
"Kamu kenapa nangis sayang?". Tanya Tahta sambil mengusap air di pelupuk mata Putri
"Aku terharu...akhirnya kesembuhan kaki kakak meningkat, pelan-pelan kakak bisa jalan lagi, ngga perlu kursi roda. Aku seneng banget".
Tahta tersenyum melihat Putri yang berbicara sambil mengusap air matanya. Tahta tarik tubuh istrinya itu dan ia dekap seerat mungkin didalam pelukannya
"Kakak juga seneng banget. Ini semua kayak mimpi buat kakak, kakak bisa sembuh lebih cepat dari perkiraan dokter". Ucap Tahta
"Iya, alhamdulillah. Semoga kakak bisa sembuh sepenuhnya sebelum wisuda".
"Aamiin".
Cup, Tahta melabuhkan kecupannya dipuncak kepala Putri
"Oh iya, kakak mau makan apa? Biar aku masakin".
"Apa aja, semua masakan kamu pasti kakak makan".
"Hehe, biarpun ngga enak?".
"Masakan istriku selalu enak".
"Hmm bisa aja mujinya, sini aku cium".
Putri meraih wajah Tahta dan mengecup tepat pada bibirnya
"Aku ganti baju dulu ya, mau masak". Ucap Putri
"Iya, cintaku".
Sepuluh menit berlalu, Tahta yang sudah bosan memainkan ponselnya, memilih untuk menghampiri Putri yang sedang berada didapur sambil memegang tembok disekitarnya
Setibanya didapur, ia dekati sang istri yang sedang sibuk dengan kegiatanya, ia peluk dengan erat pinggang ramping istrinya itu hingga kepalanya menoleh kesamping
"Kaaak, aku lagi masak. Nanti dulu ya". Ucap Putri
"Kangen". Ucap Tahta
"Sebentar lagi ya. Lepasin dulu". Ucap Putri
"Engga, ngga mau, mau peluk kamu". Ucap Tahta sambil menggeleng-gelengkan kepalanya
Putri tersenyum sambil menghela nafas dalam
"Kumat manjanya".
Tahta menjatuhkan kepalanya disalah satu bahu Putri
"Wangi banget sayang". Ucap Tahta
"Hehe iya dong, kan masakan spesial buat kamu".
"Maksud aku ini yang wangi..."
Cup, ia kecup leher jenjang seputih susu itu dengan lembut, membuat Putri menggeliat
"Eum...wangi kesukaan aku". Ucap Tahta sambil menghirup dalam-dalam ceruk leher Putri
"Kakak, sebentar". Ucap Putri
"Hmm, aku ganggu ya".
"Engga, tapi aku lagi masak, agak ribet juga dipeluk gini".
__ADS_1
"Biarin, aku mau peluk kamu, masaknya pelan-pelan aja".
Tahta kembali mengecup-ngecup leher Putri, sesekali ia berikan gigitan kecil yang menimbulkan bekas tipis berwarna merah dipermukaan kulitnya
"Kamu iseng, ih". Ucap Putri sambil mematikan kompornya
"Udah selesai?". Tanya Tahta
"Udah, aku taro di piring dulu, awas kamu nya". Ucap Putri melepaskan tangan Tahta dari pinggangnya
Putri segera meraih lalu ia sajikan masakan itu diatasnya. Sementara Tahta berjalan menuju meja makan
"Sayang, Raja ngga nanya apa-apa kan tadi? Dia ngga tau kan kita udah ngga tinggal dirumah ayah?". Tanya Tahta
"Engga. Tapi kak Raja bilang dia mau kerumah, mau anter makanan buat ayah sama ibu kayak biasa". Ucap Putri
"Semoga ayah sama ibu ngga ngomong apa-apa". Ucap Tahta
"Tapi aku khawatir kak, takut kak Raja marah sama ayah ibu karna rahasiain tempat tinggal kita".
"Ngga mungkin marah, sayang. Raja itu ngga berani marah ke orang tua. Paling dia nelfon kakak atau kamu, nanya alamat kita".
"Hmm, iya sih..."
"Yaudah makan dulu yuk, aku suapin. Habis itu minum obat". Ucap Putri diangguki oleh Tahta sambil tersenyum
---
"Kan gue udah bilang, gue bakal jauhin Mput dari lu".
"Ngga bisa, Putri adik gue".
"Halah, kalo lu anggap Mput adik lu, lu ngga bakal kayak gini bang..."
"Beda. Gue ngga mau tau, kasih tau gue lu berdua tanggal dimana sekarang".
"Ngga".
"Ck, kasih tau gue atau gue cari tau sendiri?".
"Cari tau aja kalo bisa".
"Ok, gue akan cari kemana pun, gue ngga akan lepasin Putri gitu aja".
"Terserah".
Tanya memutus sambungan telfonnya
"Obsesi, gimana caranya biar dia berhenti ngejar Mput?".
Tahta berfikir sejenak sambil mengetuk-ngetuk layar ponselnya
"Putri harus hamil. Gue yakin Raja akan mundur kalo tau Putri hamil"
Seketika ucapan Dewa terlintas dipikirannya. Kata-kata yang Dewa ucapkan sewaktu ia meminta saran agar Putri bisa bebas dari gangguan Raja
"Hamil kan udah ada yang atur, kalo Mput cepat hamil ya syukur, tandanya Raja lebih cepat nyerah buat ngerebut Mput..."
"Tapi kalo lama? Mau sampai kapan Raja ganggu Mput?".
"Saran macam apa sih itu? Tapi ngga ada salahnya mencoba kan?".
Tahta menunduk sambil mencengkram kepala dengan kedua tangannya
__ADS_1
"Argh! Bingung gue".
"Sayang?".
"HAH!". Tahta menjerit terkejut saat Putri memanggil sambil menyentuh bahunya. Suara kerasnya juga turut membuat Putri terkejut
"Kamu kenapa sih, ngagetin tau ngga". Ucap Putri mengusap dadanya
"Kamu yang ngagetin, kok jalan ngga ada suaranya, tiba-tiba udah didepan aku". Ucap Tahta
"Ya kamu ngapain nunduk kayak tadi? Ada yang dipikirin?".
"Eng...engga...ngga ada". Jawab Tahta sambil memalingkan wajahnya, Putri pun menautkan kedua alisnya
"Ngga ada? Terus kenapa gugup gitu?". Tanya Putri
"Siapa yang gugup sih, sok tau".
"Hmm, yaudah bobo yuk".
"Sayang?". Tahta menahan tangan Putri saat hendak melangkah menuju tempat tidur
"Apa?".
"Eum, soal...itu...malam pertama". Tahta gugup, ia merasa cukup malu saat harus membicarakan perihal malam pertama
"Iya, kenapa?".
"Kamu...serius...udah...siap?".
"Iya, udah siap. Kenapa sih?". Tanya Putri sambil tersenyum
"Eum...gapapa kalo kamu hamil?".
"Ya gapapa, aku punya suami kok, apa masalahnya kalo aku hamil?".
Tahta terdiam sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. Ia hanya berusaha menutupi rasa gugup dan rasa canggungnya
"Ya...yaudah...gimana...kalo malam ini...kita...itu".
"Hahahahahahaha". Putri tertawa geli
Putri menghampiri Tahta dan mencubit kedua pipinya dengan gemas
"Sumpah kamu lucu banget, sayang. Kenapa jadi kamu yang malu-malu sih? Harusnya aku". Ucap Putri
"Yaudah. Yaudah kalo kamu udah siap". Ucap Tahta
"Jadi? Malam ini kita-"
"Iya!". Ucap Tahta dengan cepat, membuat Putri tercengang lalu kembali tertawa
"Hih gemes banget..."
"Yaudah yuk, kita ke tempat tidur". Ucap Putri sambil mengalungkan kedua tangannya pada leher Tahta
Glup, Tahta menelan ludahnya
"Apapun caranya harus gue coba, yang penting Raja berhenti ngejar Mput"
---
Cie yang udah rencana mau ehem-ehem. Kira-kira ehem-ehemnya berhasil atau gagal karna ada gangguan nih?
__ADS_1
Yuk di pencet jempolnya biar aku semangat update lagiš£