
Adzan berkumandang membangunkan semua insan. Seperti biasa Bagas bersiap untuk menunaikan sholat dan bersiap kerja.
tuuuut tuuuuuut tuuuuuut... Bagas callIng Anin.
Halo assalamualaikum
"Waalaikum salam, calon bojo mas belum bangun? Kok suaranya parau?"
Baru bangun mas, hehehe. Ada apa pagi pagu telpon
"Bangun dulu, nanti mas telpon lagi
Sekalian aja kenapa sih?
"Takutnya kamu balik tidur lagi Yank. Buruan sana sholat dulu. Nanti kalo udah mas telpon lagi ayang beb"
Terserah lah mas, assalamualaikum
"Waalaikum salam"
Bagas menutup telpon nya dan bersiap untuk mandi. Selesai mandi dia bersiap berangkat kerja.
"Bu, tolong siapin rantangan buat Anin ya"
"Pagi begini kamu mau ke rumah Anin?"
"Sekalian berangkat Bu"
"Iya, Ibu siapkan dulu"
Ibu menyiapkan yang diminta oleh Bagas. Dan memberikannya kepada anaknya.
"Bagas langsung berangkat ya Bu, Assalamualaikum" Bagas mencium punggung tangan ibunya
Ayah yang baru selesai mandi tidak mengetahui keberangkatan Bagas. Bagas melajukan motornya ke rumah Anin.
.
.
tiiiin tiiin. suara klakson motor terdengar dari dalam rumah. Anib segera menghampiri pintu dan membuka nya.
"Syelamat pagi ayang beb ku"
"Hmmm" Anin melipat tangannya di dada dan bersandar di pintu
"Kenapa?"
"Kamu nya nyebelin, ditelpon gak diangkat, di chat gak dibaca. Punya hp buat apa?"
"Pagi begini jangan marah dong, cantiknya ilang lho"
__ADS_1
"Biarin ilang"
"Iya maaf, mas tadi siap siap hp lupa ternyata udah mas masukin ke tas jadinya gak denger. Sarapan yuk Yank, laper nih"
"Anin belum masak, sarapan di kantor aja sana"
"Ngusir? Mas sudah prepare dong. Udah bawa rantangan. Mari kita sikat. Bikinin mas teh yank"
"Iya tunggu bentar"
"Oke, sama piring"
.
"Nanti ibu mau ngajak kamu ke butik pilih baju buat lamaran"
"Jam?"
"Jam 10 mungkin. Nanti kamu ke rumah aja ya. Biar ibu gak bolak balik sini" kata Bagas sambil mengunyah makanannya
"Iya"
Bagas mengeluarkan sebuah ATM dan memberikannya kepada Anin.
"Apa ini mas?"
"ATM"
"Buat keperluan lamaran. Pake itu, jangan mau kalo ibu yang bayar oke?"
"Siap komandan" Anin memberikan hormat kepada Bagas membuat Bagas sedikit tertawa.
.
.
.
Anin dan Ibu sudah dalam perjalanan di butik. Mereka diantar oleh supir Ayah. Mereka duduk dalam hening. Setelah sampai mereka langsung masuk butik. Mata Anin mendapati orang yang tidak asing. Orang yang pernah menjambak rambutnya. Siapa lagi jika bukan Ana.
"Eeee, bu. Kalo carinya di butik lain gimana?"
"Memang kenapa? Disini butik langganan ibu, harga masih bisa dijangkau dan kualitasnya bagus sayang" Ibu sudah memilih kebaya, mengepaskan dengan tubuh Anin.
"Eee, ada tante Rita. Tante apa kabar?" tanya Ana yang mengacuhkan Anin
"Baik An, Mamah ada?"
"Ada tante mari saya antarkan" Ana menggandeng Bu Rita masuk ke dalam ruangan mamahnya.
Anin ditinggal sendiri. Ada rasa kesal di hati Anin. Dia memilih untuk melihat baju dan kebaya yang ada disana. Dia melihat kebaya warna kuning yang membuat matanya bersinar. Dia meraihnya dan mengepaskan dengan tubuhnya di depan cermin.
__ADS_1
Cantik ih kebayanya. Berapa ya harganya?
"Maaaaakkkk, mahal banget"
Perkataan Anin didengar oleh Ana. Ana yang masih dendam dengan Anin mendapatkan celah untuk menghinanya kembali.
"Gak usah masuk butik ini kalo gak mampu beli! Disini kelas atas, rakyat jelata kayak lo belinya di pasar aja!" kata Ana dengan berkacak pinggang.
"Maaf, anda bicara dengan saya?" Anin ingin sekali menyumpal mulut Ana dengan sepatu nya. Jika dia tidak ingat ada ibu di dalam pasti sudah dilakukannya.
"Ya iyalah, disini yang miskin tu lo. Nih ada cermin. Ngaca lo!"
"Waw, saya cantik pakai kebaya ini. Tolong dibungkus, anda karyawan butik ini kan? Permisi saya mau cari baju buat calon suami saya" Anin menepis bahu Ana males meladeni ucapan pedas Ana.
"Cari perkara nih" Ana yang berada di belakang Anin langsung spontan menjambak rambut Anin. Anin mengaduh minta tolong.
Ibu dan mamah Ana yang mendengarnya langsung keluar. Ibu kaget bukan main melihat Anin sedang main jambak menjambak dengan Ana. Mamah Ana segera menghampiri mereka memisahkan mereka.
"Ana, apa yang kamu lakukan? Lepaskan tangan mu!" bentak mamah Ana
"Gak mah, ini perempuan miskin harus dikasih pelajaran!"
"Ana cukup! lepaskan tanganmu dari rambut calon mantu tante!" Ibu Rita membentak Ana.
Ana dan mamahnya kaget dengan ucapan Ibu Rita.
"Perempuan miskin yang kamu sebut dan kamu sakiti ini tadi adalah calon mantu saya! Keterlaluan kamu! Begini cara kamu memperlakukan pelangganmu? Pantas Bagas tidak pernah mau dijodohkan denganmu. Lihat kelakuanmu, bringas seperti orang gila! Anin ayo kita pulang! Kita beli di butik lain!"
Ibu Rita dengan penuh emosi meninggalkan butik. Anin mengikuti di belakangnya dengan takut. Mamah Ana mengejar Ibu Rita dan Anin yang hendak masuk mobil. Ana masih tidak percaya dengan yang di dengarnya.
"Jeng, jeng, jeng Rita" Mamah Ana memanggil Ibi dengan sedikit berlari
"Ada apa lagi jeng Indah?" Ibu yang hendak menarik gagang pintu mobil terhenti.
"Maafkan atas sikap Ana jeng, maaf juga ya mbak atas kelakuan Anak saya" Mamah Ana bergantian memohon maaf kepada Anin
"Gak papa tante, Ana sudah 2 kali ini melakukannya dengan saya. Mungkin karena dia cemburu"
"2 kali?" sahut Ibu dan Mamah Ana bersamaan.
"Iya Bu, tante. Ana teman sekampus saya. Kemarin dia juga memancing pertengkarab terlebih dahulu. Saya juga minta maaf karena menjambak rambut anak tante. Saya melakukan itu karena saya harus melindungi diri saya"
"Tuh jeng, coba nanti anaknya ditanya deh. Kecewa saya" Ibu Rita masih emosi mengingat kejadian yang baru saja terjadi.
"Permisi ya jeng, saya cari di butik lain saja" Ibu dan Anin masuk ke dalam mobil. Mobil melaju meninggalkan butik.
.
.
.
__ADS_1
Lagi musimnya jambak menjambak ya 😂😂