-anak dulu deh ke perbatasan. Dia gak bakalan mau kalau ada gue disini. Gue tunggu disini. Nanti jemput gue. Sekalian penyisiran" perintah Bagas kepada Raka.


Raka dan yang lain masuk ke dalam mobil. Anin masih berlari sambil menangis. Raka menghampirinya.


"Naik" ucap Raka kepada Anin. "Gak ada Bagas kok, dia juga turun demi lo. Buruan naik, bisa telat kita nanti"


"Makasih bang" ucap Anin dengan sesenggukan.


"Kalian kenapa lagi sih?" tanya Raka mencoba mencari tahu.


"Gue dikatain cewek genit, cewek murahan, dan barusan dia bilang dia cemburu. Otaknya gesrek apa gimana temenmu itu?"


"Hahaha, kalian ini lucu. Sama-sama masih cinta tapi pada gengsi. Kenapa gak balikan aja sih? Ha?"


Anin diam tak menjawab.


"Udah, gak usah dipikirin mulut si Bagas. Dia itu pencemburu buta Nin, makanya dia sampai ngomong kayak gitu. Gak usah dimasukin hati. Nanti juga redam sendiri. Gak usah nangis lagi. Biar nanti abang coba ngomong ke dia"


"Besok lagi kalau lagi diajak ngomong dengan siapapun lihat dan jawab orangnya. Jangan mainan hp. Abang pun kalau digitukan gak bakalan suka. Lo juga kan? jadi maklumin aja sikap dia tadi"


"Iya" jawab Anin singkat. "Lo sama Salma gimana bang? Bakalan ngomong ke dia kapan?"


"Abang sih rencana nya nanti setelah misi"


"Kalau ketahuan duluan gimana bang?"


"Hehehe, itu yang masih abang pikirkan. Bantuin lho yo, nanti abang bantuin kalian balikan lagi dan sampai nikah deh abang bantuin nya"

__ADS_1


"Balikan? Hahaha, maaf ya, gue udah kenal sama yang lain. Gak melulu dengan dia!"


"Oh ya? Seriosa?"


"Hahaha, seriusan kali bang, iya lah serius. Namanya Akbar, pengusaha batu bara. Temen mas Riski suaminya mbak Nisa"


"Oooo begitu. Tadi ketemuan sama dia?"


"Bukan, tadi ketemuan sama CS puskesmas. Namanya Diki. Ganteng memang, tapi kemayu. Gue juga mikir-mikir kali bang?!"


"Hahahahah, jadi Bagas cemburu sama cowok kemayu? Hahahaha, nyet-nyet, ada bae tingkah lo"


"Tau! Biarin kebakar cemburu! Salah dia sendiri main putusin seenak jidat dia!"


"Abang setuju! Tapi kalau lo diajak balikan mau kan?" ucap Raka sambil melihat ekspresi Anin.


"Tergantung"


"Tergantung gimana?"


"Tergantung gimana nanti gue sama Akbar lah"


"Hilih, gak bakalan ada rasa lo sama si Akbar itu. Karena hati lo masih fokusnya ke Bagas. Iya apa iya? Bener kan tebakan abang?"


"Ishhh, apaan sih bang! Sok tahuuuuu!"


Suasana hati Anin kembali ceria karena ditenangkan oleh Raka. Tak terasa mereka sudah sampai di perbatasan. Raka menyuruh Agus untuk mengantarkan Anin ke pustu. Sedangkan dia kembali menjemput Bagas.


.


Bagas dan Raka melakukan penyisiran kembali. Bagas memberi petunjuk bagi Raka untuk masuk ke dalam hutan yang langsung menuju perairan pawah.


Mereka menemukan jalan setapak yang memang menghubungkan desa perbatasan dengan negara Malay.


Raka dan Bagas memparkirkan motornya. Lalu menyusuri jalan itu. Benar saja ada sebuah rumah yang tak jauh dari muara itu. Rumah yang sama seperti waktu Bagas menangkap Edi. Jika dulu tidak ada penjagaan, sekarang rumah itu dijaga dengan ketat.


Bagas dan Raka hanya mengamati. Mereka mengamati aktifitas orang-orang disana. Darimana jalur mereka masuk, barang yang mereka bawa, kondisi lingkungan rumah, jumlah orang yang berjaga.


Bagas menangkap sosok orang yang dikenalnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2