Aku Dan Ketiga Kakakku

Aku Dan Ketiga Kakakku
Bab 53 Anjani


__ADS_3

"Uhuukk uhukkk, aku cuma mau mastiin dia belajar." Kak Sean tahu bahwa adiknya minta penjelasan langsing darinya.


"Harus pagi buta banget,ya?" Kak Albert bertanya dengan nada kesal.


Kakaknya yang paling tua malah sangat jahil di hari penting begini. Mana lagi pagi buta, bukankah itu sangat mengganggu?!


Mengetahui kakaknya sedang tidak akur, Xana segera memecah suasana.


"Yaudah ini kenapa kalian nelpon - nelpon?" tanya Xana dengan wajah sedikit ceria.


"Tadinya si kangen aja, kalo sekarang....." kak Petra tidak meneruskan perkataannya dan menunggu lama.


"Sekarang? Kenapa sekarang? Kalo ngomong jangan suka diputus putus dong kak!" Sebal Xana pada Kakaknya yang suka memutus omongan.


"Kalo Sekarang Kangen banget! bawel...." Kak Petra tersenyum sinis dengan mata sedikit nakal.


"Wow, aku yakin salah satu dari kalian ada yang pacaran...." Xana curiga.


"Apaan? Boro-boro pacaran, deket sama cewe aja kaga" Kak Petra meyakinkan.


"Aduuhhh Kakak-kakakku padahal ganteng banget! Tapi ya wajar si, ga selera sama yang gampangan. Dasar!" Xana memberi kode pada Lea.


'hah? Gampangan? Maksudnya Kak Petra? Jadi Kak Petra lebih suka wanita yang menantang begitu?' Lea langsung nyambung.


Kak Albert meminum susu kotaknya yang sudah dari tadi dibuka.


"Udah belajar belom?" tanya Kak Albert.


"Udah tadi, sekarang mau cari camilan, hehe laper...." Xana nyengir ke kamera hp nya.


"Baby, Jangan sembarang makan makanan yang murah ya! Ntar sakit siapa yang ngurusin?" Kak Petra mengejeknya.


"Mama, kan deket sini. Kalo kalian? Ga bisa ya? Utututu.... Kacian, mau ngejek orang eh malah di ejek balik." Xana mematikan telepon karena ingin lari dan mengakhiri bicara pada Kedua kakaknya yang prik itu.


[*Prik / Freak \= Aneh]


Xana dan Lea segera pergi keluar dan mencari udara segar dengan makanan ringan. Bukan karena ga mau makan stok atau beli di kantin, tapi mereka ingin membeli barang-barang lucu yang bisa di pakai di sekolah atau kuliah.

__ADS_1


"Wah! Barang-barang di toko ini lucu banget sih?! Liat tuh, masa iya ada gantungan model ****** begini?!" Lea histeris saat ada di toko Stationery dekat tempat mereka baru saja makan.


"Udah biasa aja kali, kita kudu cepet terus sekolah!" Sela Xana.


Benar saja, mereka datang tepat waktu dan langsung ke kelas mereka. Ketika keluar mereka sudah memakai pakaian sekolah dan hanya membeli beberapa peralatan kecil.


"Asli, sejak kapan gue begini? Dulu perasaan gue sama sekali ga suke barang-barang pink begini bahkan yang lucu sekalipun?!" Lea masih tergemas gemas dengan barang belanjaannya.


"Sejak lo berteman ama gue!" Jawab Xana santai.


"Iya juga si, lo kan racunnya!" Lea kembali fokus pada alat tulis cantik miliknya.


Semenjak berteman dengan Xana, kepribadian Lea seolah berubah 180° dan menjadi gadis berakal budi baik. Dulunya, Lea amat suka memfoya-foyakan uangnya untuk tas brand baru bahkan pakaian mewah. Tapi dengan Xana, ia lebih suka barang unik,lucu, dan sangat berwarna. Ia bahkan memiliki lebih banyak tabungan.


Ujian kali ini sama saja, tetap mudah bagi Xana dan Lea. Setiap harinya, ujian mereka tidak hanya soal sekolah. Tapi juga dalam beberapa hal spiritual.


Tak terasa Ujian sudah berakhir dan besok sudah saatnya libur sekolah menuju hari kelulusan. Ini adalah waktu yang bagus untuk anak-anak lain dengan berfoto sebanyak-banyaknya dan menjadi kenangan.


Namun, Xana dan Lea tidak ikut serta. Ditawari sekalipun, mereka akan menolak. Sejak kecil Xana tidak suka asal bergaul. Karena, jika salah sedikit saja maka kita akan salah seterusnya dalam pergaulan yang sulit keluar dari dalamnya.


"Gue merasa ga enak banget,sih?!" Lea membuka obrolan di cafe tempat mereka istirahat setelah berfoto di taman air.


"Gak, selama ulangan kemarin ga ada halangan atau gangguan apapun. Gue curiga ntar bakal banyak masalah yang nunggu gua nih." Lea menceritakan instingnya.


"Gua juga ngerasa, tapi nikmati aja selagi bisa, ya kan?" Xana menjawab dengan santai.


"Ah! Lo pokoknya harus hati-hati ya! Gua takut kalo gini mah" Lea panik.


"Santai, bodyguard gua banyak." Santai lagi.


Di tempat lain, Leon yang sedang menerima surat liburnya akhirnya pulang. Ia senang karena bisa bertemu lagi dengan pujaan hatinya. Karena sedikit sepantaran, Leon yang masih kuliah pun harus sabar menunggu hari libur yang kadang ga pasti.


"Dia lagi apa ya? Jadi kangen..." gumamnya.


"Darrrrr!!!" Seorang wanita dengan pakaian sexy menyentuh pundak Leon dan berusaha memeluknya.


Dengan sigap Leon menyingkirkannya dan menolak dipeluk.

__ADS_1


"Who are you?" Leon bertanya formal.


"Hey! Masa lupa sih? Ini aku, Anjani! Temen sekolah dasar dulu, masa lupa sih?" Anjani tertawa lebar.


"Ha? Oh Anjani, apa kabar?" Leon sedikit lupa dan bersalaman dengan Anjani.


Anjani hanya tersenyum melihat Leon menyodorkan tangannya, dengan cepat ia memeluk Leon dan berkata " lo tuh sama gue ga usah sok cuek kali!".


"Lepas! Ga usah peluk-peluk, gua jijik!" Leon menghardiknya.


"Apaan si, lo dulu kan ga ada temen sama sekali kecuali gue?! Masa lo dah lupa? Ngeselin banget sih!" Anjani tampak ngambek dan mengamuk.


"Terserah lo mau gimana, jungkir balik aja gua gak masalah. Bye!" Leon meninggalkan Anjani dan pergi begitu saja.


Leon masuk ke mobil dan pergi pulang.


"Hem.... Sihir apa yang di pake cewek itu ke Leon? Selama temenan sama gue aja, dia jarang ngomong. Apa lagi keluarganya yang sok keren itu,liat aja.... Kalo papa gue jadi walikota di kotanya Xana. Lo dan dia bakal hancur! And yeah.... Lo bakal jadi punya gue, Leon!" Anjani memakai kacamatanya dan pergi begitu saja dengan mobil mewahnya.


Anjani weldennia, putri bungsu dari 2 bersaudara. Ia miliki seorang kakak yang katanya sangat kejam dan kasar di dunia mafia kota Xana. Ayahnya, yang sekarang adalah pengusaha impor daging nomor satu sedang mencalonkan diri menjadi walikota.


Dahulu, ketika Leon kehilangan Xana saat ia masih sangat lemah dan tidak memiliki keinginan hidup. Ia bertemu Anjani dan berkenalan. Leon sama sekali tak menganggap Anjani teman. Baginya, Anjani hanyalah wanita yang pasti ada maunya seperti teman lainnya.


Leon yang kesepian dan murung karena Orang tua yang sibuk dan membawa adik satu-satunya pergi bisnis dunia pun mulai dewasa oleh keadaan. Meskipun sudah begitu dewasa, Leon masih saja dingin pada Anjani yang bahkan ia tidak tahu latar belakang keluarganya.


"Lo bisa ga sih, ga ikutin gua terus. Ga cape apa tuh kaki?" Leon bertanya karena sudah bosan diikuti.


"Ngga, kalo ngikuti kamu tuh ya energi ku bakal keisi terus, karena apa? Karena lo adalah pangeran gue hahahah! Norak banget ya?" Tawa anjani yang besar membuat Leon semakin jijik.


Hingga akhirnya ia bertemu dengan Xana kembali ketika di culik, sangat terasa bedanya ia dengan Sherly. Keberanian dan keanggunan yang tertutup rapat dalam kata Elegan itu telah membuatnya jatuh hati.


Bahkan, hingga kini ia masih tak percaya telah menemukan orang yang ia cari-cari selama ini. Namun kehadiran Anjani membuat ia cemas kalau Xana akan berpikiran macam-macam nantinya.


"Duh, kalo dia mikir aneh-aneh gimana ya? Tapi kan ini Inggris? Masa iya dia tau siapa Anjani?" Leon berpikir keras agar Xana tidak perlu tahu hal ini.


"Kalo gua bohong, dia marah ga ya?" Leon berpikir keras.


-BERSAMBUNG.....

__ADS_1


Halo~ jangan lupa follow instagram @mortoon._


Makasi(⌐■-■)


__ADS_2