Aku Dan Ketiga Kakakku

Aku Dan Ketiga Kakakku
Mendadak Benci


__ADS_3

"Mput, gimana?". Tanya Tahta sambil memegang tangan Putri yang sedang mengepal


"Sudah lah mbak, sudah tertangkap basah buat apa masih berpikir? Kalo mbaknya menolak untuk menikah, ya sudah hukum cambuk aja". Ucap warga desa yang sudah jengkel melihat sikap Putri yang hanya bisa menangis terisak


"Mput?". Tanya Tahta dengan pelan


Dengan berat hati, Putri pun mengangguk. Sepertinya memang tidak ada pilihan lain, ia pun juga tidak mau dihukum cambuk untuk apa yang tidak ia lakukan,


Dan menurutnya, menikah adalah satu-satunya pilihan yang tepat. Ia hanya bisa berdoa semoga keputusannya ini tidak salah. Dan soal Raja, ia akan memikirkannya nanti. Yang paling penting, urusannya di desa ini harus diselesaikan


"Mau menikah sama kakak?". Tanya Tahta sekali lagi untuk meyakinkan


"Iya". Jawab Putri


"Terpaksa, toh cuma nikah siri kan? Gampang buat cerai"


"Syukur alhamdulillah sudah ketemu jalan keluarnya..."


"Ya sudah, untuk yang lain, tolong bantu persiapkan untuk pernikahannya disini". Ucap pak RT kepada warga, warga pun mengiyakan perintah pak RT


"Mbak, bisa tolong hubungi keluarganya yang akan bertindak sebagai wali?". Tanya pak RT pada Putri


"Eumm-"


"Biar kakak telfon Dewa buat jadi wali kamu". Ucap Tahta, Putri pun mengangguk


"Saya yang akan menghubungi keluarganya pak". Ucap Tahta


"Baik mas". Ucap pak RT


"Kak, ayah aja. Minta kak Dewa buat ajak ayah sama ibu, mereka harus tau". Ucap Putri


"Kamu yakin?". Tanya Tahta


"Iya". Jawab Putri


"Yaudah, kakak telfon Dewa dulu". Ucap Tahta


"Kalo menurut gue sih lebih baik Raja jangan tau dulu, dia lagi fokus sama sidangnya sebentar lagi, kalo dia tau, dia bisa hilang fokus bahkan tugasnya bisa berantakan, gue khawatir kelulusannya terganggu"


"Bener sih, tapi ngga mungkin rahasiain ini dari Raja"


"Gapapa, demi kebaikan. Soal Raja dibahas lagi nanti, gue mau jemput ayah sama ibu dulu"


"Ok, thanks bang"


"Yo"


Tahta memutus sambungan telfonnya setelah memberitahu Dewa tentang masalah yang telah menimpa mereka


Setelah menunggu cukup lama, Dewa tiba bersama Melly dan Ibrahim, Putri pun segera memeluk kedua orang tuanya setelah dirias dengan tampilan sederhana oleh beberapa gadis desa disana


Sementara Dewa segera menghampiri sang adik bungsu, mencoba memberikan kekuatan berupa kata-kata penyemangat dan meminta Tahta untuk lebih bersabar dalam menghadapi masalahnya kali ini


"Nak, ayah sudah dengar semuanya dari nak Dewa, ya ampun anak ayah kasihan sekali". Ucap Ibrahim sambil mengusap kepala Putri


"Sudah, mungkin ini yang terbaik untuk Putri dan nak Tahta". Ucap Melly


"Sabar ya, ayah sama ibu berdoa semoga ini keputusan yang tepat dan yang terbaik". Ucap Ibrahim


"Iya Yah". Ucap Putri


"Mari pak, penghulu sudah menunggu, pernikahan akan segera dimulai". Ucap pak RT pada Ibrahim, Ibrahim pun mengangguk


Ibrahim selaku ayah kandung Putri, akan menjadi sosok yang akan menikahkan sendiri puterinya. Sementara Dewa bertindak sebagai saksi satu, dan salah satu warga desa sebagai saksi kedua


"Bagaimana para saksi, sah?". Tanya pak penghulu


"SAH!". Ujar seluruh warga desa yang menyaksikan pernikahan mendadak mereka


Setelah membaca serangkaian doa, pernikahan yang terbilang sah secara agama itu sudah selesai dilaksanakan, Tahta pun dengan lancar mengucap ijab kabul dengan satu tarikan nafas,


---


Pernikahan telah dilaksanakan, mereka segera berpamitan dengan warga desa setempat. Tidak sedikit dari mereka yang turut mendoakan untuk kebaikan pernikahan Putri dan Tahta


Saat ini, mereka sedang berjalan menuju pekarangan, tempat terpakirnya kendaraan. Semua teman-teman Tahta pamit lebih dulu meninggalkan desa tersebut, tersisa lah Putri, Tahta, Dewa dan kedua orang tua Putri


"Nak, kalian mau tinggal dimana?". Tanya Ibrahim sambil menatap Putri dan Tahta


"Aku mau pulang sama ayah ibu". Ucap Putri dengan cepat


"Loh, kenapa ngga ikut nak Tahta? Kalian kan suami istri, masa tinggal terpisah". Ucap Ibrahim


"Putri-"


"Yaudah gapapa kalo kamu mau pulang kerumah ayah". Ucap Tahta, Putri mengangguk pelan


"Yaudah ayo bu". Ucap Putri


"Hati-hati dijalan Yah, bu". Ucap Tahta sambil mencium tangan Ibrahim, kemudian mencium tangan Melly sebelum mereka semua masuk kedalam mobil Dewa


"Lu gapapa kan balik sendiri?". Tanya Dewa


"Gapapa". Ucap Tahta


---


Keesokan harinya, dipagi hari yang cerah, setelah bersiap dengan pakaian semi formal nya, Putri berjalan menuruni tangga. Dari sana, ia dapat melihat sosok Tahta sedang duduk disamping sang ayah


"Kakak ngapain kesini?". Tanya Putri sedikit sinis sambil menarik kursi dihadapan Tahta

__ADS_1


"Putri, yang sopan ngomong sama suami, bukannya mencium tangan malah bersikap ketus begitu". Ucap Ibrahim


Putri mencibik bibirnya, ia tidak peduli dengan ucapan sang ayah


"Kakak ngga mau cerain aku?". Tanya Putri secara tiba-tiba pada Tahta


"PUTRI! JAGA UCAPAN KAMU!". Bentak Ibrahim


"Ayah, istighfar Yah". Ucap Melly sambil mengusap lengan Ibrahim


"Jangan pernah berfikir untuk bercerai, ayah ngga suka. Ayah tau kalian menikah karna terpaksa, didesak oleh keadaan, tapi kalian sudah sah secara agama, ayah ngga mau kamu mempermainkan pernikahan, paham?". Tanya Ibrahim pada anak keduanya


"Tapi Yah, pernikahan ini kan terpaksa, jujur Putri ngga cinta sama kak Tahta, kak Tahta tau itu kok, jadi kenapa kak Tahta ngga cerain Putri aja? Kan cuma nikah siri". Ucap Putri


"PUTRI!". Bentak Ibrahim lagi


"Lihat nak Tahta, dia suami kamu. Apa nak Tahta ngga sedih denger kamu ngomong begitu?!". Tanya Ibrahim sedikit emosi


"Ck, kak Tahta tau aku cinta sama kak Raja. Ya kan kak?..."


"Kakak mau ngga cerain aku? Biarin aku bahagia sama kak Raja?". Tanya Putri pada Tahta


"Cukup!". Ucap Ibrahim


"Yah, tenang Yah". Ucap Tahta


"Mput, meski kamu ngga suka sama pernikahan ini, kakak ngga akan cerain kamu". Ucap Tahta


"Egois". Ucap Putri


"Hey, kalau kamu ngga mau menikah sama nak Tahta, kenapa kamu ngga memilih hukum cambuk aja? Kalo kayak gini kasian suami kamu, kamu nyakitin hatinya dengan ngomong begitu..."


"Ayah harap kamu ngga kualat udah bersikap seperti ini ke suami kamu". Ucap Ibrahim


Putri terdiam, suasana dimeja makan mendadak dingin dan mencekam, Tahta pun merasa bersalah karena kehadirannya membuat Putri dan sang ayah bertengkar


"Putri berangkat". Ucap Putri sambil meraih tas nya


"Sarapan dulu sayang". Ucap Melly


"Ngga mood". Ucap Putri


Putri bangun dari duduknya, ia menghampiri Ibrahim untuk mencium tangannya, setelah itu mencium tangan Melly sebelum pergi meninggalkan meja makan


"Ya ampun, kemana sopan santun anak itu? Kenapa ngga cium tangan suaminya". Ucap Ibrahim


"Gapapa Yah..."


"Ayah, ibu, Tahta pamit, mau ngejar Putri". Ucap Tahta


"Ya sudah, sana, sana". Ucap Ibrahim


"Mput, Mput, tunggu dulu". Ucap Tahta sambil meraih tangan Putri


"Apa sih kak! Lepasin!". Bentak Putri


"Ngga". Ucap Tahta


Hap, Tahta membopong Putri selayaknya karung beras dan ia masukkan kedalam mobil dengan cepat, ia tidak peduli meski Putri terus menjerit dan berteriak


"Nyebelin!". Jerit Putri


Klek, Tahta memasang seatbelt ditubuh Putri,


"Bisa diem ngga?". Ucap Tahta


"Ngga mau! Kakak nyebelin!". Ucap Putri


"Terserah deh". Ucap Tahta


Tahta melajukan mobilnya menuju gedung perusahaan tempat Putri magang


"Aku kan mau berangkat sama kak Raja, kenapa kak Tahta yang dateng?". Tanya Putri


"Raja sendiri yang nyuruh kakak jemput kamu". Ucap Tahta


"Bohong". Ucap Putri


"Yaudah kalo ngga percaya". Ucap Tahta


"Ih nyebelin!". Ucap Putri


"Nyebelin kenapa sih, kakak salah apa sampe kamu kayak gini?". Tanya Tahta


"Pikir aja sendiri". Ucap Putri


"Apa? Kamu nyesel nikah sama kakak? Kalo gitu kenapa kemarin kita gak dihukum cambuk aja?". Tanya Tahta


"Ngga mau lah, sakit". Ucap Putri


"Sakit fisik bisa hilang, tapi sakit hati ngga bisa hilang". Ucap Tahta


"Apa sih, ngga jelas". Ucap Putri sambil menatap keluar jendela


"Maksud kamu apa minta kakak cerain kamu? Kamu pikir kakak ngga punya perasaan? Kamu bilang kakak egois, tapi tanpa sadar sebenarnya kamu yang egois". Ucap Tahta


"Dah lah, males debat". Ucap Putri


"Kamu yang mulai". Ucap Tahta


"Diem!". Ucap Putri, Tahta pun menghela nafas panjang

__ADS_1


"Kamu berubah Mput, dalam satu malam kamu berubah. Status suami istri bikin kita ribut, bikin kamu benci sama kakak". Ucap Tahta


"Aku ngga benci sama kakak". Ucap Putri


"Terus kenapa kamu marah-marah? Seakan kamu benci ngeliat kakak". Ucap Tahta, Putri hanya terdiam dengan tatapan yang masih fokus kearah jendela


"Maaf, kakak ngga bisa kabulin permintaan kamu untuk cerai sama kakak. Mau ngga mau, suka ngga suka, terima ngga terima, nyatanya kita udah sah dimata agama, kamu harus sadar". Ucap Tahta


"Bawel". Ucap Putri


"Ya ampun, kemana Putri yang kakak kenal, kenapa ketus kayak gini". Ucap Tahta


"Berisik ih". Ucap Putri


Tahta berdecak pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya


"Jujur Mput, daripada kayak gini, lebih baik kakak ngerasain sakitnya dicambuk..."


"Kenapa kamu cepet banget berubahnya? Kemarin kamu ngga keberatan sama keputusan kita menikah, sekarang kenapa-"


"Terpaksa kak, sebenernya aku terpaksa setuju sama pernikahan ini. Karna aku pikir, yang penting masalah ini selesai, udah, itu aja..."


"Dan karna masalah udah selesai, kenapa kakak ngga mau cerain aku?". Tanya Putri


"Enteng banget ya omongan kamu? Kakak bukan tipe orang yang main-main sama pernikahan meski itu nikah siri". Ucap Tahta


"Ck, diseriusin banget". Ucap Putri


"Apa salahnya? Toh kamu tau perasaan kakak ke kamu kayak gimana. Sekarang kamu istri kakak, tentu kakak senang. Apa semudah itu kakak lepasin kamu? Ngga akan..."


"Meski nanti harus perang sama Raja, kakak ngga akan kalah. Dan kalo Raja berambisi buat mengambil apa yang dia mau, kakak juga akan berambisi buat mempertahankan apa yang udah jadi milik kakak". Ucap Tahta


"Terserah deh, ngga peduli". Ucap Putri


---


Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, jam kerja Putri sudah selesai, saat ini Putri sedang berjalan keluar gedung, menghampiri mobil Raja yang sudah menunggunya


"Sore sayang". Ucap Raja sambil tersenyum


"Sore". Ucap Putri


"Kerumah yuk". Ucap Raja


"Boleh". Ucap Putri


Raja tersenyum kemudian melajukan mobilnya untuk pulang kerumah


"Maaf ya tadi pagi ngga bisa jemput, aku ada kelas pagi, sebelum itu ngumpulin tugas dulu, jadi nyuruh Tahta deh". Ucap Raja


"Gapapa". Ucap Putri


"Oh iya, kemarin kenapa kamu ngga bisa dihubungin?". Tanya Raja


"Kemarin? Masa sih?". Tanya Putri


"Iya, waktu kamu pergi nemenin Tahta kerumah orang tua temennya yang meninggal, kamu ngga bisa dihubungin seharian, kenapa?". Tanya Raja


Putri terdiam, omongan Raja ada benarnya, ponselnya memang tidak bisa dihubungi kemarin. Tetapi bukan tanpa alasan, Putri sengaja melakukannya karena ia butuh waktu untuk menenangkan diri. Semua yang terjadi kemarin, terlalu tiba-tiba untuknya, Putri tidak bisa menerimanya begitu saja


Dan semalam, Putri telah bertekad untuk berpisah dari Tahta. Namun sayangnya Tahta tidak mengindahkan permintaannya itu. Entah lah, apakah sudah takdirnya menjadi istri Tahta, atau suatu saat nanti ia bisa bersatu dengan Raja?


"Oh, hp aku lowbat, lupa charger hehe terus sampe rumah ketiduran, capek banget". Ucap Putri


"Eum pantesan. Mau makan dulu ngga sebelum pulang?". Tawar Raja


"Ngga deh, nanti aja mau mandi dulu". Ucap Putri


"Ok"


Dua puluh menit perjalanan, Putri dan Raja sudah tiba dirumah, dari pintu utama mereka melihat Dewa dan Tahta yang sedang duduk disofa ruang keluarga, sepertinya ada sesuatu hal yang sedang mereka bicarakan


Putri tidak peduli dengan mereka, ia langsung menaiki tangga menuju kamarnya sementara Raja menuju dapur terlebih dahulu untuk menghilangkan rasa haus di tenggorokannya


"Kok Putri lu bawa pulang?". Tanya Dewa dari arah sofa


"Ya emang kenapa?". Tanya Raja


"Mau nginep disini?". Tanya Dewa lagi


"Ngga tau deh, kayaknya mau gue paksa nginep haha". Jawab Raja sambil menuang minumannya


Dewa melirik Tahta yang sedang menatap layar TV


"Mending lu bawa Putri pulang kerumah ayah, lu mau liat dia tidur sama Raja?". Tanya Dewa dengan suara pelan


"Terserah dia lah bang, anaknya kan susah dibilangin". Ucap Tahta


"Tapi kalo lu yang ngomong dia nurut kan". Ucap Dewa


"Yang ada ribut". Ucap Tahta


"Sabar, dia cuma butuh waktu buat nerima semuanya". Ucap Dewa sambil menepuk bahu Tahta


---


nah loh, gonjang-ganjing huru-hara rumah tangga Putri dan Tahta udah mulai kerasa. Gimana nih kelanjutannya? mereka akan pisah atau bertahan ya?


terus kira-kira kapan Raja akan mengetahui rahasia pernikahan mereka? apakah Raja adalah sadboy yang sesungguhnya?


Jangan lupa like, vote dan hadianya biar aku semangat update>< serius makin seru lochhh

__ADS_1


__ADS_2