
Hari ini adalah hari yang selalu Xana tunggu tiap minggunya. Tidak kenal lelah ia pulang pergi dari sekolah ke rumah setiap akhir pekan. Kali ini Lea ikut pulang bersamanya dan berpisah di tengah jalan.
Beberapa saat kemudian mobil sudah terparkir di halaman rumah keluarga Wijaya. Istana yang selalu Xana rindukan.
"Holaaa...... Akuu pulangg!!!" Teriak Xana menyerbu rumah.
"Sayang, jangan lari begitu! Nanti jatoh!" Peringat Mama.
"Iya,ma. hehe" Xana pun berlari kecil dan memeluk Mamanya.
Melepas rindu dengan orang tercinta adalah moment yang membuat hati siapapun bergetar.
"Xana ke atas dulu mah! Siapa tau Esra udah kangen!" jelas Xana.
Kemudian ia naik setelah mendapat izin. Ia melihat Esra begitu antusias menyambut ke datangan Xana. Waktu pun di habiskan berdua dengan sangat berharga. Putranya yang sudah beranjak dewasa itu pun akan menjadi kebanggaanya kelak.
"Mama ga sabar deh lihat Esra udah gede! Nanti pasti ganteng banget! Kyaaaa~" Xana memeluk gemas Putranya.
Ia masih tak percaya diberi kesempatan untuk membesarkan seorang bayi. Ditambah Xana sendiri sama sekali tak kesusahan karena selalu dibantu baby sitter dan ibunya. Ia tak membayangkan bagaimana dirinya setelah menikah tanpa kedua orang ini.
Lambat laun Esra sudah mulai tumbuh besar. Umurnya kini 2,5 tahun. Xana, ibu angkatnya itu sebentar lagi akan lulus sekolah dan memulai jenjang baru.
"Esraaaaaa!!!" Seru Xana lalu memeluk Esra.
"Mamaaa~ shudah pullang?" Esra menatap Ibunya.
"AHHHHH GEMESSS BANGETT!!!" Mata Xana bersinar kan kelucuan anak nya.
"Iya sayang! Mama sudah pulang dan akan libur panjang! YEAY!" Xana bersorak.
"Yeyy!! Mamah bisa temenyin Eshra main dong?!" Esra antusias.
Melihat buah hatinya begitu antusias dan senang akan kabar libur panjang Xana semakin membuat Xana gemas. "Kok Bisa sih, ada makhluk selucu ini?!!?!" Xana greget sendiri.
"Iya! Iya! Kita main sepuasnya!" Xana berapi api.
TOKKK TOKKK.....
"Iya, kenapa?"
"Tuan Muda Leon ada dibawah, ingin menemui anda" ujar pelayan itu.
"Ok, baik!"
Benar, ada Leon dengan......?!
Seorang wanita? Siapa? Sebelumnya dia ga pernah tuh bawa-bawa cewek ke rumah ini. Atau.... Dia mau batalin nikah ke aku. Eh, emang kami tunangan? Nggak! Aduhh iya ya, bodoh banget!
"Hai....." Sapa Xana kaku.
Xana yabg sedang menggendong Esra itu membuat wanita di samping Leon terkejut.
"What?! Sudah punya anak?!"
"Hah? Apaan sih?" Xana mengangkat sebelah alisnya.
"Husstttt!!!!! Duduk!!" Perintah Leon yang langsung membuat wanita itu duduk dan bungkam.
"Maafin ya," Leon menatapku dalam.
Dia minta maaf gara-gara apa? Perkataan cewe itu atau yang lain?
"Iya," jawabku dingin.
Yep! Leon bisa merasakan hawa mencekam itu. Seisi ruangan mungkin bisa dingin gara-gara tatapan Xana yang hanya setengah itu.
__ADS_1
"Xana, ini adikku, Joe." ucap Leon.
Deg!
Astaga! Aku udah sembarangan nuduh! Untung ga keomong! Apalagi aku ngira yang lebih! Haduuuuhhh matilah kalau aku tadi ngomong, mau taro mana mukaku!
"Ah, iya. Saya Xana" mereka pun berjabat tangan.
"Joe, panggil aja Clara!" ujarnya.
"Baik, Clara"
Clara melirik ke arah balita yang di pangku Xana. Xana paham betul bahwa gadis itu masih penasaran identitas dari anak ini.
"Clara, anak ini adalah Esra. Dia anak dari sahabatku, yang sudah meninggal 2,5 tahun lalu. Kini, aku mengadopsinya dan menganggapnya sebagai anakku sendiri." jelas Xana. Ia tak ingin Clara salah paham hanya karena hal sepele.
"Ohh, aku turut berduka Kak.... Maaf tadi udah salah paham." Clara pun sedih. Mimik wajahnya tampak suram saat tahu latar belakang anak itu.
"Kenapa dia jadi begitu sedih? Haduuuhhh" Xana bingung dan takut membuat masalah baru.
"Ah, Xana. Aku kemari ingin mengajakmu keluar bersama Keluargaku, kamu mau?" tanya Leon sopan.
"Ahh, begitu.... Jam berapa?" Xana khawatir terburu-buru.
"Jam 7 ku jemput," lanjut Leon.
"Aku bisa, nanti ku tunggu"
"Mama sekalian ikut?" tanya Leon basa basi.
"Nggak, lain kali saja. Nikmati dulu masa liburan kalian. Toh sekalian Xana kenalan dengan keluargamu" ujar Mama.
Beberapa saat kemudian kami telah siap. Sengaja Esra dititipkan ke Baby sitter nya agar tidak mengganggu pertemuan Xana.
"Dedek bayi nya ga dibawa Kak?" tanya Clara tanpa dosa.
"Loh? Ganggu gimana Kak? Padahal aku seneng banget!"
"Clara! Udah, kamu ga inget kita mau ke mana?" Leon menyela pembicaraan kami.
"Iiihh Kakak nih ya, ga tau aja mood ku balik tuh gara-gara adek tadi!" Clara ngambek.
"Maafin ya Babe, dia emang bawel." Leon menatap lemas pada Xana.
"Clara, keburu telat, mending kita langsung berangkat!" ajak Xana mencairkan suasana.
"Yaudah deh, lain kali bawa ya kak!" pinta Clara dengan antusias.
"Iya... Iya...." Xana tidak ingin memperpanjang masalah.
Xana sampai di alun-alun kota. Di sana, sudah ada keluarga Leon menunggu. Xana menyapa dengan sopan dan disambut ramah.
"Nak Esra nya mana?" tanya Ayah Leon.
"Di tinggal om, takut rewel...." Xana merasa tidak enak karena Esra selalu ditanya.
"Lain kali bawa Xana, biar Esra terbiasa nantinya." Nasihat Ibu Leon.
"Iya tante, lain kali ya..." Xana tersenyum manis.
"Duh... Kenapa aku jadi kayak penjahat gini sih? Ahh, ga enak banget rasanya!" Xana merasa sedih sekaligus kagum.
Jika orang tua lain melarang keras ada anak selain anak kandung, keluarga Leon justru mengizinkannya. Meski terkesan kasihan, tapi Xana senang karena ini yang terbaik.
"Leon... Kita mau kemana?" bisik Xana.
__ADS_1
"Ga tau, Kata Mama sih jalan-jalan ke Mall sekalian piknik katanya, hehe" Leon tersenyum sendu pada Xana.
Pipi Xana merona. Leon berbisik begitu dekat dan menatap Xana dalam dalam. Seandainya bisa, Xana sangat ingin langsung memeluk dan mengecupnya. Tapi, ini ada di keramaian keluarga.
"A-Ahh... Begitu ya... Ya... Baiklah... Haha...." Xana gugup dan kebingungan.
"Gemes banget sih," batin Leon.
Ternyata Leon sendiri sangat ingin memeluk erat tubuh mungil Xana.
Perjalanan pun dimulai, jujur saja Xana sangat menikmati perjalanannya apa lagi ia duduk bersebelahan dengan Leon. Mereka seakan sedang berbulan madu.
Tiba-tiba...
"Kalian kapan nikah sih? Mama gemes banget liatnya, apalagi Leon udah mau lulus, Xana juga begitu. Haduuhh ga sabar deh...." Ujar Mama.
"Segera mungkin Mah, toh... Leon juga harus mempersiapkan diri dan budget supaya kelak Xana ga kekurangan" tatap Leon perhatian.
"Hemmmm iya deh anak Mama, pokoknya kalau kalian siap, langsung bilang aja, nanti biar kita buat pesta megah, hahahaha" Mama tertawa gelak mengingat sebelumnya Leon tak pernah tersipu malu.
Kali ini Leon berhasil tersipu malu karena Ibunya sendiri mengejek dirinya. Dnegan kata lain, Ibunya tak sabar ingin menimang cucu.
Xana yang sejak tadi tak paham pun hanya terdiam dan senyum senyum sendiri. 'mereka ngomongin apa sih?' itu yang ada di angan-angannya sejak tadi.
Mereka pun sampai di sebuah Mall megah dan ramai. Benar-benar memanjakan mata!
"Kita belanja sepuasnya hari ini!" Ajak Mama.
"Kak Xana di traktir Kak Leon ya! Aku mau ditraktir Mama!!" Clara memeluk Ibunya dari belakang.
"Papa?" Ayah Leon melihat sekilas.
"Papa... Ah, Papa traktir Mama!!" Clara semangat.
"Eh... Aku..." Belum selesai Xana bicara Leon mendekapnya dalam pelukan dan berbisik.
"Ssstttt tradisi keluarga ku begini, kalau belanja yang tua dan kaya lah yang bayar!" bisik Leon.
"O-Oh.... Begitu ya?" Xana pun sadar, ia harus menyesuaikan dirinya pada Keluarga Leon.
"Horeeeyyyy Belanja!!" Sorak Clara yang sengaja menepikan orang tua Leon agar Xana dan Leon dapat berduaan.
"Wahh.... Sikapnya yang menonjol begitu membuatku semakin canggung" Xana tahu betul apa yang direncanakan Clara.
Sekarang tinggal Xana dan Leon. Dengan malu-malu Leon mengajak Xana memasuki Mall dan berbelanja.
"Ambil saja apa yang kau mau, nanti aku yang bayar" ujar Leon sedikit malu-malu.
"Ah-.... I-iya......" Xana hanya mengiyakan dan berpura-pura memilih baju.
" Haduuuhh ni Mama papa Leon kemana sih.... Pake acara ngilang segala.... Aku kan canggung, mana ga tau ukuran baju Leon..." Xana masih tidak tahu ukuran baju Leon karena dulu saja hanya mengasal.
"Leon!!" Dengan sejuta keberanian Xana menatap mata Leon tajam-tajam.
"Y-Ya? Kenapa?" Leon menatap balik mata Xana dengan malu-malu.
"Duh, kok deket banget sih! Leonnn kenapa lo kudu ganteng banget gini??"
"A-aku mau baju Couplean! Ayo cari!!" Ajak Xana yang langsung ke sebuah toko yang memang menjual apa yang ia mau.
"O-oke...." Leon sendiri masih canggung.
Jantung mereka saling berdegup kencang, tanpa mereka sadari sebenarnya mereka sama-sama berada dalam istilah 'budak cinta'.
-Bersambung....
__ADS_1
Yo, apa kabar?