Aku Dan Ketiga Kakakku

Aku Dan Ketiga Kakakku
Bersama Ayah dan Ibu


__ADS_3

"Kak Tahta?".


Tahta berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia pun membawa Putri keluar, jauh dari kerumunan penonton


"Kamu bandel ya, aku kan ngelarang kamu dateng ke tempat aku balapan..."


"Pake masker sama topi segala? Biar aku ngga tau?". Tanya Tahta sambil melepaskan masker dan topi yang Putri pakai


"Hehe, tapi kok kamu tau ini aku? Aku kan nyamar". Ucap Putri


"Sambil merem pun aku tau tiap inci tubuh kamu kayak gimana..."


"Ngga mungkin aku ngga tau kalo ini kamu". Ucap Tahta


"Hmm, aku cuma mau liat kakak balapan kok".


"Kesini sama siapa?".


"Kak Dewa sama Nindi".


"Terus mereka kemana?".


"Lagi jajan, aku nyari kakak sendirian".


"Ya ampun, alasan aku ngelarang kamu kesini karna disini banyak cowok, sayang..."


"Kamu terlalu berharga, aku ngga mau kamu digodain atau dilecehin, dan kamu berani banget nyari aku sendirian". Ucap Tahta


"Maaf, jangan marah". Ucap Putri meraih tangan Tahta


"Aku ngga marah, tapi lain kali dengerin omongan aku". Ucap Tahta


"Iya, iya". Ucap Putri bersuara pelan


"Kamu mau minum apa? Biar aku beliin dulu". Ucap Tahta


"Ngga usah, kakak udah mau balapan?".


"Belum, sebentar lagi. Aku ngabarin bang Dewa dulu kalo kamu ada sama aku". Ucap Tahta sambil merogoh ponsel disaku jaketnya


Tahta mengambil posisi jongkok dibawah Putri yang sedang duduk di kursi taman disekitar lokasi tersebut, ia mengirim pesan singkat untuk kakaknya. Sementara Putri, tangannya menyisir rambut Tahta dengan jari-jarinya


"Kak?". Panggil Putri, Tahta pun mendongak dan mengangkat kedua alisnya sebagai respon


"Disana banyak cewek-cewek yang pake baju sendiri se xy, kakak ngga ke goda?". Tanya Putri


"Engga, dimata aku cuma ada istri aku". Jawab Tahta


"Ish, malah gombal".


"Aku serius, sayang. Aku kesini buat balapan, bukan ngeliatin cewek-cewek. Aku pun ngga tertarik, karna ngga ada yang se-cantik, se-sempurna, se-se xy kamu".


"Terus kalo ada yang kayak aku, kamu tertarik?".


"Sayangnya ngga ada. Kamu itu satu-satunya yang sempurna".


"Stop it, aku malu".


"Iya keliatan, pipinya merah..."


"Kesana yuk, gabung sama temen-temen aku dulu, sambil nunggu giliran aku". Ucap Tahta


"Gapapa aku gabung?".


"Gapapa, nanti temen-temen aku yang jagain kamu disana".


Putri pun mengangguk dan bangun dari duduknya


"Kasih aku semangat dulu". Pinta Tahta sambil melingkarkan kedua tanganannya pada pinggang Putri


"Eh? Gimana?". Tanya Putri


Tahta menangkup wajah Putri dan ia cium tepat dibibirnya selama beberapa detik


"Begitu, itu namanya kasih semangat". Ucap Tahta mengusap bibir Putri yang basah karena ciumannya


"Emang ngga ada yang liat?". Tanya Putri


"Ngga ada, kan jauh, agak gelap juga". Jawab Tahta


"Kita kayak ABG yang pacaran ngumpet-ngumpet".


"Hehehe, sisanya nanti aja, dirumah".


Cup, Tahta mengecup singkat telinga Putri


"Ih, nakal. Mesumnya kumat". Ucap Putri


"Ngga sabar pengen cepet-cepet pulang, yuk, kesana dulu". Ucap Tahta diangguki oleh Putri


Satu jam telah berlalu, Tahta sudah melakukan dua putaran balap motor, ia pun dinyatakan menang dan mendapat uang sebesar dua belas juta. Uang hasil gabungan dari tiga kelompok geng motor yang ikut bertaruh pada pertandingan malam itu


Tahta memberikan seluruh uang tersebut kepada teman-temannya untuk bersenang-senang, ia pun segera berpamitan dan pergi meninggalkan lokasi


"Kenapa kak Tahta langsung pulang? Ngga gabung sama temen-temennya dulu?". Tanya Nindi


"Kakak ngga pernah ikutan, Nin. Selesai balapan pasti langsung pulang. Mending bobo sama Mput". Jawab Tahta


"Hehe, iya, iya". Ucap Nindi


"Ayo masuk, kamu keliatan capek tuh, ngantuk". Ucap Dewa mengusap pipi Putri

__ADS_1


"Aku naik motor aja ya, kak. Sama kak Tahta". Ucap Putri


"Loh, dingin sayang. Angin malam, naik mobil aja". Ucap Tahta


"Ngga mau, mau sama kakak". Ucap Putri menatap Tahta


"Tapi, sayang-"


"Yaudah, Ta. Sama lu aja..."


"Jaketnya pake yang bener ya, biar ngga kedinginan". Ucap Dewa diangguki oleh Putri


"Jalannya pelan-pelan aja, dingin". Ucap Dewa pada Tahta


"Siap".


Dewa pun membawa Nindi masuk kedalam mobilnya sementara Putri dan Tahta berjalan menuju motor sport merah milik Tahta


"Nih, pake". Ucap Tahta yang hendak memakaikan helm di kepala Putri


"Ngga mau". Ucap Putri


"Ya ampun, pake sayang. Nanti kalo kita jatoh kepala kamu aman".


"Kakak, ih! Balapan bisa, ngga jatoh, masa naik motor pelan-pelan bisa jatoh?".


"Haha, bercanda, sayang. Yaudah kalo ngga mau pake". Tahta memasukkan satu tangannya kedalam celah dari kaca yang terbuka pada helmnya


Ia pun melajukan motornya pelan-pelan sambil menikmati perjalanan malamnya bersama Putri


"Dingin ngga? Mau di dobel pake jaket aku?". Tanya Tahta


"Engga, kak. Gak terlalu dingin kok..."


"Tadi aku denger kakak diajak balapan lagi minggu depan?". Tanya Putri


"Iya, mobil". Jawab Tahta


"Emang kakak ngga trauma waktu balapan sama kak Raja terus kecelakaan?". Tanya Putri


"Engga. Waktu sama Raja sih bukan balapan, dia itu sengaja ngejar mobil kakak buat celakain kakak..."


"Kalo balapan kan serius, niatnya bukan celakain orang". Ucap Tahta


"Jadi gimana? Kakak mau ikut lagi?".


"Hmm, kayaknya engga. Kalo mobil Panji sendiri juga bisa menang".


"Yaudah, kak Panji aja".


"Iya, sayang. Kakak dirumah aja sama kamu".


---


Ambisi mereka untuk memiliki anak, menuntutnya agar sering berhubungan in tim, sesuai anjuran dokter untuk meningkatkan peluang kehamilan


Melihat di sampingnya sudah tidak ada Tahta, Putri pun menyingkap selimut dan memakai gaun tidurnya yang ada di ujung ranjang


"Jam tujuh". Batin Putri sambil menatap jam dinding


"Kak Tahta kemana, ya"


Deru mesin mobil terdengar diluar kamarnya, Putri pun berjalan cepat menuju jendela kamar yang langsung menghadap keluar rumahnya


"Lah, itu kak Dewa mau kemana?"


"Jangan-jangan kak Tahta pergi juga"


Tanpa pikir panjang, Putri segera keluar dari kamarnya dan menuruni tangga untuk memastikan keberadaan Tahta


"Bi! Bibi! Kak Tahta diman-"


"Kenapa, cantik?". Ucap Tahta dari area kolam renang, Putri pun menghela nafas lega


"Hehe, itu den Tahta, non. Lagi olahraga..."


"Non Putri mau bibi buatkan susu hangat?". Tanya bi Ida sambil tersenyum


"Boleh, bi". Jawab Putri sebelum meninggalkan dapur dan menghampiri Tahta di area kolam renang


"Kenapa sih? Kok panik?". Tanya Tahta


"Aku kaget liat kak Dewa pergi, aku kira kakak pergi juga". Ucap Putri


"Kakak ngga kemana-mana. Bang Dewa itu mau jemput Nindi, mau ke kantor WO". Ucap Tahta, Putri mengangguk paham


"Sini work out bareng aku". Ucap Tahta


"Ngga mau kak, badan aku pegal".


"Justru itu, sayang. Kamu selalu ngeluh pegal, sakit pinggang setiap kita habis, itu. Jiwa muda tapi badan jompo".


"Ngeledek, ih".


"Kamu mau kakak beliin beberapa alat ngegym? Buat dirumah?".


"Ngga mau, aku terlalu males buat ngegym".


"Dasar, males terus".


Tahta kembali mengambil posisi push up diatas matras yang sudah ia gelar, ia pun memulai gerakannya dengan menggunakan satu tangan yang ia gunakan sebagai tumpuan tubuhnya, satu tangannya lagi ia lipat diatas pungungnya, ia lakukan secara bergantian

__ADS_1


Setelah push up, Tahta melakukan gerakan sit up, plank dan lain-lain. Putri memperhatikan Tahta sambil menikmati susu hangat yang sudah dibuat oleh bi Ida


"Ya ampun, ototnya...macho banget kalo lagi olahraga gini..."


"Keringet nya juga, keliatan hot, jadi makin ganteng"


Putri tersenyum sambil mengagumi wajah suaminya itu, tanpa disadari, Tahta sudah bangun dari posisinya dan menjentikkan jari tepat di depan wajahnya, membuat Putri tersentak dan sadar dari lamunannya


"Ayo mandi. Aku mau kerumah ayah, mau ngajak ayah sama ibu jalan-jalan sekalian beli baju". Ucap Tahta mengusap kepala Putri


"Serius?". Tanya Putri


"Iya, sayang". Jawab Tahta


"Kamu perhatian banget, sih". Ucap Putri


"Mereka itu orang tua aku juga, mereka udah baik banget sama aku, udah sayang sama aku..."


"Yuk". Tahta menggendong Putri seperti koala dan membawanya menuju kamar mereka untuk mandi dan bersiap


Dua jam telah berlalu, Putri, Tahta, Melly dan Ibrahim sedang berada disebuah mall yang cukup besar yang ada di pusat kota. Tahta membawa kedua mertuanya untuk membeli pakaian dan kebutuhan lainnya


Saat ini, mereka sedang berada di dalam toko sepatu, Putri sedang memilih sandal dan sepatu yang cocok dan pas untuk sang ayah, sementara Tahta terlihat sedang memilih bersama Melly


Tahta mengambil beberapa pasang sepatu dengan hak yang tidak terlalu tinggi untuk ibu mertuanya itu. Tahta pun berlutut dan memasangkannya di salah satu kaki Melly


"Bagus kan bu. Pas, lagi". Ucap Tahta sambil mendongak menatap Melly yang sedang tersenyum


"Bagus, nak. Tapi apa ngga terlalu heboh buat ibu? Keliatannya lebih cocok buat anak muda". Ucap Melly


"Cocok kok buat ibu, ibu jadi makin cantik pakai ini..."


"Simpan dulu ya bu, biar Tahta ambil yang lain". Tahta melepas kembali sepatunya dari kaki Melly dan ia masukkan kedalam keranjang belanja


Tiga pasang sepatu hak dan dua sandal sudah Tahta pakaikan di kaki ibu mertuanya, semuanya terlihat pas dan cocok dipakai Melly. Tahta pun segera membayar seluruh belanjaannya yang ia beli di toko tersebut


"Ayo Yah, bu". Tahta mengulurkan tangannya pada Melly, Melly pun melingkarkan tangannya pada lengan Tahta, sementara Putri menggenggam tangan sang ayah. Kini mereka berjalan menuju toko perhiasan


Disana, Tahta membeli satu set perhiasan emas dan berlian untuk Melly, serta membeli dua keping logam mulia dengan berat masing-masing lima puluh gram untuk Ibrahim


Awalnya Melly dan Ibrahim menolak keras pemberian dari menantu mereka itu. Namun Tahta memaksa. Tahta memberikan itu semua sebagai bentuk rasa terimakasihnya karena Ibrahim dan Melly sudah sangat menyayanginya sebagai anak dan menantu


Mereka pun juga selalu mendukungnya dalam hal apapun. Ia yakin, semua keberhasilan yang ia capai saat ini tidak lepas dari doa yang mereka panjatkan. Jadi, Tahta ingin membahagiakan kedua mertuanya itu dengan hasil jerih payahnya


Hari semakin siang, setelah selesai berbelanja seluruh kebutuhan kedua mertuanya. Tahta membawa mereka ke sebuah tempat makan. Sambil menunggu, mereka saling berbincang berbagai macam hal


"Syukur alhamdulillah kalau bisnis kafe kamu semakin maju dan ramai pengunjung". Ucap Ibrahim


"Alhamdulillah, Yah. Itu semua karna doa ayah dan ibu. Tahta bersyukur, terima kasih banyak, Yah, bu". Ucap Tahta mengusap tangan Ibrahim


"Sama-sama, nak. Ngga ada lagi yang bisa ayah dan ibu lakukan selain mendoakan kamu". Ucap Ibrahim


"Oh iya, kapan-kapan ibu sama ayah ke kafe dong, kita ngopi sambil ngemil, enak deh". Ucap Putri pada kedua orang tuanya


"Setiap hari ayah juga ngopi dirumah, nak". Ucap Ibrahim


"Tapi kopi di kafe sama dirumah beda, Yah. Ayah cuma minum kopi hitam tanpa gula kan? Kalo di kafe kopinya banyak, ayah bisa coba kopi yang paling hits disana, best seller". Ucap Putri


"Tetap aja lambung ayah cuma nerima kopi hitam sama teh. Kopi susu aja ngga suka, hihi". Ucap Melly


"Pokoknya ayah sama ibu kabarin Tahta aja kalau mau main ke kafe, nanti Tahta jemput". Ucap Tahta


"Iya nak". Ucap Ibrahim



"Kak, kerumah Luna dulu yuk, aku mau jenguk ibu nya, udah sembuh belum ya". Ucap Putri


"Boleh, mau bawa apa buat Luna sama ibunya? Kita beli dulu". Ucap Tahta


"Jajanan aja kak, ke minimarket dulu, terus beli buah-buahan buat ibunya".


"Yaudah".


Setelah mengunjungi minimarket dan toko buah Putri dan Tahta segera menuju rumah Luna. Hampir dua bulan lamanya mereka tidak berkunjung kesana, dan saat terakhir kali mereka kesana, ibu Luna sedang sakit, kini mereka datang untuk menjenguknya


Lima belas menit perjalanan, mereka tiba sebuah rumah kayu yang terlihat berbeda dari kondisi terakhir yang mereka lihat


Rumah Luna terlihat sudah rusak di beberapa bagian, halaman depannya pun sangat kumuh dan banyak sampah plastik serta dedaunan kering di sekitarnya


Putri dan Tahta turun dari mobil, mendekati pintu masuk dari rumah Luna


"Kok jadi kayak gini ya, kak. Kayak udah ngga di tempatin". Ucap Putri


"Mungkin ibu nya Luna masih sakit, belum bisa bersih-bersih, coba ketuk dulu". Ucap Tahta diangguki oleh Putri


Putri pun mengucap salam sambil mengetuk pintu. Berulang kali, namun tidak ada jawaban dari dalam


"Mas, mbak. Cari siapa?". Tanya seorang wanita paruh baya yang kebetulan melewati rumah Luna


"Cari bu Yuni sama Luna bu, kemana ya?". Tanya Putri


"Loh, Luna udah dibawa ke panti asuhan mbak, soalnya ngga ada yang ngurus, kan bu Yuni udah meninggal".


"Hah". Putri dan Tahta terkejut kompak


Putri membungkam mulut dengan telapak tangannya, seketika matanya berkaca-kaca mengingat Luna


"Luna, kasihan banget kamu, sayang"


---

__ADS_1


Bersambung...


seperti biasa guys, jangan lupa dukungannya biar aku semangat update


__ADS_2