Aku Dan Ketiga Kakakku

Aku Dan Ketiga Kakakku
Rencana Double Date?


__ADS_3

"Kakaaak".


Putri berlari kecil saat keluar dari gedung kantor, menghampiri Tahta yang sedang menunggu sambil bersandar pada mobilnya


"Hai, cantik. Gimana hari ini? Ngga pusing lagi kan?". Tanya Tahta sambil merapihkan anak rambut Putri


"Engga, aku baik-baik aja".


"Good. Mau makan apa?".


"Ice cream".


"Hmm? Ice cream? Kamu ngga laper?".


"Belum laper, aku mau makan ice cream dulu".


"Yaudah, nanti kita mampir ke minimarket".


Mereka segera masuk kedalam mobil dan bergegas menuju minimarket terdekat


"Ambil semua yang kamu mau, kakak mau ambil kopi dulu". Ucap Tahta diangguki oleh Putri


Tahta meninggalkan Putri menuju tempat lemari pendingin, sementara Putri sedang memilih-milih ice cream mana saja yang akan ia masukkan kedalam keranjang nya


"Tuh kan, gue ngga tega, gue bawa masuk aja kali ya? Siapa tau dia mau jajan"


Putri menghentikan kegiatannya, ia menaruh keranjangnya diatas lemari pendingin ice cream tersebut


Kini tatapannya beralih pada kaca minimarket tersebut, memperhatikan seorang anak kecil perempuan dengan pakaian lusuh dan wajah yang kotor, sedang duduk didepan pintu, meminta belas kasih dari pengunjung minimarket dengan sebuah wadah ditangannya


Bocah kecil itu sudah menarik perhatian Putri sejak kedatangannya tadi. Putri merasa iba, ia kembali keluar untuk menghampiri bocah itu


"Dek, kamu mau jajan ngga?". Tanya Putri saat berjongkok di depan bocah itu


"Tidak kak...saya...tidak punya uang". Ucap bocah itu sambil menggeleng pelan


"Kakak yang jajanin, masuk yuk". Putri meraih tangan gadis kecil itu agar bangun dari duduknya dan segera membawanya masuk kedalam


"Sayang? Kamu ngapain?". Tanya Tahta saat bertemu Putri di etalase makanan ringan


Bocah kecil itu terkejut dan bersembunyi dengan cepat ke belakang tubuh Putri


"Kamu nakutin..."


"Aku mau jajanin adek ini, kak". Ucap Putri


"Kak...saya...takut". Ucap bocah itu sambil meraih ujung pakaian Putri


"Kakak ini baik hati kok, meski mukanya galak, hehehe". Ucap Putri sambil tertawa kecil, sedangkan Tahta hanya tercengang menatap Putri


"Ayo, kita jajan, ambil semua yang kamu mau". Putri menuntun bocah kecil itu berkeliling ke area etalase makanan dan minuman dengan keranjang yang ia bawa, diikuti dengan Tahta di belakangnya


"Ini aja kak". Ucap bocah itu saat menunjukkan sebotol air mineral dan satu bungkus roti di tangannya


"Itu aja? Ambil lagi dek, gapapa. Kamu mau apa? Ice cream? Susu? Puding?Chiki? Kakak ambilin ya". Ucap Putri


"Tidak kak...ini aja...udah cukup".


Putri menghela nafas dalam, seketika matanya pun berkaca-kaca. Tahta menatap lekat mata Putri, tentu ia paham dengan apa yang sedang dirasakan istrinya itu


Tahta meraih keranjang yang ada ditangan Putri dan ia isi dengan makanan serta minuman yang cocok untuk anak-anak


"Ayo". Tahta menyentuh kepala bocah itu dan membawanya menuju kasir untuk membayar belanjaan mereka


"Oh iya, satu lagi". Ucap Putri sambil berjalan cepat menuju salah satu etalase


Setelah membayar, mereka segera keluar dari minimarket, Putri dan Tahta membawa bocah kecil itu ke sebelah mobil mereka. Disana, Putri mengeluarkan sebuah benda yang sempat hampir lupa ia beli, yaitu tisu basah


Putri mengeluarkan satu persatu lembaran tisu basah itu untuk membersihkan wajah dan kedua tangan bocah itu, sementara Tahta berjongkok memperhatikan istrinya sambil meminum kopi dingin ditangannya


"Istriku emang cantik, secantik hatinya"


"Nama kamu siapa?". Tanya Putri sambil mengusap wajah bocah itu dengan perlahan-lahan


"Luna...kak".


"Hmm, rumah kamu dimana, Luna?".


"Di dekat sini kak, di belakang terminal".


"Oh, Luna tinggal sama siapa?".


"Ibu".


"Berdua?".


"Iya, kak".


"Oh gitu...Luna setiap hari duduk disini?".


"Iya kak, Luna bantu ibu cari uang, kasihan ibu".


"Luna anak baik ya, Luna pintar bantu ibu cari uang. Tapi duduk disini, sambil bawa ini, ngga boleh, Luna". Ucap Putri sambil menunjuk wadah milik Luna


"Itu sama aja minta-minta, Luna tau kan?". Ucap Putri dengan tutur lembut


"Iya kak, maafin Luna, Luna cuma mau bantu ibu".


"Hmm, Luna disuruh sama ibu ya duduk disini?".


"Engga kak, ibu ngga tau".


"Oh. Udah, tangan sama muka Luna udah bersih. Luna jadi makin cantik". Ucap Putri mengusap pipi Luna


Putri bangun dari jongkoknya dan berjalan menuju tempat sampah terdekat, lalu kembali menghampiri Luna sambil membuka tas nya


"Sekarang Luna pulang ya, Luna kasih uang ini ke ibu". Ucap Putri sambil membuka dompetnya


"Sayang, pake uang aku aja". Ucap Tahta saat menghentikan tangan Putri

__ADS_1


"Jangan kak, aku aja".


"Engga, simpan aja uang kamu".


"Kak, please, aku mau bantu Luna".


Tahta menghela nafas, lalu mengangguk, ia mengalah. Biarkan kali ini ia mengalah pada hal baik yang ingin istrinya lakukan untuk bocah kecil itu


Putri mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu lalu ia gulung dan ia ikat menggunakan ikat rambutnya, agar Luna tidak kerepotan membawa uang tersebut dan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, karena cukup beresiko bagi anak sekecil Luna membawa uang yang nominalnya cukup banyak


"Ini kan ada kantong, kakak masukin kesini ya, kakak umpetin". Ucap Putri memasukkan uang tersebut pada kantong celana Luna


"Iya kak...tapi...ini...kebanyakan kak". Ucap Luna sambil mengangkat kantong belanjanya


"Gapapa, itu semuanya buat Luna, dari kakak ganteng, jangan lupa uangnya Luna kasih ke ibu, ya". Ucap Putri mengusap kedua bahu Luna


"Iya kak, terimakasih kak". Ucap Luna


"Sama-sama". Ucap Putri


Luna pun berjalan menghampiri Tahta


"Kak, terimakasih ya". Ucap Luna


"Iya, sama-sama, Luna". Ucap Tahta mengusap kepala Luna


Luna menjulurkan tangannya lalu meraih tangan Tahta untuk ia cium, ia pun melakukan hal yang sama pada tangan Putri sebelum pergi meninggalkan minimarket tersebut


---


"Apa? Vivi dibebasin sama kak Raja karna alasan itu?"


"Iya"


"Gila, sih. Bisa-bisanya kak Raja lakuin itu? Kak Raja kan tau gimana jahatnya Vivi ke kita waktu itu, terutama ke lu, Put"


"Gak nyangka sama kak Raja"


"Yaudah lah mau gimana lagi"


"Oh iya, by the way, besok gue mau kerumah kak Dewa, hehe, mumpung weekend"


"Ngapain?"


"Gue bikin puding mangga sama cupcake mangga buat kak Dewa, besok mau gue anterin kerumahnya"


"Pengeeeen"


"Ih, jangan-jangan lu ngidam ya, perasaan banyak mau nya?"


"Hehe engga, jadi lu cuma bikin buat kak Dewa nih? Ngga bikin buat gue?"


"Ok, ok, gue bikin buat calon bumil juga, sekalian buat kak Tahta sama kak Raja deh..."


"Tapi besok lu harus dateng ya, gue kesana jam sembilan"


"Apanya yang pagi banget sih? Itu tuh udah siang, ya"


"Jangan-jangan kalo weekend lu sama kak Tahta bangun siang nih?"


"Anda kalau ngomong suka benar ya"


"Dasar lu, lembur terus"


"Hehehehe jangan lupa bikin buat gue juga"


"Siap babe, dah ya gue matiin dulu, bye"


"Hmm, bye"


 


Keesokan paginya setelah mandi dan sarapan bersama, Putri dan Tahta kembali ke kamar, Putri terlihat mengganti pakaiannya sementara Tahta duduk di tepi ranjang sambil membuka ponselnya


"Kok ganti baju, sayang? Mau kemana?". Tanya Tahta


"Eh? Emang aku belum ngomong ya?Aku mau kerumah kamu". Ucap Putri


"Ngapain?".


"Mau ketemu Nindi, katanya pagi ini Nindi mau kesana, dia mau ketemu kak Dewa..."


"Kita kesana ya, please". Ucap Putri


"Sebenarnya aku males ketemu Raja gara-gara soal Vivi, bawaannya kesel..."


"Tapi kalo kamu mau kesana, yaudah, aku temenin". Ucap Tahta


"Makasih, sayang".


Dua jam telah berlalu, Putri dan Tahta sudah tiba dirumah, saat ini mereka sedang bermain ular tangga bersama Dewa dan Nindi dimeja makan menggunakan tablet milik Dewa, sambil menikmati minuman dingin dan makanan ringan


"Yaaah, kak Tahta kalah lagi, hahahahaha". Ucap Nindi tertawa terpingkal


"Payah, emang. Tuh muka udah penuh bedak semua". Ucap Dewa mengejek


"Susah woy, gimana mau finish kalo turun mulu". Ucap Tahta


"Alesan". Ucap Putri sambil memberikan hukuman berupa olesan bedak tabur di wajah Tahta, diikuti dengan Nindi dan Dewa


"Argh, kena mata, tolol". Tahta protes saat bedak yang diberikan Dewa terkena ke matanya


"Huhu kasihan. Kak Dewa kejam, ih". Putri meraih kepala Tahta dengan kedua tangannya lalu ia tiup-tiup mata Tahta yang terkena bedak


"Dendam dia, nafsu banget bedakinnya". Ucap Tahta


"Ngga sengaja". Ucap Dewa


"Tapi udah cocok cosplay mochi kak, tinggal di pajang di tempat oleh-oleh". Ucap Nindi

__ADS_1


"Haha ngeledek". Ucap Tahta


"Oh iya kak, pacaran setelah menikah enak ngga sih?". Tanya Nindi sambil menopang dagu dengan tangannya diatas meja


"Siapa yang pacaran?". Tanya Tahta


"Kakak sama Putri, kan langsung nikah tanpa pacaran dulu". Jawab Nindi


"Mereka masih adik kakak aja udah kayak pacaran, Nin". Ucap Dewa


"Bener sih, sikap kak Tahta ke Putri manis banget kayak ke pacar, bikin iri. Jadi pengen punya yang kayak gitu". Ucap Nindi


"Tuh, kode..."


"Gak peka lu". Ucap Tahta sambil melempar sejumput bedak ke wajah Dewa


"Argh, anjir, kena mata, goblok". Ucap Dewa mengusap matanya


"Mampus". Ucap Tahta


"Ck, mau gue lempar lagi ke mata lu?". Ucap Dewa sambil meraih tempat bedak


"Lempar sini, tinggal gue lempar balik ke mata lu". Ucap Tahta


"Terus! Jangan kayak anak kecil napa". Ucap Putri menatap Tahta


"Marahin bang Dewa lah, masa aku". Ucap Tahta


"Siapa yang marahin kamu?". Tanya Putri


"Siipi ying mirihin kimi". Ucap Tahta


"Ish, rese". Ucap Putri sambil mencubit hidung Tahta


Tap tap tap, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga. Nindi menoleh, memperhatikan Raja yang sedang berjalan menuju dapur


"Kak Raja, sini deh. Mau ngga?". Tanya Nindi sambil menunjukkan kotak makan yang ia bawa


"Apa?". Tanya Raja


"Cupcake mangga sama puding mangga, bikinan Nindi sendiri, cobain nih". Ucap Nindi


Raja mengangguk lalu mengambil satu cupcake tersebut, ia tidak menyentuh pudingnya


"Puding nya ngga mau kak?". Tanya Nindi


"Ngga". Jawab Raja sambil berjalan menuju lemari pendingin


"Gitu doang?". Tanya Nindi tanpa suara


"Makasih". Ucap Raja saat meninggalkan meja makan dan kembali menaiki tangga


"Cuma tiga kata. Apa, ngga, makasih. Irit banget". Ucap Nindi bersuara pelan


"Haha, kembali ke setelan pabrik, si kulkas seribu pintu". Ucap Putri


"Dia itu banyak omong kalo ngajak ribut doang, banyak bacot". Ucap Tahta


"Waktu bucin sama Putri juga banyak omong, gombal terus, ngerayu terus". Ucap Dewa


"Anji- maksud lu apa?". Tanya Tahta sambil memicingkan matanya pada Dewa


"Udah, udah, kita jadi nonton ngga? Udah siang nih". Ucap Putri melirik arlojinya


"Yuk, OTW sekarang aja". Ucap Nindi


"Berempat, nih?". Tanya Dewa


"Iya, kayaknya kak Raja ngga mau ikut". Ucap Putri


"Bagus lah, biar dia ngga gangguin kita". Ucap Tahta menatap Putri


"Yaudah, yuk". Ucap Putri


Mereka bangun dari duduknya dan berjalan bersama menuju mobil Tahta yang terparkir di depan rumah


"Tangkep!". Ucap Tahta sambil melempar kunci mobilnya pada Dewa, Dewa pun sigap dan langsung menangkap kunci mobilnya


"Lu nyuruh gue nyetir?". Tanya Dewa


"Yoi..."


"Nin, kamu depan ya, kakak mau pacaran sama Mput di belakang". Ucap Tahta sambil memeluk mesra pinggang Putri


"Iya, iyaaaa". Ucap Nindi


"Kak, itu siapa?". Tanya Putri pada Tahta saat melihat taksi yang berhenti di depan rumah mereka


"Ngga tau, sayang". Jawab Tahta


"Ada tamu kayaknya kak". Ucap Nindi


Mereka berempat kompak memperhatikan taksi tersebut diposisinya masing-masing


"Vivi?". Ucap Dewa


"Lah, Vivi?". Ucap Nindi


"Mau ngapain lagi sih?". Tanya Tahta sambil berjalan menghampiri Vivi yang baru turun dari taksi


"Kak, sini, ih!". Ucap Putri yang mencoba mencegah Tahta


"Sebentar, sayang". Ucap Tahta


---


Bersambung yagesya, lanjut besok


Jangan lupa like, vote dan hadiahnya, tengkyuuu

__ADS_1


__ADS_2