
Berpikir bahwa satu hari tanpa masalah itu adalah mimpi sebelum tidur. Xana tidak berharap membuat masalah hari ini. Tetapi, setelah mengetahui adiknya sendiri, Melisa bekerja ketika hamil adalah kenyataan yang harus dia lihat.
"N-Nona, apa masalahnya? Dia sendiri yang minta begini agar dapat uang untuk ia lahiran nanti." seorang guru dengan percaya diri menghalau Melisa.
Xana dapat mengetahui guru itu berbohong dari cara pandang Melisa dari belakang Xana. Melisa menatap seakan terkejut akan perkataannya dan mengerutkan dahi.
"Benarkah? Maksudmu dia kekurangan uang?" Xana mendekati guru yang menghalangi dirinya dan Melisa.
"Benar! Dia adalah anak pindahan tanpa modal uang, dan kemari untuk menutupi kehamilannya, jadi..." Guru itu belum sempat melanjutkan perkataannya tetapi Xana sudah menampar keras guru tersebut.
"Besar juga nyalimu pada adikku, ya." Xana menginjak tangan guru itu kemudian mendekati Melisa.
"ADIK?!" Sontak guru lain dan siswa yang mendengarnya terkejut bukan kepalang.
"Iya, Dia Adikku, Melisa." Xana memberi jas badan Melisa.
Melisa menatap sedih ke Xana. Selama ini Melisa menyembunyikan bahwa dirinya di tindas oleh para guru dan siswi di sini.
"Sial, aku memasukkanmu ke neraka rupanya,ya" Xana kesal dan menggertakkan giginya.
Melisa langsung menangkisnya,"Tidak! aku.... Aku....."
"Tenanglah Melisa, aku akan membawamu pulang dari neraka ini" Xana tersenyum dan membelai lembut rambut Melisa.
"I-iya...." Melisa terharu sekaligus senang.
"Ayo, Segera kemasi barangmu, aku akan bantu" ajak Xana.
Xana mengajak Melisa naik dengan perlahan. Semua siswi yang mereka lewati menundukkan kepalanya untuk hormat kepada Xana. Namun Xana tidak sedikit pun meresponnya.
"Kak, aku... Takut." Melisa tampak mengangkat alisnya dengan ekspresi sedih.
"Soal apa?" tanya Xana.
"Lahiran, aku merasa apa itu akan sangat sakit atau bagaimana?" Melisa tambah gugup.
"Hmmm... Benar juga, dia yang masih begitu muda pasti sangatlah sulit dan menakutkan," Xana berpikir sejenak.
"Dengar Melisa, jangan memikirkan sakitnya. Pikirkan saja Anakmu, bagaimana ia akan hidup jika kau tidak meyakininya?" Xana menepuk pundak Melisa.
"Aku tahu, dan aku pasti akan mencoba sebatas kemampuanku, Kak! Aku akan memastikan ia akan bahagia" Melisa kembali tersenyum.
"Nah gitu, yakini sebagaimana aku meyakininya," Xana mengelus perut Melisa yang sudah lumayan besar.
Setelah selesai menata barang-barang Melisa, seseorang mengetuk pintu.
"Nona, jemputan anda sudah sampai." Ucap suara pria dari luar pintu.
"Baik, sebentar lagi." jawab Xana.
Kami menuruni tangga dari atas. Pelayan membawa semua barang yang kami bawa dan aku menuntun Melisa.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara Xana meninggalkan Sekolahan itu dan langsung pergi ke Villa miliknya sendiri.
Ketika masih dalam perjalanan Melisa masih saja menangis terharu. Ia tak menyangka Xana mempedulikannya hingga datang ke Amerika tanpa pengawalan.
"Sudahlah, toh aku juga senang melihatmu sehat," Xana mencoba menenangkan suasana.
"Kak, jika anak ini lahir, apa boleh ia memanggilmu Mama? Dia bisa memanggilku Ibu atau semacam lainnya." Pinta Melisa.
"Buat apa?" Xana tertegun.
"Aku ingin dia juga menjadi anakmu, aku tidak yakin bisa selamat atau tidak sampai melahirkannya nanti," Melsia tersenyum sedih.
"Iya juga sih, nanti kalau dia kenapa-napa pas lahiran aku juga kasihan sama anaknya, otomatis si Melisa ga tenang dong? Dehhhh yaudah deh apa boleh buat?" Xana berpikir keras.
"Ya, Baiklah ga masalah." Xana mengiyakan.
"Terimakasih kak! Aku akan berjuang melahirkan anak ini!" Senang Melisa.
Xana sendiri tidak sabar akan bagaimana bentuk seorang bayi dari Melisa. Xana yakin bahwa ia bisa menjadi Ibu yang lain setelah Melisa.
Sesampainya di Villa Xana langsung menyuruh Melisa duduk dan istirahat.
"Wah,Villa kakak gede banget! Udah lebih kayak rumah orang kaya si ini."puji Melisa.
"Haha, toh nanti kalau kamu mau ini buat kamu," jelas Xana.
"Beneran kak? Yahh aku jadi berhutang budi banyak pada kakak." Melisa menurunkan tangannya yang sudah girang.
"Kak Xana sudah sangat berharga dan berkorban untukku, karena itu suatu saat pasti akan ku membalas semuanya," Melisa percaya diri.
"Ya ya ya terserah padamu saja deh," Xana tidak ingin berdebat.
Sekarang di Villa hanya ada dia dan Melisa. Villa yang ia beli sebulan lalu ini cukup mewah hingga membuat Melisa terpesona.
"Jadi, Kapan kau akan lahiran?" tanya Xana sambil menatap selidik Melisa.
"Kalau menurut dokter sih, kurang lebih lima hari lagi," jelas Melisa.
"Udah deket, kamu udah ada perlengkapan bayi apa?" tanya Xana lagi.
"Aku udah beli popok, baju, kain, dan lainnya," jawab Melisa.
"Baguslah, sedia payung sebelum hujan," Xana menghela nafas.
"Itu semua menggunakan uang kakak, Kelak anak ini harus benar-benar patuh dan menurut pada kakak," Melisa mengelus perutnya.
Seperti kata Melisa, semua fasilitas selama ia sekolah hingga perlengkapan calon bayinya adalah hasil dari uang Xana. Tetapi Xana tidak mengungkit bahkan tidak membahas soal uang tersebut.
"Haha, yang penting sehat," jawab Xana singkat lalu naik ke atas.
Setelah Xana benar-benar sudah pergi, Melisa duduk meluruskan kakinya. Ia melihat sekeliling.
__ADS_1
Di mulai dari dinding yang terkesan elegan hingga hiasan di mana-mana yang mengkilau. Ini semua pasti sangatlah mahal. Xana membelinya tanpa berpikir panjang.
"Demiku, Kak Xana meninggalkan sejenak sekolahnya. Demi anak ini, ia berusaha memberi semua yang ia miliki agar sehat." Melisa berpikir dengan terharu.
"Nak, kelak jika kamu sudah dewasa, Ibu harap kamu bisa membalas budi Kak Xana pada kita. Kamu adalah penyemangat hidup Ibu, sayang." Melisa mengelus perutnya.
Mendekati hari kelahiran benar-benar menegangkan bagi Melisa. Ditambah beberapa hari lalu ia selalu merasakan perutnya tegang.
Hamil adalah perjuangan keras dari setiap calon ibu. Melisa sangat mencintai anaknya dan berharap anak itu tumbuh dengan baik disertai lingkungan baik pula.
"Sebentar lagi bakalan keluar nih, dedeknya," Xana duduk dan memakan camilan.
Malam itu mereka menonton bersama karena bosan.
"Yeah, Kakak sendiri bagaimana soal ujiannya?" tanya Melisa.
"Yeah, setelah kau melahirkan beberapa hari kita berangkat kembali." Jawab Xana.
"Benarkah? Mendadak banget?"
"Aku mau ambil raport, dan ada urusan lain...." jawab Xana sembari makan.
"Benar, aku harus memberi pelajaran para cewek sialan itu," batin Xana menggeram.
Sekarang sudah pukul 7 malam, dan Melisa merasa perutnya menegang kembali.
"Kak, aku... Kok sakit..." Melisa mengeluh.
"Loh,Mel? Kamu udah pecah ketubannya? Astaga!" Melisa teriak histeris melihat kaki Melisa yang sudah bercucur darah.
"Kak, bagaimana ini?" Melisa panik.
"Tomii!! Tomiii!! COME HERE!!" Panggil Xana pada ajudannya.
"Iya nona?" Tomi datang.
Xana sudah merangkul Melisa.
"Bantu saya gendong melisa! Segera siapkan Mobil! Cepat!" Perintah Xana.
Semua pelayan di rumah tersebut langsung sigap. Xana dan Melisa langsung berangkat ke Rumah sakit terdekat.
Sementara itu, pelayan lain menyusul dengan membawa perlengkapan bayi serta makanan.
Di dalam mobil Melisa sudah merintih kesakitan.
"Aaakhhh! kak! Sakiiitt....." Rintih Melisa.
"Tarik nafas perlahan Mel! Tetap sadar Mel!" Xana berusaha menenangkan Melisa yang sudah panik.
-Bersambung...
__ADS_1