
"Kak, kakak mau tiduran dikamar aku? Aku mau nganterin mas-mas nya kekamar ayah". Ucap Putri pada Tahta yang sedang berbaring disofa ruang tamu
"Yaudah". Ucap Tahta
Tahta pun mematikan siaran tv nya dan mengikuti Putri menaiki tangga
"Laptop kamu dimana Mput?". Tanya Tahta
"Dikamar". Jawab Putri
"Dikamar sini?". Tanya Tahta
"Iya kak". Jawab Putri
"Kakak pinjem ya". Ucap Tahta
"Iya pake aja, tuh kamar aku". Ucap Putri sambil menunjuk pintu ruangan disebelah kamar Ibrahim dan Melly
Tahta mengangguk mengerti dan segera memasuki kamar Putri, sementara Putri masuk kedalam kamar orang tuanya bersama orang-orang yang akan melakukan tugasnya
---
Dua puluh menit telah berlalu, Putri mengantar beberapa orang tersebut kembali ke pintu utama seusai mereka menyelesaikan tugasnya. Setelah itu segera menuju kamarnya untuk memberi kabar kepada Dewa
"Udah selesai Mput?". Tanya Tahta dari arah meja belajar Putri
"Udah, hp aku lobet kak, ngga bisa ngabarin kak Dewa". Ucap Putri
"Nih pake hp kakak". Ucap Tahta sambil menyodorkan ponselnya
"Sandinya apa nih. Tanggal jadian ya". Ucap Putri
"Dosa loh ngeledek jomblo". Ucap Tahta
"Hahaha terus apa". Ucap Putri
"Tanggal lahir kakak lah sayang". Ucap Tahta
"Eehh...bentar lagi ulang tahun nih". Ucap Putri
"Dih apaan sih, masih lama". Ucap Tahta
"Sekarang udah tanggal dua, empat hari lagi dong..."
"Ehem mau hadiah apa dari aku". Ucap Putri
"Ngga mau apa-apa..."
"Sini duduk". Ucap Tahta sambil mendudukan Putri di pangkuannya
"Kakak ngomong aja mau hadiah apa". Ucap Putri
"Yakin?". Tanya Tahta
"Iya". Jawab Putri sambil tersenyum
Tahta pun menatap lekat kedua mata Putri sambil merapihkan anak rambutnya
"Kakak ngga mau apa-apa, bisa selalu deket sama Mput aja kakak udah seneng". Ucap Tahta
"Yakin nih". Ucap Putri
"Hmm mau dinner aja sama Mput, boleh ngga". Ucap Tahta
"Boleh dong". Ucap Putri
"Emang ayangnya ngga marah?". Tanya Tahta
"Hehe gampang, nanti aku omongin dulu. Pasti boleh". Ucap Putri
"Yaudah". Ucap Tahta sambil mengusap pipi Putri
---
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Ibrahim dan Melly sudah tiba dirumah, dan Dewa serta Tahta pun baru saja pergi meninggalkan rumah Putri bersama beberapa perawat dari rumah sakit yang membantu memasangkan alat-alat medis ditubuh Ibrahim
Saat ini, Putri sedang membasuh tangan Ibrahim dengan handuk basah ditangannya, sambil menunggu sang ibu yang baru saja selesai membersihkan diri
"Nak Raja ngga kesini sayang?". Tanya Melly
"Ngga tau bu, kayaknya masih dikampus. Hp Putri lobet jadi ngga bisa ngabarin". Jawab Putri
"Hmm yaudah, kalo kangen juga kesini". Ucap Melly sambil tersenyum
"Hehehe apaan sih ibuuu". Ucap Putri
"Hmm mesti deh malu-malu". Ucap Melly
Tidak berselang lama, Putri dan Melly mendengar suara mobil dari arah depan rumah. Putri pun menaruh handuk kecilnya dan berjalan menuju jendela kamar
"Nak Raja ya?". Tanya Melly
"Iya bu". Jawab Putri
"Yaudah kamu temuin sana, bikinin minum sama ajak makan sekalian ya, suruh istirahat dulu siapa tau capek abis kuliah". Ucap Melly
"Hihi iya ibu, ibu perhatian banget sih". Ucap Putri
"Harus dong, kan menantu kesayangan ibu". Ucap Melly
"Calon menantu buuu". Ucap Putri
"Oh iya hehe, yaudah sana..."
"Ini biar ibu aja yang ngelap-in ayah". Ucap Melly
Putri pun mengangguk dan segera keluar dari kamar Ibrahim untuk menemui Raja
"Sayang". Ucap Putri sambil tersenyum
Mereka pun saling berpelukan erat dan berpagutan bibir beberapa detik
"Seneng banget kalo tiap hari disambut kamu kayak gini". Ucap Raja
"Hehe masuk yuk". Ucap Putri
Putri meraih tangan Raja dan membawanya menuju ruang keluarga
"Ibu mana sayang? Diatas?". Tanya Raja
"Iya, lagi mandiin ayah..."
"Eh maksudnya di lap hehe, aku bikinin minum dulu ya". Ucap Putri
"Iya makasih cantik". Ucap Raja
"Iya sama-sama". Ucap Putri sambil bangkit dari duduknya
"Dewa udah kesini?". Tanya Raja
"Udah dong, kan kesininya sama ayah ibu". Jawab Putri
"Oh iya ya..."
"Terus perawat ayah udah dateng?". Tanya Raja
"Lagi dijalan. Ini diminum dulu". Ucap Putri sambil menyodorkan gelas minuman kepada Raja
Raja pun menyesap setengah gelas minumannya lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa
"Kenapa? Capek ya?". Tanya Putri
"Iya, ditambah pusing". Jawab Raja
"Sini, aku pijitin kepalanya". Ucap Putri sambil menepuk kedua pahanya
Raja pun beringsut turun dan menjatuhkan kepalanya diatas paha Putri. Dan Putri pun segera memberi pijatan kecil di pilipis, kening serta kepala Raja
Putri tersenyum saat melihat Raja memejamkan kedua matanya menikmati pijatan diarea kepalanya
"Ngga kebayang pusing dan capeknya jadi kamu, kamu harus tetep semangat ya". Ucap Putri
__ADS_1
"Pasti, aku kan punya kamu. Vitaminku". Ucap Raja
"Hehe dasar". Ucap Putri
"Sayang, aku mau ketemu ayah sama ibu". Ucap Raja
"Yaudah yuk, tadi ibu juga nanyain kamu". Ucap Putri
Raja pun bangkit dari posisinya dan merapihkan pakaian yang ia kenakan
"Berantakan ngga? Belum mandi lagi". Ucap Raja
"Rapih kok, gapapa belum mandi, tetep ganteng". Ucap Putri
"Hehe yaudah, ayo". Ucap Raja
Putri pun mengangguk dan segera membawa Raja menuju kamar Ibrahim dan Melly
Tok tok tok
"Bu, Putri sama Raja masuk ya". Ucap Putri dari balik pintu
"Iya sayang". Ucap Melly
Mereka pun segera masuk kedalam kamar dan menghampiri Melly yang sedang duduk disisi ranjang
"Ini bu, Putri bawain menantu kesayangan ibu". Ucap Putri
"Kamu nih". Ucap Melly sambil tersenyum
"Ibu, sehat bu". Ucap Raja sambil mencium tangan Melly
"Sehat sayang, baru pulang ya". Ucap Melly
"Iya bu". Ucap Raja sambil tersenyum
"Ayah, Raja dateng, ayah apa kabar". Ucap Raja sambil mencium tangan Ibrahim
"Ayah gimana bu, udah ada perkembangan?". Tanya Raja
"Belum, ibu juga ngga ngerti kenapa ayah kamu masih begini aja. Ibu udah pasrah lah". Ucap Melly
"Ibu ngga boleh ngomong gitu, ayah pasti sembuh". Ucap Raja sambil memegang tangan Melly
"Nak kalo ibu boleh jujur, ibu mau kalian cepat-cepat menikah, tapi kondisi sekarang ngga memungkinkan karna ayah masih koma". Ucap Melly
"Ibu sabar ya, setelah ayah sembuh Raja janji akan langsung nikahin Putri". Ucap Raja
"Kok ibu jadi ngga sabaran". Ucap Putri sambil tertawa kecil
"Gak tau kenapa, ibu...ibu punya firasat ngga enak sayang". Ucap Melly
"Soal ayah atau aku sama Raja bu?". Tanya Putri
"Ibu ngga mau ngomong, biasanya ucapan orang tua suka jadi kenyataan, entah itu ucapan yang disengaja atau engga". Ucap Melly
"Ibu tenang ya, semoga semua baik-baik aja, ngga ada apa-apa". Ucap Raja
"Iya sayang..."
"Kamu ngga nawarin nak Raja makan?". Tanya Melly pada Putri
"Ngga usah bu, Raja mau pulang udah sore juga". Ucap Raja
"Ngga makan dulu?". Tanya Putri
"Ngga usah sayang". Jawab Raja
"Yaudah, besok kesini lagi, makan sama-sama". Ucap Melly
"Iya bu". Ucap Raja
"Ayah, Raja pamit pulang dulu ya, besok kesini lagi". Ucap Raja sambil mengusap tangan Ibrahim
Setelah berpamitan kepada Ibrahim dan Melly, Raja pun segera meninggalkan kamar mereka bersama Putri
"Kamu ngga pulang kesana?". Tanya Raja
"Ya udah, besok aku jemput". Ucap Raja sambil mengusap pipi Putri
"Iya sayang". Ucap Putri
Raja meraih kepala Putri dan mengecup keseluruhan wajah Putri tanpa terkecuali, diakhiri dengan ciuman lembut diantara mereka
"Rasanya selalu berat tiap ninggalin kamu gini". Ucap Raja
"Hehe besok kan ketemu lagi..."
"Hati-hati ya". Ucap Putri
"Iya sayang". Ucap Raja
Raja segera masuk kedalam mobilnya dan pergi meninggalkan rumah orang tua Putri
---
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, Raja yang baru selesai mandi dipanggil oleh Tahta yang memintanya untuk berkumpul diruang keluarga
"Ngapain sih?". Tanya Raja
"Ngga tau, turun aja dulu, ada pak Bagus". Jawab Tahta
"Yaudah ntar gue nyusul". Ucap Raja
Tidak sampai lima menit, setelah berpakaian Raja pun menyusul Dewa, Tahta dan satu orang pria paruh baya yang terlihat berpakaian rapih khas orang kantoran
"Mbak Putri nya kemana mas?". Tanya Bagus pada Dewa
"Putri dirumah orang tuanya pak". Jawab Dewa
"Loh, jadi mbak Putri sudah bertemu dengan orang tua kandungnya?". Tanya Bagus
"Sudah pak". Jawab Dewa
"Hmm baik kalo gitu. Jadi gini mas Dewa, mas Raja dan mas Tahta..."
"Kedatangan saya kemari, ingin menyampaikan hasil dari penjualan empat gedung perusahaan peninggalan pak Sultan yang diamanahkan kepada saya selaku notaris dan orang kepercayaan beliau semasa beliau hidup..."
"Selama delapan bulan terakhir, keempat gedung tersebut sudah laku terjual, dibeli oleh beberapa pengusaha asing yang sedang mengembangkan bisnisnya di Indonesia..."
"Saya membawa surat-surat lengkap dari penjualan gedung tersebut, saya siapkan dulu". Ucap Bagus sambil membuka tas kerjanya
Dewa, Raja dan Tahta memperhatikan Bagus yang sedang sibuk mengeluarkan beberapa map berisi kertas-kertas penting dari dalam tasnya
"Silahkan dibaca terlebih dahulu mas". Ucap Bagus pada ketiga kakak beradik dihadapannya
"Jadi intinya apa pak?". Tanya Tahta
"Sabar kek lu". Ucap Raja pada Tahta
"Hehe baik mas, saya langsung ke intinya saja..."
"Hasil dari penjualan keempat gedung tersebut, diberikan oleh pak Sultan untuk keempat anaknya sesuai surat wasiat yang sempat beliau tuliskan sebelum beliau wafat". Ucap Bagus
"Papa saya ada wasiat lagi pak?". Tanya Dewa
"Betul mas, sebenarnya masih ada satu wasiat lagi yang beliau tulis, tapi ada beberapa pesan yang disampaikan kepada saya sehingga saya tidak bisa menyampaikan seluruh isi wasiat tersebut secara bersamaan". Ucap Bagus
"Ada lagi? Apa tuh pak?". Tanya Tahta
"Yang ini dulu pak, soal penjualan gedung". Ucap Dewa
"Baik, saya jelaskan satu-satu ya mas..."
"Keempat gedung yang terjual, mendapatkan hasil senilai 3.5 miliar, yang berarti masing-masing anak pak Sultan mendapatkan 875 juta rupiah dari hasil penjualan gedung tersebut..."
"Beliau berpesan, berapa pun hasil penjualan dari keempat gedung tersebut agar diberikan secara merata supaya adil". Ucap Bagus sambil memberikan satu buah amplop kepada Dewa berisi empat lembar cek
"Terus pak, wasiat satu lagi apa?". Tanya Tahta
"Sabar Ta". Ucap Dewa
__ADS_1
"Hahaha sorry pak lagi buru-buru soalnya". Ucap Tahta pada Bagus
"Iya iya saya ngerti mas..."
"Kebetulan ini adalah kesempatan yang sangat pas untuk saya menyampaikan satu wasiat terakhir, satu wasiat yang bisa dibilang paling penting dibanding wasiat lainnya". Ucap Bagus
"Apa pak? Kenapa bapak bilang ini kesempatan yang pas?". Tanya Dewa
"Karena ini menyangkut mbak Putri mas, seperti yang tadi mas Dewa bilang kalau mbak Putri sudah bertemu orang tua kandungnya, itu tandanya sudah saatnya saya membacakan wasiat tersebut sekarang". Ucap Bagus
"Ntar dulu pak, papa saya tau sesuatu tentang masa kecil Putri?". Tanya Dewa
"Tidak mas, tetapi pak Sultan menulis wasiat yang meminta salah satu putranya untuk menikahi mbak Putri". Jawab Bagus
"Apa". Ucap Dewa, Raja dan Tahta kompak
"Nikahin Putri pak? Kok bisa?". Tanya Dewa
"Jadi begini mas, pak Sultan sempat bercerita kepada saya bahwa beliau sangat mempercayai ketiga putranya untuk menjaga mbak Putri..."
"Beliau ingin salah satu dari putranya untuk menikahi mbak Putri supaya ada sosok yang menjaga dan melindungi mbak Putri setelah beliau wafat nanti..."
"Sejujurnya saya sempat bertanya, kenapa pak Sultan tidak membiarkan mbak Putri untuk menemukan sosok yang tepat untuk dirinya sendiri..."
"Tapi pak Sultan hanya berkata bahwa beliau sudah mempunyai sosok yang menurutnya sangat pantas untuk menjaga mbak Putri, yaitu salah satu dari putranya..."
"Bisa dikatakan kalau pak Sultan menjodohkan salah satu putranya untuk mbak Putri sebagai wasiat atau permintaan terakhirnya..."
"Dan permintaan terakhir beliau ini juga disetujui oleh ibu Berliana". Ucap Bagus
Raja yang mendengar ucapan Bagus seketika mendadak lemas, ia khawatir kalau bukan dirinya lah yang diminta oleh mendiang orang tuanya untuk menikahi Putri
Bagaimana kalau Dewa atau Tahta? Raja mulai gusar, ia menutup wajah dengan kedua tangannya membayangkan nasib hubungannya dengan Putri. Apakah akan berakhir sesuai harapannya atau tidak
"Papa ngejodohin Mput sama salah satu diantara kita". Ucap Tahta
"Bisa dibacain pak isi suratnya, langsung intinya aja". Ucap Dewa
"Baik, saya bacakan ya". Ucap Bagus saat sambil membuka map berwarna merah
"Dengan sadar dan tidak ada paksaan, saya Sultan Bagaskara beserta istri tercinta Berliana Ivory ingin menyerahkan tanggung jawab kami sebagai orang tua dan mengutus salah satu putra kandung kami untuk bertanggung jawab atas putri bungsu saya sekaligus putri angkat saya, Astari Putri Lusiana sebagai mana seorang suami yang bertanggung jawab kepada istri..."
"Maka dari itu, saya meminta kepada putra bungsu saya, Dariel Tahta Mahendra agar bersedia menjadikan Astari Putri Lusiana sebagai istri sah dan satu-satunya..."
Mendengar nama Tahta yang disebut, sontak ketiganya pun tercengang, Raja menghelas nafas kekecewaan sementara Tahta mencengkram rambutnya sambil mendudukan kepalanya,
Tahta tidak pernah menyangka kalau orang tuanya meminta dirinya untuk menikahi Putri. Sementara Dewa, ia mencoba bersikap untuk setenang mungkin mendengarkan ucapan Bagus
"Keputusan ini saya buat bersama istri tercinta saya sebagai bentuk pertanggung jawaban atas putri angkat kami yang sudah kami rawat sedari kecil..."
"Kami ingin putri angkat kami berada disisi laki-laki yang menurut kami sangat pantas untuk bersanding di masa depan. Maka dari itu, kami mengutus putra ketiga kami, sosok laki-laki yang bertanggung jawab dan senantiasa berada disisi putri angkat kami..."
"Kami berharap, anak-anak kami dapat memahami pesan yang saya buat bersama istri tercinta saya, dan untuk putra bungsu kami, kami sangat berharap untuk dapat memenuhi permintaan terakhir kami..."
"Demikian surat wasiat ini saya buat dengan akal sehat, dan tanpa paksaan dari pihak manapun..."
"Begitu saja isi suratnya mas". Ucap Bagus
"Bapak ngga salah baca? Bener nama saya yang ditulis disitu?". Tanya Tahta
"Benar mas, silahkan". Ucap Bagus sambil menyodorkan map nya kepada Tahta
Tahta pun segera menyambar map tersebut dan membacanya dengan seksama
"Anjir, ada yang salah ni". Ucap Tahta
Tahta pun menaruh map tersebut dan meninggalkan ruang keluarga
"Saya rasa sudah cukup mas, seluruh berkas ini saya serahkan kepada mas Dewa selaku anak pertama dari pak Sultan". Ucap Bagus sambil merapihkan seluruh map diatas meja
"Terimakasih pak". Ucap Dewa
"Baik kalau gitu saya permisi mas Dewa, mas Raja". Ucap Bagus
Setelah saling berjabat tangan, Bagus pun pergi meninggalkan rumah Dewa
"Raja, lu gapapa?". Tanya Dewa
"Haha, gila. Papa sama mama bikin wasiat kayak gitu". Ucap Raja sambil tertawa getir
Prang
Raja melempar vas bunga yang berada di atas meja kearah tembok sampai hancur berkeping-keping
"Gue ngga bisa biarin Tahta nikahin Putri". Ucap Raja
Raja pun bangkit dari duduknya dan berjalan cepat menaiki tangga menuju kamar Tahta, Dewa yang merasa ada yang tidak beres dengan Raja, buru-buru mengikuti Raja menuju kamar Tahta
Raja membuka kasar pintu kamar Tahta dan langsung menghampiri Tahta yang sedang duduk di depan laptopnya
Bugh, satu pukulan keras melayang tepat disudut pipi Tahta, Tahta pun terhuyung dari kursinya
"Kenapa harus elu! Kenapa harus elu!!!". Ucap Raja sambil menarik ujung baju Tahta
"Gue juga ngga tau bang". Ucap Tahta meringis kesakitan
"Lepasin!". Ucap Dewa sambil menarik kasar tangan Raja dari baju Tahta
"Lu ngga bisa nyalahin Tahta! Ngga ada yang tau kalo papa sama mama bikin wasiat kayak gitu". Ucap Dewa
"Gue ngga terima, sini lu". Ucap Raja sambil meraih sudut baju Tahta
Bugh,
"Kak Raja!!!". Putri memekik saat melihat Raja kembali memukul wajah Tahta
Putri yang baru saja tiba untuk mengambil pengisi daya ponselnya yang tertinggal, segera menuju kamar Tahta saat mendengar keributan disana
"Kamu kenapa mukulin kak Tahta??!!". Ucap Putri sambil mendorong dada Raja
"Kakak gapapa? Aku obatin ya". Ucap Putri sambil mengusap pelan noda darah disudut bibir Tahta
"Gak usah, kakak gapapa". Ucap Tahta
"Jahat kamu, keterlaluan!!". Ucap Putri pada Raja
Raja pun tersenyum sinis kepada Putri dan pergi meninggalkan kamar Tahta
"Kak, ini pasti perih. Aku obatin dulu". Ucap Putri
Putri pun segera mempersiapkan kapas serta obat merah untuk mengobati luka disudut bibir Tahta, dan membawa Tahta untuk duduk disofa diikuti dengan Dewa
"Argh sakit, pelan-pelan". Ucap Tahta
"Iya-iya ngga sengaja, tahan dong". Ucap Putri
"Kak, ini ada apa sih. Kenapa ribut kayak gini?". Tanya Putri pada Dewa
"Tadi notaris papa dateng, dia bacain satu wasiat yang bikin Raja marah kayak gini". Jawab Dewa
"Apa?". Tanya Putri
"Papa sama mama minta Tahta buat nikahin kamu". Jawab Dewa
"Hah". Putri pun menghentikan kegiatannya saat mendengar jawaban Dewa
"Kenapa kak? Kok bisa". Tanya Putri
"Ya kita ngga ada yang tau Put". Ucap Dewa
"Maafin kakak Mput, kakak ngga tau apa-apa, tapi kamu ngga usah khawatir, kakak ngga akan nurutin permintaan papa sama mama..."
"Karna kakak tau kamu ngga akan setuju dan kamu cuma mau menikah sama Raja..."
"Sekarang kamu temuin Raja dan bilang kalo kita ngga akan menikah". Ucap Tahta
"Iya, iya, aku temuin kak Raja dulu". Ucap Putri
---
Bersambung
__ADS_1