Aku Dan Ketiga Kakakku

Aku Dan Ketiga Kakakku
Sejak Saat Itu


__ADS_3

"Kakak nyium a-"


"Ssstt". Tahta berdesis sambil menutup bibir Putri dengan telunjuknya


"Ngga boleh protes hehe".


Setelah mengecup singkat bibir sang adik, Tahta memeluk tubuh Putri, ia menjatuhkan kepalanya disalah satu bahu kecil gadis itu


Putri yang lagi-lagi terkejut, hanya bisa menghela nafas panjang dan membalas pelukan Tahta, ia usap sambil sesekali ia tepuk-tepuk pelan punggung lebar tersebut


Lambat laun, suara isak tangis mulai terdengar. Ya, Tahta menangis. Putri yang ingin melepas pelukan mereka untuk menatap wajah Tahta, tubuhnya ditahan oleh laki-laki itu.


Tahta semakin mengeratkan pelukannya, mengunci pinggang ramping gadis cantik itu yang kini sudah mengisi kekosongan didalam hatinya


Tidak ada yang bisa Putri lakukan saat ini, ia lanjutkan gerakan tangannya untuk mengusap punggung Tahta dengan harapan dapat membuat Tahta sedikit tenang dan bersedia menceritakan alasannya menangis secara tiba-tiba seperti ini


"Jangan...pergi".


Hanya dua kata yang Tahta ucapkan disela-sela tangisannya. Putri pun mencoba mencerna maksud dari ucapan sang kakak


"Maksud kakak? Aku ngga kemana-mana, aku disini sama kakak".


Tahta melepas pelukan mereka, ia tatap lekat-lekat sepasang mata indah dihadapannya setelah menghapus sisa air mata dipelupuk matanya


Putri pun sama hal nya, ia tatap kedua mata Tahta sambil mengerjap gemas, ia belum paham apa maksud ucapan laki-laki tampan itu


"Jangan pergi". Ucap Tahta sekali lagi


"Iya, aku disini sama kakak". Tahta terkekeh, Putri menautkan kedua alisnya menatap sang kakak yang sedang tertawa


"Maksudnya, jangan pergi kemana-mana, tinggal dihati kakak aja".


Putri terdiam, sejujurnya ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia masih tidak percaya dengan pernyataan cinta yang diungkapkan sang kakak


Dan ribuan pertanyaan tentang asal-usul rasa cinta tersebut masih berputar-putar di kepalanya. Ia penasaran, sejak kapan sang kakak mulai jatuh cinta kepadanya


Tahta memiringkan kepalanya menatap wajah Putri yang nampak serius seperti sedang berfikir. Tahta pun berinisiatif untuk menciumnya kembali. Namun Putri berhasil menahan kedua bahunya saat bibir mereka sudah hampir menempel satu sama lain


"Kak, kita ngga boleh kayak gini".


Tahta mengernyit,


"Kenapa? Kamu bukan istri orang kan?".

__ADS_1


"Iya, tapi aku pacar kak Raja. Kakak tega sama kakak kandung sendiri?".


"Haha, emang ada ya, orang yang ngga tega sama saingan nya?..."


"Terus salahnya dimana kalo kakak sama Raja cinta sama cewek yang sama?..."


"Setiap orang punya hak kan mau jatuh cinta sama siapa?". Tanya Tahta


"Iya tapi kakak ngga boleh cinta sama ak-"


"Kenapa? Dewa boleh cinta sama kamu, Raja boleh cinta sama kamu, kenapa kakak engga?".


Putri terdiam lagi, ia mengalihkan wajahnya kearah lain


"Aku bingung, kenapa tiba-tiba kakak jadi kayak gini, sejak kapan".


"Namanya perasaan seseorang ngga ada yang tau sayang, bisa tiba-tiba cinta bisa tiba-tiba benci, ya kan?".


"Liat kakak". Ucap Tahta sambil meraih dagu Putri


"Semua berawal dari Raja yang selalu bikin kamu sedih..."


"Jangan mau dibodoh-bodohin sama cinta, buka mata kamu, udah berapa kali Raja nyakitin kamu? Berapa kali Raja ingkar janji? Dia terus-terusan ngelakuin kesalahan tapi kamu selalu maafin dia, jadinya kebiasaan..."


"Dia menganggap remeh setiap kesempatan yang kamu kasih. Mau diulang sampai kapan Mput?".


"Jangan larang kakak buat cinta sama kamu". Ucap Tahta


"Tapi kakak tau kan, aku cintanya-"


"Iya kamu cintanya sama Raja. Jadi yaudah, biarin ini jadi urusan kakak sendiri, karna kakak gak bisa maksain perasaan kamu buat cinta sama kakak". Ucap Tahta


"Ya terus buat apa kakak cinta sama aku yang jelas-jelas cinta sama orang lain?".


"Gapapa. Mungkin nasib kakak sama kayak Dewa, jatuh cinta sepihak".


"Kaaak-"


Cup, Tahta melabuhkan kecupan singkatnya tepat diatas kening Putri


"Udah ya jangan dipikirin, yang penting kamu udah tau perasaan kakak ke kamu. Selanjutnya terserah kamu..."


"Yang pasti, kalo kamu butuh kakak, kakak akan selalu ada buat kamu. Kapan pun". Ucap Tahta sambil mengusap lembut pipi Putri

__ADS_1


"Pulang yuk, kepala kakak pusing banget".


Putri mengangguk pelan. Sudah lah, ia tidak tahu harus berbicara apa lagi perihal perasaan Tahta untuknya. Ucapan Tahta benar, semua orang berhak jatuh cinta kepada siapa pun. Dan iak bisa menghentikan itu.


Putri menghela nafas panjang. Akan kah hubungannya dengan Raja lagi-lagi akan membuat seseorang tersakiti? Seperti sang kakak pertama yang lebih dulu menyimpan perasaan untuknya, namun mengalah karena Putri lebih memilih bertahan dengan Raja


---


"Pagi kaaak".


"Haaay, pagi cantik".


"Ada apa kesini pagi-pagi?". Tanya Dewa setelah pelukan mereka terlepas


"Mau nganter bubur buat kak Tahta. Udah sembuh belum ya?".


"Semalem sih masih ngga enak badan katanya, tapi ngga tau kalo sekarang. Ke kamarnya aja sana..."


"Oh iya kamu udah sarapan belum?".


"Udah kak. Aku ke kamar kak Tahta dulu ya".


"Iya sana".


Dewa mengusap kepala Putri sebelum Putri menaiki tangga menuju kamar Tahta


"Raja lagi ngapain ya?".


Langkah Putri terhenti saat pintu kamar Raja terbuka, memperlihatkan sosok laki-laki tampan yang sedang keluar dari kamarnya


"Sayaang?".


Raja berhambur memeluk Putri, Putri pun membalas pelukan hangat laki-laki itu


"I miss you". Ucap Raja sambil mengusap pipi Putri. Putri pun tersenyum dan meraih tangan Raja yang berada di pipinya, ia kecup telapak tangan besar tersebut dengan lembut


"I miss you too".


Raja tersenyum, ia raih dagu Putri untuk mencium bibir tipis yang selalu menjadi candu untuknya. Namun Putri menahannya dengan menempelkan telunjuknya pada bibir Raja


"Sebentar, aku ngasih bubur buat kak Tahta dulu".


Raja menghela nafas berat sebelum mengangguk dan melepaskan Putri untuk masuk kedalam kamar sang adik

__ADS_1


Bersambung pemirsaah---


Yuk di like dulu biar aku semangaat


__ADS_2