Tunangan Bayaran

Tunangan Bayaran
A & B 145


__ADS_3

Sani yang sedang beristirahat karena telah selesai melakukan operasi disibukkan dengan pasien luka tembak misi kali ini. Dokter IGD dan dokter bedah umum tak kalah sibuk.


"Dokter Sani, tolong bantu saya melakukan operasi ini, saya sangat kewalahan. Apalagi masih ditambah 2 pasien yang hari ini memang jadwal operasi" ucap dokter Gani, spesialis bedah.


"Hmm, baiklah dokter. Memang saya bisa menolak tugas?" Sani segera bergegas menuju ruang operasi kembali.


Sani memang bukan dokter bedah umum tapi jika dimintai tolong dia akan siap membantu. Karena baginya nyawa itu wajib diselamatkan apapun kondisinya.


Seorang tentara baru saja datang. Perawat menjelaskan keadaan nya kepada Sani.


"Pasien dengan luka tembak bagian bahu, pasien tidak sadarkan diri saat dibawa kemari dok, tensi 90/60, nadi 82x/menit, pernapasan 24x/menit, saturasi oksigen 70....bla bla bla" jelas perawat kepada Sani di ruang IGD itu.


Sani memeriksa reflek pupilnya dan melihat luka tembak itu. "Naik kan kebutuhan oksigen pasien, lakukan rontgen, aku ingin lihat seberapa dalam peluru itu di tubuhnya, ganti infusan dengan NaCl dan lakukan transfusi darah. Siapkan ruang operasi"


"Maaf dok, ruang operasi penuh" jelas perawat itu kembali.


"Hmm, mau bagaimana lagi, lakukan rontgen terlebih dahulu, kita operasi disini. Siapkan peralatan ku kemari. Semoga saja tidak melukai organ vitalnya"


"Baik dok" ucap perawat itu.


Sani hendak menuju ruang rontgen, perawat lain memanggilnya kembali.


"Dok, ibu hamil dengan luka tembak di kaki dan sepertinya ketubannya sudah pecah!" ucap perawat itu.


Sani segera melihat keadaan pasien itu. "Seorang awam? Apa mereka salah tembak? Panggilkan dokter Bunga, dia spesialis kandungan akan menangani masalah kandungannya. Aku akan mengeluarkan pelurunya nanti setelah dokter Bunga selesai tindakan. Ganti infusan nya dengan NaCl, lakukan transfusi juga" perintah Sani diangguki oleh perawat itu.


"Hah, boy! Kalian membuatku super duper sibuk hari ini! Awas saja nanti aku akan minta traktir kepada kalian" gumam Sani melihat kesibukan di IGD.


.


Bagas dan Raka kembali ke batalyon terlebih dahulu sebelum ke lokasi Anin dan Salma disekap.


Mereka menghadap dan memberi hormat komandan mereka.


"Ayah?" Bagas dan Raka terkejut melihat sosok yang sedang berdiri mendampingi komandannya.


"Ayah akan ikut dalam misi kalian, sepertinya masalah masa lalu dibawa hingga sekarang" jawab Ayah Ardhi.


"Gas, fokuslah kepada Anin dan Salma. Mereka pasti akan memasangkan bom ditubuh mereka. Karena untuk urusan itu kau yang paling bisa diandalkan. Raka kau dan mas Ardhi akan mengatasi Edi dan Bos mereka. Sedangkan aku dan mayor Indra akan mengatasi Akbar Jayadi"


"Siap Laksanakan!" ucap Bagas dan Raka serempak.


Ayah mendekati putranya dan memeluknya. "Bawa kembali anak-anak perempuan ayah. Jangan membuatnya terluka"


Ibu yang baru saja dari kamar mandi juga ikut memeluk Bagas. "Ibu doakan semua akan baik-baik saja. Selamatkan mereka dan kalian juga harus pulang dengan selamat"


"Ibu sudah tidak marah lagi dengan Bagas?"


"Semarah apapun ibu, saat kamu sedang bertugas doa ibu tak pernah putus untuk kalian" ucap Ibi sambil menangkup pipi Bagas dan Raka.


Bagas dan Raka sontak memeluk ibu.


"Ayo berangkat, jangan sampai terlambat" ucap Ayah Ardhi.


"Hati-hati ya, ibu akan menunggu kalian disini" ucap Ibu dengan menahan air mata yang sudah di sudut mata hendak tumpah.


Mereka tersenyum dan berlalu di balik pintu.


Mereka sudah dalam perjalanan.


"Ayah, kenapa bisa sampai tahu berita ini?" tanya Raka.


"Ayah menerima invoice dari Anin. Saat ayah mendengarkan nya ayah hanya menebak apakah ini ada hubungannya dengan Edi. Tanpa pikir panjang kami pun langsung kesini"


Bagas hanya diam. Raka menepuk bahu calon kakak iparnya itu. "Tenanglah, jangan kacaukan pikiranmu sendiri. Fokuslah" Raka memberi semangat.

__ADS_1


"Aku hanya teringat kembali akan mimpiku. Mimpi dimana Anin mengorbankan hidupnya untuk menolongku" jawab Bagas.


"Tenangkan hatimu agar bisa lebih fokus. Mereka akan baik-baik saja" ayah memberi nasihat untuk Bagas.


Bagas hanya tersenyum dan kembali tertunduk.


.


Anin dan Salma masih disekap dalam ruangan itu. Anin menangis. Ingin dia teriak tapi tak bisa.


Mas, tolong kita. Tolong selamatkan kita. Jangan nangis Nin, mas mu pasti datang membantu mu dan menyelamatkan mu. Bersabarlah. Ya Allah, lindungi lah kami. Jauhkan kami dari mara bahaya ini Ya Allah


Anin bergumam dalam hati. Salma mengedipkan mata nya mengisyaratkan kepada Anin untuk tetap tenang.


Edi, Akbar dan bos besar mereka sedang menikmati makanannya di ruangan lain.


"Mulai dari sini kita berpencar. Hilangkan dulu diri kalian dari peredaran. Muncul lah kembali jika sudah ku panggil. Ed, pergilah ke Myanmar, dan kau Bar, pergilah ke Singapura. Palsukan identitas kalian seperti sebelumnya" perintah bos kepada Edi dan Akbar.


"Lalu bagaimana dengan senjata kita?" tanya Edi


"Tangan ketiga sudah siap untuk menadah barang kita. Kali ini kita harus lebih berhati-hati. Karena semua sudah tahu kasus ini. Dan aku saat ini juga tidak bisa leluasa bergerak"


"Lebihkan suap mereka bos, mereka akan lebih melunak jika ditambah biayanya" saran Akbar kepada bos nya itu.


"Hahaha, sudah terlalu besar biaya yang ku keluarkan untuk mereka. Biarkan saja seperti ini dulu. Nanti setelah redam, baru kita mulai lagi bisnis ini"


"Terserah bos saja lah. Aku pamit ke toilet sebentar" Akbar meninggalkan mereka berdua menuju ruangan penyekapan Anin.


Para anggota gabungan itu sudah menyebar ke seluruh gedung. Para sniper handal langsung melumpuhkan penjaga yang ada di luaran gedung.


Edi mengetahui kedatangam rombongan itu. Bos mereka juga terkejut.


"Siapa yang mencoba mengkhianati ku?!" ucap Bos


"Bajingan sialan!" ucap bos kembali.


Bagas mengendap mencari ruangan Anin di sekap dibantu dengan Tristan. Ayah dan Raka bergegas mencari target incaran mereka, pun dengan komandan Suherman dan mayor Indra yang mencari keberadaan Akbar.


Bagas menemukan ruangan yang digunakan untuk menyekap Anin dan Salma. Dengan cekatan Tristan dan Bagas menghajar para pengawal yang berjaga.


"Kenapa tidak pakai senjata saja?" tanya Bagas ke Tristan saat mereka baku hantam


"Menghemat peluru lah, tak mungkin mereka tak menembak kita" jawab Tristan yang masih baku hantam.


Akbar yang belum mengetahui kedatangan rombongan itu pun masih tertawa melihat keadaan Anin.


"Uuuu, waktu mu sebentar lagi akan habis sayang. Kau ingin aku lepaskan atau tidak?!" tanya Edi kepada Anin dengan menjambak rambutnya ke belakang.


Bagas yang mengetahui hal itu langsung naij darah. Hawa panas di tubuhnya sudah mencapai puncak kepalanya.


"Lepaskan tangan biadab mu darinya!!" ucap Bagas yang sedang naik darah.


"Oooowwwhh, lihat siapa yang datang. Mantan tunangan mu datang untuk menyelamatkan mu sayang" jawab Tristan sambil menyeringai menatap Bagas.


"Tutup mulutmu brengsek!"


"Hahahaha, kau cemburu?! Mengapa kau cemburu?! Aku yang akan memilikinya, hanya aku dan cuma aku, tak ada yang lain yang boleh memilikinya!"


Dor...


Akbar menembak kan pelurunya ke langit-langit ruangan, membuat suara itu menggema. Akbar memberi peringatan. Bagas dan Tristan mengambil ancang-ancang untuk menyerang.


"Aku bisa saja langsung menghabisinya. Kau menginginkan itu?" Tristan bertanya sebelum bertindak kepada Bagas.


"Jangan, alihkan saja perhatiannya. Bilang lah jika istrinya yang sedang mengandung saat ini terluka. Buat dia sesendu dan sesedih mungkin. Aku akan membebaskan mereka terlebih dahulu" jawab Bagas.

__ADS_1


Tristan mengangguk. Dia berlari agak menjauh dari Anin dan Salma. Akbar yang mengetahui itu bersiap dan menodongkan senjata kepada Tristan. Dengan cepat Bagas menendang senjata yang dipegang Akbar sehingga terlepas dari tangan Akbar begitu saja.


Tristan mulai menghajarnya tanpa senjata. Bagas mulai melepaskan ikatan Salma dan Anin.


"Maafkan mas karena melibatkan kalian dalam hal ini. Tenangkan lah diri kalian. Mas akan menyelamatkan kalian"


Anin dan Salma mengangguk. Bagas mulai melepaskan lakban yang membekap mulut mereka dan melepaskan tali yang mengikat tubuh mereka.


Bagas mulai mengutak atik bom jam tangan yang dipasang ditubuh Salma.


"Dimana bang Raka kak? kenapa dia tak ada bersamamu?" tanya Salma.


"Dia membantu ayah menghadapi om Ed. Pikirkan keselamatan mu dahulu"


Bagas agak kesulitan karena kabel nya terlalu kecil dan banyak sambungannya. Dia diam sebentar dan menutup mata membayangkan jalur dari kabel-kabel itu dan...


Kres


Dia sudah memotong bom jam tangan itu dan waktunya berhenti.


"Keluarlah lebih dulu. Diluar ada pak jenggot yang sudah menunggu mu"


"Aku menunggu Anin saja"


"Dek, turuti kata-kata kakak, disini sangat kacau"


Anin mengangguk ke Salma. "Pergilah, aku akan menyusul mu" ucap Anin.


Salma akhirnya keluar dari ruangan itu dan mencari pintu keluar. Dia bertemu dengan Mayor Indra di ujung lorong.


"Salma! Ayo ikut dengan abang!" Mayor mengamankan Salma.


"Disana ada Akbar Jayadi. Tolong bantu kakak dan bang Tristan" pinta Salma


Mayor mengangguk. Pantas dia mencari kesana kesini tidak ada.


Bagas kembali mengutak atik kabel bom milik Anin.


"Kamu takut?" tanya Bagas


Anin hanya mengangguk.


"Ada mas, maaf membuatmu begini"


"Bukan salah kamu, Akbar yang menculik kami karena aku ketahuan merekam nya kemarin. Berjanjilah kepada ku kamu tidak akan menyalahkan dirimu sendiri lagi seperti yang lalu"


Kabel berhasil diputus. Bagas melihat wajah Anin dan tersenyum. "Ayo keluar" ucap Bagas yang tidak mengetahui bahwa Akbar kembali meraih senjatanya.


"Awas!" teriak Tristan membuat Anin menoleh.


Bagas sesaat pikirannya blank dan mengingat mimpinya


Tanpa pikir panjang Anin memeluk Bagas dari belakang.


Dor


Peluru itu menancap sempurna di punggung belakangnya.


.


.


.


Mimpi nya jadi nyata gaes. 😭😭😭

__ADS_1


__ADS_2