
"Ibu, Azzam nangis kenapa?". Tanya Putri menghampiri Melly yang sedang menggendong Azzam diruang keluarga
"Rewel sayang, ngga enak badan, tapi barusan udah ibu minumin obat".
"Sini bu biar Tahta yang gendong". Ucap Tahta
"Jangan nak. Kamu baru pulang kerja, capek".
"Engga bu, gapapa, sini".
Melly memberikan Azzam pada Tahta, setelah itu membuatkan teh manis hangat untuk Tahta
"Anak pinter, jangan nangis ya". Ucap Tahta menimang-nimang Azzam
"Kita bawa kerumah sakit aja kali ya?". Tanya Putri pada Tahta
"Kata Siska sebelum dibawa kesini udah dibawa kerumah sakit nak". Ucap Melly
"Eum, yaudah. Eh? Di gendong kamu diem". Ucap Putri
"Iya hahaha".
"Bu, Azzam tidur dikamar Putri ya". Ucap Putri
"Loh, nanti ngeganggu kalian ngga?". Tanya Melly
"Engga kok bu, kayaknya Azzam anteng kalo tidur sama kakak..."
"Gapapa kan Azzam tidur sama kita?". Tanya Putri pada Tahta
"Gapapa sayang". Jawab Tahta
"Yaudah, tapi kalo nanti kalian repot, antar Azzam ke kamar ibu ya". Ucap Melly
"Hahaha ibu, emangnya repot kenapa sih". Ucap Putri
"Ini sayang minum teh nya". Ucap Melly pada Tahta
"Makasih bu". Ucap Tahta
"Kamu bantu pegangin nak". Ucap Melly
Melly memberikan gelas teh nya pada Putri, Putri pun membantu Tahta meminum teh nya
"Kalian kan pengantin baru, lagi mesra-mesranya, takut Azzam ganggu kegiatan kalian". Ucap Melly dengan raut wajah yang
"Haha kegiatan apa tuh, yaudah yuk ke kamar, aku capek". Ucap Putri sambil memegang tangan Tahta
"Aku sama kakak ke kamar duluan ya bu, ibu juga istirahat". Ucap Putri
"Iya, iya, sana". Ucap Melly
Putri, Tahta dan Azzam meninggalkan ruang keluarga menuju kamar mereka
"Mau mandi ngga kak? Apa ganti baju aja?". Tanya Putri
"Mandi dong cintaku, kalo ngga mandi, bau. Nanti kamu ngga mau peluk aku". Jawab Tahta
"Hehe yaudah aku siapin air anget ya". Ucap Putri
"Iya, makasih sayang".
Sambil menunggu Putri menyiapkan air hangat untuknya membersihkan diri, Tahta terus menimang-nimang Azzam sampai tertidur pulas, setelah itu ia letakkan Azzam ditempat tidur mereka
"Jangan rewel ya sayang". Ucap Tahta menyelimuti Azzam
"Udah cocok jadi papa muda". Ucap Putri
"Udah cocok? Ayo bikin". Ucap Tahta sambil tersenyum
"Ih, nakal". Ucap Putri memukul lengan Tahta
"Hehehe air nya udah?". Tanya Tahta
"Udah sayang". Jawab Putri
"Eh, apa? Sayang?". Tahta memegang kedua bahu Putri
"Eum, engga, engga, salah ngomong". Ucap Putri
"Hmm? Keceplosan ya? Kamu anggap aku Raja?". Tanya Tahta sedikit cemberut
"Ih, ngga gitu. Iya, iya, aku tadi manggil kamu sayang, bukan keceplosan". Ucap Putri
"Serius?". Tanya Tahta
"Serius sayang, udah ya sekarang kamu mandi". Putri mendorong Tahta kearah kamar mandi
Hampir sepuluh menit berlalu, Tahta sudah selesai dengan kegiatannya membersihkan diri, ia keluar dari kamar mandi bertelanjang dada, hanya celana pendek yang melekat ditubuhnya
__ADS_1
Ia hampiri Putri yang sedang duduk ditepi ranjang sambil menatap ponselnya
"Ngapain sayang?". Tanya Tahta
"Bagus yang mana kak? Yang cocok sama aku?". Tanya Putri menunjukkan layar ponselnya pada Tahta
"Eum, ini. Modelnya selera kamu banget yang ini". Jawab Tahta sambil menunjuk
"Ih iya, aku juga pengen yang ini. Aku mau beli". Ucap Putri
"Yaudah check out, kakak yang bayar". Ucap Tahta
"Jangan, jangan, aku aja yang bayar"
"Heh, gunanya kakak kerja buat apa kalo ngga bisa beliin kamu apa-apa. Buruan check out, keburu habis".
"Hmm...aku aja ya yang bayar?".
"Jangan, uang kamu ditabung aja. Buruan check out sayang, kirim kode pembayarannya ke kakak".
"Iya, iya, yaudah, bentar". Ucap Putri
Sambil menunggu Putri, Tahta menjalankan aksi jahilnya, ia lingkarkan tangannya pada pinggang Putri, lalu ia kecup-kecup leher serta tengkuk Putri yang tidak tertutup rambut
"Euh, geli kak". Putri menggeliat dibagian lehernya
"Kok wanginya beda sama yang kemarin?".
"Hehe kan ganti sabun lagi".
"Hmm, pantes. Wangi banget". Tahta kembali mengecup dan menghirup leher Putri
"Udah aku kirim ke hp kakak". Ucap Putri
"Pinter, yaudah kakak check out dulu". Tahta melepaskan pelukannya dan beralih meraih ponselnya
Tidak sampai dua menit, Tahta kembali menaruh ponselnya, lalu menyusul Putri yang sedang berbaring di tempat tidur
"Mau cium kamu lagi". Ucap Tahta kembali menciumi tengkuk Putri yang
"Jangan, nanti berbekas". Ucap Putri
"Ngga di gigit sayang, cium doang. Takut ketauan Raja ya?".
"Iya, bisa ngamuk dia".
"Sstt, ketawanya pelan-pelan, dede kaget tuh denger ketawa kamu". Ucap Putri membungkam mulut Tahta
"Hehe iya sorry, kamu tau ngga, kita kayak lagi selingkuh kalo gini".
"Iya juga sih".
"Gimana rasanya selingkuhin Raja?".
"Ngga tega, kasihan".
"Gapapa lah, selingkuhnya sama suami sendiri kok".
"Eum, kamu seneng ya aku selingkuh?".
"Iya. Emang cuma Raja yang mau ngerasain cinta dari kamu, aku juga mau..."
"Sini sayang, liat aku". Tahta mengubah posisi Putri menjadi kearahnya
"Duh istri aku cantik banget".
"Ih, serius kek tukang gombal". Ucap Putri mencubit hidung Tahta
"Hehe iya, iya, dengerin aku, kamu mau ngga daftarin pernikahan kita ke pengadilan? Biar kita sah secara hukum dan dapat buku nikah?".
"Mau".
"Kamu serius?".
"Iya, serius".
"Alhamdulillah, aku seneng banget dengernya". Tahta memeluk erat tubuh Putri
"Yaudah nanti aku yang urus kalo tugas kuliah aku udah selesai semua".
"Yaudah". Putri mengangguk paham
"Oh iya kak, aku lupa ngasih tau, tadi sore kak Dewa ngasih kita tiket bulan madu selama tiga hari".
"Tiga hari? Eh bentar deh, tadi pemilik cafe manggil kakak, masa tiba-tiba kakak dikasih cuti tiga hari, weekend sama besoknya pas tanggal merah".
"Kok sama? Bulan madunya juga pas weekend sama tanggal merah".
"Mungkin- Oh iya sayang kakak baru inget, pemilik cafe itu temen kampusnya bang Dewa, jangan-jangan bang Dewa yang minta cuti buat kakak".
__ADS_1
"Pantesan, kak Dewa niat banget. Jadi gimana, kakak mau?"
"Selagi berdua sama kamu kakak ngga mungkin nolak sayangku".
"Hehehe yaudah nanti aku yang siapin apa aja yang mau kita bawa".
"Hmm, seneng banget kayaknya". Ucap Tahta sambil menggesek hidungnya dengan hidung Putri
"Seneng dong kan mau jalan-jalan. Oh iya kak, dress aku udah di check out?".
"Udah cintaku, besok dikirim".
"Yeay, makasih kak".
"Makasih doang?".
Cup, Putri mengecup singkat bibir Tahta sambil tersenyum malu
"Udah tuh".
"Lagi dong, kurang".
Tahta mengangkat satu tangannya dan ia letakkan ditengkuk Putri, ia tekan sampai bibir mereka kembali bertemu. Bukan hanya sekedar kecupan, kali ini Tahta menginginkan sebuah ciuman
Tanpa melepas pagutan mereka, Tahta mengubah posisinya keatas tubuh Putri, dengan kedua tangan yang ia tekuk untuk jadikan tumpuan
Sama hal nya dengan Putri, ia mengangkat kedua tangannya keatas, lalu ia lingkarkan pada leher Tahta dengan erat untuk memperdalam ciuman mereka
Putri terbawa suasana, ciuman Tahta sangat lembut ia rasakan. Sesekali tangannya ia gunakan untuk mencengkram rambut hitam suami nya, menyalurkan perasaan senang dan bahagia yang seketika muncul di benaknya
"Perasaan apa ini? Kenapa rasanya bahagia banget bisa ciuman sama kak Tahta kayak gini, padahal ini bukan ciuman pertama kita".
"Eungh...". Putri melenguh, suara pertama yang lolos dari mulutnya membuat Tahta semakin bersemangat. Ia turunkan dua tali yang ada pada bahu Putri, lalu ia turunkan pakaian tipis itu sebatas perut, sampai dua bongkahan benda sekal dan kenyal menyembul dibaliknya
Putri tidak mencegahnya, ia membiarkan suaminya mengeksplor setiap bagian tubuhnya sesuka hati
"Aakhh". Putri men de sah saat bibir Tahta mengu lum lembut salah satu pu ting nya yang sudah mengeras
"Uhmp"
Sadar ada seorang bayi yang sedang tertidur disamping mereka, Putri pun harus menahan suara, ia rapatkan bibirnya sebisa mungkin, mencegah suaranya agar tidak lolos begitu saja, ia tidak mau 'kegiatan malam' mereka mengganggu istirahat bayi lucu itu
Sepuluh menit sudah berlalu, Tahta sudah puas bermain-main dengan dua benda kenyal milik Putri, terlihat ia sudah menciptakan banyak maha karya diatas permukaan kulit mulus tersebut, kedua pu ting istrinya juga terlihat merah dan membengkak, Putri pun meringis merasakan nyeri pada kedua payu dara nya
"Kamu brutal". Ucap Putri
"Hehe maap, gemes aku liatnya. Mau lanjut ngga?". Tanya Tahta tersenyum merayu
"Eum....mau". Jawab Putri
"Hehe ini baru istri aku". Ucap Tahta
"HATCHI". Tahta bersin dengan suara yang sangat keras
"Kakak, berisik".
"HATCHI".
"Oeek...oeek"
"Tuh kan dede bangun".
"Hidung kakak tiba-tiba gatel- HATCHI".
"Hahahahaha ngakak". Putri tertawa geli
"Bikin susu, malah ngakak". Ucap Tahta
"Oh iya".
Putri segera merapihkan gaun tidurnya lalu membuatkan susu untuk Azzam. Sementara Tahta, sambil menahan hidungnya yang masih terasa gatal, ia menggendong Azzam untuk menghentikan tangisannya
"Gini kali ya gambaran kita kalo punya anak, mau ehem-ehem, tapi anak keburu nangis". Ucap Tahta
"Hahaha ehem-ehem apaan sih". Ucap Putri
"Mau dijelasin?". Tanya Tahta
"Engga, engga. Siapa suruh bersinnya kenceng banget, kebiasaan".
"Ngga bisa ditahan sayang. Sial lagi enak-enak pake bersin segala, jadi bangun kan anaknya..."
"Buyar sudah kemesraan ini".
"Hahahaha udah kak, udah, hahaha sabar".
---
Yuk di like dulu, aku update dua chapter nih><
__ADS_1