Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 140


__ADS_3

Anin, Salma dan Akbar masuk ke dalam rumah itu. Anin dan Salma melihat keadaan rumah itu.


"Ini ya batubara nya bang?" Anin mendekat ke arah batubara yang sudah jadi.


"Iya, ini prosesnya berpuluh tahun lho"


"Wah, hebat ya abang. Bisa tetap bertahan meskipun prosesnya lama" Anin memuji Akbar.


"Ya begitulah"


Salma berkeliling melihat keadaan. Dia melihat ada sebuah peti yang berada di pojokan ruang. Salma mendekati peti itu hendak melihat isinya. Tapi seorang pengawal menepis tangannya.


"Jangan sentuh!" ucap pengawal itu.


"Oh, maaf-maaf" ucap Salma. Akhirnya Salma ikut bergabung dengan Akbar dan Anin


Anin mencuri-curi kesempatan untuk mengaktifkan video nya. Dia berpura-pura memperhatikan Akbar yang menjelaskan proses terbentuk nya batubara.


"Waaaahhh, ternyata prosesnya cukup panjang ya bang. Makin salut Anin sama abang. Eh, udah sore aja nih. Balim yuk Sal"


"Ayok" jawab Salma cepat.


"Minggu meet up sama abang lagi mau?" tanya Akbar.


Anin mulai gugup karena takut. Dia mencoba menutupi kegugupannya.


"Mmm, nanti Anin kasih kabar lagi ya bang. Kadang ada yang minta ganti jadwal jadi Anin belum tahu besok minggu bisa atau tidak" jelas Anin kepada Akbar.


"Oh, baiklah. Nanti kabari abang ya sayang" ucap Akbar dan hendak mencium kening Anin tapi Anin mendorong tubuh Akbar.


"Maaf bang, kita bukan muhrim" ucap Anin


"Oh, maaf. Abang terbawa suasana. Mau abang antarkan ke pustu?"


"Tidak usah bang, kami bisa pulang sendiri. Abang lanjutkan pekerjaan abang saja"


Akbar tersenyum kepada Anin. Anin membalas senyuman Akbar. Anin dan Salma berpamitan pulang.


Saat sudah agak jauh dari rumah itu, Salma merasa ada yang mengintip dari balik pohon. Salma berbalik tapi tak ditemukannya orang.


"Mungkin hanya perasaan ku saja" gumam Salma.


"Kenapa Sal?" tanya Anin.


"Ha? Gak, gak papa. Ayo cepat sedikit. Keburu maghrib" Salma dan Anin mempercepat langkahnya agar bisa sampai pustu sebelum maghrib.


.


Bagas dan Raka telah kembali dari batalyon ke pos penjagaan.


"Apel yuk mbel?" ajak Bagas kepada Raka.


"Apel yang mana dulu nih?"


"Jangan berlagak gak ngerti deh. Emang lo gak kangen sama Salma. Gue aja udah kangen banget sama Anin"


"Hayok lah, perintah kapten gak boleh dilanggar ya?"


"Hilih, gaya lo mbel"


Mereka menuju pustu.

__ADS_1


.


Anin dan Salma selesai mengerjakan laporan mereka. Mereka menyiapkan makan malam.


Tok tok tok, "yank, ayang beb, mas sama Raka datang nih"


Salma membukakan pintu. Anin baru saja selesai menyiapkan makanan.


"Aseeekk, disuruh makan kita mbel" ucap Bagas yang sangat semangat mencium harumnya makanan yang tersaji.


"Ini jatah makan malam kita mas, kalian makan aja di pos" ucap Anin.


"Dih, pelitnya sama tunangan sendiri" balas Bagas mengingatkan status mereka kembali.


"Abang suapin ya?" Raka bertanya kepada Salma. Salma mengangguk dengan cepat dan tersenyum.


Bagas dan Anin hanya melihat kemesraan mereka. Anin menyenggol Bagas.


"Apa?" tanya Bagas.


"Mau kayak mereka" ucap Anin manja.


"Ih, gak ah. Tangan masih lengkap kok minta disuapin"


"Ih, mas nyebelin banget sih. Romantis dikit kek mas. Aku kan juga mau diperlakukan seperti itu" bibir Anin mengerucut.


"Sini Nin, sekalian abang suapin kalo monyet gak mau nyuapin kamu" ucap Raka ngasal membuat teriakan diantara kedua adik kakak itu.


"Gak bisa! Tangan abang cuma boleh nyuapin aku, sama orang tua kita. Ingat itu!" Salma mengancam Raka dengan mata melotot.


"Lagian, tinggal nyuapin pacar doang masa gak mau!"


"Bukan gak mau mbel, tapi malu" jawab Bagas.


"Ya sudah, sini mas suapin" Bagas mengambil piring Anin dan mulai menyuapinya.


"Ih, banyak banget sih mas. Dikurangin dong. Ngunyahnya susah nanti"


"Ya Allah, masih salah pula. Makan lah sendiri!" Bagas putus asa.


"Hisshh, siniin!" ucap Anin marah mengambil piringnya.


Salma dan Raka hanya senyam senyum melihat pertengkaran kecil mereka.


Mereka makan dengan tenang dan menghabiskan menu tanpa ada sisa.


"Kenyang" ucap Raka yang sedang menyusul Bagas di teras.


Anin dan Salma yang selesai membersihkan piring pun menyusul mereka di teras.


"Besok Salma sana Anin balik ke puskesmas. Abang masih pengintaian?" tanya Salma kepada Raka.


"Masih dek, gak tahu berapa lama lagi. Kalau waktu pertama kami dengan mudah menangkapnya. Kali ini terbilang cukup sulit" jelas Raka.


"Eh, kalian tahu gak, tadi adek sama Anin ketemu siapa?" Salma memberi teka-teki kepada Raka dan Bagas.


"Siapa?" tanya Bagas dan Raka antusias.


Anin lupa dengan ponselnya. Dia menepuk jidat nya dan kembali ke dalam mencari ponselnya.


"Ketemu siapa dek?" tanya Raka kembali.

__ADS_1


"Ketemu om Ed" jawab Salma sedikit berbisik.


"Beneran dek?!" tanya Raka dan Bagas bersamaan.


Raka melihat di balim pohon seperti ada orang. "Nyet, arah jam 11 di sebalik pohon. Seperti ada orang. Adek, berpura-puralah tetap bercerita yang menyengangkan"


Bagas melirik arah jam 11 dan memang dia seperti melihat orang. Salma mengganti topik pembicaraan mereka. Anin datang dan memberikan ponsel nya kepada Bagas.


Anin merasa seperti ada yang melihat dari jarak jauh.


"Mas, disana seperti ada orang" kata Anin


"Hmm"


"Kok hem doang sih"


Salma mengedipkan mata nya agar Anin diam. Mereka sudah tahu jika ada orang yang sedang mengawasi mereka. Seketika Anin kicep.


Bagas melihat video yang direkam Anin. Raka berinisiatif mengalihkan perhatian orang itu. Dia masuk ke dalam dan mengambil gitar milik Salma yang memang ditinggal di pustu.


"Nin, nyanyi Sumpah Ku mencintai Mu dong. Gue gitarin" ucap Raka.


"Ashiappp"


Intro mulai dimainkan dan Anin mulai menyenandungkan lagu. Orang itu merasa tidak ada yang aneh dengan mereka. Akhirnya dia menghilang di dalam kegelapan.


Raka ingin memastikan kepergian orang tersebut. Dia berjalan mendekati pohon itu dan memang benar sudah tidak ada siapa-siapa lagi.


"Jadi beneran dia pengusaha batubara?" tanya Bagas kepada Anin.


"Aku juga gak tahu mas, mungkin benar atau mungkin itu hanya untuk menutupi alibi nya" jawab Anin.


"Dia juga punya istri dan sedang mengandung. Istrinya tinggal di rumah yang bagus di ujung jalan mau ke desa sebelah"


"Hahahaha, kamu ketipu dong yank. Sana sama Akbar kalau emang cinta. Mau kamu jadi madu nya?"


"Idih, ogah!"


"Kak, disana ada sebuah peti. Salma gak tahu isinya. Tapi ketika adek mau mencoba membukanya, pengawal datang dan menghentikan tindakan adek" terang Salma.


"Mbel, telpon Hendra dan Agus untuk berjaga disini. Perasaan gue gak enak" perintah Bagas saat Raka kembali.


Raka segera mengirim pesan kepada Hendra. "Mau penyusuran malam?" tanya Raka kepada Bagas.


Bagas mengangguk. "Kamu sudah ingat tentang om umang yank?"


Anin menggeleng. "Belum, tapi saat kami melihatnya tadi kepalaku sedikit sakit"


"Sekarang masih sakit?"


"Tidak"


"Cobalah memaksakan memori mu untuk mengingat orang itu. Tapi jika itu menyakitkan jangan dilanjutkan"


Anin mengangguk. Bagas dan Raka bersiap untuk penyusuran malam. Tak lama Hendra dan Agus pun datang.


.


.


.

__ADS_1


Nanti malam lagi ya gaes. Hayati ngantuk gaeesss. Like komen dan vote nya dikencengin doooonnnggg. Makasiiiihhh 😘😘😘😘😘


__ADS_2