Aku Dan Ketiga Kakakku

Aku Dan Ketiga Kakakku
Rencana Keluar Kota


__ADS_3

"Lu berani nampar gue, hah?!". Tanya Nagita dengan tangan yang ia layangkan kearah Putri. Dengan cepat Dewa menahan tangan Nagita


"Berani sentuh Putri saya pastikan kamu dapat hukuman yang setimpal".


"Ck, apaan sih". Ucap Nagita sambil menghempaskan tangan Dewa


"Hahaha, Nagita. Anak bikinan gue lu bilang anaknya Raja? Kemakan omongan Vivi, ya?". Tanya Tahta saat mendudukkan bokongnya dikursi makan


"Lu itu lawyer, gue yakin lu pinter. Ngga mungkin lu sebodoh itu buat percaya omongan Vivi yang ngga ada buktinya". Sambung Tahta


"Cemburu buta, apapun yang berhubungan sama Putri dan Raja langsung ditelan mentah-mentah". Ucap Dewa


"Kakak anter ke kamar ya, istirahat". Ucap Dewa sambil merangkul bahu Putri


"Gue masih waras, bisa mikir buat ngga berhubungan sama orang yang bukan suami gue". Ucap Putri sebelum meninggalkan ruang keluarga bersama Dewa


Tahta menatap Nagita yang masih berdiri diposisinya, ia masih memperhatikan Putri dengan sorot mata tajam,


"Udah, mending lu duduk sini


Tungguin cowok lu, sebentar lagi pulang". Ucap Tahta


Tatapan Nagita beralih pada Tahta, ia melangkah mendekati meja makan, berdiri dibelakang kursi makan yang ada diseberang Tahta


"Jadi Putri itu hamil anak lu atau anaknya Raja?". Tanya Nagita


"Ck, gue udah masukin Raja kerumah sakit kalo benar Putri hamil anaknya, jadi lu tau jawabannya?". Tanya Tahta


"Tapi kenapa Vivi bilang dia hamil anaknya Raja?".


"Haha, mau aja dibohongin bocah ingusan".


"Nagita?". Panggil Raja saat memasuki pintu utama, Tahta dan Nagita pun kompak menoleh


"Kamu ngapain disini?". Tanya Raja menghampiri Nagita


"Ngga ngapa-ngapain". Jawab Nagita


Raja menatap Tahta yang sedang mengupas buah jeruk ditangannya


"Ada apaan?". Tanya Raja


"Tanya aja sama cewek lu". Jawab Tahta


"Ada apa, Git? Terus kenapa kamu bisa masuk kesini, aku kan udah larang kamu datang". Ucap Raja


"Ngelarang aku demi mantan kesayangan kamu?". Tanya Nagita


"Udah, deh. Aku ngga mau ribut, capek. Terserah kamu mau ngapain disini, bebas". Ucap Raja sambil melangkah meninggalkan meja makan


"Cewek lu keterlaluan". Ucap Dewa saat menuruni tangga


Langkah Raja terhenti, ia menatap Nagita sesaat sebelum kembali menatap Dewa yang berjalan kearahnya


"Kenapa?". Tanya Raja


"Nerobos masuk, marah-marah, nuduh Putri hamil anak lu dan hampir nampar Putri". Jawab Dewa


Seketika Raja menatap Nagita dengan tatapan dinginnya, Nagita terlihat meneguk ludahnya, ia merasa takut dengan tatapan mata Raja


"Kamu ngelakuin itu?". Tanya Raja


"Aku nampar dia karna dia duluan yang nampar aku". Ucap Nagita dengan pembelaannya


"Tapi itu semua ngga akan terjadi kalo kamu bisa jaga ucapan kamu. Apa Putri ngga kesal dituduh begitu?". Tanya Dewa


"Sorry, Raja. Gue ngga sreg sama cewek lu, sifatnya mirip Vivi. Daripada Putri kenapa-napa, lebih baik gue ngga terima dia masuk ke keluarga ini..."


"Dengan kata lain, lebih baik pikir-pikir lagi kalo mau seriusin hubungan lu sama dia". Ucap Dewa


"Hahahahaha". Tahta tertawa terpingkal


"Kan gue pernah bilang, cewek kayak lu ngga diterima di keluarga gue, percaya kan?". Tanya Tahta menatap Nagita


Nagita terlihat kesal, ia menggertakan gigi sambil mengepalkan kedua tangannya


"Ikut aku!". Ucap Raja sambil menarik paksa Nagita keluar dari rumah mereka


"Ngga habis fikir, kenapa Raja mau pacaran sama cewek kayak dia". Ucap Dewa sambil mendudukkan bokongnya disebelah Tahta


"Ya gitu deh kalo punya cewek buat pelarian doang". Ucap Tahta


Disisi lain, Raja membawa Nagita ke teras rumahnya, disana Raja menginterogasi Nagita tentang apa yang terjadi saat dirinya belum tiba dirumah


Raja terlihat emosi begitu pun dengan Nagita yang tidak kalah emosinya, Nagita kesal karena Raja terus-terusan membela Putri dan malah menyalahkan dirinya


Alhasil, Nagita mengancam untuk mengakhiri hubungan mereka. Berharap Raja mencegahnya, namun ia salah, Raja justru setuju hubungan mereka berakhir, membuat Nagita semakin naik pitam


"Jadi kamu lebih pilih mantan pacar berkedok adik itu, ya?". Tanya Nagita


"Ngga ada hubungannya sama Putri, aku kayak gini karna udah capek sama sikap kamu..."


"Kamu ngga bisa terima masa lalu aku, kamu ungkit terus kesalahan aku, dan selalu nuduh aku yang engga-engga..."


"Aku gak masalah sikap kamu sekarang berubah, kamu kasar dan seenaknya. Tapi maaf Nagita, aku udah muak sama kamu". Ucap Raja


"Raja! Jahat, kamu!". Bentak Nagita sambil memukul dada Raja


"Pulang! Jangan pernah datang kesini lagi..."


"Dan aku peringatin kamu sekali lagi, ini semua ngga ada hubungannya sama Putri..."


"Jadi jangan pernah berencana ngelakuin apapun ke Putri, karna aku bisa masukin kamu ke penjara..."


"Reputasi dan nama baik kamu sebagai pengacara akan hancur. Paham?". Tanya Raja dengan sorot mata tajam dan ucapan yang terdengar serius

__ADS_1


"Kamu ngancam aku?".


"Engga, silahkan lakuin kalo kamu udah siap kehilangan pekerjaan yang kamu banggain itu".


"Argh! Aku benci sama kamu!". Ucap Nagita sebelum meninggalkan Raja. Raja pun menghela nafas panjang sambil memijat keningnya dan kembali masuk kedalam rumah, menghampiri Dewa dan Tahta diruang makan


"Putus?". Tanya Dewa diangguki oleh Raja


"Hah? Lu putus sama Nagita?". Tanya Tahta


"Iya". Jawab Raja


"Dih, awas aja kalo deketin Mput lagi". Ucap Tahta


"Engga, Ta. Tenang aja". Ucap Raja


"Bener lu ya? Duel sama gue kalo kejadian, gue habisin lu". Ucap Tahta


"Sebelum duel gue hajar dulu satu-satu, masih aja ngerebutin Putri". Ucap Dewa


"Engga, tenang aja. Takut amat". Ucap Raja


"Dia itu kenapa sih? Kayaknya benci banget sama Putri? Karna masa lalu itu?". Tanya Dewa menatap Raja


"Iya". Jawab Raja


"Ya sebenarnya gue sama Nagita hampir sama. Bedanya gue bisa terima masa lalu Mput meski awalnya susah..."


"Karna ada rasa kecewa soalnya gue bukan yang pertama buat Mput". Ucap Tahta


"Sorry banget, Ta. Gue emang salah udah bawa Putri ke hal negatif kayak gitu". Ucap Raja


"Gue ngerti, pacaran jaman sekarang mana ada yang bersih?..."


"Jadi udah ngga masalah buat gue. Gue terima buruknya Mput karna semua orang pernah ngelakuin salah dimasa lalu". Ucap Tahta


"Wih, calon papa, dewasa juga pikiran lu". Ucap Dewa sambil menepuk bahu Tahta


"Kak Tahta!". Panggil Putri dari arah tangga. Tahta yang terkejut seketika duduk tegak lalu menoleh kearah Putri


"Iya, sayang. Kenapa?". Tanya Tahta


"Kamu lupa? Katanya mau beliin aku sate ayam, kok masih duduk disitu?!..."


"Aku nungguin dari tadi!". Ucap Putri


"Oh, iya, astaga". Gumam Tahta sambil menutup wajah dengan telapak tangannya


"Aku beliin dulu, ya". Ucap Tahta sambil bangun dari duduknya


"Ngga usah! Udah ngga pengen! Ngga mood!". Ucap Putri saat kembali menaiki tangga


"Terus kamu mau makan apa?". Tanya Tahta


"Ngga mau makan!". Jawab Putri tanpa menoleh, ia masih melangkah menuju kamarnya


"Makanya, jangan sepelein ibu hamil kalo udah ngidam". Ucap Raja


"Gue lupaaaa". Ucap Tahta


"Yaudah sana tanyain lagi mau makan apa, jangan sampai ngga makan". Ucap Dewa, Tahta mengangguk paham dan segera menyusul Putri kekamarnya


"Sayang? Maafin aku, aku lupa. Keasikan ngobrol". Ucap Tahta


"Hiks...hiks..."


"Huaaa...kak Dewaaaaa..."


"Huaaa".


"Loh, kok nangis, sih?". Tanya Tahta dengan panik


"Jangan nangis, sayang. Nanti aku diomelin bang Dewa". Ucap Tahta


"Biarin! Kamu jahat! Kamu lupa sama aku! Sama anak kita!". Ucap Putri


"Engga, ngga gitu. Aku beneran lupa kalo kamu minta sate ayam, tapi aku ngga mungkin ngelupain kamu sama anak kita". Ucap Tahta sambil memegang kedua tangan Putri


"Sama aja! Kamu lupa beli sate ayam buat aku, berarti kamu lupa sama aku!". Jerit Putri


"Duuuh, sayang udah, ya. Jangan nangis lagi". Ucap Tahta sambil mengusap air mata Putri


"Sekarang kamu mau makan apa? Biar aku bellin". Tanya Tahta


"Ngga mau, ngga laper". Ucap Putri


"Serius? Aku ngga mau kamu kelaparan, kasihan dede". Ucap Tahta sambil menyentuh perut Putri


"Mau makan apa?". Tanya Tahta lagi


"Apa aja deh". Jawab Putri


"Apa aja itu, apa? Yang spesifik dong, sayang. Nanti aku beliin makanan apapun, kamu marah, ngga mau..."


"Hmm, gimana kalo kita keluar? Ke restoran, jadi kamu bisa pilih mau makan apa". Ucap Tahta


"Ayo, aku mau!". Ucap Putri mengangguk semangat, Tahta tersenyum lega sambil mengusap tangan Putri


---


"Santai aja kali, gue ngga bakal gigit lu, ngga doyan". Ucap Tahta


"Hahaha, abang bisa aja". Ucap Vano tertawa canggung


"Jadi lu beneran dijodohin sama Vivi?". Tanya Tahta

__ADS_1


"Iya, bang. Gue juga bingung gimana awalnya, yang pasti rencana ini udah ada tiga bulan yang lalu". Jawab Vano


"Dan lu setuju? Sama Vivi, loh. Tau sendiri kan kelakuannya? Bukan jelek-jelekin tapi nyatanya emang gitu".


"Iya gue tau, bang. Malah sampe sekarang gue masih nolak, ngga pernah ikutan kalo udah bahas lamaran".


"Hah? Lamaran? Hahaha, seserius itu ya". Ucap Putri


"Iya, Put. Ngga bisa ngelak, setuju ngga setuju lamaran sama pernikahan itu bakal berlangsung secepatnya". Ucap Vano


"Kasihan, kepikiran aja gitu buat jodohin sama Vivi, hahaha, lucu dengernya". Ucap Tahta


"Ish, tertawa diatas penderitaan orang". Ucap Putri


"Hahaha..."


"Tapi setau gue Vivi itu ada cowok yang disuka". Ucap Tahta


"Iya bener, bang. Vivi suka sama mantan pacarnya Putri, kan? Kakaknya abang?". Ucap Vano, Tahta mengangguk


"Vivi juga nolak, bang. Tapi orang tua maksa dan gue anak yang ngga bisa nolak permintaan orang tua". Ucap Vano


"Waw, berbakti juga ya, lu. Sampe mau masa depan lu diatur gitu. Dijodohin dua kali". Ucap Tahta


"Mau gimana lagi, bang. Gue anak satu-satunya, gue ngga mau ngecewain orang tua gue". Ucap Vano sambil tersenyum tipis


Putri menghela nafas panjang sambil menatap wajah Vano yang tersirat kesedihan. Ia paham apa yang Vano rasakan, menuruti permintaan orang tua yang jelas-jelas tidak ia inginkan. Vano hanya bisa pasrah melihat kedua orang tuanya selalu menyetir masa depannya seperti itu


Ingin rasanya Putri memberi semangat pada Vano sebagai bentuk perhatiannya sebagai teman. Namun ia tidak mau sosok laki-laki berstatus suami yang ada disampingnya ini merasa cemburu dan salah paham karena tidak bisa dipungkiri bahwa Vano adalah mantan kekasihnya


Pukul delapan malam, Tahta keluar dari kamar, ia mencari keberadaan istri kecilnya yang belum meminum susu yang sudah ia buat sebelumnya. Tahta menghampiri Putri yang sedang berdiri disisi meja makan, Putri tampak berbincang dengan Dewa dan Raja


Tahta merapat ke belakang tubuh Putri, ia taruh dagunya diatas kepala istrinya itu


"Mput kemana, bang?". Tanya Tahta sambil menatap kedua kakaknya. Mereka pun kompak menautkan kedua alisnya sebelum tersadar kalau Tahta ingin mengajak Putri bercanda


"Ngga tau, daritadi gak keliatan". Jawab Dewa


"Iya, ngga keliatan, kemana sih". Ucap Tahta yang masih bertahan dengan posisinya


Putri mendengus sebal, ia pun menyingkir dari depan tubuh Tahta


"Ih, kamu ngeledek! Mentang-mentang aku pendek, kamu pura-pura ngga ngeliat". Ucap Putri dengan bibir mengerucut


"Kamu ngga pendek kok. Cuma mungil". Ucap Tahta


"Sama aja!".


"Hehe. Oh iya, sayang. Ada yang mau aku omongin sama kamu..."


"Duduk dulu, biar enak". Ucap Tahta sambil menyentuh kepala Putri


Putri pun duduk dikursinya begitu pun dengan Tahta. Dewa dan Raja pun memperhatikan dengan seksama. Mereka penasaran dengan apa yang ingin Tahta sampaikan pada Putri sampai terlihat serius wajah adiknya itu


"Mau ngomong apa?". Tanya Putri


"Gini. Besok aku mau urus cabang kafe yang diluar kota, bisa lima hari sampai satu minggu aku disana..."


"Aku mau urus sampai peresmian, nanti aku jemput kamu kalo urusan udah selesai, kita resmiin kafe bareng-bareng".


Dewa dan Raja saling melempar pandangan mendengar penuturan Tahta pada Putri


"Lu mau ninggalin Putri keluar kota?". Tanya Dewa


"Cuma sebentar, bang. Tolong, gue titip Mput"


"Aku mau ikut!". Ucap Putri dengan cepat


"Sayaaang, kamu disini aja. Kamu kan lagi sibuk skripsi, lagipula aku bakal sibuk ngurus kafe, bakal sering ninggalin hotel..."


"Aku ngga mau kamu sendirian dengan kondisi kamu yang hamil begini". Ucap Tahta menatap Putri


"Tapi, kak-"


"Omongan Tahta ada benarnya, lebih baik kamu disini". Ucap Dewa mengusap bahu Putri


Putri mendadak lesu, raut sedih tersirat diwajahnya, Putri menggigit bibir bawahnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia menahan tangis, tidak siap untuk berpisah dengan Tahta


"Hey? Aku ngga lama, sayang. Janji". Ucap Tahta sambil menangkup wajah Putri


"Huaaaa". Tangis Putri pecah, Tahta menarik Putri kedalam pelukannya


"Ngga bisa ditunda dulu urusan kafe lu? Putri butuh lu diawal-awal kehamilannya kayak gini". Ucap Raja


"Ngga bisa, bang. Ini udah planning gue jauh-jauh hari. Kalo ngulur waktu, planning yang lain bakal kacau, berantakan". Ucap Tahta


"Aku ngga mau ditinggal kamu". Ucap Putri disela-sela tangisannya


"Cuma sebentar, sayang. Aku janji. Janji". Ucap Tahta sambil mengeratkan pelukannya


"Secepatnya aku selesain urusan disana. Aku usahain sebelum satu minggu aku udah pulang kesini". Sambung Tahta


"Ada kakak, ada Raja, ada Nindi. Kamu disini aja sama kita, ada yang jagain kamu". Ucap Dewa, Tahta mengangguk setuju dengan kakaknya itu


"Janji ya, ngga lama". Ucap Putri


"Janji". Ucap Tahta


"Gue nitip Mput, tolong ingetin makan, minum susu sama vitaminnya". Ucap Tahta sambil menatap kedua kakaknya. Keduanya pun mengangguk kompak


"Ayo, istirahat, udah malem".


Tahta merangkul pinggang Putri, membawa Putri kekamarnya untuk beristirahat


---

__ADS_1


OK, bersambung dulu guys, doain biar aku ngga ngaret update hehe


jangan lupa dukungannya, tengkyu😚


__ADS_2