
"Puas lu berdua?!.."
"Gue kehilangan anak gue! Mput keguguran!". Jerit Tahta pada kedua kakaknya dengan isak tangis yang mengucur sejak keluar dari ruang dokter
"Anjing..."
"Gue benci lu berdua!".
"AAARGHHH!!!". Tahta berteriak frustasi, ia meninju dinding berkali-kali sebelum terduduk lemas diatas permukaan lantai
Tahta mencengkram rambut dengan kedua tangannya. Ia menunduk dengan isak tangis yang semakin kencang
Hancur, perasaannya hancur berkeping-keping. Sosok malaikat kecil yang kehadirannya sangat dinantikan oleh dirinya dan wanita kecintaannya, harus ia relakan untuk pergi selama-lamanya
Sosok kecil itu tidak bertahan lama didalam rahim istrinya. Sosok yang memberikan warna dan menyempurnakan kebahagiaan di pernikahan mereka, harus rela untuk tidak dilahirkan ke dunia, melengkapi keluarga kecilnya yang sangat menantikan kehadiran seorang anak
"Maafin papa, sayang. Papa ngga bisa jaga kamu, jaga mama"
---
Beberapa hari telah berlalu, Putri dan Tahta sudah menempati rumah baru mereka. Setelah keluar dari rumah sakit, Tahta langsung membawa Putri keluar dari rumah orang tuanya
Tahta telah memutuskan, ia tidak akan membiarkan Putri bertemu dengan kedua kakaknya lagi. Tahta sangat membenci mereka, ia tidak bisa memaafkan kelalaian Dewa dan Raja, yang membuat istrinya keguguran
Kini kondisi fisik Putri telah membaik. Tapi tidak dengan mentalnya yang masih terguncang. Putri hanya mengurung diri dikamar, tidak pergi kuliah dan tidak mengerjakan tugasnya
Sama hal nya dengan Tahta, meski berusaha tegar, ia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Sejak kejadian itu, rencana untuk mengembangkan bisnis diluar kota seketika kacau. Semua hancur berantakan diikuti dengan seluruh rencana yang sudah ia susun jauh-jauh hari
Tahta menghela nafas setelah menutup laptopnya. Meski masih diselimuti duka, ia tidak bisa mengabaikan satu-satunya bisnis yang sudah ia rintis dari nol
Setelah memantau perkembangan kedai kopinya, Tahta menghampiri Putri yang sedang duduk diatas ranjang sambil memeluk lutut. Istri kecilnya itu sudah melamun sedari tadi, tidak mau makan dan minum, seperti hari-hari sebelumnya. Membuat Tahta khawatir dengan kondisi kesehatannya
Tahta menyentuh puncak kepala Putri, membuat Putri mendongak dan menunjukkan tatapan sendu dan mata yang sembab karena terus-terusan menangis
"Sayang? Makan, yuk". Ucap Tahta, Putri merepons dengan gelengan pelan pada kepalanya
"Udah berapa hari kamu ngga makan, nanti kamu sakit. Ini udah pucat". Ucap Tahta mengusap pipi Putri
"Aku...gapapa". Ucap Putri bersuara rendah
Tahta menarik nafas panjang, ia rengkuh tubuh kecil nan rapuh itu kedalam pelukannya. Ia usap kepala Putri dengan lembut, sambil ia ciumi puncak kepalanya
"Anak...kita...kasihan ya, kak". Gumam Putri
"Sayang, udah. Aku tau kamu hancur, aku pun sama. Aku hancur, aku sakit kehilangan anak kita..."
"Tapi jangan siksa diri kamu kayak gini. Aku makin sedih. Aku ngga mau kamu sakit, aku ngga mau kehilangan orang yang paling berharga di hidup aku..."
"Kita bisa usaha lagi kedepannya, aku yakin kita akan punya anak lagi. Yang penting harus sabar, harus ikhlas dengan kondisi sekarang".
Putri mengangguk pelan, mencoba memahami apa yang diucapkan Tahta dengan tatapan kosong dan pikiran yang kacau
"Dengerin aku, lagi". Ucap Tahta sambil memegang kedua bahu Putri
"Sekarang kamu makan, ya. Kesehatan kamu harus dijaga. Kamu harus lebih kuat biar anak kita nanti bisa bertahan dan kuat dari sebelumnya..."
"Inget kan kata dokter, kondisi kamu lemah, itu berpengaruh sama bayi dirahim kamu. Jadi mulai sekarang, kamu harus lebih kuat lagi, okay? Semangat, sayang".
Putri meneteskan air mata mendengar kalimat penyemangat dari suaminya itu. Terharu, meski ia tahu Tahta juga meresakan kesedihan yang mendalam, tapi Tahta masih mampu membuat dirinya tegar dalam menerima kondisi yang ia alami sekarang
---
Drtt drtt
Drrtt drrrt
"Kak Dewa?"
"Siapa yang nelfon, sayang?". Tanya Tahta dari meja belajarnya
"Kak Dewa" Jawab Putri
__ADS_1
"Jangan diangkat, biarin aja". Ucap Tahta, Putri berdehem sambil mengangguk, mematuhi ucapan suaminya
Tidak berselang lama, sebuah pesan singkat masuk kedalam ponselnya, masih dari orang yang sama, yaitu Dewa
"Kita bisa ketemu? Kakak benar-benar kangen sama kamu. Kakak terus mikirin kamu, cemas dengan keadaan kamu sekarang"
Putri menghela nafas, ia memberitahu pesan tersebut pada Tahta, namun jawaban Tahta masih sama, ia melarang Putri membalas pesan itu
Keesokan harinya, Putri memutuskan untuk berangkat kuliah. Kewajiban sebagai mahasiswa menuntutnya untuk segera menyelesaikan tugas akhirnya dan keluar sebagai lulusan universitas tersebut
Setelah mencium punggung tangan Tahta, Putri keluar dari mobil. Tahta masih berada diposisinya, memastikan wanitanya itu masuk dengan selamat kedalam gedung fakultasnya sebelum beranjak menuju kampusnya
Dengan langkah gontai, Putri berjalan menuju kelasnya. Ia dikejutkan dengan Niko yang tiba-tiba merangkul lehernya
"Ck, apaan sih, Nik? Minggir". Ucap Putri sambil menyingkirkan tangan Niko dari lehernya
"Kemana aja baru keliatan? Lu sakit? Pucat banget?". Tanya Niko
"Ngga usah kepo". Gumam Putri
"Putri!".
Grep, Nindi memeluk erat Putri dengan tangis yang seketika pecah. Niko menautkan kedua alisnya, memperhatikan sepasang sahabat yang ada di hadapannya ini
"Tampar gue, Put, tampar gue. Gue salah, gue yang bikin lu keguguran". Ucap Nindi disela tangisannya
"Keguguran?". Gumam Niko menatap Putri
"Ya Tuhan, turut berduka ya, Put. Gue ikut sedih". Ucap Niko sambil mengusap bahu Putri
"Apa sih, lu! Pergi, ngga!". Bentak Nindi saat menepis tangan Niko dari bahu sahabatnya itu
"Ck, bawel banget, anjir..."
"Put, yang sabar, ya. Semoga cepat dikasih penggantinya". Ucap Niko
"Aamiin, thank you". Ucap Putri sambil tersenyum tipis, Niko pun mengangguk dan pergi meninggalkan Putri dan Nindi
"Maafin gue". Ucap Nindi meraih tangan Putri
Putri melepaskan tangan Nindi dan kembali melanjutkan langkahnya
"Kak Dewa sakit". Ucap Nindi dari arah belakang, membuat Putri menoleh kearahnya
"Kak Dewa sakit? Kok bisa?".
---
Beberapa jam berlalu, Putri telah selesai dengan kegiatan kampusnya. Ia berjalan seorang diri kearah pintu gerbang fakultasnya. Menyusuri parkiran mobil, Putri merasa ada seseorang yang memperhatikan dirinya disela-sela mobil yang terpakir
"Kak Dewa?".
Dewa menarik tangan Putri, membawa Putri ke belakang barisan mobil. Ia peluk perempuan mungil itu kedalam tubuhnya dan ia kecup puncak kepalanya cukup lama dengan air yang mengucur dikedua matanya
Putri yang masih terkejut, tidak merespon pelukan Dewa. Justru ia berfikir, bagaimana kakaknya ini bisa masuk sampai area fakultasnya? Dan mengingat ucapan Nindi bahwa Dewa sedang sakit, mengapa kakaknya nekat menemuinya sampai seperti ini?
"Badan kak Dewa panas banget"
"Apa kabar? Kakak kangen sama kamu"..
"Kakak kok bisa ada disini?".
"Maafin kakak, kakak terpaksa nyusup kesini, nyamar jadi mahasiswa buat temuin kamu, karna kakak ngga tau dimana rumah kamu dan kamu ngga pernah respon chat atau telfon kakak".
"Aku harus pulang, kak". Ucap Putri saat mencoba melepaskan pelukan Dewa. Namun Dewa semakin mengeratkan pelukannya
"Jangan tinggalin kakak. Kakak mohon". Ucap Dewa
"Kakak mau apa?". Tanya Putri
Dewa melepaskan pelukannya, ia menangkup wajah Putri dengan kedua tangannya
__ADS_1
"Kakak cuma mau minta maaf sama kamu atas kelalaian kakak, kakak tau kamu benci sama kakak..."
"Tapi please, jangan hukum kakak dengan jauhin kakak kayak gini, kakak ngga sanggup, kakak tersiksa". Ucap Dewa
Putri menyingkirkan kedua tangan Dewa yang sedang mengusap pipinya dengan ibu jari. Putri memundurkan langkahnya, memberi sedikit jarak dari Dewa
"Aku udah maafin kakak, kakak ngga usah ngerasa bersalah lagi". Ucap Putri
"Tapi jangan jauhin kakak kayak gini". Ucap Dewa
"Aku cuma butuh waktu buat sendiri, kak".
"Sampai kapan? Kamu nyiksa kakak, nyiksa Raja karna dijauhin kayak gini".
"Ngga tau sampai kapan, aku masih ngga mau ketemu sama siapa-siapa. Ini pun kuliah karna terpaksa".
Dewa menarik nafas panjang sebelum memijat pelipisnya. Dewa merasa sakit kepala, dan pucat diwajahnya sudah Putri sadari sejak tadi bersamaan dengan panasnya tubuh Dewa saat mereka berpelukan. Sepertinya perkataan Nindi benar, sang kakak sedang tidak sehat
"Pulang, kak. Istirahat, aku tau kakak sakit". Ucap Putri
"Kakak sakit karna kepikiran kamu, kakak sedih". Ucap Dewa
"Ngga usah berlebihan, kak. Buat apa kakak sampai segininya? Sakit karna kepikiran aku? Konyol".
"Terserah kamu mau ngomong apa, yang jelas ini nyiksa kakak".
"Udah lah, kak. Aku mau pulang, lebih baik kakak pulang juga".
"Tunggu, sayang".
Dewa meraih tangan Putri, tatapannya berubah sendu, mengharapkan belas kasih dan perhatian dari adik bungsunya itu
"Apa lagi, kak?".
"Peluk kakak, sebentar aja". Pinta Dewa dengan tatapan memohon
Putri menarik nafas panjang sebelum melangkah mendekati Dewa untuk memeluknya
"Terimakasih". Ucap Dewa sambil mengeratkan pelukannya pada Putri
"Aku mau pulang, kak. Kak Tahta pasti ydah nungguin". Ucap Putri, Dewa pun harus rela melepaskan pelukan mereka
"Aku ngga tau kakak sakit apa. Tapi semoga kakak cepat sembuh, jangan lupa minum obat". Ucap Putri
Dewa tersenyum sambil mengusap lembut pipi Putri
"Kakak tau kamu akan selalu perhatian sama kakak". Ucap Dewa
"Itu pak! Itu penyusupnya! Dia mau culik istri saya". Ucap Tahta yang tiba-tiba datang bersama seorang security yang berjaga di depan gerbang kampus
"Engga pak, ini adik saya. Saya ngga mungkin culik adik saya sendiri". Sanggah Dewa dengan cepat
"Tapi kamu masuk tanpa izin, sama aja kamu menyusup karna kamu bukan mahasiswa disini". Ucap security itu
"Tapi pak-"
"Bawa aja, pak. Dia ini orang jahat. Buktinya dia sembunyiin istri saya disini". Ucap Tahta
"Ikut saya!". Security tersebut menarik paksa Dewa meninggalkan parkiran mobil
"Ck, kamu ngapain sih masih mau ketemuan sama dia?". Tanya Tahta sambil merapihkan poni Putri
"Aku ngga tau kalo kak Dewa disini, dia nungguin aku, narik aku kesini".
"Yaudah, sekarang kita pulang, ya. Tadi aku khawatir banget nungguin kamu dimobil".
"Maaf, kak".
"Bukan salah kamu". Tahta merangkul bahu Putri dan membawanya meninggalkan parkiran
---
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa dukungannya😚