Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 88


__ADS_3

Bagas sudah kembali pada tim nya bersama Panda 2.


"Bagaimana Kapt?" Tanya Paus


"Mbel, lo bilang disana yang jaga perempuan? Tapi kenapa tadi ada laki-laki yang keluar" Bagas memastikan petunjuknya dengan Raka


"Itu artinya rumah itu dijaga oleh beberapa orang. Bukan hanya 1 melainkan komplotan. Bukan kah begitu Kapt?" Tanya Panda 1.


"Itu yang masih ku selidiki. Kau benar, pintu rumah itu 2 lapis. Disana juga ada gudang makanan. Artinya mereka telah mempersiapkan semuanya" ucap Bagas menerangkan apa yang dilihatnya.


"Apa kau berhasil masuk ke dalam rumah itu?" tanya Raka


"Belum, hanya aku sudah mendapatkan kode nya"


"Dengan cara apa?"


"Pakai solasi. Ada bekas sidik jari orang yang keluar masuk pintu itu. Dan ketemu kodenya. 50990*"


"Kau memang cerdas Nyet. Ku kira solasi itu tidak ada gunanya, tapi kau menggunakannya untuk mendeteksi kode. Memang benar benar gila kau!" puji Raka.


"Lanjutkan pengintaian!" ucap Bagas pada tim nya membuat semuanya kembali hening.


Sudah 1 minggu lebih Bagas dan tim nya mengintai dalam hutan itu. Tidak ada pergerakan yang berarti. Anin pun sudah kembali ke Kalimantan untuk menyerahkan berkas. Anin hanya sendiri karena Tari harus mempersiapkan acara lamarannya. Anin ditemani oleh Tristan.


"Bang Tris, kita jenguk Salma bentar ya. Aku kangen sama dia" ucap Anin membujuk Tristan.

__ADS_1


"Siap bos! Eh, Nin, aku gak tahu alamatnya Salma lho. Kamu tahu?" balas Tristan


"Tahu. Tinggal ikuti maps yang sudah ku atur. Bang Tris, gak punya pacar?"


Alih-alih menjawab pertanyaan Anin, Tristan malah tertawa.


"Siapa yang mau sih Nin orang kayak aku, kerjaan kayak preman begini, pasti orang tuanya pada mikir 1000 kali kalau emang ada yang suka" ucap Tristan.


"Jangan pesimis dong, kerja nya kan gak nyuri, ngerampok, bunuh orang masih halal dong" sergah Anin.


"Gak lah, takut patah hati. Bagas sampe sekarang belum tahu kan kalo aku yang disuruh om Ardhi buat jagain kamu? Kalo dia tahu ngamuk dia Nin. Dia itu pencemburu berat, tapi selengekan"


"Belum tahu. Kita aja jarang komunikasi Bang"


"Canggih juga Bang, terus misal nih kalo mereka ngejar lagi aku harus akting Bang?"


"Iya lah, biar mereka makin percaya. Kamu kan kalo lari kenceng banget" jawab Tristan yang membuat Anin tertawa.


.


Rumah Salma


"Halo Sal, bukain pintu. Gue di depan" ucap Anin lewat telepon.


ceklek. pintu terbuka.

__ADS_1


"Aniiiiinnnn, kangen gue. Alhamdulillah lo lolos. Bentar lagi kita sepuskesmas dong. Asyik" Salma memeluk erat Anin.


"Sama, gue juga seneng. Bentar lagi gue PNS" ucap Anin yang tak kalah senangnya.


"Lo sama siapa? Kok Tari gak ikut?"


"Tari lagi ngurusin lamarannya sama Angga. Jadi gue kesini bareng Tristan. Nah tu orangnya" Anin menunjuk orang yang sedang berjalan menuju rumah Salma.


"Bang Tristan! Ya Allah, apa kabar Abang? Lama gak ketemu!" pekik Salma seperti mendapat lotre.


"Baik, gue jadi pengawal kakak ipar lo nih"


"Hahaha, bagus dong. Nanti kalo Kak Bagas dan Bang Tris ribut palingan kayak anak kecil yang rebutan mainan.


Drrrrttttggg Drrrtttggg.


Suara telpon berbunyi. Anin melihat nama yang tertera pada layar ponsel nya, segera dia menggeser tombol hijau pada ponselnya.


"Halo Ri, ada apa?Apaaa?"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2