Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 65


__ADS_3

Anin dan keluarga Bagas sedang berada di ruang Tamu.


"Yah, bu, Anin mohon doa nya. Besok Anin harus ke Kalimantan untuk persiapan ujian CPNS. Anin berangkat dengan Tari. Disana kami dijemput Salma" Anin mengutarakan maksud kedatangannya.


"Bagas sudah cerita katanya kamu teman Salma. Ya sudah. Baik baik disana. Fokus dengan tujuan mu. Ayah dan Ibu hanya bisa mendoakan semoga kamu meraih kesuksesan Nin" Ayah menjawab pernyataan Anin.


"Ibu nanti titip sesuatu buat Salma ya sayang. Katakan padanya Ibu akan secepatnya datang berkunjung kesana. Fokus dengan tujuanmu ya sayang" Ibu memeluk Anin.


"Bagas juga besok langsung terbang ke markas besar Yah Bu. Doakan Bagas bisa melakukan misi dan selalu utuh"


"Tanpa kalian minta, kami selalu mendoakan kalian. Menyebut nama kalian dalam setiap untaian doa kami. Maka dari itu, beritakan lah kepada kami hal yang membuat hati ayem dan tentram. Ingat kamu Gas, kalo sampai ibu dengar kamu kenapa napa siap siap hengkang dari pasukan itu!" Ibu mengingatkan kembali akan ancamannya.


"Iya iya, Bagas gak bakalan bisa lupa. Tiap hari ibu ngomongnya itu mulu!"


"Udah lah bu, Bagas pasti bisa menjaga dirinya. Nin, sekembalinya kamu dari Kalimantan ada orang yang akan ayah tempatkan di sekitar lingkungan rumahmu. Hanya untuk berjaga jaga" Ayah memberitahu Anin supaya tidak kaget ketika ada apa apa dengan nya.


"Iya Yah"


.


.


.


Malam menjelang, Anin selesai membantu Bagas berkemas.


"Mas, anterin pulang, aku juga mau berkemas"


"Iya, mas siap siap dulu" Bagas mengambil jaket nya dan mengambil kunci motornya. Anin sudah berpamitan dengan Ayah dan Ibu. Menunggu Bagas di halaman rumah.


"Kemon ayang beb!"


Anin tersenyum dan segera membonceng Bagas. Sepertinya Anin sudah terbiasa dengan panggilan itu. Di atas motor yang sedang melaju Anin berbincang dengan Bagas.

__ADS_1


"Mas, kok kayaknya aku udah rindu aja ya sama kamu. Kok perasaan aku jadi sediiiih, beraaat banget ditinggal kamu" Anin mengeratkan pelukannya


"Jangan bilang gitu dong, bikin mas berat ninggalin kamu. Kamu disini jaga diri baik baik ya. Mas juga bakalan kangen berat sama kamu"


"Tau gak mas, tadi aku nanem bunga anyelir merah lhoh"


"Emanh kenapa?"


"Ish, kamu gak tau artinya?"


Bagas menggeleng.


"Ah, gak romantis kamu mas. Bunga anyelir merah itu artinya aku tidak akan pernah melupakanmu"


Mendengar Anin mengucapkan itu, pipi Bagas menjadi hangat, hangat karena merona. Untung lagi naik motor. Coba duduk bareng pasti malu tu.


"Kok diem sih mas"


"Nanti kalo kamu lagi dalam misi siapa yang mau nyiram bunga nya? Kan kasian kalo mati! Makanya dikasihnya kaktus, perawatannya gak ribet"


"Iya deh iya. Nanti mas langsung pulang ya. Mas capek banget"


"Iya, Anin pun sama. Besok gak bisa ketemu di Bandara ya?"


"Maaf ya Yank, beneran gak bisa. Eh jangan lupa titipan ibu buat Salma. Bilang juga sama itu anak, siapa pacarnya. Suruh datang ke rumah kalo berani"


"Emang mau disuruh ngapain ke rumah?"


"Mau mas suruh nyuci mobil sama motor. Ya suruh ketemu Ayah dan Ibu lah!"


"Hahahah, iya ya, kenapa aku jadi **** begini sih. Hahahah"


.

__ADS_1


Anin sudah berdiri di depan rumahnya. Tari masih ditemani Angga di teras melihat kedatangan Anin dan Bagas.


"Woy, lama banget sih nyampenya. Lumutan kita nunggu kalian"


"Lhah, siapa suruh nunggu. Masuk langsung kan bisa. Lo kan punya kunci juga"


"Gue lupa bawa, sini kuncinya. Gerah nih"


"Mas balik dulu ya, ingat! jaga diri baik baik" Bagas mengecup kening Anin sedikit lebih lama. Membuat sepasang kekasih lainnya iri.


"Bisa gak sih romantis romantisannya dipending?" Tari jengah melihat kedua insan itu.


"Aa' juga balik ya Neng, Aa' capek. Besok ke bandara jam 7 pagi lhoh. Jangan telat!"


"Iya A', Aa' hati hati ya" Tari berubah menjadi manis


"Hoeeekk, tadi kayak macan sekarang kayak ulet, hiiiiiii" Bagas bergidik melihat Tari bertingkah manis di depan Angga.


"Hahahah, sirik aja lo mas!"


"Mas pulangnya hati hati. Anin sama Tari masuk dulu. Assalamualaikum"


"Waalikum salam" Bagas menyusul Angga yang sudah siap di atas motor. Saat hendak melajukan motor, Bagas melihat dari jarak 3 meter orang mengenakan jaket hitam dan bertopi.


Wah, suruhan ayah cepet juga kerjanya. Langsung pengawasan. Bagus deh. Jadi tenang kalo begini.


.


.


.


Benarkah itu orang suruhan Ayah Bagas? Atau yang lain?

__ADS_1


__ADS_2