
Sama-sama Anin dan Edi belum sadarkan diri. Ibu menunggui Anin dan Ayah menunggui Edi sahabatnya. Meski bagaimanapun Edi masih sahabat Ayah Ardhi. Dan sifat kemanusiaan tetap tak bisa terkalahkan sebenci apapun kita.
Raka dan Salma pamit untuk pulang dan mengambil ponsel miliknya yanh masih dibawa pak Rusdi. Salma sudah minta ijin untuknya dan Anin tidak masuk. Dia menjelaskan bahwa Anin terkena luka tembak dan membuat seisi puskesmas gaduh.
Raka mengemudikan mobil sambil menggenggam erat tangan kekasihnya itu. Kadang dia juga mencium punggung tangannya. Dan dibalas senyuman oleh Salma.
"Adek takut kalau Anin ninggalin kita semua bang" ucapnya sendu melihat jalan di depan.
"Anin akan sembuh dan kembali di tengah-tengah kita sayang. Yang sekarang harus kita khawatirkan adalah kakak. Dia pasti merasa bersalah sekali. Dan abang tahu dia itu seperti apa"
"Hmm, abang benar. Adek lihat kakak tadi hancur kacau"
"Maka dari itu, yang perlu kita urus adalah kakak dulu. Biar Anin ibu dan ayah yang urus"
Salma menuju rumah pak Rusdi untuk mengambil ponselnya.
"Assalamualaikum pak Rusdi, ini Salma" Salma mengetuk pintu rumah pak Rusdi.
"Waalaikum salam, ayo masuk" Pak Rusdi membuka pintu rumahnya dan mempersilahkan Salma dan Raka duduk.
"Alhamdulillah ya Allah, Anin bagaimana Sal?" tanya pak Rusdi
"Alhamdulillah sudah selesai operasi pak tapi belum sadar. Doakan ya pak. Oh ya kemarin bapak gimana pulangnya?"
"Haish, kaki bapak sampai tak bisa merasakan apa-apa Sal. Sepupu kamu itu ngerjain bapak kayaknya"
"Sepupu?" Salma dan Raka kompak bertanya.
"Oh, Tristan mungkin" jawab Raka
"Ha iya itu namanya, katanya dia mau mengirimkan bapak orang untuk menjemput tapi gak ada yang datang. Akhirnya bapak jalan kaki sampai rumah. Sampai rumah sudah gelap semua. Mobil puskesmas gimana?"
"Tenang aja pak, 2 hari kedepan akan kami kembalikan" jelas Raka.
"Syukurlah"
"Pak, Salma mau ngambil hp"
"Oh sebentar, bapak ambilkan" Pak Rusdi masuk ke dalam dan mengambil ponsel Salma.
"Ini Sal" pak Rusdi menyerahkan kepada Salma.
"Makasih ya pak, maaf kalau sepupu Salma mengerjai bapak. Mungkin dia saking paniknya sampai lupa pak"
"Tak apa lah, yang penting kalian selamat"
"Kalau gitu Salma pamit dulu pak. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
.
Rumah sakit.
Edi menggerakkan tangannya. Ayah yang berada di sampingnya mengetahui pergerakan tangan Edi. Ayah memencet tombol dan segera dokter dan perawat datang.
__ADS_1
Dokter memeriksa keadaan Edi dan menjelaskan kepada Ayah bahwa Edi sudah melewati masa kritisnya dan sebentar lagi akan siuman.
Benar yang dikatakan oleh dokter, dalam waktu sekitar 10 menit setelah dokter berlalu Edi perlahan membuka matanya.
"Ar?" ucapnya perlahan tapi masih bisa dimengerti Ayah.
"Ya Ed, ini aku Ardhi"
"Mengapa tak kau biarkan saja aku mati?"
"Ada orang yang belum menerima maafmu. Dia ada disebelah mu" Ayah membuka tirai itu dan Edi melihat Anin terbaring belum sadarkan diri.
"Anin?"
"Ya, dia lah Anin kecil kita. Anak yang selalu kau manjakan. Anak yang merasakan kasih sayang mu Ed. Kau mencintai ibunya. Tapi tak berarti kalian harus bersama. Dia tumbuh tanpa kasih sayang utuh dari kedua orang tuanya. Karena keegoisan mu Ed"
Edi menitikkan air mata melihat gadis itu. Gadis yang sudah dianggapnya menjadi anaknya sendiri.
.
Bagas berada di taman ditemani oleh Mayor Indra.
"Kau ini kenapa sekacau ini?" ucap Mayor sambil menyodorkan kopi untuk Bagas.
Bagas menerima kopi itu. "Terima kasih ndan, aku hanya merasa bersalah karena ku dia seperti ini"
"Srruuupp, jangan menjadi keledai. Jangan mengulang kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Apakah kehilangan dia kemarin belum cukup memberi mu pelajaran?"
Bagas diam tak menjawab pertanyaan Indra.
Bagas berpamitan kepada ayah dan ibu nya. Dia ingin menenangkan diri. Bagas akan pulang tapi bukan ke rumah Salma. Melainkan ke rumah Raka.
.
Rumah Raka.
"Mbel, bukain. Gue di luar" ucap Bagas sambil menggedor rumah Raka.
Raka membuka pintu dan melihat sahabatnya yang kacau itu.
"Jangan kasih tau Anin kalau gue disini. Gue mau nenangin diri dulu. Bilang ke dia kalau gue sedang dalam misi. Kalau sampai lo khianatin gue lagi, gue gak bakalan mau jadi ipar lo" perintah Bagas kepada Raka dan meninggalkan Raka yang masih mematung.
.
Sudah 3 hari Anin belum menunjukkan tanda akan sadar. Ibu dan Ayah mulai khawatir. Sani menenangkan kedua orang tua itu. Bagas tetap kekeh tidak ingin menemui Anin untuk sementara waktu.
Saat hari keempat Anin menggerakkan jari nya. Ibu dengan cepat memanggil dokter.
"Alhamdulillah bu, pasien menunjukkan respon. Kamu bisa mendengar suara saya?" tanya dokter.
Anin mengedipkan matanya.
"Alhamdulillah"
"Anin sayang, ini ibu" Ibu menggenggam tangan Anin dan mengusap rambut Anin.
__ADS_1
"Mas Bagas" ucap Anin
Ibu menitikkan air mata nya saat Anin menanyakan anaknya itu.
"Mas mu sedang dalam misi sayang. Sebentar lagi akan pulang" Ibu terpaksa berbohong sesuai pesan Raka.
.
Edi mengetahui kabar jika Anin sudah sadar dan sedang dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Edi mengintip dari balim pintu. Melihat senyum Anin yang mengembang saat bercerita kepada kawan-kawannya.
"Kau hanya akan mengintip seperti itu Ed?" tanya Ayah saat melihat Edi dengan kawalan polisi menjenguk Anin.
"Aku tidak akan sanggup menatap matanya Ar"
"Kau berhutang maaf padanya"
Tari, Tristan, Salma keluar terlebih dahulu dan berpapasan dengan ayah. Tersisa Raka yang masih di dalam.
"Bang, mas Bagas gak kenapa-napa kan?"
"Dia dalam misi Nin, pasti lah dia baik-baik saja"
"Kenapa abang tidak ikut misi?"
"Abang harus mengurus pernikahan abang dan Salma. Nikah batalyon itu ribet lho"
"Abang gak lagi bohong kan?"
"Ya gak lah, udah abang balik dulu. Cepet sembuh"
Anin mengangguk. Raka keluar kamar dan ayah masuk membawa Edi yang masih duduk di kursi roda itu. Anin awalnya kaget melihat siapa yang datang. Tapi dia menutupinya.
Edi tak berani menatapnya.
"Ayah membawa seseorang kesini. Kau masih ingat dengannya nak?"
Anin menatap lekat lelaki itu. Lelaki itu mendongak menatap Anin dengan menganakkan air mata yang sudah membasahi pipinya.
"Maafkan om, hiks huhuhu, om sudah jahat sama kamu dan keluarga kamu. Om minta maaf"
"Kenapa om? Kenapa om Umang jahat sama ayah dan bunda? Apa karena om tidak bisa memiliki bunda? Apakah cinta om membutakan mata hati om sehingga mencelakai kami? Apa sekarang om puas? Apa sekarang om bangga dengan perbuatan om? Hikss huhuhuhu"
"Maaf"
.
.
.
Udah banyak up nya nih. Nanti lagi yaaaaa. Nantikan karya baru author ya gengs.
"Larasati dan Pak Bupati"
Yang ini mau tamat. Hehehe.
__ADS_1
Makasih yang udah dukung.