
"Abang pamit dulu ya. Kalau urusan kamu udah selesai kasih kabar ke abang"
Akbar dan Anin berjalan ke parkiran. Bagas mengikuti mereka.
"Iya, abang hati-hati bawa mobilnya"
"Iya, ya sudah abang jalan dulu. Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Akbar merapatkan tubuhnya ke tubuh Anin hendak mencium kening Anin. Bagaa melotot dan dengan cepat tangannya mendorong mulut Akbar hingga menjauhi tubuh Anin.
"Ingat tempat, ini parkiran. Kalian ini bukan muhrim. Udah sana balik. Ayo Nin, Komandan nunggu kamu lhoh!" ucap Bagas dengan ekspresi datar. Gengsi dong kalau pake urat kelihatan banget cemburunya. 😂
"Ganggu aja sih!" Anin dongkol dengan kelakuan Bagas.
"Ya sudah, abang jalan dulu, daaahhh" Akbar masuk ke dalam mobilnya dan berlalu meninggal restaurant itu.
Anin dan Bagas kembali ke dalam resto. Mereka masuk ke dalam ruang vip yang dimaksud oleh Komandan Suherman.
"Om Herman, tante Indi, apa kabar? Anin kangen! Lama ih gak pernah nengokin Anin" Anin menyalami om dan tante nya itu.
"Om sama tante baik sayang, kamu sendiri baik kan?" tanya tante Indi
"Baik tan, kenapa bisa disini? Bukannya kalian di Jakarta? Lagi liburan?"
"Om menengok anak-anak kesayangan om. Ayo duduk. Pada berdiri saja" Om herman menyuruh Anin dan Bagas duduk.
"Siap!" ucap Bagas tegas membuat Anin sedikit terkejut.
"Udah santai saja Gas, ayo duduk" ucap tante Indi
Bagas dan Anin duduk bersebelahan.
"Tante kangen ih sama kamu Nin, om kamu nih melarang tante ketemu sama kamu!"
"Lhah kok Papah, itu semua kan demi keselamatan Anin mah"
"Iya juga sih. Ya sudah ayo pesan makan"
"Kamu kenapa diam saja Gas?" tanya Om Herman yang melihat anak buahnya mematung.
"Dia lagi kebakar api om, api cemburu namanya. Biarin aja, nanti juga normal lagi kalau udah padam" sahut Anin yang dilirik oleh Bagas.
"Uuuwwww, kalian anak muda bikin gemes banget sih? Cepetan nikah dong, kasih tante sama om cucu yang banyak"
Bagas yang sedang minum sampai terbatuk ketika mendengar kata cucu. Gimana bisa dapat cucu kalau yang ada putus dan panas-panasan doang. Hahaha
__ADS_1
"Uhuk uhuk uhuk, maaf Ndan, Bu" ucap Bagas sambil membersihkan mulutnya.
"Tanteeee, Anin dan dia sudah putus. Jadi jangan mengharapkan dapat cucu ya dari kami. Kalau orang lain mungkin sih, nanti Anin kenalkan dengan seseorang"
Tubuh Bagas memanas kembali. Dia mencoba meredam emosinya.
"Kalah langkah dong kamu Gas, bisa beneran lepas Anin dari kamu. Om sih setuju kalau kamu dengan Bagas. Tapi kalau ada calon lain ya berarti harus seleksi lagi Nin"
"Iya sama, tante juga setuju dengan om kamu. Dia ini tentara andalan lhoh Nin, pasti dia bisa juga diandalkan dalam menjaga kamu"
"Nyatanya apa tan, om? Dia mutusin Anin"
Bagas hanya bisa diam dan membenarkan omongan Anin
"Sudah-sudah, ayo makan dulu" ucap tante Indi yang mendengar ketukan pintu dan chef datang membawakan makanan.
Mereka makan dengan tenang. Meskipun tadi sudah makan tetap ya, kalau ada gratisan oke aja. Perut karet.
Bagas melihat di bibir Anin ada sisa makanan yang menempel, tanpa permisi tangannya langsung membersihkannya. Sontak semua mata tertuju pada Anin.
"Ihhh, sweet banget sih kalian. Pah, pengen dong kayak mereka" pinta tante Indi
"Ya Allah si mamah, inget umur mah"
"Ih, gak romantis!"
Bagas dan Anin menjadi kikuk karena hal itu. Makan siang pun telah usai. Kini om Herman berbicara serius dengan Anin.
"Nin, om ingin tanya sesuatu ke kamu. Kamu masih ingat dengan om Umang?" tanya om Herman.
"Om Umang?" Anin mengingat nama itu. Jauh menerawang dan mengingat. Kepalanya nyeri membuat Anin meringis kesakitan.
"Aaawww, sakit"
"Apanya yang sakit?" tanya Bagas panik.
"Bener dugaan om dan tante. Karena dulu waktu kecelakaan kamu bisa menyebutkan nama kamu orang tua kamu tempat tinggal dan sekolah kamu dokter tidak melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Kemungkinan kamu terkena amnesia Nin"
"Sayang, Anin jangan dipaksa untuk mengingat sekeras itu dong" protes tante Indi kepada om Herman.
"Gak papa tan, Anin baik-baik saja kok. Ada fotonya gak sih om?"
Om Herman menyodorkan sebuah foto. Dimana foto itu ada 5 orang lelaki memakai seragam TNI. Anin menelisik satu per satu orang dalam foto itu. Foto tim khusus dan Komandan mereka.
"Ayah, Ayah Ardhi, Om herman,...Om Umang, dan Om Bakri. Ini om Umang ya, Anin yakin" Anin bersemangat menunjuk foto itu.
"Ya, itu adalah foto om Umang. Dulu kami adalah satuan tim khusus. Persahabatan kami selalu kompak. Om Bakri lebih dulu naik pangkat dan menjadi komandan kami. Malam itu om masih ingat sekali ayah kamu sangat marah dengan om Umang, ayah kamu sampai mencengkeram seragam om Umang. Om mencoba melerai dan ayah kamu mengancam akan membongkar semua nya.
__ADS_1
Saat kecelakaan mobil terjadi kami akan diberangkatkan untuk misi. Kami menunggu ayah kamu dan om Umang yang tak kunjung datang. Tiba-tiba saja ayah Bagas mendapat kabar jika kalian sekeluarga kecelakaan. Kami langsung menuju rumah sakit. Saat itu om yang menunggui mu. Kamu bilang sama om, om Umang jahat dan berkali-kali" Terang om Herman menceritakan masa lalu.
"Aawww, sakitttt" Anin memegang kepalanya. Bagas sangat khawatir dengan nya. Dia menenangkan Anin dengan memberi nya minum.
"Masih sakit?" tanya Bagas. Anin mengangguk. "Sandaran dulu sini di bahu mas" Bagas menyandarkan kepala Anin di bahu nya.
"Jangan dipaksa ingat, jika memang masih sakit" imbuh Bagas. Anin hanya diam. Tante Indi dan om Herman tersenyum melihat perhatian Bagas kepada Anin.
"Ijin Ndan, apa tidak kita tunda dulu tentang ingatan Anin ini?"
Om Herman mengangguk. Cukup mengenal foto saja sudah ada titik terang untuk mereka.
"Ya sudah, kamu antarkan Anin kembali saja. Setelah itu awasi Anin saja. Serahkan tugasmu sementara kepada Raka"
"Siap! Ijin membawa Anin pulang Ndan"
"Laksanakan"
Bagas memapah tubuh Anin setelah berpamitan dengan atasan dan juga istri atasannya. Bagas mendudukkan Anin dan memasangkan sabuk pengamannya. Lalu dia duduk di kursi pengemudi.
"Langsung pulang aja ya, barang kamu ada yabg ditempat Tari gak?" tanya Bagas kepada Anin yang masih merasakan sakit di kepalanya.
"Langsung aja mas, barangku hanya baku saja. Biar nanti Tari yang urus. Tolong telpon kan dia. Bilang aku ada urusan dan hp ku mati. Aku tidak ingin dia cemas"
"Sini hp kamu, mas minta nomornya Tari"
Anin memberikan tas nya kepada Bagas. Bagas mengambil ponsel Anin dan mencari kontak Tari. Dia mengirim dari ponsel Anin. Ternyata nomornya masih sama. Bagas tersenyum. Lalu menelpon Tari setelah mematikan ponsel Anin.
"Halo Ri, ini gue mas Bagas. Anin langsung pulang sama gue. Dia lagi ada urusan katanya. Hp nya mati" Bagas menyodorkan ponsel miliknya ke Anin
"Tari mau ngomong" ucap Bagas.
"Halo Ri, gue langsung balik ya. Ada urusan. Iya nanti gue ceritain. Daaahhh" Anin mengembalikan ponsel Bagas dan memilih memejamkan mata.
"Masib sakit?" tanya Bagas. Anin mengangguk. Bagas mengelus-elus rambut Anin dan memberikan sedikit pijatan ringan di kening Anin.
"Ya udah, bobok aja. Gak usah dipikirin lagi yang tadi" Anin menuruti perkataan Bagas.
.
.
.
Eleh elehhh, perhatian begitu gimana busa move on...
Like komen vote nya ya gengssss.... makasiiiiihhhh 😘😘😘😘😘
__ADS_1