
Di dalam mobil Angga, Anin duduk di jok belakang. Tari bersama Angga duduk di kursi pengemudi dan jok depan. Anin melihat sekilas ke samping kanan, dan memang benar ada orang yang tengah mengawasi nya.
Benarkah itu orang suruhan ayah? tapi kenapa menyeramkan begitu? Bikin takut aja.
"Nin, nin, woooooyyyy, ngelamun aja. Pintu mobilnya kurang pas tuh, tutup lagi yang bener" Angga mengagetkan Anin yang tengah memperhatikan orang itu.
"Iya iya. Lo lama banget ngapain sih Bang?"
"Dandan dulu dong, kan mau ketemu Eneng cantik" Angga menoel pipi Tari.
"Iiihhhh, Aa' Bikin neng gemes deh" Tari membalas dengan mencubit perut Angga.
"Mulai deh mulai, buruan ke bandara!" Anin kesal dengan adegan Tari dan Angga.
"Siap Nyonyah!" Angga melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju bandara.
Perjalanan dipenuhi candaan dan obrolan, tak lama mereka pun sampai di Bandara.
"Kalian hati hati disana. Nanti kalo pulang kabari Aa' yan Neng. Nanti Aa' jemput"
"Iya A'. Ya udah aa' pulang aja. Kita langsung check in aja Nin"
Anin mengangguk.
"Semoga berhasil ya Nin" Angga menyemangati Anin dan berlalu meninggalkan bandara. Anin dan Tari langsung bergegas check in saat Angga sudah tak tampak lagi.
.
.
.
"Halo Bos, gadis itu pergi dengan temannya membawa koper" lapor orang berbaju hitam itu.
Kemana mereka pergi?
"Saya tidak tau Bos"
Cari tau keberadaan mereka. Selidiki juga pria berseragam tentara yang kau laporkan padaku tadi pagi. Aku ingin laporannya besok.
"Baik bos" Orang tersebut mematikan panggilannya.
.
__ADS_1
Kalimantan
Salma sedang sarapan bersama dengan Raka.
"Dek, abang gak bisa lama lama. Abang harus berangkat sekarang"
"Iya Bang, habiskan kopi nya. Hati hati ya Bang, beneran gak mah adek anter?"
"Iya beneran. Kamu juga hati hati disini. Jaga diri. Kamu berangkat siang?"
"Iya, adek hari ini kebagian jadwal piket rawat inap. Harusnya pagi, sengaja adek tuker. Kan jemput Anin sama Tari nanti"
"Ya udah, hati hati. Abang berangkat dulu. Titip hati abang ya" Raka mengecup kening Salma
"Iya iya" Salma mencium punggung tangan pacarnya itu.
Raka meninggalkan Salma. Salma segera bersiap dan akan pergi menuju Bandara. Secepat kilat Salma bersiap dan sekarang sudah melajukan mobilnya di jalan raya. Dia bersenandung kecil mengikuti alunan musik dalam mobilnya. Jarak dari rumah Salma ke Bandara agak lumayan jauh, butuh waktu 45 menit hingga 1 jam untuk sampai di bandara.
Salma memarkirkan mobilnya di parkiran Bandara. Dia menghubungi teman nya.
"Halo Nin, gue udah di parkiran. Lo dimana?"
Gue sama Tari nyamperin lo aja, biar cepet.
Siap
Salma mengakhiri panggilannya. Tak lama Anin dan Tari menemukan keberadaan Salma. Pintu mobil terbuka dan
"Aaaaaaaaa" teriak mereka bertiga. Dasar cewek, kalau ketemu pasti begini. Mereka saling berpelukan satu sama lain.
"Sumpah gue kangen banget sama kalian gaes"
"Sama, lo sih ke pedalaman duluan ninggalin kita. Ya gak Nin?"
"Iya, lo tambah gemukan deh Sal dari terakhir kita bertemu. Betah emang ini anak du pedalaman. Hahaha" Anin memperhatikan calon adik iparnya itu.
"Hahaha, secara disini gaes gue gak ada yang ngelarang makan malam. Pacar gue mintanya gue gemukin badan"
"Gila ini anak, punya pacar nggak cerita cerita. Cakep gak? Kenalin dong!" Tari bersemangat
"Eh, ingat Aa' mu disana menunggu mu Neng" Anin mengingatkan Tari akan Angga
"Eh, siapa Aa' dia? Bukannya dia gak mau pacaran?"
__ADS_1
"CLBK dia Sal, cinta lama belum kelar. Balikan lagi sama Angga"
"Seriusan? Hahaha, bagus deh kalo lo sama Angga lagi. Kasian tau pas lo putusin. Ibunya sampe dateng ke rumah gue, nanyain Tari kemana? Angga sakit, bla bla bla"
"Hahaha, ya secara kan lo tetangganya Sal. Eh, kita mau ngobrol di dalam mobil doang nih. Gas Sal" Tari menyuruh Salma untuk segera melajukan mobilnya.
Tari duduk di belakang dan Anin menemani Salma mengemudi.
"Oh ya, Ibu titipin sesuatu tuh buat lo" Anin mengingat titipan Ibu.
"Kabar orang tua kita baik kan kak?" Salma mengubah panggilannya terhadap Anin membuat mereka semua tertawa.
"Jangan panggil begitu dong, aneh rasanya. Biasa aja sih"
"Lo tu gimana sih Nin, bener Salma lah. Dia kan calon adek ipar lo"
"Aneh Ri aneh. Panggil biasa aja udah"
"Eh, kok bisa kenal sama Kak Bagas sih. Lo utang cerita sama gue"
"Jadiiiii..... dulu gue itu ada sedikit kontrak sama kakak lo. Makin kesini makin kebawa perasaan. Eh jadian beneran"
"Kontrak? Kontrak apaan?" Salma mencoba memancing
"Kontrak pura pura jadi tunangan bayaran nya kakak lo Sal" Tari membuka rahasia Anin
"Waaaahhh, parah lo. Berarti Ayah sama Ibu kena tipu dong?"
"Ibu sih agak sedikit curiga. akhirnya gue jujur deh. Untung ibu bisa nerima alasan gue"
"Ibu baik kan? Beruntung lo punya calon mertua baik Nin. Ah, beruntungnya Kak Bagas dapet lo. Alhamdulillah bukan mbak Nisa. Kalo sampe dapet itu, kakak gue bakalan dikuras abis sama ibunya"
"Yang lo omongin itu bibi gue Salma"
"Ha? Berarti lo adek nya mbak Nisa? Sepupu?" Salma melotot mendengar pernyataan Anin
"Iya, dia kakak sepupu gue"
Tari mulai mengantuk di bangku belakang. Anin masih mengobrol dengan Salma. Salma melihat mobil hitam yang sejak dari bandara membuntuti nya. Dia menepikan mobilnya di jalanan yang agak ramai orang. Mengamati apakah mobil itu akan melaju atau ikut berhenti.
"Kenapa berhenti?"
"Tunggu bentar" Salma turun dari mobil dan menghampiri mobil hitam yang juga ikut berhenti.
__ADS_1