Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 122


__ADS_3

Anin sudah bertekad untuk jalan kaki. Bagas hanya tersenyum.


"Dasar keras kepala" ucap Bagas melihat kegigihan Anin. Bagas mengejar Anin dan membopongnya kembali ke pustu.


"Dek, ambilkan kakak rafia ataupun tali! Atau apapun yang bisa untuk mengikat" teriak Bagas dari luar.


"Apa-apaan sih? Turunin gak! Aku bilang turunin!" Anin meronta-ronta dalam bopongan Bagas.


"Iya, nanti mas lepaskan. Tapi nanti! Dek, buruan! Nanti mangsa mas lepas!"


Salma dan Sinta mencari benda apapun untuk mengikat.


"Hanya ada ini kak" Salma dan Sinta kaget dengan yang dilihatnya. Salma membawa lakban putih besar.


"Jadi mangsa nya Anin bang? Hahaha" ucap Sinta.


"Dek, lakban tangan dia" pinta Bagas dengan posisi tangan Anin memeluk Bagas dari belakang.


"Sal, kalau lo nurutin kakak lo, gue gak mau bantuin lo! Salma??" ucap Anin penuh ancaman.


"Sorry sister, gue pengennya lo pulang dianter kakak. Hehehehe" Salma tertawa sambil melakban tangan Anin.


"Awas ya lo Sal, beneran gue gak mau bantuin lo sama doi! Salmaaaaa!" teriak Anin.


"Udah selesai kak, tolong antar calon kakak ipar Salma ke kota Tari ya, ke Ponti. Kunci mobil ada di kamar adek. Ambil aja"


"Hemm, kakak balik dulu. Hati-hati disini" Bagas melangkah kan kaki nya. Mau tidak mau Anin mengekor di belakang Bagas. Mereka sudah berada di atas motor dan meninggalkan pustu.


"Lepasin gak! Kalau gak, aku teriak nih!" paksa Anin.


"Teriak lah, yang kenceng! Sampai pita suara mu putus juga gak akan ada yang nolongin"


"Lepasin dong! sakit tau tangan ku!"


"Minta yang halus, ngomong yang halus coba. Mulut kamu pedes banget tau, kebanyakan vitamin c sih, harusnya diimbangi kasih vitamin b juga dong"


"Apaan itu vitamin c sama vitamin b. Hubungannya sama judes nya aku apa? Males banget ngomong baik-baik sama kamu!"


" Vitamin c, cabe, vitamin b, bibir alias kecap kecup. Ya sudah kalau gak mau ngomong lembut, bilang aja pengen meluk mas kan? Kangen ya meluk mas?"


"Idih gak usah ge er! Kamu kali yang minta dipeluk! Kamu kangen kan?!" bantah Anin


"Iya mas kangen" jawaban Bagas membuat Anin kalah telak. Anin diam tak menjawab.


"Kenapa diam? Mau dilepasin gak nih ikatan lakbannya? Malah diam. Nin"


"Udah deh, diam bisa gak sih?! Berisik dari pagi!"


"Iya-iya. Mas lepasin deh, nanti kalau udah jauh dari pustu. Biar gak kabur lagi kamu nya"


Sepanjang perjalanan Bagas tersenyum saat melihat tangan Anin melingkar di perutnya. Angin yang berhembus kencang membuat Anin mengantuk dan menyandarkan kepala nya di bahu Bagas.


Anin dan Bagas sudah tiba di rumah Salma. Bagas melepas ikatan lakban pada tangan Anin. Anin merasakan sakit saat lakban tersebut lepas dari kulitnya, membuatnya terbangun dari mimpinya.


"Mmm, udah sampai kah?" tanya Anin saat matanya terbuka.

__ADS_1


"Enak tidurnya? Nyaman nyender di bahu sampai baju mas basah gegara iler kamu? Cantik-cantik kok ngileran!" Bagas turun dari motor begitupun Anin. Anin mengelus-elus tangannya yang memerah akibat ikatan lakban tadi.


Anin membuka pintu dan masuk ke dalam rumah. Membersihkan diri dan bersiap ke kota Tari. Bagas pun sudah menunggunya di bawah.


"Halo Ri, gue jalan sekarang. Bye" ucap Anin mengirim pesan suara.


"Udah siap?" tanya Bagas.


"Gak perlu dianter! Aku bisa sendiri!" ucapnya masih ketus.


"Astaghfirullah, mulut kamu memang bener-bener perlu dikasih vitamin B ya. Ngomong gak usah pake urat apa gak bisa sih? Ha? Mas antar, kalau kamu maunya dipaksa oke mas lakuin" Bagas mencengkeram tangan Anin.


"Awww, sakit mas. Aku bisa jalan sendiri. Tolong anterin ke tempat Tari"


"Ada imbal balik nya ya?"


"Lhah, gak ikhlas ya sudah"


"Bukan gak ikhlas, ta..."


"Tapi apa? Kalau minta imbal balik ya namanya pamrih, gak ikhlas"


"Ya sudah lah, capek berantem terus sama kamu"


"Iya apa? Minta imbalan apa?"


Bagas tersenyum. "Mas minta file yang sama di flasdisk yang dulu kamu disandera"


"Tari masih punya. Dulu aku suruh mengkopi di flasdisk dan laptop bang Angga. Nanti kalau ketemu dia bilang sendiri" Anin melenggang meninggalkan Bagas menuju mobil.


"Fiuhhh, untung bisa dapat" ucap Bagas tersenyum bahagia.


.


Tari sudah menunggu di kafe tempat janjiannya dengan Anin. Dia memainkan ponsel nya sambil senyum-senyum sendiri. Tak lama Anin pun tiba diikuti Bagas di belakang nya.


"Hai Ri, cie sibuk sama bang Tris sampai senyum sendiri" sapa Anin kepada Tari yang masih sibuk dengan ponselnya.


Tari meletakkan ponselnya. Mulutnya menganga tak percaya dengan yang dilihatnya.


"Lo balikan lagi sama kunyuk satu ini Nin?! Belum gue tampol pake high heels kemarin lo udah balikan lagi!? Sesuatu sekali ya kalian!" ucap Tari dengan memajang wajah sinis. Bagas hanya cengengesan.


"Gak! Gue gak balikan! Tapi gak tahu lah ya dia mungkin yang mengharap gue balik sama dia! Secara gitu kan, gue cantik, pinter, mandiri" Anin berbicara dengan percaya diri beelebih.


"Sombong amat! Doain kita ya, semoga balikan, hahahaha" ucap Bagas dengan melucu.


"Gak lucu!" ucap Anin dan Tari serempak membuat Bagas langsung mingkem.


"Tumben kafe ini sepi. Jadi kapan lo mau nikahnya?" tanya Anin kepada Tari.


"Lo beneran jadi sama Tristan?!" Bagas bingung.


"Emang kenapa? Masalah buat situ? Udah deh, ngomong cepetan ke Tari yang kamu butuhkan! Habis itu pergi!" Anin menjawab pertanyaan Bagas. Tari yang sedang menyedot minuman nya melirik kepada 2 insan itu.


"Oh iya, eh Ri, lo punya data yang dari flasdisk nya Anin gak?"

__ADS_1


"Banyak, mau data apa? Skripsi, foto, statistik? Atau apa?" ucap Tari terbodoh.


"Bukan itu maksudnya, data kejahatan seseorang"


"Mmm, kasih gak Nin? Agak gak ikhlas gue kalau ingat kelakuan dia 3 bulan lalu, ninggalin lo seenak jidat dia dan sekarang nempel kayak upil cuma demi data sialan itu?!" Mulut Tari tak kalah pedas nya dengan Anin. Bagas tak bisa memungkiri perkataan Tari. Memang dia lah yang salah.


"Gue males dikejar-kejar dia Ri, kasih aja lah, biar cepet beres urusannya. Nyanyi ah, daripada disini mood gue rusak" Anin menuju panggung yang biasa untuk bernyanyi. Pemain musik disana sudah hafal Anin karena ini adalah kafe favorite nya dengan Tari dan Salma.


"Nih, disini semua datanya. Gue udah gak punya lagi. Punya Angga dibobol orang. Untung udah gue copy" Tari menyodorkan flasdisk itu kepada Bagas.


"Makasih Ri, lo kalau mau pukul gue pakai high heels silahkan gue ikhlas daripada gue jadi musuh kalian. Kuping gue pedeeesss"


"Sukurin!" ucap Tari yang masih dongkol dengan Bagas.


Anin sudah bersiap di panggung. Dia sedikit memberikan kata pembuka sebelum menyanyi.


"Kafe agak sepi ya, ayo dong kakak-kakak diramaikan kafe nya. Oke disini saya nyumbang satu buah lagu. Maaf kalau suaranya jelek ya. Heeheh"


"Ayo kak Anin, semangat! Suaranya bagus kok" ucap salah satu pengunjung setia kafe itu.


Bagas masih duduk dan ingin melihat Anin bernyanyi.


"Terima kasih abang ganteng. Oke malam ini saya ingin menyanyikan lagu salah miliknya lobow. Cekidot"


Intro dimulai dan Anin mulai bernyanyi.


Sepanjang perjalanan cintamu


Kau bilang aku yang paling tangguh


Tapi mengapa kau tinggalkan aku


Dengan alasan yang tak jelas


Apa aku pernah mengeluh


Apa aku pernah berlari


Saat kau ada masalah


Apa aku pernah membual


Apa aku tak mengimbangimu


Sayang, kau menilaiku salah


Sepanjang perjalanan cintamu


Kau puji aku setiap waktu


Tapi kenyataannya berlawanan


'Ku tak pernah ada baiknya


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2