
Hari ini Xana bangun pagi-pagi dan segera menyiapkan air hangat untuk Esra mandi nanti. Dengan penuh kasih sayang Xana memandikan Esra. Seakan tahu bagaimana perasaan Mamanya, Esra tertawa dengan lucunya sambil memainkan air di bak mandinya.
"Esra anak kesayangan Mama, tumbuh jadi orang dewasa yang menyayangi Mama dan patuh kepada Mama. Nanti kalo udah gede bisa jagain Mama dan menjadi orang sukses!!" Do'a Xana seperti bernyanyi mendoakan anaknya.
Esra kecil tertawa dan tersenyum sangat manis, ingin sekali kugigit bibir kecilnya itu.
Setelah selesai mandi, Lea pun masuk dan ikut membersihkan diri. Xana melihat Lea masih sedikit mengantuk.
"Hati-hati numbur...." Was was Xana.
"Iya mba," jawab Lea.
Pfffttt Mba katanya? Dia ngigau ya? Lea masih mengantuk rupanya.
...****************...
Setelah Xana dan Esra selesai bersiap, Lea ikut menyusul. Ketiganya akan makan di luar dengan keluarga Xana. Mereka semua sudah janjian akan bertemu di parkiran mobil di bawah.
"Ayo! Kita makan~ Esra laper?" tanya Xana sembari membenahi gendongan depannya.
"Yhaaaa....." Esra ikut berseru.
Hari ini Xana akan semobil lagi dengan Ketiga Kakaknya. Ia tak sabar apa cerita yang menunggunya nanti.
Setelah sampai, segera Xana menata tempat duduk untuk Esra dan Xana. Kali ini Lea ingin duduk di belakang karena mengantuk dan akan tidur cukup lama. Jadi, Xana dan Esra akan duduk bertiga di tengah dengan Kak Sean.
Kak Sean masuk ke dalam mobil dnegan kedua adiknya. Xana memperhatikan ada yang berbeda dengan Ketiga Kakaknya.
"Loh? Ga biasanya Kak Sean pakai baju berwarna selain hitam? Kak Albert juga kurang suka warna gelap kok pakai warna navy? Ini juga Kak Petra, ngapain pake baju double gitu, mana kemeja lagi! Hadehhhh......" Xana menepuk jidat.
Ia tak habis pikir akan melihat kejadian langka ini secara langsung. Benar saja, Kak Sean yang tidak suka pakaian cerah justru memakai baju berwarna kuning terang. Begitu pula Kak Albert, ia kurang suka warna gelap justru memakai pakaian berwarna navy blue. Di tambah Kak Petra dengan pakaian dalam putih dan di lapisi kemeja kotak-kotak yang menurut Xana Norak.
"Gapapa, ganteng kan?" tanya Kak Sean.
"What?! Baru beberapa tahun lalu ia mengatakan bahwa tidak suka dan cocok dengan pakaian berwarna selain hitam, lalu sekarang?" Xana terbelalak.
"I-iya ganteng kok....." jawab Xana yang sedikit berbelit.
"Kalau Kakak?" tanya Kak Albert yang ternyata sedang tersenyum lebar menunggu jawaban.
"Iya, Kakak ganteng banget!" jawab Xana yang sudah seperti meyakinkan.
__ADS_1
"Gua?" Kak Petra ikutan meminta pujian.
"Iya, Kakak juga ganteng kok! Semua Kakak Xana ganteng!" Seru Xana yang sedang menyiapkan susu untuk Esra.
Mereka bertiga tampak puas dengan pujian Xana. Berpikir kalau rencana mereka berhasil, mereka pun melanjutkannya.
......................
Di restoran terdekat, Papa dan Mama Xana sudah memesan satu ruang VIP keluarga. Papa sengaja memesannya karena kursi biasa tidak cukup.
Xana duduk berdekatan dengan Lea dan Mamanya. Sambil makan, Xana juga menyusui Esra dengan menggendongnya. Ia tak membiarkan Esra kehausan. Demi kenyamanan Esra pula Xana memakaikan pakaian berbahan dingin dan membawa kipas baterai.
"Xana, ga di taruh dulu Esranya? Atau kasih dulu ke Baby sitternya gitu?" tanya Xana yang berada tepat di samping Xana.
"Gapapa, toh Esra patuh dan ga nganggu sama sekali? Lagi pula dia masih kecil, aku ingin habiskan banyak waktu buat dia selama liburan," jawab Xana sambik masih menyuap dan menyusui Esra.
Esra dengan semangatnya meminum susu dari botol dot nya. Entah kehausan atau karena ia tak ingin kelaparan.
"Sayang, mau pesen lagi ngga? Atau aku Kakak pesenin Steak wagyu, es boba? Es krim?" Tanya Kak Sean.
"Uhuk! Ga usah kak, ini udah cukup kok...." Xana hampir tersedak makanan karena terkejut. Bukan terkejut karena tiba-tiba di tanya Kakak tampan yang menawan, tetapi karena makanan yang di sebut tadi hampir sama dengan menu makanan semalam bersama Leon.
"Kakak kok tahu aku suka Steak Wagyu akhir-akhir ini? Nyontek dimana?" tanya Xana selidik.
"Ada yang aneh, tapi ga tau apa..." pikir Xana.
Mama dan Papa memiliki kesibukan masing-masing dengan makanannya. Mereka tampak tak peduli bahkan dengan kelakuan anak-anak di depan matanya.
"Eh, Esra sudah habis susu nya? Enak? Nanti kalo haus minum lagi ya..." Xana memberikan botol susu kosong itu pada salah satu baby sitter di belakangnya.
Xana adalah tipe orang yang cekatan dan tidak mau kerepotan. Ia sengaja membawa kedua baby sitter dengan peralatan lengkap. Bahkan membawa 5 botol steril untuk di buat susu.
Setelah selesai makan, mereka pun pergi pulang. Bukan pulang langsung ke rumah, tetapi pergi berbelanja dulu ke mall dan berfoto-foto di taman.
"Apa?! Ke Taman?? Berarti ke tempat ramai dong?" Kak Petra tampak kaget ketika mendengar berita dari Xana.
"Iya, ke taman.... Ya pasti ramai lah.... Emang kenapa sih?"tanya Xana sedikit heran.
Ketiga Kakak Xana menepuk dahi. Mereka seperti tidak ingin sesuatu terjadi. Memangnya kenapa dengan Taman yang ramai.
Kak Albert segera menelpon Papa dan memintanya untuk menunda dulu agar mereka bisa ke suatu tempat. Papa dan Mama menyetujuinya.
__ADS_1
"Memang mau kemana Kak?" tanya Xana dengan wajah polosnya.
"Ke Toko baju lah!" jawab Kak Petra Nyolot.
"Yeeee ditanyain malah nyolot, emang mau beli baju apalagi sih di toko? Kan nanti juga ke mall bisa beli, malah yang branded lagi!" tutur Xana.
"Baby, ya kamu lihat dong.... Masa Kakak pergi menunjukkan diri dengan pakaian norak gini?" tanya Kak Petra dengan lembut sambil menghadap ke belakang.
"Loh? Kan aku udah bilang ganteng Kak? Lagian sih kalian! Pake baju ginian segala! Ga sesuai tau!" Seru Xana seakan mengejek.
Mereka hanya diam dan mendengarkan ocehan dari Xana.
Dalam lubuk hati paling dalam, mereka berpikir bahwa gagal menjadi Leon yang suka sesuatu bertentangan dengan dirinya. Mereka hanya berhasil dengan menjadi diri sendiri.
Di Toko Baju, Papa dan Mama duluan ke Mall. Mereka sengaja duluan karena hari ini ada pembukaan toko baru yang harus Mama coba.
Kak Petra segera mencari baju yang menurutnya keren tanpa memikirkan harga dan memakainya.
"Niat hati jadi Leon eh malah jadi Lion!" Kesal Kak Petra.
Lea heran, kenapa tiba-tiba sekali ke toko baju dan memakainy langsung.
"Mungkin mereka ingin meniru seseorang agar mendapat perhatian lebih dariku," ujar Xana.
Lea pun paham bahwa ketiga kakaknya telah gagal dalam pertandingan ini. Mau bagaimana pun seseorang tidak bisa menjadi orang lain.
Sekarang mereka memakai pakaian sesuai selera mereka. Pandangan Xana kembali segar dan nyaman. Akhirnya ia bisa melihat suatu kenormalan kembali.
...****************...
Sesampainya di mall, segera Xana menyerbu pakaian bayi laki-laki dan peralatan yang menurutnya lucu. Bahkan mainan yang menarik baginya dibeli. Padahal belum tentu Esra dapat memainkannya.
Lea sebenarnya sungkan karena ini di traktir Ayah Xana. Tetapi Xana menunyuruhnya membeli baju yang menurutnya bagus saja jika tidak enakan. Xana sengaja melakukannya agar Lea bisa membeli baju walaupun sedikit.
"Baby, banyak banget belanjaannya, sini kakak bawain." tawar Kak Albert tiba-tiba datang.
"Loh Kak Albert mana Kak Sean dan Kak Petra? Ga pilih baju?" tanya Xana.
"Ga ah, baju ku banyak! Dah yuk sini ku bawain," Kak Albert segera menyita belanjaan dalam genggaman Xana.
Hari ini menyenangkan, Karena Xana dapat melihat langsung kejadian Langka Kakaknya. Apa lagi ketika Ketiga Kakaknya bersikap aneh, itu adalah hal yang menakjubkan untuk di tonton.
__ADS_1
-BERSAMBUNG......